
Selama dalam persembunyian Narayan sering menangis karena kangen dengan Ibunya juga Ilham.Tak jarang ia juga selalu menyebut nama Arman hal ini membuat Ridwan meradang.
" Ayah....nalayan mau puwang, nalayan kangen Ibu, Om Iham, Om Alman" ucap Narayan terus merengek.
" Kamu bisa diam nggak sih, Ayah itu lagi pusing.Kalau kamu terus berisik Ayah bungkus kamu di karung lalu Ayah jual ketukang rosok!" Ancam Arman.
" Huaaa.aaaaa.....Ibu nalayan atut,Om Iham bawa nalayan puwang huaaaa....aaa" Narayan menangis histeris .Sejak kecil Ia belum pernah berpisah dengan Ibunya.Selama dua malam Ia tidak bisa tidur karena selalu mencari Ibunya dan Ilham, Narayan juga tidak mau makan.Di hari ketiga suhu badan Narayan sangat tinggi ia terus mengigau memanggil- mangil Ibunya dan Ilham.
" Maafkan Ayah nak, Ayah lakukan ini karena terpaksa. Jujur Ayah juga nggak tega melihat kamu seperti ini tapi Ayah juga tidak bisa apa-apa kalau Ayah keluar dari persembunyian hanya ada dua kemungkinan .Kemungkinan pertama jika Ayah menyarahkanmu pada Ibumu dan Ilham mungkin mereka memaafkan Ayah, tapi seumur hidup Ayah akan dibenci nenek kamu sungguh Ayah tidak bisa dibenci oleh nenekmu. kemungkinan kedua, jika Ayah ketangkap oleh Om kamu, pasti akan dihabisi om kamu, terpaksa Ayah sembunyi dulu nak demi keamanan Ayah dari amukan Om kamu dan nenekmu " ucap Ridwan sambil membelai rambut Narayan.
Kondisi tubuh Narayan semakin melemah.Ridwan kebingungan ia hanya bisa mengompres dan mengompres lagi putra semata wayangnya.Dari lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa sangat berdosa pada anaknya namun ketidakberdayaannya menghadapi Ibunya yang membuat Ia tega melakukan ini semua.
Sementara Ilham terus melakukan pencarian kini ia mulai menemukan titik terang keberadaan Ridwan.Dengan langkah tegap wajahnya diselimuti amarah ketika melihat kondisi kost yang digunakan Ridwan untuk menyembunyikan ponakanya.Tempatnya sangat kumuh dan tidak terawat sama sekali dinding cat rumah sudah pada mengelupas ,atap bocor dimana-mana.Tanah tempat berpijak becek dan licin sampah bertebaran dimana-mana.Tangan Ilham mengepal erat Ia tidak bisa membayangkan keadaan Narayan tinggal ditempat seperti ini.Walaupun dulu dia orang susah namun setidaknya ia tinggal dikampung dengan lahan yang luas dan bersih meskipun rumah sederhana bisa dibilang jelek namun cukup terawat.
" Brakkk...." Ilham menendang kasar pintu kost Ridwan.
Ridwan yang ada dalam kamar seketika wajahnya menjadi pias.Ia tidak menyangka Ilham akan menemukanya secepat ini.Tatapan Mata Ilham nyalang kearah Ridwan lalu ia menghadiahkan Ridwan sebuah bogem mentah.
" Bugh...," Ridwan tersungkur .Mata Ilham beralih menatap Narayan yang terbaring lemah di atas tanjang reot . Kemudian ia berbalik dan menendang perut Ridwan lalu ia mengikat tangan dan kaki Ridwan.
" Hallo ....kamu beri pelajaran pada cecunguk ini dia sudah aku ikat, aku harus membawa ponakanku ke Rumah sakit sepertinya dia sedang sakit.aku shareloc sekarang" ucap Ilham pada seseorang. Lalu ia mematikan sambungan teleponnya.
" Aku belum puas bermain- main dengan kamu brengsek!, ingat aku sendiri yang akan memberimu pelajaran!" ucap Ilham meninggalkan Ridwan yang masih terikat. Laki-laki muda itu mengendong ponakanya menuju Rumah sakit.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Ilham sangat cemas dengan keadaan ponakanya Ia belum berani memberitahu keadaan Narayan pada Cahaya sebelum Narayan mendapat penanganan.Dalam hati Ia terus merapalkan doa-doa yang ia bisa.
