
"Oh ya bu, tadi si janda gemblong minta dilamar. Hadehhh...mendadak Ridwan jadi pening" ucap Ridwan.
"Lamar ya, lamar aja gitu aja kok repot" ucap Ibunya Ridwan.
"Masalahnya kita nggak ada uang buat lamar dia, namanya lamaran walaupun dikit tapi kan harus modal" ucap Ridwan.
"Hallah, dulu kamu nikah sama Aya yang gadis aja mas kawinya cuma uang lima puluh ribu. Samain aja mas kawinya bereskan" ucap Ibunya Ridwan.
"Mana bisa begitu bu? Yang ada dia nanti mencak-mencak karena merasa tidak dihargai, Hanya Aya yang bisa menerima aku apa adanya bahkan dia juga bantu kuliah aku" ucap Ridwan.
"Jangan ingat-ingat perempuan itu lagi, Ibu jadi sebel dengernya, gara-gara dia hidup kita jadi balangsak kaya gini" ujar Ibunya Ridwan yang hobbynya menyalahkan orang lain.
Setelah berdiskusi dengan Ibunya, Ridwan memutuskan untuk menemui Marni untuk membicarakan lamaran, Marni menyambut kedatangan Ridwan dengan suka cita.
"Calon Imamku sudah datang, bagaimana perjalananya ke kota.Mana oleh-olehnya" oceh Marni.
"Sayang kemarin itu aku beli kue banyaaaakkk banget mau aku kasih ke kamu, tapi ditengah jalan banyak anak-anak yang kurang mampu lalu aku kasihkan kepada mereka" Dusta Ridwan.
"Kenapa pakai dikasih anak jalanan segala sih" ucap Marni sewot.
"Apa maksud kamu sayang, jangan bilang kamu nggak iklas aku ngasih anak jalanan makanan" tebak Ridwan.
"Ups...pakai keceplosan lagi" batin Marni
"Maksud aku, aku mau tambahin tapi malah udah kamu kasih duluan begitu sayang" ucap Marni meralag perkataanya.
"Oh...kirain, aku sudah salah sangka aja" ucap Ridwan.
"Ya enggaklah sayang, mana mungkin aku kaya gitu" ujar Marni.
"Oh ya sayang, kedatanganku kemari ingin membicarakan rencana pernikahan kita" ucap Ridwan pada akhirnya.
"Syukurlah aku senang sekali mendengarnya, jadi kapan renacanya mas Ridwan mau lamar aku?" tanya Marni antusias
"Secepatnya" ujar Ridwan.
"Mas nanti kalau menikah aku minta mahar lima puluh juta ya!" ujar Marni.
__ADS_1
"Glek" Ridwan menelan ludah kasar.
"Muke gile, uang dari mana lima puluh juta. Ya kale janda gemblong kaya dia minta mahar segitu, kalau bukan karena dia kaya aku disuruh lamar dia nggak pakai mas kawin aja ogah kale" batin Ridwan
"Gimana Mas? Mas nggak keberatankan dengan permintaanku kan mas Cinta sama aku" ucap Mirna.
"Soal itu aku bicarakan dulu dengan keluargaku, walau bagaimanapun juga aku masih punya keluarga jadi tidak bisa aku putusin sendiri" ucap Ridwan.
"Aku tunggu jawaban kamu segera ya mas," ucap Marni dengan nada manja yang membuat Ridwan makin neg.
Sesampainya dirumah Ridwan langsung membicarakan permintaan Marni pada Ibu dan Buleknya.Semua kaget mendengar permintaan yang tidak masuk akal dari marni.Beberapa hari Ridwan sengaja tidak mengunjungi Marni karena tidak tau apa yang harus ia ketakan pada Marni.Hal itu membuat Marni kelimpungan.Dengan penuh percaya diri Marni mendatangi rumah kediaman Buleknya Ridwan.
"Permisi...." ucap Marni ketika memasuki rumah Ridwan.
"Oh ada calon mantu, mari silahkan masuk" Ucap Siti.
"Makasih bulek?, Ibu atau mas Ridwan ada?" tanya Marni.
" Ridwan sedang pergi, Kalau mbak Tini ada, mau aku panggilkan?" tanya Siti
"Iya boleh," ucap Marni. Tak lama kemudian dari belakang Siti muncul kembali bersama Tini.
