NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Bertemu Dinda kembali


__ADS_3

Perut Ridwan terasa keroncongan, karena dari pagi belum diisi, ia kemudian mampir kesebuah kedai mie Ayam.


"Mas Ridwan, tumben sudah kesini lagi yang lain mana?" tanya pemilik kedai mie ayam.Biasanya Ridwan selalu mampir ke warung ini bersama budi dan rombonganya.


"Saya memang sendirian aja pak, sebenarnya hari ini libur cuma saya ada keperluan pribadi jadi saya kesini sendiri" ucapnya.


"Maaf ya mas, antri ini anak-anak pada nggak masuk" ucap pemilik kedai.


"Nggak apa-apa pak" ucap Ridwan. Lalu Ridwan berinisiatif membantu pemilik kedai tersebut karena, kasian melihat pemiliknya kerepotan sendirian.


"Makasih loh mas, malah dibantuin segala" ucap pemilik kedai.


"Sama-sama pak, saya juga senang kok bisa bantu" ucap Ridwan.


Ketika kedai mulai sepi Ridwan mulai menikmati semangkok mie ayam dan es teh dengan lahab.Tiba-tiba muncul Dinda di kedai itu.


"Ayah? Kenapa Ayah disini? Ayah kangen ya cama Inda" tanyanya.


"Ih...bocah ini lagi, ngapain juga pakai acara ketemu disini bikin mood jelek aja, belum lagi nanti minta jajan lagi, mending aku pura-pura tidak kenal aja" batin Ridwan


"Ayah...Ayah kenapa diam?" ucap Dinda sambil mengoyang-goyangkan lengan Ridwan.


"Kamu siapa?, aku nggak kenal kamu tolong minggir!" ucap Ridwan pura-pura tak kenal Dinda ia tak ingin kena masalah dengan Dinda.


"Ayah...ini inda, napa lupa?" ucap Dinda matanya mulai mengembun.


"Aduh....mau nangis lagi,gimana ini sebenarnya kasian juga, tapi ....ahhh sudahlah peduli amat" batin Ridwan


"Ayah...inda cekalang ndak nakal lagi, inda ikut Ibu isca, inda juga cekolah cama Nalayan" ucap Dinda sambil mengoyang-goyangkan tangan Ridwan seolah ingin meyakinkan bahwa Dia adalah Dinda yang dulu jadi anak kesayangan.

__ADS_1


"Dinda....kamu disini, Ibu cari kemana-mana" ucap Sisca yang baru saja masuk kedai.


"Maafin Inda Bu, tadi tidak pamit coalnya inda liat Ayah dicini.Inda kangen cama Ayah" ucap Dinda memelas, air matanya sudah tumpah namun, ia tidak seperti dulu jika menangis meraung-raung ia hanya menangis dalam diam sambil memegangi lengan Ridwan.


"Maafkan anak saya pak, dia mengira Bapak ini ayahnya" ucap Sisca yang tidak enak ia juga tidak mengenal Ridwan sama sekali.


"Tolong jauhkan anak Ibu dari saya, saya agak terganggu, saya sedang makan" ucap Ridwan tanpa menoleh ia tidak sanggup melihat air mata Dinda, walau bagaimanapun juga Dinda dulu adalah anak kesayanganya.


"Nak...kita makan disana ya, Bapak ini mau makan sendiri jadi kamu nggak boleh ganggu" ucap Sisca penuh kelembutan.


"Wanita ini sabar banget ngurus Dinda, syukurah Dinda Pakde seneng, kamu dapat Ibu yang baik seperti perempuan ini, pakde yakin suatu saat kamu akan tumbuh menjadi gadis yang baik seperti perempuan ini" batin Ridwan


"Ibu Inda tidak boong ini ayah inda" ucap Dinda berusaha meyakinkan Sisca


"Nak, kita makan disana yuk habis ini kita beli kerak telur diujung gang sana" ucap Sisca.


"Tapi Ibu pelcaya cama Dinda kan" ucapnya.


Karena tidak enak dengan Dinda Ridwan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kedai mie Ayam tadi, ia tidak sanggup melihat air mata Dinda.


