NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Marni


__ADS_3

"Kami sibuk...brakk" pintu ditutup Bapaknya Dita dan langsung masuk Rumah.


"Astagfirullah" ucap Sisca kaget ketika pintu dibanting begitu keras.


"Kakek jahat ya bu?" tanya Dinda yang mulai mengerti tindakan yang kasar itu tidak diperbolehkan.


"Nggak kok sayang, mungkin dia lagi capek. Tapi Dinda nggak boleh kaya gitu ya sayang!" ucap Sisca menasehati anak sambungnya.


"Dosa ya, bu?" tanya Dinda.Sisca hanya mengangguk.


"Inda benci kakek kalena dia jahat" ucap Spontan Dinda.


"Dinda anak Ibu yang Cantik, Dinda nggak boleh benci kakek, karena bagaimanapun dia orang tua Ibu Dita Ibunya Dinda" ucap Sisca Menasehati.


"Nanti Ibu Dita sedih ya bu,?" tanya Dinda lagi.


"Iya sayang, sekarang kita pulang ya.Dinda doakan saja semoga Ibu disana baik-baik saja" Ucap Sisca.


"Iya bu, Dinda sedih semalem inda mimpi Ibu dipukul olang, Ibu nangis" ucap Dinda menceritakan mimpinya.Mungkin ini yang namanya ikatan batin Ibu dan anak.


"Alhamdulillah ya Allah ,Anak ini semakin kesini semakin manis dan nurut. Aku jadi takut kalau sewaktu-waktu Dita mengambil dariku.Bagaimanapun aku sudah sangat menyayanginya dan mengangap dia anakku sendiri" batin Sisca


◇◇◇◇


Kediaman Bulek Siti (Bulenya Ridwan dikampun)


"Man, kamu nggak capek apa? hari-hari cuma duduk-duduk aja.Kaya nggak butuh makan aja" cerocos Siti


"Ini juga lagi usaha cari kerjaan Bulek" ucap Ridwan


"Mana ada nyari kerja, kamu seharian hanya di rumah dan main hp melulu, kau kira Bulek buta?" ucap Siti.


"Sabar Siti, Ridwan lagi nyari lowongan di net..net apa itu, pokoknya lewar HP gitu" ujar Tini Ibunya Ridwan.


"Internet bu" kata Ridwan.


"Inet atau apalah itu, pokoknya begitu" ucap Tini.


"Mana ada nyari kerja model gitu, kalau nyari kerja itu ya keluar rumah terus melamar dimana gitu" ucap Siti.

__ADS_1


"Memangnya lamar cewek Bulek, asal lamar aja tanpa tau ada lowongan atau tidak. Yang ada sia-sia" ucap Ridwan.


"Ngomong-ngomong soal lamaran, kenapa kamu nggak lamar janda tetangga sebelah itu, dia uangnya pasti banyak. Liat saja rumahnya gedongan begitu isinya pasti barang-barang mahal.Kalau kamu jadi suaminya kamu nggak usah repot-repot cari kerja" usul Ibunya Ridwan.


"Ibu....ini yang dipikirin cuma ngawinin Ridwan sama janda kaya aja, lagian Ridwan nggak selera sama janda sebelah, badanya segede gaban gitu dandananya menor, terus kalau pakai baju bukanya kelihatan sexy tapi malah lemaknya nongol semua. Hiiihhh" ucap Ridwan sambil bergidik ngeri.


"Iya juga Wan, kenapa nggak coba aja dulu?.Dia itu banyak yang mendekati tapi, kayanya dia tipe pemilih juga, maklum lah janda kaya nggak pingin salah pilih." ujar Siti.


"Ogah Bulek, hiiih ngeri" ucap Ridwan.


"Wan, kamu mau kita hidup kaya gini terus? Kamu nggak kasian sama Ibu yang sudah tua ini, hidup menderita.hiks...hikss...hik" Ibunya Ridwan mengeluarkan jurus pamungkas yaitu air mata buaya.


"Udah...Ibu jangan nangis!, demi Ibu Ridwan bakal deketi janda itu" ucap Ridwan.


"Ya Tuhan, kenapa hidupku gini amat" batin Ridwan


Ibunya Ridwan dan buleknya langsung tos, ketika Ridwan langsung keluar rumah.