"Saya kemari hendak menyatakan kejelasan soal lamaran Mas Ridwan" ucap Marni tanpa basa basi.
"Oh Soal itu? Memangnya Ridwan belum bicara?" Tanya Tini.
"Kalau sudah tak mungkin saya datang kesini bu" ucap Marni
"Ini anak sopan-santunya kurang sama orang tua" batin Tini
"Begini nduk, kan uang Ridwan itu kemarin kesini nggak bawa apa-apa niatnya cuma liburan aja , eh malah kecantol sama kamu.Jadi kami nggak persiapan apa-apa, bagaimana bila mas kawinya diutang dulu nanti setelah kembali baru dilunasi" ucap Ibunya Ridwan bernegosiasi.
"Mana bisa begitu Bu, dimana-mana laki-laki kalau mau nikah itu harus menyiapkan mahar.Kan Mas Ridwan tinggal pulang ambil duitnya terus kembali lagi kesini atau mungkin tarik tunai ATM kan cepet" sanggah Marni.
"ATM ya?" tanya Tini kebingungan harus jawab apa.
"Soal ATM Ridwan itu kemarin ketelen mesin ATM jadi belum sempat mengurusnya" ujar Siti berbohong.
__ADS_1
"Ya diusahain kek, Pinjem ketemen-temenya di kota sana! atau ATMnya diurus dulu" cecar Marni.
"Kalau minjem temen-temen Ridwan nggak enak. Masak sekelas Manager pinjam uang, kalau misalnya ngurus ATM bakal lama, memangnya kamu mau menunggu?" tanya Ibunya Ridwan.
"Nggak apa-apa saya bakal tunggu, sampai ATM itu jadi" ujar Marni pantang mundur.Siti dan Tini saling pandang-pandangan.
Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Marni pulang.Seminggu sudah berlalu namun keluarga Ridwan tidak memberi kabar Akhirnya Marni mengajak ketemuan Ridwan dirumah Marni.
"Mas kamu kok tega sih, gantung aku kaya gini" tanya Marni mengebu
"Gantung gimana?" tanya Ridwan pura-pura bego.
"Hallah nggak usah pura-pura lupa, gimana tentang lamaranya kemarin jadi nggak?" ucap Marni
"Oh...soal itu aku belum mengurus ATMnya karena belum sempat, kalau kamu keberatan kita udahan aja" Ancam Ridwan.
"Ok, soal uang mahar kamu boleh ngutang, cuma aku minta kamu segara nikahin aku" ucap Marni
"Ngebet juga ini janda gemblong, mending aku tarik ulur aja biar dia penasaran" batin Ridwan.
"Saat ini aku belum bisa nikahin kamu, kecuali kamu mau tanggung dulu biaya pernikahan kita" ucap Ridwan memanfaatkan situasi.
"Apa maksud kamu Mas?, udah mas kawin ngutang biaya nikah suruh tanggung aku.Terus kamu modal apa?" tiba-tiba Marni menjadi sewot.
"Aku kan cuma nyaranin, keputusan ditangan kamu" ucap Ridwan enteng.
"Enak aja, situ main kawin nggak modal, mana ada perempuan nangung biaya pernikahan sendiri terus maharnya diutang, enak di kamu susah diaku" ujar Marni.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Ridwan halus. Walau sebenarnya ia ingin memaki wanita itu.
"Aku maunya kita kawin tapi kamu yang modal" ucap Marni tanpa tedeng aling-aling.
"Ya udah kita bubar aja" ancam Ridwan sebenarnya ia belum mau melepas Marni karena selama ini ia memanfaatkan Marni untuk kesenanganya.
"Bubar bagaimana, setelah aku ngeluarin uang banyak untuk kamu terus kamu mau ninggalin aku gitu?" Maki Marni
"Kamu juga nggak bisa diajak kompromi mau bagaimana lagi udah nggak ada pilihan" ucap Ridwan.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Mas, kalau kita mau bubar, Ok nggak masalah tapi balikin uang yang aku kasih kamu termasuk uang makan kamu selama disini aku udah catet semua" ucap Marni kemudian memberikan rincian uang yang dipakai Ridwan selama mereka berpacaran Ridwan dibuat kaget, ia tidak menyangka bahwa marni akan sedetail ini soal uang