
Hari-hari berikutnya Heru semakin intens mendekati keluarga Dita, kecurigaan pada Dita semakin mengerucut pada sosok Dinda putri Dita.
Dimasa lalu Heru sempat menjalin cinta terlarang dengan Dita meskipun ia tahu Dita sudah bersuami perlahan dan pasti ia mulai menjahui Dita setelah mendapat ancaman dari Aswan suami Dita kala itu.Setelah sekian lama berpisah kini ia mendapati Dita sudah bersuami kembali dengan Ridwan dan mempunyai seoarang putri.Entah dorongan dari mana yang membuat ia sangat tertarik dengan bocah berusia empat tahun itu, ada sesuatu yang membuatnya ingin dekat dengan anak itu.Diam-diam ia mengambil sample rambut Dinda dan melakukan test DNA .Saat ini ia memang sudah menikah namun belum dikaruniai keturunan ia berharap bahwa Dinda adalah darah dagingnya.Setelah hasil test DNA keluar dan Dinda terbukti anaknya maka dia akan membawa Dinda bersamanya.
Selama menunggu test belum keluar Heru memanfaatkan waktu untuk dekat dengan Dinda, meskipun resikonya ia terus saja diporoti oleh Ibunya Ridwan. Semua ia lakukan demi bisa dekat dengan Dinda.
Hari yang ditunggu telah tiba hasil test DNA sudah keluar. Heru sangat gugup ketika membuka hasilnya ia takut kecewa, karena ia terlalu berharap Dinda adalah putri kandungnya.
"Semoga hasilnya positif, amin" ucap Heru berdoa dengan tangan gemetar ia membuka sebuah amplop putih.
"Deg...deg...deg" jantung Heru seolah dipompa lebih cepat
"Apa Hasilnya positif" ucap Heru ia sangat bahagia mengetahui kabar ini tak sabar rasanya ingin segera merebut Dinda dari tangan Dita dan keluarganya.
Heru langsung pulang dan memberi tahu kabar bahagia ini pada istrinya. Dia ingin membawa Dinda pulang dan merawatnya bersama istrinya kini.
"Mas, bukanya aku nggak suka dengar apa yang baru saja kamu sampaikan. Mas aku menerima semua masa lalumu termasuk dengan adanya Dinda aku bisa menerimanya, namun kamu tidak ada hak untuk memisahkan anak dengan Ibunya .Mas juga harus memikirkan perasaan Dinda jika dia harus berpisah dengan Ibunya dan tinggal dengan keluarga barunya. Belum lagi kamu bisa bayangkan perasaan suami Dita bila ia tau istrinya menyimpan sebuah rahasia sebesar ini" ucap Istrinya Heru.
"Tapi Dita itu bukan Ibu yang baik sayang, akan lebih baik jika Dinda bersama kita" ucap Heru.
"Mas lupa? Mas juga tidak ada hak untuk merebut Dinda karena scara status mas bukan siapa-siapanya Dita dan Dinda. Mas hanya Ayah biologisnya Dinda. Pikirkan juga nasib rumah tangga orang lain mas, Cukup sekali kamu hancurkan rumah tangga orang jangan kamu ulangi lagi karena keegoisanmu" ucap Istrinya Heru .Akhirnya dengan terpaksa Heru menerima nasehat istrinya ia sudah tidak menemui Dinda dan Dita lagi.
Sementara itu dikediaman Ridwan Dita sangat lega karena Heru sudah tidak pernah muncul lagi, jadi rahasianya akan aman selamanya.
"Dita kamu tahu alamat Heru?" tanya mertua Dita.
"Ya.....mana Dita tau bu, lagian ngapain Ibu nyari laki-laki itu, saudara bukan tetangga bukan" ucap Dita
"Ya kalau kita tau, kita bisa manfaatin dia lumayan dapur kita bisa ngepul" ucap mertua Dita.
"Ibu...yang dipikirin cuma duit dan duit aja" sewot Dita.
__ADS_1
" Ya jelaslah, kalau nggak ada duit kamu mau makan apa? Makan daun? " ucap Mertua Dita seketika emosi mendengar ucapan menantunya.
"Terserah Ibu mau ngomong apa" ucap Dinda lalu meninggalkan mertuanya.
"Lebih baik aku mandi dan jalan-jalan kepasar sebentar biar nggak suntuk denger ocehan Ibu" Dita berguman pelan.
Setelah mandi dan berganti pakaian Dita mengajak Dinda kepasar meninggalkan Ibunya sendirian dirumah. Tak lama setelah itu Ridwan pulang dari kerja.Ia tak mendapati Dita dan Dinda.
