NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Surat perjanjian


__ADS_3

Sepulang dari kerja Ilham menemui Ridwan untuk memberinya pelajaran dan membuat kesepakatan perjanjian hitam diatas putih.


"Bangun....brensek!" teriakan Ilham mengema di sebuah ruangan kecil dan pengap.Disinilah Ilham menyembunyikan Ridwan untuk memberinya pelajaran.


Mata Ridwan terbuka, ia melihat sekelilingnya gelap tangan dan kakinya masih diikat, Ia baru mengingat kemarin setelah Ilham pergi meninggalkanya, ada dua orang preman datang dan menghajarnya setelah itu ia pingsan dan disinilah ia saat ini berada.


" Ham.... Maafkan aku, aku khilaf" ucap Ridwan memelas. Berharap ada belas kasihan dari Ilham dan melepaskanya.


" Cuih...." Ilham meludah tepat didepan muka Ridwan.


" Khilaf katamu? Khilaf itu satu kali, tapi apa yang kamu lakukan bukanlah sebuah kekhilafan, tapi kamu melakukanya dengan keadaan sadar sepenuhnya dan kamu kamu lakukan berulang-ulang." ucap Ilham.


" Ilham aku sungguh menyesal, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi" Ridwan terus memohon ampun pada Ilham.


" Menyesal? Memang ada dalam kamus manusia sepertimu? Ralat aku lupa bahwa kamu itu bukan manusia melainkan binatang yang sakit jiwa.Binatang buas sekalipun tidak akan pernah menyakiti anaknya" ucap Ilham kemudian ia mendekati Ridwan.Dan melepas ikatan tangan dan kaki Ridwan, Ridwan tersenyum ia mengira Ilham akan melepaskanya.


" Bugh..."sebuah pukulan mendarat diperut Ridwan dan kemudian dia terjatuh.


" Bangun brengsek!, lawan aku" ucap Ilham.


" Ampun Ham..." hanya itu yang bisa Ridwan katakan saat ini. Dalam kondisi primapun ia tidak akan sanggup melawan Ilham apalagi kondisinya saat ini.


" Bughh.." Ilham memukul wajah Ridwan.


" Sebenarnya aku ingin menghabisimu sekarang juga, tapi aku masih punya nurani tidak sepertimu" ucap Ilham sambil menunjuk tepat diwajah Ridwan.


" Ampun Ham... Maafkan aku" ucap Ridwan sambil menahan sakit disekujur tubuhmu.


" Baiklah....genderuwo, aku sedang berbaik hati aku akan membebaskanmu dengan syarat" ucap Ilham.


" Apapun itu akan aku lakukan, asal kau bebaskan aku" ucap Ridwan

__ADS_1


" Bagus! Sekarang juga kamu tanda tangani ini" ucap Ilham sambil memberikan dua lembar kertas yang harus ditanda tangani Ridwan.


" Apa ini Ham?" tanya Ridwan.


"Kamu ini sekolah tinggi- tinggi tapi g****k, kamu bisa bacakan! Itu surat perjanjian yang isinya bahwa kau tidak akan pernah menganggu mbak Aya dan Narayan lagi, jika itu sampai terjadi aku tidak akan segan-segan memasukkanmu kepenjara biar kamu dan Ibumu sama- sama membusuk disana" ucap Ilham.


"Inikan perjanjianku kenapa melibatkan Ibu?" Ridwan hendak protes.


"Aku sengaja membuat kalian jera, karena otak dari semua kejahatan yang kamu lakukan itu Ibumu. Kamu hanyalah boneka mainanya, makanya kalau berulah lagi kalian sama-sama akan mendekam dipenjara. Dan satu lagi akan aku pastikan kalian jadi gelandangan apabila sudah keluar dari penjara, Jadi jangan coba- coba untuk bermain- main lagi dengan keluargaku! " acaman Ilham sukses membuat Ridwan ketakutan. Ia juga sangat yakin Ilham mampu melakukan semua yang ia katakan dengan sangat mudah.


"Baiklah aku menyetujuinya"ucap Ridwan.


"Satu lagi jangan pernah kamu dan keluargamu menampakkan batang hidung kalian dihadapan mbak Aya dan Narayan. Kalau kalian masih pingin selamat" ucap Ilham kemudian merampas surat perjanjian yang sudah ditanda tangani Ridwan.


"Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya!, ingat tidak ada kesempatan kedua" ucap Ilham meninggalkan Ridwan.


