
"Ayah tenapa Ayah, ndak ada dilumah kita yang duyu?" tanya Dinda
"Itu sudah bukan rumah Ayah nak, rumah itu sudah dijual" kataku menjelaskan pada Dinda.
"Cekalang Ayah tindal dimana?" tanya Dinda kembali sedangkan Narayan hanya menyimak, namun aku bersyukur setidaknya dia tidak lari seperti dulu lagi saat bertemu denganku.
"Ayah tinggal di gudang sebuah masjid" kataku.
"tenapa di masjid?" tanya Narayan tiba-tiba, aku sangat bahagia mendengar dia menanyakan itu padaku, kelihatanya hanya pertanyaan sederhana namun bagiku itu adalah hal yang luar biasa, mengingat selama ini selalu ketakutan melihatku.
"Karena Ayah dulu jahat sama kamu dan Ibumu, sekarang Tuhan hukum Ayah" kataku sambil berusaha menahan laju air mata yang sudah berdesak-desakan ingin keluar.
"Ayah cudah makan?" tanya Dinda
"Sudah sayang" kataku berbohong, karena sejatinya sejak pagi aku belum makan, uangku kemarin habis buat ongkos taxy online Anisa tinggal ongkos pulang pergi kesini. Narayan mendekat kearahku dan memberikan selembar roti padaku, sungguh hatiku sangat trenyuh, air mataku luruh seketika.
"Ini untuk Ayah" katanya. Aku mengeleng aku nggak akan setega itu makan makanan bekal anakku, biarlah aku yang menangung lapar nanti kalau perjalanan pulang aku bisa tidur di bis agar lupa kalau aku lapar.
"Kalau Ayah ndak mau, Nalayan malah" Ancamnya. Mataku semakin deras hujan air mata melihat perhatian anakku, lalu aku terima selembar roti itu, dan memakanya rasanya asin karena bercampur air mataku.
"Udah ya Ayah, itu Mama cudah jemput. Kalau Ayah kanen Nalayan Vicall aja" ucapnya lalu meninggalkanku begitu saja, begini saja aku sudah bahagia. Kemudian Dinda memelukku dan menciumku lalu pergi karena Ibunya sudah jemput, sebenarnya dari tadi aku sudah melihat Aya menjemput Narayan mungkin dia takut aku menculiknya lagi atau mungkin dia menjaga perasaan suaminya, aku lihat suaminya sangat bucin.Entahlah apapun alasanya aku sangat senang bisa diijinkan bertemu dengan anakku meskipun aku belum bisa memeluknya, seperti papa sambungnya memeluk dia, ah...kenapa aku jadi iri melihat kedekatan anakku dengan orang lain, namun aku juga tidak bisa menyalahkan keadaan ini.Semua karena kesalahanku. Setalah ini aku akan menabung agar jika bertemu dengan Narayan aku bisa membawa buah tangan tidak seperti saat ini.
Setelah Narayan dan Dinda pergi, kembali hatiku merasa ada hilang, kulihat sekeliling sudah tidak anak-anak lainya mereka sudah pulang kerumah masing-masing. Aku beranjak meninggalkan sekolah Anakku, miris sekali anakku bisa sekolah ditempat semewah ini tanpa campur tanganku sama sekali, aku memang Ayah yang payah. Dengan langkah gontai berjalan ke halte aku menunggu angkot lewat untuk keterminal dan kembali ke kampung Aki Ali kembali.Sesampaianya disana aku langsung istirahat dan tidur rasanya capek sekali hari ini namun, aku sangat bahagia. Pagi ini aku disaat toko sedang sepi aku membantu pedagang sayuran mengangkut daganganya kemobil, lumayan hari ini aku dapat upah dua puluh lima ribu, peluh membasahi dahiku tak kuhiraukan itu.
"Wan makasih ya sudah bantu-bantu" ucap pedagang sayur sambil memberikan sebungkus nasi rames. Aku bersyukur sekali karena uangku tidak terpotong makan siang karena pedagang sayur ini membelikanku makan siang.
