
Setelah terjadi keributan diwarung sate, Bapaknya Dita segera mengajak keluarganya meningglkan tempat itu.Tujuan utamanya adalah bertemu Heru Ayah biologis Dinda untuk menyerahkan Dinda padanya.Sepanjang perjalanan Dita menangis karena harus berpisah dengan anaknya, namum ia juga sudah tidak memiliki pilihan lain selain menuruti keinginan Ayahnya.Perjalanan menghabiskan waktu setengah jam untuk sampai ketempat Heru.Dilihatnya rumah minimalis namun terkesan elegan, rumahnya bersih dan terawat.Dari kejahuan mereka melihat Heru sedang berbincang-bicang dengan seorang wanita yang mereka perkirakan itu istri Heru.
"Selamat sore!" ucap Bapaknya Dita.
"Selamat sore Bapak/Ibu, Dita dan Dinda" ucap Heru ramah. Dahulu ia mengenal keluarga Dita dengan baik sebelum Dita dijodohkan dengan Aswan.Sebenarnya Heru adalah pria yang baik namun ia pernah tersesat karena cinta butanya terhadap Dita.
"Mari masuk, Bapak/Ibu dan Mbak" ucap Sisca istrinya Heru.
"Terima kasih" lalu semua masuk kerumah Heru.
"Begini Heru, kedatangan kami kesini memang kami sengaja. Kami ingin menyerahkan pengasuhan Dinda sama kamu" ucap Bapaknya Dita memulai pembicaraan.Bagai dapat air segar di tengah padang pasir, Heru sangat senang dengan kabar tersebut. Akhirnya tanpa bersusah payah ia dapat mengasuh Dinda dan keluarga mereka sendiri yang mengantarkan kerumahnya.
"Sayang ini Dinda, anakku yang pernah aku ceritakan sama kamu" ucap Heru mengenalkan Dinda pada Istrinya
"Dia laki-laki atau perempuan kok penampilanya kaya begini?" tanya Sisca keheranan. Dulu ia membayangkan sosok Dinda itu gadis kecil yang lucu dan imut, namun yang ada dihadapanya kini seorang gadis kecil yang rambutnya jarang-jarang dan dipotong pendek mirip laki-laki serta penampilanya yang acak-acakan seperti reog.
"Bagaimana bisa anak suamiku berpenampilan kaya gini, mana sorot matanya tajam mengintimidasi begitu. Anaknya sepertinya juga tidak sopan, kalau dia bener-bener ikut kami aku harus mengubahnya menjadi lebih baik" batin Sisca
"Terima kasih atas kepercayaanya pada kami, kami akan menjaga Dinda dengan sepenuh hati" ucap Sisca penuh ketulusan.
"Tolong jaga , rawat dia dan didik dia dengan baik!, selama ini Dinda selalu dimanja sehingga anaknya sedikit bandel" kata Ibunya Dita.
"Tentu kami akan menjaganya dengan sepenuh hati" ucap Heru.
"Kalau begitu kami permisi, jaga Dinda baik-baik" ucap Bapaknya Dita.
__ADS_1
Saat mereka hendak pergi Dinda menangia histeris, ia terus saja memegang rok Dita dia tidak mau tinggal bersama Heru ayah kandungnya karena ia merasa asing dengan sosok Heru.Dita terpaksa melepaskan Dinda tanpa menoleh ia meninggalkan Dinda.
Hati Dita terasa disayat-sayat saat memdengar tangisan Dinda, ia tidak bisa membayangkan kehidupanya kedepanya tanpa kehadiran Dinda.Tiada lagi tawa dan senyum anak itu yang ia lihat, ia tidak rela melepaskan anaknya yang lucu dan mengemaskan menurutnya, tapi apa daya ia sudah tidak ada pilihan lain.
Sementara itu dikediaman Heru Dinda masih menangis dan mengamuk, Heru berusaha tenang, agar ia tidak panik saat menghadapi Dinda yang seperti ini.Ia juga tidak habis pikir dengan pola pengasuhan Dinda hingga menjadikan Dinda liar seperti ini.
"Kamu diam ya nak, mulai sekarang kamu ikut Bapak dan Ibu disini" ucap Sisca penuh kesabaran, namun Dinda tetaplah Dinda yang tidak bisa langsung berubah dalam hitungan menit ia kembali mengamuk saat ia hendak memecah barang - barang kembali Haru mencekal tangan anak itu.
