
Mas Ridwan terus menatap kamar Narayan, berkali-kali ia dengar Mas Arman dan Narayan saling melempar tawa,kulihat mendung diwajah mas Ridwan. Berulang-ulang ia menarik nafas lalu membuang perlahan.
"Aya, aku menyesal telah mensia-siakan kalian dulu.Andai dulu aku tidak khilaf saat ini yang ada di posisi Arman itu aku, ya harusnya itu aku" ucapnya dengan wajah memelas.
"Sudahlah Mas, yang lalu biarlah berlalu.Saranku perbaiki dirimu jika nanti kamu berumah tangga lagi, jangan perlakukan anak dan istrimu seperti kami" Nasehatku pada Mas Ridwan, walau bagaimanapun juga dia ayah dari anakku.
"Aya...bolehkah aku tanya sesuatu?" tanyanya sedikit ragu.
"Apakah kamu mencintai Arman?" tanyanya kemudian.
"Pertanyaan macam apa ini" batinku
"Ya tentu saja aku mencintainya, karena dia suamiku" ucapku mantab.
"Jadi kalau dia bukan suamimu kamu tidak mencintainya" ucapnya lagi.
"Apalagi maksud orang ini" batinku
"Ya tentu saja, aku tidak akan mencintai sesuatu yang bukan milikku" sindirku, aku jadi mengingat perselingkuhanya dengan Sila yang nota bene wanita bersuami.
"Berarti dugaanku benar, kau masih mencintaiku dan kau menikah dengan Arman karena hartanya dan kau berusaha mencintainya" tuduhnya.
"Apa maksudmu mas?, Asal kamu tau aku sangat mencintai Mas Arman melebihi cintaku padamu dulu.Perhatian, kasih sayang semua aku dapatkan dari dia yang sebelumnya tak pernah kudapatkan darimu" ucapku tegas, agar dia sadar kalau dia bukan siapa-siapa lagi bagiku.Rasanya ingin kusumpal mulutnya dengan tuduhanya aku mencintai Mas Arman karena uang.Menyebalkan sekali
"Kamu tau dengan baik siapa aku, tuduhanmu itu tidak berdasar.Bertaun-taun aku hidup denganmu apakah pernah aku menuntut kemewahan darimu? Jangankan kemewahan nafkah yang kamu berikan saja tidak layak. Apakah pantas kamu berkata seperti itu padaku yang sekarang nota bene aku bukan siapa-siapa lagi bagi kamu?" aku jadi ngegas ngomong sama dia, tersulut emosiku oleh ucapanya.
"Ya logikanya aja, kamu cinta sama aku makanya kamu hidup susahpun mau, kalau sama Arman kan beda lagi dia bisa kasih semua yang perempuan inginkan, perempuan manapun kalau liat duit nggak cinta pasti bilang cinta" ucapnya tanpa perasaan.
"Sudah ngomongnya? Kalau sudah selesai bicara dan tidak ada kepentingan kamu boleh tinggalkan tempat ini" ucapku jengkel setengah mati.
"Nggak usah ngelak, kalau kamu masih cinta aku bersedia balik sama kamu.Aku rela meskipun kamu sudah tidur sama Arman" ucapnya makin ngaco.
"Cintaku nggak buta Mas, aku masih ingat betapa jahatnya kamu sampai kamu tega mengorbankan anakmu sendiri demi ponakan kamu tercinta" ucapku mengingatkan segala kesalahanya agar dia sadar diri.
__ADS_1
"Aku kesini belikan mainan untuk Narayan aku sudah berubah" ucapnya kekeh kalau dia sudah berubah.
"Terlambat Mas" kataku.
"Sekarang aja baru pura-pura peduli, dulu kemana aja? Sekarang aja pakai acara beli mainan murahan kek gitu" batinku
"Nggak perlu Mas, mainan Narayan sudah banyak. Kasih aja Dinda diakan yang utama dan pertama bagi kalian bukankah menurutmu Ibumu dan Dinda adalah orang terpenting dalam hidupmu apapun akan kamu lakukan untuk membahagiakan mereka" ucapku agar menyadarkan Amnesianya.
Kulihat Mas Arman keluar dari kamar Narayan seorang diri, mungkin dia menyuruh bibik untuk menemani Narayan dulu, sepertinya ia mendengar keributanku dengan Mas Ridwan.
"Pak Ridwan, Maaf saya tinggal sebentar tadi.Jadi kedatangan Pak Ridwan kesini ada kepentingan apa?" tanya Mas Arman penuh wibawa dan ketenangan.