"Dita kemana bu?" tanya Ridwan
"Tadi sih pamitnya kepasar tapi, sampai sekarang belum pulang" ucap Ibunya Ridwan.
"Suami pulang bukanya disambut malah keluyuran" ucap Ridwan langsung menuju kamarnya untuk mengambil baju ganti.Kebiasaan Ridwan kalau pulang kerja pasti langsung mandi.
"Ini juga lemari berantakan banget, ngapain aja perempuan tambun itu seharian dirumah. Nyari baju satu aja susahnya kaya gini" Ridwan terus ngomel sendiri sambil mencari baju ganti.
"Pluk..." ada benda terjatuh dari lemari pakaian Dita dan Ridwan.
"Ini milik siapa? Kayanya sudah usang banget dan nama Rumah sakit bukan tempat Rumah sakit Dinda dirawat" batin Ridwan ia semakin penasaran dengan isi Amplop tersebut kemudian ia membukanya.
"Aswan...ada nama Aswan, dia sakit apa kenapa kami sampai tidak tau" Ridwan terus berguman dan kemudian membaca isi amplop tersebut. Betapa kaget dan shocknya Ridwan mengetahui isi amplop tersebut dalam surat itu berisikan pemeriksaan Aswan menyaktakan bahwa Aswan adeknya Ridwan mengalami infertilitas atau kemandulan.
"Juederrrr...." bagai disambar petir saat mengetahui kabar tersebut. Ridwan membaca berulang-ulang namun hasilnya tidak berubah bahwa test tersebut menyatakan bahwa Aswan mandul.
Lutut Ridwan terasa lemas, selama ini ia mengabaikan anaknya demi Dinda karena ia mengangap Dinda ponakannya. Ia mencoba mengatur nafasnya yang memburu dadanya kembang kempis menahan amarah yang siap meladak kapan saja.
"Prang....." Ridwan melempar apa saja yang ada didepanya untuk melampiaskan amarahnya.
"Brengsek....penipu, awas saja kau" umpat Ridwan.
Dari dapur Ibunya Ridwan langsung berlari kearah kamar Ridwan karena mendengar Ridwan mengamuk. Begitu ia masuk kekamar Ridwan ia sangat kaget melihat kondisi kamar berantakan dan Ridwan kelihatan sangat kacau.
__ADS_1
"Wan...kamu ini kenapa?, kenapa kamu ngamuk begini lihatlah kamarmu seperti kapal pecah" omel Ibunya Ridwan.
"Kita telah ditipu habis-habisan Bu" ucap Ridwan.
"Siapa yang menipu kita? Kurang ajar biar Ibu labrak dia. Katakan siapa yang menipu kita berapa uang uang sudah ditipu?" ucap Ibunya Ridwan.
"Ini bukan sekedar uang Bu, tapi hidup kita sudah kita gadaikan pada perempuan laknat itu" ucap Ridwan mengebu.
"Siapa Cahaya maksud kamu? Biar Ibu yang kesana untuk melabraknya" ucap Ibunya Ridaa sudah terbakar emosi.
"Ini tidak ada hubunganya dengan Aya Bu" teriak Ridwan yang sudah benar-benar kacau.
"Lalu siapa kalau bukan Aya?" ucap Ibunya Ridwan.
Satu kata yang terucap dari bibir Ridwan "Dita"
"Maksudnya apa? Ibu nggak ngerti" ucap Ibunya Ridwan.
"Ini....Ibu baca setelah itu Ibu baru tau siapa sebenarnya menantu kesayangan Ibu itu" ucap Ridwan sambil menyerahkan sebuah amplop.Kemudian Ibunya Ridwan membuka amplop tersebut lalu mengeleng.
"Ibu tidak mengerti apa maksud tulisan ini" ucap Ibunya Ridwan.
"Hufttt..." Ridwan menghela nafas ia pikir Ibunya mengeleng itu artinya sudah faham dengan apa yang terjadi namun ternyata mengelenga artinya tidak faham apapun.
"Ibu itu isi amplop berisi test punya mendiang Aswan disana dijelaskan bahwa Aswan mengalami infertilitas" ucap Ridwan.
"Haaaa..." ucap Ibunya Ridwan menganga.
"Ternyata Aswan anakku sakit keras" ucap Ibunya Ridwan.
"Bukan bu!, itu bukan sakit keras infertilitas itu artinya ketidaksuburan alias mandul" ucap Ridwan menjelaskan.
__ADS_1
"Apa...,brugh.." Ibunya Ridwan jatuh pingsan.