
Setelah berpamitan Ridwan, Ibunya dan Anisa meninggalkan kediaman Aya, mereka bertiga menuju rumah Heru ayah kandung Dinda, beberapa saat kemudian mereka sampai diperumahan sederhana, sepetak lahan kecil diteras rumah nangkring dua buah sepeda motor matic.Ibunya Ridwan agak ragu masuk kedalam rumah Heru
"Wan, apa benar ini rumah Heru" tanya Ibunya Ridwan ragu.
"Benar bu, sesuai alamat yang dikasih Aya, ini benar rumahnya" kata Ridwan
"Bukanya apa Wan, kata Aya Dinda satu sekolah dengan Narayan.Kamu tau sendiri meskipun TK sekolah Narayan itu sekolah elit Wan" ucap Ibunya Ridwan.
"Iya benar juga bu, Ridwan malah nggak kepikiran" ucap Ridwan.
Saat mereka hendak berbalik dari dalam rumah nampak wanita cantik memakai kerudung rumahan menyapa mereka.
"Bapak, Ibu, mohon maaf nyari siapa ya?" tanya pemilik rumah.
"Assalamualaikum mbak, maaf mau nanya dimana rumahnya Bapak Heru atau Ibu Sisca?" tanya Anisa kemudian.
"Ini rumah Bapak Heru dan saya Sisca Istrinya, ada yang bisa kami bantu?" tanya sisca Ramah
"Sebelumnya kami mintaa maaf, perkenalkan saya Ridwan, saya Omnya Dinda dan ini Ibu saya neneknya Dinda"ucap Ridwan memperkenalkan diri
"Ohh...Pak Ridwan, Dinda sering cerita soal Bapak, mari silahkan masuk!, mas Heru dan Dinda ada didalam" ucap Sisca mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah.
Ketiga orang itu kemudian mengekori Sisca dari belakang sesampainya didalam rumah nampak ruang tamu yang sangat sederhana namun tertata rapi dan bersih, disebelahnya ruang keluarga juga sebuah televisi berukuran 32 inchi, diruang keluarga nampak Dinda dan Ayahnya sedang bermain bersama nampak begitu bahagia pasangan Ayah dan anak ini.
"Dinda lihat siapa yang datang?" ucap Sisca. Namun reaksi Dinda hanya diam mematung dan memeluk erat Ayahnya, ia masih trauma pertemuanya dengan neneknya dimana ia tersiram mie panas mukanya.
"Dinda!," Panggil Ibunya Ridwan
"Ayah, kita halus pelgi Ayah....ayo ayah huaaaa...aaaaa, ayah....Ayo Ayah" ucap Dinda sambil menarik-narik tangan Ayahnya, Heru langsung mengendong Dinda dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
"Kunci pintunya Ayah.....,Ayah jangan kemana-mana Dinda takut" ucap Dinda masih menangis dan terus memeluk Ayahnya.
"Sayang Ayah disini, udah kamu tenang aja jangan menangis Ayah akan jagain kamu" ucap Heru
Sementara itu diruang tamu Ibunya Ridwan merasa tidak enak pada Sisca dia menangis dan meminta maaf pada Sisca.
"Nak maafin Ibu nak Sisca, Dinda pasti ketakutan sama Ibu....karena Ibu adalah nenek yang jahat, hiks...hik...hikss" Ibunya Ridwan menagis sesengukan.
"Maafin Dinda juga ya bu, Dia masih anak-anak mungkin butuh waktu untuk bisa seperti dulu lagi, saya akan membujuknya" ucap Sisca
"Mbak Sisca, nggak usah buru-buru membujuk Dinda nanti dia malah tertekan, lain kali saja kami berkunjung kesini kalau Dinda sudah siap ketemu kami" ucap Ridwan.
"Nak Sisca, kalau begitu kami permisi dulu.Lain kali kami kesini lagi, oh ya ini ada titipan dari Aya untuk Dinda dan ini ada Mie ayam nanti tolong dikasih Dinda dia sangat senang makan mie Ayam" ucap Ibunya Ridwan, lalu ketiganya permisi pamit pulang dengan tangan kosong.
"Hiks...hiks..hikss, Ibu memang nenek yang tak berguna. Pantas saja semua cucu Ibu takut sama Ibu, hiks...hiks..hikss" sepanjang perjalanan pulang Ibunya Ridwan terus menangis
"Iya, benar apa yang dikatakan dek Nisa, Dinda butuh waktu, besuk Ridwan akan temui Dinda disekolah dan bujuk dia disana ada Narayan juga, pasti dia bantu bujuk Dinda, mereka kan sekarang dekat" ucap Ridwan menyemangati Ibunya.
