
Sesaat setelah drama itu, Arman datang ia mendapat informasi dari guru Narayan kalau Narayan minta dijemput olehnya dan sedang menangis diruang guru, kebetulan ia dalam perjalanan pulang dan langsung menuju TK Narayan.
"Wan, bentar ya gue kedalam dulu" ucap Arman menyapa Ridwan yang masih bengong ditinggal dua bocah kecil.
"Iya" ucapnya singkat.
Sesaat kemudian Arman keluar bersama Narayan dalam gendonganya dan Dinda digandeng oleh Arman juga, sungguh pemandangan yang sederhana namun menyesakkan dada Ridwan.
"Beginikah rasanya diacuhkan dan dinomor duakan? Rasanya sakit sekali pantas saja Narayan marah padaku" batin Ridwan.
"Pa, kita langsung pelgi, Ayah kita jadikan makan mie Ayam" terdengar suara manja Narayan.
"Iya kita pergi makan mie Ayam, kita ajak Ayah juga ya" bujuk Arman
Narayan tampak diam, rupanya ia tidak setuju kalau mengajak Ayahnya.
"Nggak usah Man, aku habis makan kok aku langsung pulang aja" ucap Ridwan memelas.
"Narayan anak Papa yang ganteng, kalau makan rame-rame itu lebih enak loh, Narayan nggak pingin coba?" Arman kembali membujuk Narayan. Akhirnya Narayan setuju mengajak Ridwan ikut makan mie Ayam bersama mereka. Kedua anak kecil itu berebut duduk disebalah Arman jadilah Arman ditengah-tengah bocah itu.
"Papa, Nalayan mau puna Papa" ucap Narayan pada Arman. Arman langsung menyuapi Narayan dengan telaten.
"Nak, kamu mau punya Ayah?" Ridwan menawarkan mie pada Anaknya namun Narayan hanya mengeleng.
Kemudian tanpa disangka Narayan meminta Arman membuka mulut lalu ia menyuapi papa sambungnya, keduanya lalu tertawa bersama, sungguh ini adalah pemandangan yang sangat menyakitkan bagi Ridwan.
"Inikah yang dirasakan putraku saat aku selalu mementingkan Dinda dari pada dia" batin Ridwan.
Setelah pertemuan hari itu, Ridwan rajin mengunjungi Narayan, dia juga mengajak Anisa karena sekarang Anisa menjadi guru ngaji bagi Narayan.
"Ustadzah Nisa, nanti kalau adek aku udah lahil ustadzah Nisa ajali ngaji juga ya?" pinta Narayan
"Iya, insya'allah" kata Anisa
"Ustadzah Nisa, nanti kalau Ustadzah Nisa udah nikah cama Ayah dan puna adek bayi masih bica ngajal nalayan ndak?" tanya Narayan
"Tes..." bulir air mata Anisa jatuh tak tertahankan, bagaimana dia akan punya bayi sedangkan dia ada masalah kesuburan
__ADS_1
"Tenapa menangis?, Nalayan talah ya? Maafi Nalayan ya?" ucap Narayan sambil Memeluk Anisa, sedangkan Anisa semakin tergugu dipeluk Narayan seperti itu.
"Beginikah rasanya dipeluk oleh seoarang anak?" batin Anisa ada rasa bahagia yang terjabarkan oleh sebuah kata.
"Narayan, seandainya nanti ustdzah menikah dengan Ayah kamu, apakah kamu mau panggil ustdzah Ibu?" tanyanya hati-hati.
"Ibu? Iya boleh....kenapa ndak cekalang aja nikah cama Ayah bial Nalayan bica pandil Ibu?" celoteh Narayan.Hati Anisa menjadi menghangat mendengar ucapan Narayan.
Hari demi hari Anisa dan Ridwan makin dekat dengan Narayan, kini Ridwan sudah bisa mengambil hati Narayan setiap kali hendak memberi sesuatu pada Dinda ia terlebih dahulu ijin pada putranya. Dinda juga sudah bisa menerima Ibunya Ridwan.
Hari ini adalah hari pernikahan Ridwan dan Anisa, suasana tanpak meriah keluarga Arman semua berkenan hadir, begitupun keluarga Heru.
