
Fikri pov
Hai namaku Fikrianto Ahlin Mahesa biasa dipanggil Fikri atau mau akrabnya dipanggil kiki. Panggilan Kiki sih dari ayah dan ibuku sejak ku kecil. Hari ini aku bekerja langsung di perusahaan Faisal. Iya perusahaan yang didirikan kakak kembaranku dan dia mendirikannya waktu umur 17 tahun, sungguh Faisal ini mendapat julukan selama ia bersekolah yaitu "anak emas" atau "sang remaja jenius" dan masih banyak lagi.
Dan aku? Jangan anggap remeh aku begini juga aku sudah berhasil mendirikan cabang butik aku yang kelola kalau pusatnya di mana? Pusat toko butik ditangani oleh kakak pertamaku, Kak Ryan.
"Woi jangan melamun!!", seru Anya, kakak kembaranku.
"Iya2 tunggu aku", jawabku sambil berlari kecil namun aku menabrak seorang gadis.
"Maaf2 aku gak sengaja", kataku.
"Iya gak apa-apa. Loh kamu?", katanya terkejut tapi aku gak ingat siapa dia.
"Maaf anda mungkin salah orang", kataku hal seperti ini sudah biasa orang salah mengenaliku dengan kembaranku terutama dengan Faisal.
Kami terlalu mirip dari segi mana pun tapi lain hal dengan saudaraku dan ortuku mereka dapat membedakan kami.
"Tidak aku tidak mungkin salah orang kamu Faisal kan? Kamu darimana aja aku tuh capek ngurusin anak kita ini juga salahmu malam itu mabuk jadinya aku hamil", katanya.
Aku ingat Luna. Pacar Faisal waktu di Jakarta, waktu itu Faisal sekolah di sini waktu sma lalu lanjut kuliah tapi di pertengahan semester akhirnya Faisal pindah ke New York gara2 kecelakaan. Memang sih Luna lahirin anak kembar 4 satunya sama Luna dan 3 nya ada sama Faisal.
Kalian tanya kenapa? Karena dulu ada insiden terjadi tapi Luna berhasil melarikan diri dengan putranya waktu itu berkat Faisal walau Luna tak tahu kalau Faisal lah yang membantunya waktu itu. Ia membiarkan Luna bersama Nizar pergi waktu itu sedangkan dia berusaha merebut ketiga anaknya lagi.
"Luna", suara ini sangat tidak asing.
"Eh Siska ini aku bicara dengan Faisal tapi dia tidak menjawabku kemana dia selama ini", kata Luna.
"Ku bilang kau salah orang Luna ini aku Fikri", kataku dengan aura menekan.
"EH FIKRI"
"Biasa aja responnya", kataku.
"Woi ikut gak?", seseorang menarikku.
"Gak, aku ada urusan mendadak", kataku kesal.
"Oh iya pacarmu-"
"Maaf saya bukan pacar Kiki tapi kembaranmya, saya Anya", kata Anya memotong kata Siska mengenalkan diri.
"Apa kembaran?", kata Luna dan Siska.
Author pov
Di kafe
"Jadi kalian 4 kembar lalu kemana duanya lagi?", tanya Luna.
"Alma dan Faisal? Alma sih di rumah kalau Faisal dia di rumah sakit", kata Fikri.
"Rumah sakit? Dia sakit apa?", tanya Luna khawatir.
"Dia kecelakaan 3 setengah tahun lalu karena menyelamatkanmu dengan Nizar lalu berusaha merebut paksa ketiga anak kalian lagi", jelas Anya.
"Apa?!", seru mereka.
Fikri menceritakan semuanya sampai ketiga anak Luna dan Faisal yang ada sama Faisal selama ini.
"Luna, jadi kalian mau pergi menemui Faisal? Siapa-siapa di sana?", tanya Siska sambil tenangin Luna yang sudah terisak.
"Ku tanya dulu kalian tinggal di mana? Yang ku tahu setelah Luna hamil dia di usir dan kau yang selama ini yang menemaninya? Apa benar?", tanya Fikri waspada.
"Iya kami tinggal ngontrak rumah", jawab Luna.
"Aku karena menentang keluargaku untuk ikut Luna akhirnya juga diusir", tambah Siska.
"Gimana?", tanya Anya tapi sebenarnya dia tahu jawabannya.
"Kok tanya gimana sih kan kau tahu jawabanku lagian ini kan sudah direncanakan oleh kakak", kata Fikri.