Dan benar saja keesokan harinya Ridwan datang kesekolah Dinda dan Narayan pas jam pulang sekolah, Ridwan sudah meminta ijin pada Arman untuk mengajak Narayan jalan-jalan dan Arman sudah mengijinkanya, rencananya ia akan mengajak Dinda juga untuk jalan-jalan, Ridwan sangat bersemangat karena hari ini ia akan berkencan dengan anak-anaknya, sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya tersenyum membayangkan moment menghabiskan waktu seharian dengan dua bocah itu, ia membeli dua buah mobil-mobilan untuk Dinda dan Narayan. Ia dengan sabar menunggu jam kepulangan anak-anak, tibalah saatnya bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran telah usai, anak-anak berlarian keluar kelas menuju orang tua atau baby sisternya masing-masing, melihat hal itu Ridwan tersenyum sendiri sebentar lagi ia akan dipeluk oleh dua anak sekaligus. Nampak dua bocah berlarian sambil bergandengan tangan siapa lagi kalau bukan Narayan dan Dinda.Hati Ridwan berbunga-bunga melihat Narayan dan Dinda.
"Pakde, tenapa pakde ada dicini?" tanya Dinda.
"Surprise.....Pakde mau ajak kalian jalan-jalan" ucap Ridwan. Dan kemudian ia memeluk Dinda dan saat henda memeluk Narayan anak itu menghindar.
"Kenapa nak?, ini Ayah kenapa nggak mau dipeluk Ayah" tanya Ridwan heran, karena akhir-akhir ini Narayan sudah luluh padanya, tapi kenapa hari ini anaknya tanpak seperti menghindarinya.
"Ndak ucah peluk Nalayan, Nalayan ndak cuka" ketus Narayan.
"Deg...." sakit namun tak berdarah, menghujam perasaan Ridwan saat ini mendapat penolakan anak kandungnya, ia bertanya-tanya apa salah dia kenapa anaknya kembali menjahuinya.
__ADS_1
"Nak, kenapa kamu berkata seperti itu? Ayah ada salah sama kamu nak?" tanya Ridwan hati-hati
"Ayah ndak calah, kan dali dulu Ayah itu Ayahnya Inda" ketus Narayan
"Nak, Ayah ini Ayah kamu, Ayah kandung kamu kenapa kamu berkata seperti itu" ucap Ridwan
"Udah Ayah, Ayah Pelgi aja cama Inda bial Nalayan bilang Ms.Ilda bial Papa jemput, Nalayan ndak Papa kok kan dali dulu Ayah memang punaya Inda" ucap Narayan.
"Ahh...sepertinya dia cemburu sama Dinda, apa mungkin karena tadi aku meluk Dinda dulu baru dia terus dia merasa diduakan, aduh bodoh sekali aku sampai nggak kepikiran kesitu" batin Ridwan
"Nak, maafin Ayah ya, Ayah ngaku salah tadi meluk Dinda dulu, harusnya Ayah duluin kamu" ucap Ridwan kembali mendekati Narayan.
"Cetop dicitu aja, Ayah kan memang dali dulu begitu. Mama cama Papa bilang Ayah cudah belubah nyatanya Ayah ndak pelnah belubah, Nalayan celalu Ayah nomol duakan, Kemalin Ayah kacih mie Ayam ke Inda ajakan sedangkan Ayah lupa kacih Nalayan" sewot anak kecil itu, tadi pagi Dinda bercerita kalau Ayahnya datang bawa Mie Ayam, Narayan sangat menyukai mie Ayam tapi Ayahnya malah melupakannya makanya dia jaga jarak lagi dengan Ridwan.
"Bu...bukan begitu maksud Ayah nak, Ayah pikir kamu nggak suka mie Ayam karena kamu sekarang tinggal dengan Papa kamu yang kaya itu, Ayah pikir kamu nggak doyan mie Ayam" ucap Ridwan penuh penyesalan.
"Ayah kan memang ndak pelnah tau kesukaan Nalayan, kalena Ayah ndak peduli cama Nalayan" ucap Narayan
"Deg..." hati Ridwan terasa nyeri mendengar ucapan Narayan, dia memang tidak pernah tau kesukaan anaknya karena dulu ia mengabaikanya, dan dia pikir karena Narayan sekarang berada di keluarga elit, Mie ayam tidak doyan.
"Betapa bodohnya aku, sampai aku tidak tau kesukaan anakku, bahkan sekarang anakku merajuk karena hal sepele" batin Ridwan
"Udah Ayah, Nalayan mau ke Mis Ilda culuh jemput Papa, celamat belcenang-cenang Ayah" ucap Narayan lalu pergi meninggalkan Ridwan dan Dinda.
"Ihhh...Pakde kenapa jahat banget sih, Nalayan cedih kan, Inda ndak mau jalan-jalan cama Pakde, Inda juga mau nunggu Papanya Nalayan aja, Pakde pulang cana!, kata Ibu Inda ndak boyeh bikin Nalayan cedih kalena Papa dan Mama Nalayan yang bantuin Inda cekolah, udah ahhh pakde Inda mau cucul Nalayan Pakde pulang aja" usir Dinda
Tbc
Jangan lupa like, comment dan fav ya
__ADS_1