NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Semakin Dekat


__ADS_3

Pendekatan demi pendekatan dilakukan Ridwan, hubungan keduanya juga semakin dekat saja, bahkan terkadang Ridwan juga bermalam di rumah Marni.Untuk sekedar makan enak sekarang Ridwan tidak perlu merogoh kocek lagi.Setiap kali hendak makan ia bertandang kerumah Marni.


"Mas....Sekarang kita udah deket, bahkan lengket kaya gini, gimana kalau kamu lamar aku?" ucap Marni.


"Bentar dong sayang, kita nikmati masa-masa pacaran dulu baru kemudian kita menikah" ucap Ridwan yang berusaha menghindar.


"Ihhh...Mas Ridwan kalau disuruh lamar jawabnya tar, suk, tar,suk gitu terus lama-lama bosen juga" ucap Marni mulai bosan dengan alasan Ridwan.


"Bukan begitu Sayang, aku lagi nyari waktu yang tepat aja" alasan Ridwan.


"Iya...tapi waktu yang tepat itu kapan? Aku perempuan butuh kepastian juga" cecar Marni.


"Ya sabar dong, aku lagi nyari hari yang bagus menurut primbon jawa.Supaya pernikahan kita bahagia kamu tau kan kalau menikah itu harus dihitung wetonnya dulu, nggak bisa sembarangan " kilah Ridwan.


"Oh begitu ya Mas, kalau begitu aku ngikut aja asal jangan lama-lama" ujar Marni.


"Iya dong sayang aku juga pingin segara bersanding denganmu" ucap Ridwan.


"Ciiihhhh...Dadar perempuan bodoh! Mana ada aku ngitung weton? Ngerti aja kagak hahhahhah" batin Ridwan.


"Wah...ternyata dia berpikir sampai sejauh itu aku nggak nyangka, sebentar lagi punya suami sekeran dia" batin Marni


"Sayang hari ini aku mau ke kota sebentar, boleh nggak aku pinjam mobil kamu untuk meeting kemarin pas kesini aku naik pesawat soalnya" ujar Ridwan.


"Cihhh...naik pesawat, turun dimana? Moga aja perempuan peak ini percaya" ucap Ridwan dalam hati


"Oh iya, boleh sayang.Tapi aku ikut kamu ke kota boleh nggak" tanya Marni


"Aduh sayang maaf ya, kali ini aku nggak bisa soalnya aku langsung ke kantor" dusta Ridwan.


"Ya udah, nggak apa-apa tapi kami hati-hati ya bawa mobilnya, mobil mahal itu" ucap Marni.


"Iya...iya, kamu tenang aja digarasi kota sana juga ada mobil kek gini dan masih ada lagi mobil keren lainya" ucap Ridwan.

__ADS_1


"Garasi milik Ilham maksudnya yang banyak mobil, hahhahah" batin Ridwan


"Tajir juga dia, jadi nggak sabar jadi nyonya Ridwan" batin Marni


Setelah meminjam mobil Marni Ridwan langsung ke kota untuk menemui Narayan disekolahnya, ia ingin pamer kesemua orang bahwa dia sekarang pantas jadi Ayahnya Narayan.Tapi bukanya bangga, Narayan malah takut padanya ia masih trauma dengan penculikan Ridwan waktu itu.


"Ayah....ini mobil Ayah? Wah kelen banet" ucap Dinda Antusias melihat mobil Ridwan.


"Hei...anak tengil, aku bukan Ayahmu! Sudah kubilang berapa kali masih aja manggil Ayah. Aku ini Ayahnya Narayan" ucap Ridwan pada Dinda. Mendengar perkataan Ridwan nyali Dinda langsung ciut.


"Inda ayo, macuk kedalam caja.Kita nunggu jemputan didalam aja" ucap Narayan sambil menarik-narik tangan Dinda.Ia tak mau ketemu lagi dengan Ridwan.


"Sayang ini Ayah nak, liat mobil keren Ayah! nggak kalah sama mobil Papa kamu dan Om Ilham" bujuk Ridwan. Namun Narayan hanya mengeleng lalu menarik tangan Dinda untuk masuk menunggu jemputan di dalam.


"Sialan pakai masuk lagi, aku kan nggak bisa masuk lagi gara-gara kejadian dulu, Si Arman Pasti sudah cuci otak anak gue, liat aja kalau aku udah dapat harta Marni gue akan balas dendam sama elu Arman, enak aja elu hidup bahagia dengan istri sesempurna Aya dan anak gue yang ganteng, sedangkan aku harus hidup dengan ondel-ondel macam Marni" batin Ridwan


Dengan langkah gontai ia meninggalkan sekolah Narayan, tujuanya satu yaitu ke toko kue Cahaya untuk pamer kalau sekarang ia sudah kaya, sayangnya di sana ia tidak ketemu Cahaya.