"Hehehehe", Anya malah membalasnya dengan cengirannya dan Fikri menatap malas kakak perempuannya.
"Kalian ikut kami saja soal rumah kalian tinggalkan saja biar aku yang bayar sisanya", kata Fikri.
"Tidak perlu", tolak Luna.
"Harus INI JUGA KEINGINAN FAISAL KALAU AKU MENEMUKAN KALIAN", kata Fikri dengan nada menekan juga aura suram menandakan tidak ada bantahan dan penolakan.
"Baik"
Di kantor pusat Mahesa group
"Gimana perkembangannya?", tanya Ryan.
__ADS_1
"Semuanya sesuai dengan keinginan tuan muda pertama", kata Pak Leo.
"Menarik ini akan menyenangkan", kata Ryan dengan senyum devilnya.
Di rumah sakit
"Masalah rumah beres tinggal masalah orang yang tidak mau makan kau urus ya Luna", kata Anya dengan nada menggoda.
"Kenapa aku?", tanya Luna bingung.
"Karena yang harus kau bujuk tuh Faisal sana", kata Fikri sengaja mendorong Luna ke arah Faisal yang sedang berjalan.
"Aduh"
"Maafkan aku eh? Faisal!!", kaget Luna.
"Fikrianto Ahlin Mahesa mati kau!!!!" , kata Faisal kesal.
"Hahaha.. gimana? Apa kata dokter Angga?", tanya Anya.
"Yah biasa aja cuman makananku tidak teratur lagi dan kecapean membuatku stress serta lukaku yang terbuka kemarin dijahit lagi kali ini 30 jahitan dan kau menambah sakitnya lagi", keluh Faisal.
"KAU MEMBOHONGIKU FIKRI", teriak Luna kesal dan diteriakkan hanya tertawa.
Faisal? Dia sudah menatap Fikri dengan tajamnya.
Di kediaman Mahesa(Arfan dan Anisa)
"Eh Kak Maura?! Kamu juga?!", kaget Luna dan Siska ketika melihat Maura.
"Gak usah kaget kakak Maura Kak Ryan belum pulang?", kata Faisal.
"Kenapa cari aku?", terdengar suara Ryan dari belakang mereka sebelum Maura membuka suara.
"Ah kakak, kok istri hamil ditinggal', kata Anya.
"Gak usah lebay deh kamu kan ada ayah dan ibu di rumah, Alma, dan anak2", kata Ryan santai.
"Makan malam sudah ku siapkan", kata Maura dengan manjanya menggandeng tangan kiri Ryan.
Ryan? Dia biasa aja sudah biasa istrinya, Maura bermanja dengannya selama ini apalagi lebih manja disaat hamil.
"Pak Leo bilang ke ayah kerjaan kantor kelar sekalian membawa pulang calon menantunya dan cucunya", kata Ryan.
"Dan aku yakin ayah menantikan puncak dari rencana ini", tambah Ryan dengan senyumnya yang sulit diartikan.
"Dia kakakmu? Dia kan Kak Ryan yang menghamili Kak Maura", kata Siska.
"Memang iya Kak Ryan kakakku, kakak tertua di keluarga ini", kata Fikri.
"Gak percaya lihat tuh foto", kata Faisal sambil menunjuk bingkai foto besar di dinding lebih tepatnya foto satu keluarga.
Luna dan Siska terkejut di foto itu ada Arfan dan Anisa yang sudah hilang 25 tahun lalu dan ternyata Ryan, Faisal, Fikri, dan Anya anaknya.
"K-kalian berapa bersaudara? Kok di foto banyak banget", kata Siska penasaran.
"Udah kelihatan di foto masih tanya lagi, iya kami 13 bersaudara", kata Faisal.
"Dan kalian pasti tidak akan percaya kami semua dilahirkan anak kembar semua dari anak tertua sampai anak bungsu", kata Anya.
"APA"
Luna dan Siska sudah dibuat kaget mati oleh satu keluarga Mahesa yang sudah bersembunyi selama 25 tahun ini.
"Biasa aja kagetnya", kata seorang laki2 yang umurnya masih dibilang sangat muda.
"Benar mulai sekarang kalian tinggal disini sampai kami keluar dari persembunyian lebih tepatnya mengumumkan ke publik", tambah seorang wanita muda yang seumuran dengan sosok laki-laki tadi.
"Ayah,ibu, maaf menganggu", kata Faisal.
"Tidak apa-apa nah Luna dan Siska anggap rumah sendiri ya", kata Anisa sambil memeluk Luna dan Siska.