"Yes berhasil" ucap Ibunya Ridwan.


"Mbak Tini memang the best" ucap Siti.


"Siapa dulu dong? Aku!" ucap Ibunya Ridwan langsung menepuk dada Bangga.


"Kopinya satu bu" ucap Ridwan.


"Eh...Mas ganteng, kopi apa mas?" tanya janda tadi.


"Kopi item aja bu" kata Ridwan.


"Jangan bu, dong kesannya tua banget padahal umur kita selisih nggak jauh, hanya terpaut lima taun mas ganteng dibawah saya" ucap Janda tadi dengan begitu luwes melayani pembeli.


"Ok baiklah kalau begitu, saya panggil mbak aja ya?" ucap Ridwan.


"Boleh Mas" ucap Janda tadi.


"Ngomong-ngomong suami mbak kerja dimana?" tanya Ridwan basa-basi padahal ia sudah tau kalau lawan bicaranya seorang janda.


"Ah...Saya single mas? Suami saya sudah dialam baka. Meninggalkan saya dengan semua hartanya" ucap Janda tadi.Mendengar kata Harta mata Ridwan langsung melek.

__ADS_1


"Wah...padahal masih cantik, muda dan seger gini kenapa nggak menikah lagi?" Ridwan mulai melancarkan rayuanya.


"Cantik apaan? kaya gentong kaya gini, kalau bukan demi Ibu dan uang ogah banget ngobrol dengan perempuan model gini.Hiiiiiiih"Batin Ridwan


"Hallah masnya bisa aja! Mana ada yang mau sama janda seperti saya ini yang hanya punya 1 pajero, 2 fortuner , 1 truk dan lima sepeda motor ditambah sedikit tabungan dibank yang jumlahnya cuma sedikit ,paling hanya cukup membeli 5 hektar sawah" ucap Janda tadi memamerkan hartanya.


"Semoga dia tertarik dengan harta yang aku pamerkan, tapi setelah itu aku akan keruk hartanya" batin janda tadi


"Gila bener! Tajir juga dia, gue dulu aja sekelas manager nggak mampu barang-barang sebanyak itu.Aku harus gas untuk memanfaatnya" batin Ridwan


"Wah mbak ini.....pasti sudah banyak yang antri, boleh nggak aku ikut daftar ngantri" gombal Ridwan


"Tuhkan...apaku bilang, dia langsung tertarik" batin janda Tadi


"Ah..mas bisa saja, ngomong-ngomong mas kerja dimana? pasti orang kantoran ya, dari penampilanya sudah kelihatan" ujar janda Tadi


"Oh iya, kita belum sempat kenalan namaku Ridwan aku bekerja disalah satu BUMN, saat ini aku sedang libur ambil cuti kerja terus ke kampung nyari suasana baru, eh taunya ketemu neng cantik" Ridwan semakin lancar bohongnya.


"Wah...pegawai BUMN, aku bakal semakin kaya setelah ini. Orangya juga keren begini double anugerah ini namanya" batin Janda tadi


"Aku Marni, janda tercantik dan terkaya dikampung ini" ucap Marni penuh percaya diri.


"Cihhh...Cantik dari hongkong?, kalau kaya gue akuin, tapi kalau soal cantik jauh dari standar" batin Ridwan


"Senang berkenalan dengan Dek Marni yang cantik ini" ucap Ridwan


"Saya juga senang berkenalan dengan Mas ganteng," ucap Marni.


"Berapa kopinya neng?" tanya Ridwan.


"Buat Masnya gratis" ujar Marni.


"Untuk mendapat ikan yang lebih besar memang harus ada umpan, nggak apa-apalah cuma kopi segelas aja"batin Marni


"Untung gratis, sepeserpun gue gak bawa uang, tau gitu tadi pesen makan sekalian, mana dari pagi belum makan lagi" batin Ridwan


"Makasih, kamu udah cantik baik lagi" ucap Ridwan


"Sama-sama mas, kok buru-buru amat mau kemana?" tanya Marni.

__ADS_1


"Tadi saya pesen pizza takutnya dirumah nggak ada orang kasian kurirnya" dusta Ridwan.


"Pizza dari hongkong, duit aja gue kagak pegang sama sekali" batin Ridwan


__ADS_2