__ADS_1
"Bu, lain kali boleh saya bantu angkat-angkat lagi?" tanyaku.
"Iya nanti kalau pas dagangan dateng aku panggil kamu ya" kata pedagang sayur tadi. Selesai dari membantu pedagang sayur tadi aku kembali ke toko Aki Ali.
"Wan, kelihatanya kamu senang sekali ada apa?" tanya Aki Ali.
"Alhamdulilah Aki, saya dapat upah dua puluh lima tibu rupiah, lumayan nanti buat beli pulsa untuk vicall anak saya" jawabku dengan senyum terus mengembang.
"Owalah kamu ndak punya pulsa to, kenapa nggak bilang Aki" ucap Aki Ali.
"Nggak apa-apa Aki, saya sudah terlalu banyak merepotkan Aki. Dikasih pekerjaan dan tempat tinggal saja saya sangat bersyukur banget" ucapku.
Kemudian Aki Ali membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Wan, pakai ini buat beli pulsa agar kamu bisa menghubungi anakmu" kata Aki Ali.
Malam hari setelah pulang dari masjid, aku langsung mengirim pesan pada Aya.
"Assalamualaikum Aya, boleh nggak aku Vicall Narayan" pintaku sembari berdoa agar Aya mengijinkan. Tak lama aku langsung mendapat balasan dari Aya.
"Bentar ya mas, aku ijin Papanya dulu" balasnya.
"Ijin Papanya? Aku ini ayah kandungnya" batinku meraung
Tak lama setelah itu gawaiku bergetar, rupanya Aya yang Vicall, mungkin ia tau kalau aku fakir kuota.Segera kugeser tombol video "Deg" jantungku berdetak kencang melihat wajah Aya depan layar, dia begitu cantik, tubuhnya agak berisi dia memakai kerudung instan, sungguh luar biasa cipataanmu Ya Tuhan batinku.
__ADS_1
"Hallo Mas" sapanya membuyarkan lamunanku.
"I..iya halo Aya, Narayan belum tidur kan?" tanyaku.
"Belum ini dia, kamu boleh bicara dengan dia" katanya sambil mengarahkan ponselnya pada Narayan yang sedang dipangku papa sambungnya, sungguh ini adalah pemandangan yang sangat menyesakkan dada, kemudian Aya memberikan ponselnya pada Narayan.
"Hallo Nak, ini Ayah" kataku.
"Tenapa Ayah mempelkenalkan dili, kan Nalayan udah tau ini Ayah" ucapnya polos, namun aku sangat senang mendengarnya.
"Ayah cudah makan?" tanyanya
"Deg" hatiku bagai disiram es, dingin banget mendengar anakku menanyakan aku sudah makan atau belum.
"Udah, Ayah udah makan, kamu sendiri sudah makan belum?" Tanyaku
"Udah, tadi makan disuapin papa" ujarnya. Lagi bagai ditusuk belati mendengar ucapan anakku yang sangat bahagia bersama papa barunya.
"Papa halus makan yang banak, Nalayan juga makan banak dicini, papa ndak boyeh nanis ladi papa halus bahagia, Nalayan dicini cama Mama dan Papa juga bahagia" ucapnya ini adalah moment pertama kali Narayan bicara banyak padaku, aku rasanya ingin menangis namun, aku tidak enak pada Arman, aku langsung mengakhiri pangilanku karena kerongkonganku terasa kering, lidahku kelu, harsa haru menyeruak di dalam dada mendengar perhatian kecil dari anakku.
"Ayah sudahi Vicallnya ya, sudah malam kamu harus bobo" kataku.
"Ayah bobo juga ya?" katanya.Aku bersyukur Narayan tumbuh menjadi anak yang sehat,cerdas kuat dan berbudi pekerti luhur.Aya mendidiknya sangat baik mungkin jika bersamaku dia tidak akan seperti ini. Aku mulai mengiklaskan dia dan mantan istriku pada Arman, ternyata kebahagiaan mereka adalah diatas segala-galanya bagiku.
tbc...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, fav dan juga hadiahnya ya man teman