"Uh calon menantuku datang double gak sabar ah aku harus membujuk Faisal dan Fikri untuk cepat-cepat melamar kalian berdua aduh gak sabar", tambah Anisa kesenangan.
Arfan hanya geleng-geleng kepala melihat Anisa yang masih kelakuannya anak-anak padahal umur sudah 30 tahun.
"Heh ngapain masih disini kalian berdua sana antar ke kamar calon menantuku di samping kamarnya Ryan saja", kata Anisa ke kedua anak laki-lakinya.
Faisal dan Fikri hanya menuruti kalau tidak mereka bakal habis diamuk oleh ibunya yang galak minta ampun.
Di kamar Luna dan Siska
"Nih kamar kalian maaf cuman ini kamar yang tersisa jadi kalian berdua berbagi tempat saja", kata Faisal.
"Baik oh ya kamar di ujung punya siapa?", tanya Luna.
__ADS_1
"Itu kamar milik kembarannya kak Ryan,kak Reyna harusnya malam ini dia pulang dari Amerika", kata Faisal.
"Ohh, kakak Reyna udah nikah?", tanya Luna polos.
"Hahahhaha...tentu saja sudah kalau gak ngapain dia di luar negeri yah walau sebelumnya ada di sini waktu pulang ke Jakarta tapi masih ada urusan katanya jadi terbang lagi waktu itu malam ini sampai", jelas Faisal di sela-sela tertawanya.
"Ih malah diketawain", kesal Luna.
"Assalamualaikum", kata beberapa anak yang baru pulang sekolah.
"Waalaikumsalam", jawab mereka.
"Ayah", kata anak kecil yang berlari ke pelukan Faisal.
"Ayah sudah sembuh kan? Nanti bawa Naynay ke taman lagi", katanya yang sudah dipelukan Faisal.
"Iya eh ini Luna", kata Faisal bingung mau bilang apa.
"Bunda Naynay rindu bunda", kata Nayna Luna menyambutnya dengan pelukan.
"Assalamualaikum", kata seorang wanita muda.
"Waalaikumsalam, eh kak katanya malam pulang?", heran Alma yang baru saja keluar kamarnya.
"Iya biar supprise karena urusan sudah selesai lebih cepat", kata Reyna dan Alma berlari kecil dan langsung berhambur ke pelukan Reyna.
"Hei-hei ayo ke dalam jangan di sini Reyna kamu pasti capek dengan Vincet masuk kamar saja istirahat kasian juga anakmu pasti capek juga", kata Arfan dan Reyna menuruti dan segera masuk kamarnya.
Mereka makan malam dengan tenang setelah itu semuanya bubar sibuk dengan urusannya masing2.
Di balkon rumah
"Gak tidur?", tanya Faisal.
"Gak belum ngantuk, anak-anak?", tanya balik Luna.
"Sudah tidur, cepat tidur jangam bergadang", kata Faisal.
"Sal"
"Ya"
"Kapan kamu melamarku? Bukankah kau sudah janji dan kita sudah punya 4 anak", kata Luna berharap.
Hening
"Lupakan sa-"
"Tepat puncak rencana kakakku tepat saat acara tahunan perusahaan saat itu kakakku mempublikasikan tentang keberadaan kami dan saat itulah aku melamarmu", potong Faisal sambil mendekati Luna dan berbisik.
"Kalau dihitung hari ini itu masih 12 minggu lagi", bisik Faisal.
Sudah dipastikan wajah Luna memerah seperti kepiting rebus.
"Cepat tidur ya tuh Siska nungguin", kata Faisal lalu masuk ke kamarnya.
Jangan tanya lagi betapa senangnya Luna mengetahui Faisal melamarnya tapi di depan banyak orang, DI DEPAN BANYAK ORANG.
"Tahu ah, tidur aja", kata Luna yang masih memerah wajahnya.
Di kamar
"Kenapa Luna?", tanya Siska heran melihat wajah Luna yang memerah.
"Tidak apa-apa, tidur aja", jawab Luna yang langsung membungkus dirinya.
"Ohh"
Di kamar lain
"Kalian dengar?", kata Syifa.
"Ya", jawab Haris.
"Uh gak sabar", kata Nayna greget.
"Kita hanya menonton saja kan? Aku gak sabar', kata Nizar.
"Iya"
Hai balik lagi
Suka? Jangan lupa like dan komen
Supaya aku cepat2 updatenya
__ADS_1
Bye👋👋