NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU

NAFKAH TAK LAYAK DARI SUAMIKU
Membiasakan dengan keadaan


__ADS_3

Pagi ini aku lalui dengan penuh semangat, melihat Narayan kemarin membuat semangat bekerjaku dua kali lipat dari biasanya.Setelah membersihkan masjid aku langsung bergegas mandi setelah itu langsung ke toko Aki Ali, sampai disana aku mendapat mandat untuk mengantar Anisa ke kota.


"Anisa hari ini kamu kekota untuk membeli persediaan toko ini, banyak barang yang sudah habis" kata Aki Ali


"Iya, Abah" ucap Anisa patuh.


"Nak Ridwan, tolong antar Anisa ke kota hari ini. Pakai pick up biasanya" ujar Aki Ali.


"Iya, Aki" ucapku patuh


"Tapi ini agak lama loh mas, soalnya


daftar belanjaanya banyak" kata Anisa


"Iya, nggak apa-apa" kataku


Setelah itu kami berangkat ke kota, sepanjang perjalanan kami hanya banyak diam, karena cangung tepatnya mengingat Anisa ini sangat berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini dekat denganku, dia sangat menjaga adab dan sopan santun. Aku mencoba membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.


"Dek Anisa, setelah belanja dek Anisa mau kemana?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Langsung pulang aja mas," katanya singkat.


"Dasar bodoh, jelas langsung pulang lah, kamu kira dia Dita atau Sila kalau kemana-mana pasti ngajak belanja dulu" batinku merutuki diriku sendiri


"Memangnya Mas Ridwan mau kemana?" tanyanya. Aku langsung garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal bingung jawabnya.


"Hmmm...enggak kemana-mana juga" kataku singkat.

__ADS_1


"Nggak pingin nemuin anak dulu?" tanyanya dan aku hanya bisa mengelang


"Emang nggak kangen mas?" tanyanya.


"Kalau kangen jangan ditanya lagi, namun aku tak punya nyali untuk menemui anakku, aku sudah membuat kesalahan yang besar dan sulit dimaafkan" ucapku sambil tertunduk lesu, kemudian aku menceritakan kisah kelamku pada Anisa dan setelah mendengar ceritaku aku kira dia akan ilfeel denganku nyatanya tidak dia malah memberi aku semangat, dia juga berkata bahwa tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa, perempuan ini sungguh lain dari pada yang lain setiap kata-katanya selalu menyejukkan hati.


"Dek Anisa, kenapa sampai sekarang kamu masih betah menyendiri" kuberanikan bertanya padanya.


"Ya mungkin karena Allah belum kasih jodoh lagi buat saya Mas, pasti Allah sudah menyiapkan laki-laki yang terbaik untuk saya" katanya


Kemudian hening tidak ada lagi pembicaraan diantara kami, setelah berbelanja kami makan siang di kedai mie ayam langananku. Saat kami sedang makan aku melihat Hendra teman sekantorku dulu juga sedang menikmati mie Ayam dikedai ini, lalu dia menghampiri kami.


"Wah sudah ada yang baru lagi ini" ucapnya sambil menepuk bahuku.


"Bukan, dia anak majikanku dimana aku bekerja saat ini" kataku jujur


"Hallah nggak usah muna, aku kira kamu berubah setelah berbagai ujian menerpamu, ternyata kamu masih seperti yang dulu, apalagi sekarang aku dengar kamu sudah free tidak terikat dengan siapapun jadi kamu merasa bebas" ucapnya Panjang lebar, aku benar-benar merasa tidak enak dengan Anisa, hendra menuduhnya sebagai gundikku.


"Hallah santai aja, kaya sama siapa aja pakai malu-malu singa, dulu kamu masih punya Aya aja kamu nikah lagi dan pacaran juga sama yang lainya, tapi kali ini aku akui selaramu berubah, dulu kamu suka yang sexy dan bahenol, tapi kenapa sekarang kamu sukanya yang tertutup" ucapnya disertai gelak tawa.


"Ngarang kamu Hen, dia anak majikanku dan dia juga guru ngaji jangan asal nuduh sembarangan" ucapku, aku merasa tidak enak dengan Anisa.


"Mbak kenal dimana orang modelan kek gini, hati-hati mbak dia penjahat ke****n" ucapnya lagi sambil tertawa dia pikir ini lucu.


