
"Mbak Aya kok pulang cepet?, biasanya kalau jalan-jalan sampai sore kadang malah malam" tanya Rita orang kepercayaan Cahaya ditokonya.
"Narayan ngajak pulang dan Mas Arman juga sudah ditunggu sama mahasiswanya untuk konsultasi bimbingan skripsi" ucap Cahaya pada Rita.
"Tumben banget Narayan ngajak pulang cepet?," tanya Rita masih kepo.
"Gara-gara satu orang, semua jadi berantakan.Narayan sudah tidak mood bermain, mas Arman langsung bete" ungkap Cahaya.
"Memang siapa orang itu?" jiwa kepo Rita makin meronta ronta.
"Siapa lagi kalau bukan mas Ridwan" ucap Cahaya dengan nada jengkel.
"Hiiiihhhhhhh.....aku kok jadi sebel sendiri mbak dengernya, lagian mbak Aya jadi orang lembek banget kalau aku ya, sejak dulu masih jadi istrinya aku cincang sosisnya aku bejek-bejek mukanya. Ishhhh sebel banget" ucap Rita tiba-tiba kesal.
"Memang kamu berani?" tanya Cahaya.
"Hmmm.... ya nggak juga sih mbak secara fisik pasti kalah sama dia, tapi ya setidaknya melawan gitu, jangan pasrah aja! Kalau tidak berani terang-terangan ya disantet aja, habis itu taubatan nasuha, terus mbak nyari simpati orang-orang dengan membuat video klarifikasi di youtube atau face book nah, dari situ pasti banyak orang yang simpati sama mbak Aya, pasti banyak dukungan dari netizen terus dapat uang dari medsos syukur-syukur kisah mbak ini diangkat jadi sebuah film atau sinetron gitu" ucap Rita dengan saran yang menurutnya paling benar.
"Ngawur kamu Ta!, nyantet orang kamu fikir nggak dosa? Kamu jangan aneh-aneh" ucap Cahaya.
"Kan sudah Rita bilang ,habis nyantet taubatan nasuha. Pasti dimaklumilah" ujar Rita sok bijak.
"Hallah kamu ini, nikah aja belum sok-sok an nasehati orang" sindir Cahaya.
"Gimana saya mau nikah?, kalau yang bening-bening dan duitnya banyak pada ngejar-ngejar mbak Aya bahkan tukang parkir aja ngeliriknya ke mbak Aya bukan ke aku" sewot Rita.
"Ya sudah, besuk aku bilang tukang parkir biar ngelirik sama kamu" ucap Cahaya sambil meninggalkan Rita.
"Ogah! setidaknya kasih tips kek, biar dapet gebetan cowok ganteng dan kaya itu bagaimana, kok malah suruh sama tukang parkir" Rita masih saja berbicara sendiri ia ingin seperti Cahaya yang didamba banyak priya meskipun seorang janda.
Sementara Ridwan dan Sila masih ditaman. Sebenarnya Ridwan tadi juga melihat Narayan dan Cahaya namun ia tidak berani mendekat. Ia masih ingat dengan perjanjianya dengan Ilham bahwa dia tidak akan mendekati Cahaya dan Narayan jadi pura-pura tidak melihat adalah cara yang paling ampuh untuk menyelamatkanya.Jauh dari lubuk hatinya Ridwan masih mencintai Cahaya apalagi kini Cahaya semakin Cantik dan Ia juga tau banyak laki-laki yang mendekatinya meskipun sudah janda dan sudah bertunangan dengan Arman.Selama janur kuning belum melengkung masih milik umum itulah prinsip mereka yang masih mengejar cinta Cahaya, Namun pepatah itu tidak berlaku bagi Ridwan. Entah karena merasa bersalah atau memang hatinya masih terpaut pada Cahaya Ridwan tidak bisa mengenyahkan Bayangan Cahaya bermain bertiga dengan Narayan dan Arman.Hatinya berdenyut nyeri melihat pemandangan tadi namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Mas aku perhatikan dari tadi kamu melamun terus, Aku disini bersamamu namun ragamu melayang entah kemana" protes Sila yang diacuhkan Ridwan sejak tadi.
"Hmmm...apa sayang?" ucap Ridwan.
"Jadi dari tadi aku ngomong itu kamu nggak dengerin, Pantesan cuma ham.. hem... ham.. hem nggak jelas banget sih" Sila semakin merajuk
"Maafkan aku sayang, Aku tidak fokus banyak masalah dipekerjaan aku" dusta Ridwan. Kini ia sudah menjadi seorang pendusta yang ulung.