"Dinda maafin Pakde, bukanya Pakde jahat, Pakde lakukan ini untuk kebaikan kita, Pakde nggak mau anak kandung pakde makin membenci pakde karena kedekatan kita. Aku tau ini bukan salahmu tapi ,sayangnya pakde ke kamu dimasa lalu melukai anak pakde sendiri, pakde lebih mengutamakan kamu dari pada anak pakde sendiri sekarang pakde baru tau rasanya kehilangan sosok anak sendiri itu sakit banget, Saat ini pakde baru merasakan sakit ketika ada yang lebih dekat dengan anak pakde adalah orang lain" batin Arman ia menangis pilu dalam hati


"Ibu? Inda kan cudah tidak natal ladi napa Ayah kayana benci inda?" pertanyaan polos lolos begitu saja dari mulut Dinda.Membuat Sisca berpikir siapa laki-laki yang disebut Ayah oleh Dinda ini, karena setaunya Suami Dita sudah meninggal.


"Itu tandanya Dinda harus lebih bersabar lagi, harus lebih baik lagi" ucap Sisca.


"Iya Ibu, inda mau lebih baik lagi, agal ayah sayang ladi cama Dinda" ucap Gadis kecil itu semangat.


Sementara itu Ridwan meneruskan perjalananya menuju kampung halamanya, sesampainya dirumah ia langsung dihadiahi ceramah oleh ibunya.

__ADS_1


"Kamu ini sengaja ya, mau bikin Ibu malu," cecar Ibunya Ridwan.


"Ibu, Ridwan baru pulang bukanya disambut dibikinin teh anget kek, kopi kek, dateng-dateng lansung disembur" ucap Ridwan.


"Ibu itu malu Wan, tadi tukang panci marah-marah, mana tetangga pada kepo semua langsung ngintipin Ibu dimaki sama tukang panci" omel Ibunya Ridwan.


"Ah......itu perasaan Ibu aja, perasaan tetangga sini baik-baik semua" ucap Ridwan mencoba menghibur Ibunya.


"Serah deh, kamu mau ngomong apa, pokoknya mulai besuk uang belanja Ibu kamu tambah biar Ibu nggak stres" ucap Ibunya.


"Bu, bukanya Ridwan nggak mau nambah uang belanja Ibu, tapi memang Ridwan belum punya uang saat ini, kerja aja masih kaya gini kadang dapat kadang enggak" ucap Ridwan mencoba memberi pengertian pada Ibunya.


"Pokoknya Ibu nggak mau tau bagaimana caranya kamu harus kasih Ibu uang tambahan, mau ngepet kek, mau ngemis kek, mau maling terserah yang penting kamu kasih uang belanja lebih" ucap Ibunya.


"Astagfirullah bu, Isti'far" ucap Ridwan.


"Istipar- istipar memang kalau istipar kita bisa kenyang?" sewot Ibunya.Ridwan hanya bisa menghela nafas mengahadapi Ibunya.


"Ingat Ridwan surga dibawah kaki Ibu, jadi kamu harus patuh sama Ibu" ucap Ibunya.


"Iya..iya, apa Ridwan kurang patuh sama Ibu, saking patuhnya Ridwan sama Ibu sampai Ridwan kehilangan kelaurga Ridwan sendiri" ucap Ridwan pilu.


"Keluargamu itu ya Ibu, Aya itu orang lain selamanya orang lain, Kalau Narayan itu memang darah dagingmu tapi, dia bisa hidup enak dan berkecukupan jadi kamu tidak perlu memikirkanya. Yang harus kamu pikirkan itu nasib kita kedepanya bagaimana" ucap Ibunya Ridwan.


"Bu, sampai kapan pun Narayan itu tetap anakku aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja" ucap Ridwan.


"Terus kamu mau apa? Mau biayain sekolah dia yang mahal itu? Mau bayar pakai apa? Pakai daun? Mikir dong Wan! Hidup kita aja susah begini masih aja mikir anak yang jelas- jelas hidupnya sejahtera, Bapak sambungnya orang kaya, Omnya pejabat, neneknya wanita sosialita, Ibunya duitnya banyak lah kita makan aja susah pakai acara sok mau peduli sama anak kamu" cecar Ibunya yang masih tidak terima kalau Ridwan bermaksud menafkahi anaknya meskipun ala kadarnya.


"Serah Ibu , Ridwan pusing" ucap Ridwan pada Akhirnya

__ADS_1


"Makanya cari duit yang banyak agar nggak pusing lagi" Ibunya Ridwan terus menceramahi Ridwan


I


__ADS_2