"Sayang, kamu masuk dulu gih. Handuknya dijemur dulu" ucap Mas Arman sepertinya ia tau aku mulai tidak nyaman dengan mas Ridwan.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Narayan anak saya, itu aja" ucap Mas Ridwan.
"Sekarang Narayan tanggung jawab saya, kalau ketemu Narayan saya tidak melarang namun, harus tetap ada dalam pengawasan kami, karena kami masih trauma dengan kejadian yang menimpa Narayan waktu itu" kata Mas Arman langsung membuat Mas Ridwan kiclep.
Tak lama kemudian Mas Arman mebawa Narayan dalam gendonganya dan membawanya ke ruang tamu untuk bertemu dengan Mas Ridwan.
"Aku mau Papa" ucapnya.
"Ini Papa disini juga, temeni kamu" ucap Mas Arman, barulah Narayan turun.
"Mama, kenapa masih disini? Apa perlu aku gendong kamu untuk kebelakang" goda Mas Arman.
"Papa, apaan sih" ucapku malu-malu meong, yang membuat muka Mas Ridwan memerah cemburu mungkin, tapi aku tak peduli.Sebelum aku pergi sengaja kucium pipi mas Arman didepan Mas Ridwan biar si muka tembok itu tau dimana posisinya saat ini.
"Ih...Mama nakal ya," ucap Mas Arman dan aku langsung pergi meninggalkan mereka, tapi aku tidak pergi begitu saja aku masih mengintip dari balik pintu takutnya Mas Ridwan ngomong yang aneh-aneh sama Mas Arman.
Kulihat Narayan enggan berinteraksi langsung dengan Mas Ridwan seperti ada jarak diantara mereka, setiap ditanya sesuatu sama Mas Ridwan dia hanya diam. Paling banter mengeleng atau mengangguk bedalagi kalau yang menanyai mas Arman ia langsung bercerita panjang lebar kadang juga nggak penting juga diceritakan, Namanya juga anak-anak.Akhirnya setelah beberapa saat si muka tembok pulang juga. Aku langsung gabung dengan mereka. Narayan langsung ke kamarnya untuk bobok siang, aku jadi kasian sama dia jadwal bobok siangnya jadi terganggu gara-gara si muka tembok itu
"Akhirnya pergi juga dia" ucapku
__ADS_1
"Kamu nggak mau dia pergi?" goda Mas Arman.
"Apaan sih Mas, gaje banget" sewotku.
"Aku itu sekarang harus waspada pada semua orang yang mau bawa kabur istriku" ucapnya.
"Emang aku barang? Main bawa kabur aja" ucapku
"Aku nggak mau kehilangan kamu" ucapnya lalu memelukku seolah tak ingin melepaskan lagi.
"Kamu cemburu Mas?," tanyaku
"Banget" jawabnya.
Aku bersyukur banget punya suami sesempurna Mas Arman, terimakasih ya Allah.
Pov Cahaya End
Sementara itu saat keluar dari gerbang rumah Arman tiba-tiba ponselnya berdering, lalu ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya dilihatnya ID pemanggilnya adalah Ibunya.
"Ibu, hadeh pasti UUD, ujung-ujungnya duit" guman Ridwan.
"Hallo Wan, kamu dimana? Cepetan pulang! Ibu udah dimaki-maki sama tukang kredit panci, kamu gimanasih kan Ibu sudah bilang tingalin uang hari ini tukang kredit panci datang" cerocos Ibunya diseberang sana.
"Tuh kan benar, UUD" batin Ridwan
"Ibu Ridwan lagi dikota, kemarin kan sudah aku tingalin uang masak sudah habis, Ibu tolong hemat sedikit! Hidup kita nggak kaya dulu lagi" ucap Ridwan.
"Kamu cuma tingalin seratus rebu, mana cukup Wan, buat Arisan dua puluh ribu, kredit panci aja dua puluh ribu, kredit kipas dua puluh ribu, beli gas dua pulu tiga ribu, belum lagi beras habis, minyak habis kamu ini gimana sih" Omel Ibunya Ridwan.
"Lagian Ibu, hidup susah kek gini masih ikut arisan, kredit panci dan lain-lain harusnya Ibu hemat pilihlah kebutuhan yang penting dulu" ucap Ridwan.
"Kamu pikir Arisan nggak penting, kredit panci nggak penting, Semua itu penting kalau nggak arisan Ibu ketingaln gosib sama ibu-ibu RT, kalau nggak kredit panci nanti dikira pelit panci cuma itu-itu aja" curhat Ibunya Ridwan.
__ADS_1
"Serah Ibulah, yang pasti Ridwan masih dikota" ucap Ridwan lalu mematikan sambungan ponselnya