
Keesokan paginya Binar berkunjung kerumah Cahaya.Dengan menyeret koper besar ia melangkah menuju kediaman Cahaya.
"Assalamualaikum" ucap Binar ketika memasuki rumah Cahaya.
"Waalaikum salam, Binar.....ayo masuk" ucap Cahaya mempersilahkan Binar masuk kerumahnya.
"Kok tumben bawa koper besar? Lagi marahan sama bapak ya" ucap Cahaya menebak kedatangan Binar.
"Iya....semua gara-gara mbak Aya, sebel-sebel" ucap Binar menghentak-hentakan kakinya.
"Kok gara-gara aku?, emangnya aku ngapain kamu?" tanya Cahaya heran.
"Gara-gara mbak Aya nolak sama Juragan sukirman kini Bapak jodohin aku sama dia, eiyuhhh bingit" ucap Binar
"Buahahhaha...hahah" tawa Cahaya meledak.
"Kamu dijodohin sama juragan sukirman, serius?" tanya Cahaya memastikan.
"Dua rius malahan" ucap Binar
"Bukanya kamu pacaran sama cowok yang kerja di sebuah bank milik pemerintah" tanya Cahaya.
"Dipaksa putus sama Bapak, karena bapak trauma sama cowok yang kerja di BUMN takut kaya mantan suami mbak Aya" ucap Binar
"Kan nggak semua cowok yang kerja di BUMN kaya mas Ridwan" ucap Cahaya.
"Itu kalau menurut mbak Aya, kalau menurut Bapak beda lagi" ucap Binar
"Mbak Aya mah enak, yang naksir cowok ganteng-ganteng dan tajir, lah aku punya cowok masa depan rada bagus dikit langsung diriject sama Bapak" ucap Binar
"Juragan Sukirman masa depanya bagus loh," goda Cahaya.
"Kalau bagus kenapa nggak mbak Aya aja yang nikah sama juragan Sukirman" sewot Binar.
"Gimana mau nikah sama dia, Narayan aja ketakutan liat dia. Narayan bilang takut ondel-ondel buhahhaha" Cahaya kembali tertawa.
"Aku kesini bukan untuk mbak ketawain aku capek ribut terus sama Bapak"ungkap Binar. Cahaya terdiam ia tidak lagi mengoda adeknya.
Binar kemudian bercerita dengan Cahaya selama dirumah ia sering berdebat dengan bapaknya, Watak Binar memang keras berbanding terbalik dengan Cahaya.ia merasa tidak suka dengan cara bapaknya mencarikan jodoh untuknya.
__ADS_1
"Heran deh sama Bapak, masih aja ada manusia langka seperti Bapak.kita hidup dijaman modern masih dijodoh jodohin, mana jodohnya juragan Sukirman lagi.Lihat penampilanya aja geli apalagi kalau ngomong sok dimanis-maniskan,eiyuhhh banget" ucap Binar.
"Ya kamu maklum saja, namanya juga orang tua cara berpikirnya tentu saja berbeda, kamu jangan sering melawan Bapak nanti kualat" ucap Cahaya menasehati adeknya.
"Mbak Aya bisa bilang begitu, karena sudah terbebas dari juragan sukirman" ucap Binar mengebu.
"Udah kamu nggak usah marah-marah terus, besuk mbak coba bicara sama bapak nanti mbak juga akan bicara sama Ilham biar bantu bicara sama Bapak. Yang penting kamu jangan suka ngelawan Bapak bicarakan semua secara baik-baik" Cahaya kembali menasehati Adeknya.
Malam ini Binar memutuskan tetap menginap dirumah Cahaya.Setelah Ilham kembali dari kantor Cahaya langsung memberitau masalah yang dihadapi Binar dan Ilham janji akan membantu berbicara dengan Bapaknya.
Pagi harinya Binar sebelum ke kampus Binar menyempatkan diri joging sampai ketaman dekat rumah Cahaya.Secara tak sengaja ia bertemu dengan Sukirman.
"Namanya jodoh pasti dimana-mana ketemu, ya kan sayangku?" seperti jaelangkung, Sukirman tiba-tiba mumcul ditaman itu membuat mood Binar memburuk saja.
"Jangan mendekat!, berani mendekat aku teriak" Ancam Binar.
"Ohhh...galak juga calon istrinya abang" ucap Sukirman penuh percaya diri.
"Minggir! Hush...hush..hush" usir Binar namun bukanya menyingkir Sukirman malah semakin mendekat.Disaat tangan Sukirman hendak membelai rambut Binar sebuah tangan mencekalnya.
"Jauhkan tangan busukmu itu!" ucap Laki-laki itu.