"Eh ada mas Ridwan, mau beli kue mas?" tanya Rita.


"Untung tadi gue udah minjem duit sama Marni" batin Ridwan


"Yakin mau beli kue? Disini nggak boleh ngutang loh pak" sindir Rita.


"Kamu nggak liat, noh ada mobil keren nangkring depan toko itu mobilku" sombong Ridwan.


"Widiiiihhh...keren juga mobilnya mas, minjem siapa?" tebak Rita tepat sasaran.


"Minjem? Enak aja minjem mobil sendirilah, emang kamu hidup susah kok hobby" ucap Ridwan mengejek.


"Ya aneh aja, menurut Rita. Gini ya mas Ridwan yang sekarang jadi OKB. Aneh bangetkan pergi baru beberapa bulan langsung beli mobil kaya gitu, Mas Ilham aja yang duitnya mungkin kalau saya suruh ngitung dua hari juga nggak kelar. Dia itu kaya tapi, nggak mendadak gini" ucap Rita .


"Kan aku usaha dikampung nenekku sana, dan usahanya sukses sekarang kamu lihat sendiri hasilnya" ucap Ridwan.

__ADS_1


"Usaha apa? Cepet banget! Ternak tuyul apa bagaimana? ihh....jangan-jangan babi ngepet, kalau malam Mas Ridwan jadi Babi. Hihhhhh serem, siang ganteng malam jadi babi" ucap Rita bergidik ngeri membayangkan


"Sembarangan aja kalau ngomong" ucap Ridwan tidak terima dituduh jadi babi ngepet.


"Saya ngomong berdasarkan logika aja Mas, Orang usaha itu butuh proses lah ini tiba-tiba jadi kaya kan aneh" sanggah Rita.


"Lama-lama bicara dengan kamu bikin darah tinggi aja" ucap Ridwan langsung melenggang pergi


"Gimana kuenya jadi beli nggak?" teriak Rita


"Nggak jadi tiba- tiba neg denger omongan kamu" ucap Ridwan langsung meninggalkan toko Kue Cahaya.


"Dari mana dia dapat duit sebanyak itu buat beli mobil kek gitu, ahhh sudahlah pusing, lebih baik balik kerja dari pada mikirin orang gaje kek gitu" guman Rita.


Setelah gagal mengajak Narayan dan gagal bertemu Cahaya, Ridwan memutuskan untuk pulang kembali ke kampung dimana saat ini ia tinggal.


"Sialan bukanya ketemu Aya, malah ketemu si ember bocor" guman Ridwan sambil memukul stir mobil.


"Apa Marni gue suruh oplas aja ya, biar gak malu-maluin kalo diajak jalan, tapi nanti duitnya habis sayang dong" Sebuah Ide muncul dari benak Ridwan namun ia buru-buru menghapus ide tersebut.


"Masa, habis dapet Aya yang bening kaya gitu dapat Marni udah butek, kaya gentong lagi hadeh, Ah sudahlah lebih baik apa yang ada didepan mata aku jalani dulu" kembali Ridwan berguman.


Mobil terus melaju meninggalkan kota yang dulu ia tinggali. Kini ia harus kembali pada kenyataan yang sebenarnya, hidup dikampung dan harus bersanding dengan seorang Marni demi kelangsungan hidupnya dan Ibunya.


"Baru pulang Wan?" tanya Ibunya.


"Gimana jadi ketemu cucu Ibu?" tanya Tini.


"Jadilah bu, cuma dia kayaknya masih takut aku" ucap Ridwan.


"Semua gara-gara Dita" ucap Ibunya Ridwan padahal Ide menculik Narayan itu juga dari dia.


"Ngomong-ngomong soal Dita, mungkin Dia sekarang dapat orang kaya Bu, buktinya Dinda sekolah ditempat Narayan.Nggak mungkin kan kalau kakek dan neneknya yang nyekolahin Dinda" ucap Ridwan.

__ADS_1


"Hebat juga Dita, kamu jangan kalah sama Dita. Makanya pepet terus si Marni" ucap Ibunya Ridwan semangat empat lima.


"Hadeh....ujung-ujungnya itu lagi" ucap Ridwan pelan.


__ADS_2