Setelah kepergian Ilham Ridwan ikut meninggalkan tempat itu, dengan langkah terseok-seok ia menuju jalan raya berharap ada orang yang iba dan menolongnya mengantarkan kerumah sakit.


"Bapak kenapa?" tanya salah satu dari mereka.


"Tolong antarkan saya kerumah sakit!, saya habis dirampok preman pada saat mau ambil uang untuk biaya anak saya yang sedang sakit dirumah sakit" dusta Ridwan.


" Kasian sekali bapak ini" lalu mereka membawa Ridwan kerumah sakit dimana Dinda dirawat mereka juga iuran untuk diberikan kepada Ridwan.


Sesampainya dirumah sakit Ridwan menolak dirawat karena tidak ada biaya.Ia langsung menemui Ibunya dan Dita.


" Wan...kamu kenapa babak belur begini? "Tanya Ibunya.


" Aku nggak apa- apa bu" ucap Ridwan.


" Dimana Narayan mas? Kenapa pulang sendiri?" tanya Dita.

__ADS_1


" Dita...aku pulang masih hidup saja sudah bersyukur, jangan tanyakan soal Narayan lagi kalau tidak ingin masuk penjara berjamaah" ucap Ridwan dengan nada dingin.


" Tapi bagaimana dengan Dinda? Aku tidak mau Dinda kenapa-napa mas" ucap Dita.


" Kalau kamu nggak mau Dinda kenapa-napa kamu cek kecocokan sungsum kamu, terus donorin sama Dinda" ucap Ridwan ketus.


"Aku nggak mau operasi mas" ucap Dita


" Kalau nggak mau, Ya sudah terima nasib saja" ucap Ridwan.


" Mas usaha lagi nyulik Narayan, jangan sampai ketahuan lagi" ucap Dita masih kekeh pingin Narayan donor sungsum untuk Dinda. Sementara Ibunya Ridwan hanya diam saja Ia sangat hafal dengan Ilham. Jika sudah marah laki- laki itu tidak akan memberi ampun pada siapapun.


" DITA! KALAU KAMU MAU MASUK PENJARA MASUK AJA SENDIRI JANGAN NGAJAK-AJAK" ucap Ridwan meninggi. Mendengar itu Dita hanya menangis terisak.


"Aku sudah bikin perjanjian dengan Ilham jika membuat masalah lagi maka kita semua akan masuk penjara, mengertilah Dita" ucap Ridwan mulai melunak.


" Dua hari aku disekap sebelum itu aku dihajar dua preman, kamu tau kita tidak bisa lapor polisi. Ilham itu punya uang dan kekuasaan kalau melawan dia sama saja bunuh diri" ucap Ridwan lagi mencoba memberi pengertian pada Dita.


Dita terus menangis, ia sangat dilema satu sisi dia ingin sembuh satu sisi dia sangat takut kalau harus melakukan operasi.Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam otak Dita.


"Dita...sebagai seorang Ibu,kamu harus berkorban untuk kesembuhan anakmu, singkirkan egomu" ucap Mertua Dita.


"Tapi Dita takut bu, bagaimana kalau operasinya gagal dan Dita mati terus Mas Ridwan kawin lagi, Dita nggak mau Ibu" ucap Dita menangis sesengukan.


"Soal Ridwan kamu percayakan sama Ibu, Ibu yang akan atur dia sekarang yang terpenting Dinda harus segera sembuh, kasian cucu Ibu dia pasti kesakitan saat ini" ucap Mertua Dita sambil berurai air mata.


" Baiklah bu, Dita mau menjadi pendonor sumsum belakang untuk Dinda" ucap Dita walaupun sebenarnya dia belum yakin dengan keputusannya kali ini.tapi demi Dita putri kesayanganya apapun akan ia lakukan.


Kini Dita sedang menjalani serangkaian pemeriksaan kecocokan sumsunya dengan Dinda. Setelah beberapa saat hasil pemeriksaan telah keluar dan hasilnya cocok Dita bisa menjadi pendonor untuk Dinda.dokter juga sudah menyiapkan jadwal operasi.


" Mas ...aku takut" ucap Dinda sambil mengengam tangan Ridwan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu tenang saja habis operasi kamu malah bisa langsing dan itu bagus untukmu tak perlu diet karena kamu juga tidak suka diet.Biar badanmu tidak segede gaban lagi" ucap Ridwan bukanya menenangkan Dita yang ketakutan akan menjalani operasi malah menjatuhkan mentalnya. Dita paling benci dikatakan badanya segede gaban walaupun faktanya memang demikian.


__ADS_2