
Setelah mendapatkan ide untuk meluluhkan Aya, Arman segara mempraktekan dari apa yang ia baca barusan.
"Aku harus berpantun agar dia luluh"batin Arman
"Buah manggis buah kedondong, Aya istriku yang manis marahanya udahan dong" ucap Arman setelah menemukan kata-kata yang pas untuk merayu Aya.
"Aya..." kata Arman.
"Hemm" jawab Aya.
"Cuma ada tiga hal yang nggak bisa aku hitung didunia ini, Jumlah pasir dilaut ,bintang dilangit dan Cintaku padamu eakkk" Arman terus melancarkan gimbalanya. Dalam hati Aya pingin ketawa orang kaku kaya Arman belajar mengombal.
"Aya...taukah kamu cintaku padamu seperti utang awalnya kecil didiemin lama-lama jadi gede" Arman terus melancarkan gombalanya.
"Aduh gimana ini semua yang disaranin mbah gugel udah aku kerjain hasilnya masih jonk"batin Arman
☆☆☆☆☆
Sambil menunggu Ide Arman membujuk Aya kita tinggalkan mereka dulu kita tengok Dinda sebentar
Kediaman Dinda yang baru.
"Tok...tok...tok...Dinda...Dinda...Dinda, sudah siang, bangun dulu sholat nak!" berkali-kali Sisca membangunkan Dinda tapi Dinda tak bergeming
"Ih Ibu belisik cekali" guman Dinda pelan.
Gadis kecil tengil ini baru terbangun, setelah Ibu sambungnya memanggilya kesekian kalinya.Dengan sempoyongan dan mata masih terpejam ia membukakan pintu kamarnya."Jedug" jidatnya membentur pintu kamar
"Ih dasal pintu nggak tau dili, kenapa dicitu? cudah tau dinda mau lewat" maki Dinda pada pintu, kebiasaan gadis kecil ini selalu menyalahkan siapapun bahkan apapun didekatnya. Sisca tersenyum melihat tingkah konyol Dinda.
"Nak, kenapa kamu marah-marah? Nggak boleh kamu marah-marah pada siapapun atau apapun" Nasehat Sisca.
"Habisna pintu nakal dia halangin inda jadinya inda kejedot, bugh...,aduh!" Dinda meringis kesakitan saat tangannya menjotos pintu karena kesal
"Sakit nggak?" tanya Sisca.Dinda hanya mengangguk.
"Sakitkan? Makanya Dinda nggak boleh marahin siapapun atau apapun. Orang lain juga akan marah kalau dimarahi dan jangan suka melakukan kekerasan itu Dosa, orang-orang yang melakukan Dosa akan masuk neraka, kamu mau tau neraka kaya apa? Mari ikut Ibu" ucap Sisca membawa Dinda kedapur.
"Ceklek" kompor dinyalakan.
"Coba tangan Dinda dekatkan di api ini" ucap Sisca. Dengan patuh Dinda mendekatkan tanganya pada api.
"Panas...Ibu!" teriak Dinda.
__ADS_1
"Tau kan kalau api itu panas? Nah nereka itu isinya api semua, bisa Dinda bayangkan bagaimana panasnya bila manusia dibakar hidup-hidup dalam api" ucap Sisca.
"Inda ndak mau, dibakal di dalam api" ucap Dinda sambil mengelang.
"Makanya Dinda nggak boleh nakal, nggak boleh jahat sama orang lain, nggak boleh mengambil barang orang lain, kalau Dinda melanggar maka Dinda akan dimasukan dalam neraka yang isi ya api semua, makanya mulai sekarang Dinda nggak boleh nakal lagi" ucap Sisca menasehati.
Dinda hanya mengangguk pasrah, ia bener-bener takut jika nanti akan dibakar hidup-hidup dalam bara api yang panas.
"Dinda mau nggak kalau mulai sekarang jadi anak baik, biar dijauhkan dari api neraka" tanya Sisca.
"Mau, mau inda mau Bu!" ucap Dinda.
"Mulai sekarang kalau Dinda mau jadi anak baik, setiap sore Dinda harus mengaji TPA dimasjid dekat rumah kita" ucap Sisca.
"Tapi inda ndak bica ngaji" ucap Dinda polos.
"Nanti ada ustadz atau ustadzah yang akan mengajari Dinda" ujar Sisca.
"Ustadz itu apa Bu?" tanya Dinda.
"Ustadz itu guru yang akan membimbing Dinda mengaji nantinya" ucap Sisca.
"Sepelti Ms.dicekolah Bu?" tanya Dinda.
"Inda mau bu" ucap Dinda.
Sore hari Sisca mendadani Dinda untuk ke mushola mengikuti TPA seperti teman-teman yang lainya. Namun ada yang Sisca lupakan yaitu memberi uang saku pada Dinda, karena biasanya sebelum ada yang datang mengajar mereka menunggu ustadz atau ustadzah sambil jajan.
"Adek ....kamu siapa? Tadi kamu ambil jajan belum bayar ya?" tanya penjual cilok.