"Hendra cukup!, tidak semua orang bisa kamu buat bercandaan seperti ini" ucapku mulai meradang Hendra mulutnya bener-bener kelewatan.


"Santai Bro, aku kangen dengan kamu masa-masa dimana kita selalu bercanda bareng dijam istirahat kini kita tidak bisa melakukanya lagi" ucapnya.

__ADS_1


"Maaf Hen, aku tidak punya waktu untuk meladeni bercandaan kamu yang sama sekali tidak lucu ini, kini aku bukanlah Ridwan yang dulu, terlalu menyayangkan waktuku kalau hanya untuk bercanda dengan kamu seperti ini, saat ini kebutuhan perutku nomor satu" ucapku tegas lalu aku meninggalkan warung Mie Ayam diikuti oleh Anisa.


"Maafkan aku ya dek, membuat makan siang kamu jadi kacau" ucapku tidak enak pada Anisa.


"Kamu nggak salah mas, siapun akan berpikiran seperti temanmu itu, bagaimanapun juga kita bukan muhrim dan pergi hanya berdua, itu yang menimbulkan fitnah" ucap bijak Anisa, aku merasa tertohok dengan ucapan Anisa, aku tidak berpikir sejauh ini. Aku sudah mengorbankan harga diri seorang Anisa yang selama ini ia jaga, Aku memutuskan untuk mencarikan dia taxy online agar tidak satu mobil dengan aku, awalnya dia menolak karena kasian uangku tidak seberapa malah habis bhat bayar taxy, tapi aku iklas ini juga salahku membuat dia tidak nyaman dalam kondisi seperti ini.


Setelah kejadian itu aku sedikit menjaga jarak dengan Anisa, aku takut dia terluka masalaluku terlalu buruk, aku sadar siapalah aku hanya manusia pendosa yang tidak pantas dekat dengan seorang Anisa, aku mulai meminta diajari ngaji oleh laki-laki dan kalau ditoko aku lebih suka pergi sendiri dari pada bersama Anisa. Saat ini aku hanya fokus dengan kegiatan mengajiku dan mencari uang untuk masa depanku, ah aku jadi kangen anakku tapi apa daya aku tidak bisa menemuinya bahkan sia sendiri saja takut sama aku Ayahnya sendiri.Terlintas dalam benakku untuk mendekati Dinda lagi dengan begini aku bisa pelan-pelan mendekati anakku Narayan.


Hari ini aku sengaja ijin tidak bekerja pada Aki Ali dan beliau mengijinkan, lalu aku ke kota untuk ketempat TK dimana anakku bersekolah, begitu melihat Dinda aku langsung memanggilnya anak itu sangat senang sekali lalu aku menyuruhnya untuk mengajak anakku bersamanya.


"Narayan ini Ayah nak," kataku ingin rasanya memeluknya namun aku tidak berani karena mungkin dia akan berontak dan menangis.


"Kenapa Ayah kemali? Apa Papa tau Ayah kemali? Ayah kalau mau ketemu aku ijin dulu sama Papa" ucap anakku, aku sedikit tertohok, sakit sekali. Hanya untuk bertemu anakku sendiri aku harus ijin orang lain.


"Ayah ijin dulu sama Ibu kamu ya?" tanyaku agar dia merasa nyaman, walau hatiku sakit tak dapat kugambarkan.


"Dia manggilnya Mama cekalang yah, Papanya baik kok, Inda celing dikacih mainan cama jajan, tante Aya juga baik cekalang dia juga cayang cama Inda" ucap Dinda.


Semua sudah berubah, bahkan anakku sekarang memanggil Ibunya dengan sebutan Mama dan Dinda biasanya juga panggil bude sekarang panggil tante, Ahh sudahlah yang penting aku sekarang bisa ketemu anakku, gawaiku langsung tersambung ke Aya.


"Assalamualaikum" sapanya


"Deg" suara itu, suara yang selalu aku rindu batinku.


"Aya, hari ini aku menemui Narayan bolehkan aku mengajaknya jalan-jalan sebentar bersama Dinda" ujarku.


"Bentar ya Mas, aku ijin dulu sama Papanya" ucapnya diseberang sana.Lagi-lagi aku harus ijin pada orang lain untuk mengajak anakku, tapi aku bisa apa?.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, comment, fav dan juga hadaihnya ya , hehehe ngarep.com


__ADS_2