"Aku calon suami Binar" ucap laki-laki itu.Sontak ucapan laki-laki itu membuat binar membekap mulutnya sendiri namun ia tidak memprotesnya.
"Calon suami? Calon suami dari hongkong, ini kenalin calon suami Binar yang sesungguhnya Juragan Sukirman Juragan Pete terbesar di seluruh pelosok tanah Jawa" ucap Sukirman dengan bangga.
"Cuih.... Baru jadi juragan Pete aja sombong" ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Ridwan
Ucapan Ridwan membuat Sukirman meradang sesaat kemudian Sukirman bersiul, datanglah dua orang preman lalu menghajar Ridwan. Binar menjerit meminta pertolongan.
"Tolong.....tolong" teriak Cahaya seketika orang-orang berdatangan. Akhirnya juragan Sukirman dan anak buahnya kabur karena masa yang jumlahnya banyak mulai menyerang mereka.
"Mas Ridwan nggak apa-apa?" tanya Binar yang melihat Ridwan babak belur.
"Aku nggak apa-apa Binar, mana para preman tadi biar mas hajar lagi" ucap Ridwan pongah. Pada kenyataanya Ridwan menahan sakit yang luar biasa akibat dihajar dua preman tadi.Namun ia belagak sok kuat didepan Binar agar mendapat simpati.
Dengan telaten Binar mengobati Luka Ridwan akibat dihajar dua preman tadi dengan peralatan seadanya.
"Harusnya Mas Ridwan tadi nggak usah meladeni Juragan Sikirman, Mas Ridwan jadi luka-luka kaya gini" ucap Binar.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Binar" ucap Ridwan sok kuat.
" Mas Ridwan bisa jalan?" Tanya Binar.
"Bisa!" ucapnya lalu dengan berjalan sempoyongan ia menuju sepeda motornya.Binar melihat keadaan Ridwan menjadi tidak tega lalu ia mengantar Ridwan dengan mengendarai sepeda motor butut Ridwan sampai rumahnya.
Dari dalam Rumah Ibunya Ridwan melihat dari balik gorden siapa yang datang dan betapa senang hatinya melihat siapa yang datang.
"Itukan si Binar, Baru kemarin dibicarakan dia sudah muncul.Aku harus baik-baikin dia, ah senangnya hatiku sebentar lagi aku punya tambang uang selamat tinggal kemiskinan dan selamat datang kebahagiaan" Ibunya Ridwan sibuk berhayal.
"Ett... Tunggu...tungu kenapa Ridwan dipapah begitu jalannya dan mukanya bengeb kaya habis dipukuli orang begitu, tapi nggak apa-apalah berakit - rakit dahalu berenang- renang ketepian, bersakit - sakit dahulu bersenang senang kemuadian. Biarlah Ridwan berkorban sedikit agar masa depan kami bersinar kembali" batin Ibunya Ridwan dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya.
"Assalamualaikum...." terdengar suara Binar dari luar rumah.
"Waalaikum salam...." Ucap Ibunya Ridwan dari dalam rumah ia sudah menyiapkan acting terbaiknya untuk menemui Cahaya.
"Ceklek" pintu dibuka .Ibunya Ridwan langsung histeris melihat keadaan Ridwan ia sengaja melakukan ini agar mendapat simpati Binar.
"Kamu kenapa Wan? Kok bisa jadi begini" tanya Ibunya.
"Ridwan nggak apa-apa bu, ini cuma luka kecil jangan diberlebihan laki-laki itu biasa begini" ucap Ridwan sok kuat setengah mati ia menahan sakit, agar kelihatan sok kuat dihadapan Binar
"Nggak apa-apa bagaimana kamu babak belur begini, kaki kamu patah atau bagimana?" tanya Ibunya lagi.
"Maafkan saya bu, ini semua gara-gara saya" ucap Binar tidak enak.
"Kamu Binar kan? Maaf Ibu sampai tidak menyapamu karena sibuk memikirkan kedaan Ridwan" ucap Ibunya Ridwan.
"Iya, saya Binar bu," ucap Binar
"Wah...kamu sekarang sudah besar dan cantik sekali" ucap Ibunya Ridwan.
"Maafkan saya bu, gara-gara saya mas Ridwan jadi seperti ini" ucap Binar.
"Hallah nggak apa-apa Ibu senang Ridwan selalu mengutamakan keselamatan orang lain tanpa mempedulikan keselamatanya sendiri" ucap Ibunya Ridwan langsung menyimpulkan dikiranya Binar kecopetan lalu ditolong oleh Ridwan
"Ridwan
.
__ADS_1