"Kalau kamu terus memecahkan semua perabot rumah ini, maka kamu akan kami jual pada penculik untuk menganti perabotan yang kamu pecahkan" ancam Heru yang sukses membuat Dinda ketakutan kini ai hanya menangis tapi tidak berani mangamuk.
"Kalau kamu nangis terus, nanti kamu cape dan air mata kamu habis besuk kamu tidak bisa menangis lagi" bujuk Sisca agar Dinda tidak menagis lagi.
"Bialin ....air mataku macih banak, tiap hali akau nangis tapi air mataku macih banak" ucap Dinda yang membuat Heru dan istrinya kewalah menenangkan Dinda. Karena kecapean menangis seharian Dinda akhirnya ketiduran.
"Dia masih tahap penyesuaian, kamu yang sabar ya sayang" ucap Heru.
"Aku nggak bisa bayangkan bagaimana keluarga Dita menghadapi Dinda setiap hari kalau kelakuanya seperti ini" ucap Sisca.
"Aku rasa ini alasan mereka ngasih Dinda ke kita karena mereka tidak sangup menghadapi kelakuan Dinda setiap harinya" ucap Heru.
Hari terus berlalu Sikab Dinda mulai berubah sedikit demi sedikit ntah karena takut dijual atau karena apa hanya Dinda sendiri yang tau. Ia masih sering menangis kalau kemauanya tidak dituruti namun ia sudah tidak mengamuk lagi.
"Ibu, Inda mau jajan mie ayam" pinta Dinda pada Dita.
"Tapi kamu harus janji, nggak boleh ngamuk disana.Kalau kamu mengamuk disana maka terpaksa kami jual kamu ke tukang rosok biar dikiloin" ancam Sisca yang membuat nyali Dinda menciut. Setelah itu mereka bertiga kekedai mie ayam untuk menuruti keinginan Dinda makan mie Ayam disana.
__ADS_1
"Ayah....aku mau saos sama sambal" ucap Dinda.
"Ini pedas kamu nggak boleh makan ini" bujuk Heru.
"Pokokna aku mau itu...huaaa....aa" senjata andalan Dinda dikeluarkan yaitu menangis sekencang-kencangnya.
"Sudahlah mas, kita turuti saja" ucap Sisca yang ini memberi pelajaran pada Dinda.
" Ini yang kamu mau?" tanya Sisca dan Dinda langsung diam ia merasa berhasil memanfaatkan senjata anadalanya.Lalu ia menuang saos dan sambal yang banyak ke mangkoknya lalu dengan mata berbinar ia menyuapkan mie penuh saoa dan sambal kemulutnya.
"Pedass....pedasss, huhahh...huhaaa..." Dinda kepedesaan Heru hendak memberi minum namun di cegah oleh Sisca.
"Jangan mas, biar dia tau akibatnya melangar larangan orang tua" kata Sisca.
"Tapi sis..." ucap Heru tertahan ia sebenarnya tidak tega melihat Dinda yang kepedesan dan terus mengipas-kipas mulutnya.
"Pedes....huaaaaa..a..aaaa" senjata andalanya dikeluarkan lagi
"Dinda bisa diem nggak? Tadi Ibu bilang apa? Masih inget!" tanya Sisca.Sontak Dinda diam mengingat ancaman Sisca yang ingin menjualnya ketempat rosokan.
"Kamu mau masih ngeyel lagi?" tanya Sisca. Dinda mengeleng lemas sekuat tenaga ia menahan tangis.
"Makanya kalau orang tua bilang itu didengerin, itu untuk kebaikan kamu" ucap Heru.Kemudian Sisca memberinya minum, Air satu gelas langsung tandas tapi Dinda masih kepedesan.
"Ayo kita pulang! Ingat pesan Ibu ditengah jalan nggak boleh nangis kalau nangis Ibu tinggal ditengah jalan biar dirawat oleh orang gila" ancam Sisca. Dinda hanya bisa menganguk pasrah ia sangat ketakutan bila harus tinggal bersama orang gila. Sepanjang perjalanan pulang mereka lalui dengan damai Dinda tidak berani menangis apalagi mengamuk seperti biasanya.Rupanya ancaman Sisca sukses membukam Dinda. Dalam hati Heru sangat senang anaknya kini tidak banyak berulah.
__ADS_1