"Ndak...inda ndak ambil," Dinda berbohong ia ikut jajan temen-temenya tapi dia tidak bawa uang.
"Ya sudah, Nama Ibu kamu siapa nanti aku minta sama Ibumu" kata penjual tadi
"Inda ndak ambil!" teriak Dinda .Akhirnya penjual itupun mengalah dan tidak jadi menagih keorang tua Dinda.
"Dinda, tadi kamu kan memang jajan tapi kamu kan belum bayar?" tanya salah satu anak.
"Dinda maling...Dinda maling...Dinda" maling teriak teman-teman Dinda meledek Dinda hingga membuat Dinda menangis. Lalu ia pulang kerumahnya.
"Kok kamu pulang nak?, dan kenapa kamu menangis?" tanya Sisca.
"Temen-temen TPA nakal Inda ndak mau TPA lagi, huaaaaa" Dinda kembali menangis.
__ADS_1
"Sekarang Ibu mau tanya, tapi kamu harus jujur. Memangnya teman kamu ngapain kok kamu bilang Nakal?" tanya Sisca.
"Meleka bilang inda penculi,huaaaa" jawab Dinda kembali menangis.
"Kenapa mereka bilang begitu?" tanya Sisca dengan sabar
"Inda kan ndak bawa uang, Inda jajan jadi Inda ndak bayal" ucap Dinda jujur.
"Dinda sayang, lain kali nggak boleh begitu? Tadi Ibu lupa kasih kamu uang Ibu minta maaf, harusnya kamu pulang dulu minta uang sama Ibu" Nasehat Sisca.
"Tapi duyu nenek kalau belanja kulang duitnya juga ndak bayal, tinggal bilang kepenjualnya ndak ambil apa-apa" ucap Dinda polos.
"Tapi itu tidak boleh, itu tidak baik sayang. Kasian penjualnya nanti nggak dapat untung malah rugi, sekarang Dinda ikut Ibu minta maaf pada penjual itu dan Ibu akan membayarnya" ucap Sisca.
"Kenapa halus dibayal, kan ndak apa-apa biasanya nenek juga gitu" ucap Dinda. Sisca mengelengkan kepalanya ia harus esktra dalam mendidik Dinda, karena sekarang Dinda tanggung jawabnya dan suaminya.Setelah Sisca memberi pengertian lagi pada Dinda akhirnya mereka ke tempat dimana penjual cilok itu mangkal dan Dinda meminta maaf. Sisca juga menemui anak-anak yang tadi mengejek Dinda ia menasehatinya agar tidak mengejek Dinda "Teman yang salah itu harus diingatkan bukan diijek" nasehat Sisca pada anak-ank itu. Mereka mengerti lalu mereka meminta maaf pada Dinda dan mereka berbaikan kembali.
Beberapa hari ini Dinda tampak murung, Sisca mendekati anak sambungnya
"Nak...kemapa kamu murung sekali? Ibu punya salah sama kamu?" tanya Sisca
"Ndak bu, Ibu baik kok...Inda kangen sama Ibu ita" ucap Dinda
Sisca mengerti bagaimanapun kelakuan Dita namun Dita sangat menyayangi Dinda hingga wajar jika Dinda merindukanya.
"Kamu mau ketemu Ibu Dita?" tanya Sisca. Kemudian Dinda menganguk.
"Sebentar Ibu hubungi dia dulu, takutnya dia lagi nggak ada dirumah nanti sia-sia kita kesana" ujar Sisca. Ia menghubungi ponsel Dita namun sayangnya ponsel tersebut tidak aktive.Ia menyampaikan hal itu pada Dinda, Anak itu tampak murung mendengar apa yang diucapkan Ibu sambungnya. Karena tidak tega Sisca mengantarkan Dinda untuk menemui Dita dikediamananya.
"Permisi...Assalamualaikum" Sapa Sisca
"Ceklek" pintu dibuka nampak Bapaknya Dita yang membukakan pintu.
"Ngapain dia bawa bocah ini kemari? Pasti mereka nggak kuat dengan kelakuan Dinda" batin Bapaknya Dita
"Kedatangan kami..." belum sempat Sisca meneruskan perkataanya sudah disembur Bapaknya Dita.
"Sesuai kesepakatan kamu dan suamimu kan sudah sangup mengurus Dinda kenapa dibalikin lagi, bilang sama suami kamu jangan suka bikin anak doang tanggung jawab nggak mau" cerocos Bapaknya Dita.
"Kami tidak bermaksud mengembalikan Dinda, Saya juga sudah menyayangi Dinda seperti anak saya sendiri, Kami kesini karena Dinda kangen dengan Ibunya" ucap Sisca setenang mungkin walaupun dalam hati ia tersingung dengan kata-kata Bapaknya Dita.
"Hallah Alesan! Dita nggak ada dirumah dia kerja di kota, kalau sudah tidak ada keperluan silahkan pulang! Kami sudah tidak mau berurusan dengan kalian lagi" ucap Bapaknya Dita
TBC....
__ADS_1