"Bagaimana keadaan ponakan saya dok?," tanya Ilham cemas.
"Begini pak Ilham, Berdasarkan pemeriksaan dan hasil cek laborat ponakan anda terserang DBD, saya sarankan untuk rawat inap disini dulu sampai kondisinya pulih" ungkap sang dokter.
"Lakukan yang terbaik dok!" ucap Ilham.
Kemudian Ilham menghubungi Cahaya. Ia memberitahu kalau Narayan sudah ditemukan dan sekarang lagi dirumah sakit.Cahaya shock mendengar kabar dari Ilham ia segera bergegas kerumah sakit dimana Narayan dirawat.
Begitu sampai di Rumah sakit,Cahaya langsung memeluk dan menciumi sang putra ia tidak bisa mengambarkan perasaanya saat ini.
" Ham...dimana kamu temukan dia?" tanya Cahaya sambil terisak.
" Disebuah kost kumuh di perkampungan kumuh, aku sungguh tidak menyangka ada manusia keji macam dia, binatang saja tidak akan tega menyakiti anaknya" ucap Ilham tidak habis pikir dengan mantan kakak iparnya .
" Mbak aman dirumah sakit ini, aku harus memberi pelajaran pada cecunguk itu lalu kembali mengembalikan dia keasalnya yaitu penjara.akan aku buat dia membusuk dipenjara" ucap Ilham dengan sorot amarah dimatanya.
" Jangan masukin dia kepenjara lagi Ham!" ucap Cahaya.
" Mbak mau kejadian ini terulang lagi, laki- laki brengsek ini mau numbalin Narayan darah dagingnya sendiri untuk menyelamatkan ponakanya, mbak Aya masih saja melindungi dia, Mbak baik itu boleh saja tapi bodoh jangan" ucap Ilham kesal dengan Cahaya.
" Ham...jangan lakukan itu, bagaimanapun dia Ayah Narayan" ucap Cahaya.
__ADS_1
" Mbak masih mengharapkan dia?" ucap Ilham meninggi.
"Kecilkan suaramu Ilham!, mbak tidak pernah mengharapkan dia lagi, apalagi sekarang ada mas Arman"
"Terus masalahnya apa?" tanya Ilham gemas pada kakaknya.
" Ham.... Mbak nggak mau kalau nanti Narayan sudah besar menjadi malu karena status Ayahnya adalah seorang residivis.tolong pikirkan Ilham, kalau tidak ingat Narayan mbak sendiri yang akan menuntut dia kepenjara dan menuntut keadilan agar dia dipenjara lagi dalam waktu yang lama biar jadi pelajaran buat dia" ucap Cahaya.
"Maafkan aku mbak, aku nggak kepikiran soal itu.Aku selalu emosi jika mengingat semua kelakuan laki-laki pecundang itu.Tapi aku akan tetap memberi pelajaran pada laki-laki brengsek itu meskipun tanpa memasukkan dia kepenjara" ucap Ilham.
" Terserah kamu! tapi kamu harus tau batasan kemanusiaan" ucap Cahaya.
"Kemanusiaan itu diperuntukan untuk manusia mbak, sementara dia bukan manusia" ucap Ilham.
"Mbak tidak setuju kalau kamu memberi pelajaran keterlalaluan, beri dia peringatan saja!" ucap Cahaya.
"Dia itu manusia bebal, mana ngerti diberi peringatan" ucap Ilham.
" Pokoknya mbak nggak setuju! Lalu apa bedanya kamu sama dia kalau kalian hanya mengunakan otot tanpa mengunakan otak" ucap Cahaya.
"Sebaiknya aku iyakan saja, dari pada mbak Aya nerocos kemana-mana" batin Ilham.
" Iya mbak" ucap Ilham pada Akhirnya, dalam hati ia berjanji akan memberi pelajaran pada Ridwan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Arman datang bersama Yulia.Ilham curhat pada Arman tentang apa yang ia bicarakan dengan Aya.
"Aya.... kalau kamu tidak mau Ridwan dilaporkan polisi sebaiknya kamu bikin perjanjian tertulis dilengkapi materai dengan Ridwan dia harus berjanji tidak akan bikin ulah lagi kalau dia tidak menepati janjinya terpaksa kita penjarakan dia" usul Arman .Cahaya setuju dengan Arman, beda dengan Ilham laki- laki ini masih dendam dengan Ridwan.