"Sayang, ini adalah hari yang sangat istimewa bagiku, aku berharap ini adalah pernikahanku yang terakir" ucap Ridwan seraya mengemgam tangan Anisa
"Aku juga begitu bahagia mas, akhirnya hari ini aku bisa melepas masa jandaku dan hari ini juga aku akan menjadi seoarang Ibu bagi anak laki-laki tampan, aku sangat menyayangi Narayan mas" ucapnya pada suami
"Ehemm..." Heru dan Arman berdehem bersamaan
"Ini masih siang bro, masih ada nanti malam romatisanya" goda Heru
Jangan ditanya semerah apa pipi Anisa digoda Heru, namun berbeda dengan Ridwan laki-laki itu tampak santai menhadapi godaan teman-temanya, mungkin karena ini pernikahan yang ketiga baginya.
"Makasih Aya, aku perlu berguru banyak soal rumah tangga sama kamu" ucap Nisa sambil memeluk Cahaya.
Suasana pesta sederhana itu tiba-tiba berubah riuh sesaat setelah Cahaya menyalami pengatin tiba-tiba Cahaya merasakan perutnya sakit.
"Mas...Arman, sakit!" ucap Aya
Arman langsung panik bingung apa yang harus dilakukan, namun berbeda dengan Yulia perempuan paruh baya itu sepertinya tau bahwa menantu kesayanganya akan melahirkan, ia segera menyuruh Arman membawa Aya kerumah sakit terdekat, di dalam perjalanan ketuban Aya pecah Arman panik
"Ini kenapa Ma," Arman semakin panik
"Arman bisa diam nggak kamu!, dari tadi kamu malah bikin Mama pusing" omel Yulia.
Sesampainya dirumah sakit, Arman heboh sendiri ia ngotot menemani Cahaya melahirkan setelah didalam ia melihat perjuangan Cahaya melahirkan buah cinta mereka ia tidak kuat dan mendadak pingsan di ruang persalinan.Beberapa saat kemudian Cahaya melahirkan seorang putri yang sangat cantik perpaduan dirinya dan Arman.
"Cucuku cantik sekali kamu" ucap Yulia gemas melihat cucunya yang baru lahir
__ADS_1
"Ma, dimana mas Arman?" tanya Aya
"Hallah suamimu itu malah merepotkan sekali, disaat semua orang fokus membantu kamu melahirkan eh...dia malah bikin masalah,pakai pingsan segala" ucap Yulia.
"Ceklek" pintu kamar rawat Cahaya dibuka nampak Arman tersenyum lebar melihat istrinya dan buah hatinya baik-baik saja.
"Sayang makasih ya, kamu adalah wanita yang hebat, aku semakin sayang sama kamu setelah melihat perjuanganmu melahirkan buah cinta kita" ucap Arman seraya menciumi tangan Aya.
"Iya mas, makasih ya sudah menemaniku walaupun akhirnya kau tumbang," ucap Cahaya sambil tersenyum
"Mas anak kita sudah kamu adzani belum?" tanya Cahaya
"Sudah dong, lihatlah dia sangat cantik mirip dengan kamu" ucapnya
"Mas kamu sudah kasih nama buat anak kita?" tanya Cahaya
"Sudah dong aku akan memberinya nama Aretha putri Arman" kata Arman
" Ah.....sebuah nama yang bagus, aku suka" ucap Cahaya dengan berbinar matanya.
*****
Dua tahun kemudian
Narayan kini sudah kelas dua SD wajahnya sangat tampan dia juga selalu menjadi juara kelas, tiap akhir pekan ia tidur dirumah Ridwan, Anisa sangat sayang pada Narayan hubungan keluarga Arman dan Ridwan juga semakin dekat layaknya saudara.Akhir pekan ini keluarga Arman weekend dipuncak, Yulia tak pernah absen mengikuti kegitan anak,menantu dan cucu-cucunya.Disaat mereka sedang asyik bakar-bakaran tiba-tiba saja Aya pingsan.
"Mama..." Narayan dan Aretha menangis melihat Cahaya pingsan, kini Arman lebih sigab kemudian ia memangil dokter
"Bagaimana keadaan istri saya dok, dia baik-baik saja kon dok? Tidak ada yang serius kan?" tanya Arman Cemas
"Ibu Aya baik-baik saja dan sepertinya istri bapak sedang berbadan dua untuk memastikanya silahkan periksa lebih lanjut ke dokter obgyn" kata dokter
"Apa dok, Istri saya hamil?" Arman kaget dan sangat senang sekali mendapat kejutan hari ini.tak henti-hentinya ia bersyukur.
End....
Ahh....aakhirnya kisah ini selesai juga terima kasih pada teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah recah ini.Mohon maaf bila masih banyak kekurangan pada karya ini.
__ADS_1
For your information
Simak kisah karan dan Nindy di mengejar cinta suamiku