"Beneran? Hanya karena masalah pekerjaan, awas saja kalau bohong dan ternyata kamu masih mikirin mantan pacar kamu. Aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu dan menyuruh kakakku memecatmu" Ancam Sila.
Semenjak menjalin hubungan lagi dengan Sila Ridwan bekerja di bengkel kakaknya Sila sebagai kasir sekaligus mengurus administrasi disana.Ketika Ridwan kelimpungan cari pekerjaan kesana-kemari tak ada satupun yang mau menerimanya bekerja datanglah Sila sebagai dewi penolongnya.
"Jangan gitu dong sayang, Aku tuh nggak bisa jauh dari kamu. Kamu adalah nafasku kalau nggak ada kamu mungkin aku nggak akan hidup lagi" Ridwan langsung mengeluarkan jurus gombalnya. Hal ini sukses membuat Sila merona dan luluh seketika.Ditengah kemesraan mereka tiba-tiba ponsel Ridwan berbunyi dilihatnya sekikas Dita yang menghubunginya sampai berkali-kali namun tidak digubris oleh Ridwan.
"Berisik banget sih istrimu, matiin aja ganggu banget" ucap Sila kesal dia merasa terganggu dengan deringan ponsel Ridwan.
"Jangan dimatiin takutnya Ibu yang telepone nanti bisa berabe" ucap Ridwan .Benar saja tak lama kemudian ponsel Ridwan kembali berdering dan kali ini Ibunya yang menghubunginya.Mau tidak mau Ridwan mengangkat panggilan itu.
"Kenapa sayang? Kamu kok jadi panik begini" tanya Sila.
"Sila maafkan aku, Aku harus pergi sekarang dan aku tidak bisa mengajakmu" ucap Ridwan.
"Tapi kenapa? Berikan satu alasan dulu baru kamu boleh pergi" ucap Sila masih menahan Ridwan. Jujur ia tak rela ditinggal Ridwan ia masih ingin bersamanya.
"Aku harus ke Rumah aakit sekarang ini darurat Sila, aku mohon mengertilah aku akan mengabarimu setelah ini" ucap Ridwan.
"Cup.." Ridwan mengecup kening Sila sebelum pergi.
Dalam perjalanan menuju Rumah sakit pikiran Ridwan sudah tidak tenang ia mengendarai motor maticnya kecepatan diatas rata-rata .Beberapa saat kemudian ia sudah tiba dirumah sakit.
"Bu, Kenapa bisa jadi begini bagaimana ceritanya" tanya Ridwan sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu urus administrasinya dulu baru kamu kesini nanti Ibu akan cerita kronologinya" titah Ibunya Ridwan
Ridwan langsung menuju bagian administrasi dan mengurus segala sesuatuanya dan ia kembali menemui Ibunya.
"Semuanya sudah beres bu, Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ridwan masih penasaran.
"Begini ceritanya"
Flasback on
Sesaat setelah Ridwan pergi.Dinda bermain dirumah sementara Dita bersih-bersih rumah dan Ibu memasak didapur. Dinda sedang bermain bola sendirian di halaman rumahnya.
"Dinda jangan jauh-jauh main bolanya di rumah saja atau di teras "ucap Dita menasehati anaknya.
"Kalau dilumah nanti kacanya pecah, nanti ayah libut ladi sama ibu" ucap Dinda.
"Ya udah ,diteras saja. Lagian kamu ini perempuan kok mainya bola atau mobil-mobilan harusnya kamu main boneka" ucap Dita.
"Dinda nggak cuka boneka, cemen namanya kalau main boneka udah ahhh...Inda mau main ladi. Ibu janan celewet" ucap Dinda.
Tiba-tiba terdengar suara orang-orang ramai datang kerumah kita.
"Dita...Dita cepat keluar Dinda ketabrak motor di ujung jalan sana" teriak salah seorang warga
"Apa?" Dita shock dan menangis sejadi jadinya ia menghubungi Riswan berkali-kali namun tak satupun pangilanya direspon oleh Ridwan dan akhirnya Dita pingsan.
Ibu berlari kearah kerumunan orang untuk melihat keadaan Dinda
Tbc...
Jangan lupa like ,comment dan masukkan ke favorite kalian biar kalau otor update kalian tau soalnya jadwal updatenya nggak tentu ....maklum emak-emak kadang rempong sendiri
__ADS_1