Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 24


__ADS_3

Yo guys bagaimana kabar kalian? Nih cerita benar-benar membuatku semakin semangat dan tentu saja semua ini karena dukungan dari kalian semua.


Karena itulah selamat menikmati....


"Anisa"


Arfan berlari kecil menghampiri Anisa dan langsung menggendongnya.


"Eh?! Aku baik-baik aja", kata Anisa salah tingkah.


"Diamlah dan nurut", kata Arfan dingin namun kata-katanya kali ini memiliki makna dalam.


Iya dia khawatir akan kondisi Anisa dan ia bertekad akan memblas perbuatan Zaena.


Arfan meminta izin ke Bu Lona dan langsung bergegas ke rumah sakit.


Di rumah sakit


"Bagaimana kondisinya?", tanya Arfan khawatir.


"Untung dibawa kesini kalau tidak Anisa bisa keguguran lain kali lebih berhati-hati", kata dokter Angga.


"Baik dokter Angga terima kasih", kata Arfan dengan nada rendah.


"Kalau begitu permisi", kata dokter Angga dan berlalu pergi.


Sedangkan Arfan masuk menemui Anisa.


"Bagaimana keadaanmu?", tanya Arfan lembut.


"Udah baikkan", jawab Anisa.


"Syukurlah, maaf ya gak bisa jaga kamu sama anak-anak", kata Arfan menyesal.


"Gak apa-apa yang penting mereka sehat kok", kata Anisa lembut sambil membelai lembut kepala Arfan.


Lama kelamaan mereka pun tertidur bersama dan dokter Angga yang melihatnya merasa senang.


"Halo", kata dokter Angga sambil mengangkat telepon masuk.


"......"


"Tetap tahan dia jangan sampai ke Yogyakarta", kata dokter Angga.


"....."


"Sepertinya akan terjadi bahaya besar", kata Dokter Angga.


"....."


"Ridho, kau tak perlu memaksakan dirimu percayalah Arfan dan Anisa itu kuat", kata dokter Angga.

__ADS_1


"Iya aku tahu tapi lawan kita adalah wanita tua itu dan dia", kata Ridho marah.


"Dia itu adikmu", kata dokter Angga.


"Ayah, dia itu sudah bukan adikku dan bagian dari keluarga Zaunudin", kata Ridho dingin.


"Baik-baiklah lakukan saja sesukamu ayah tutup dulu ya assalamualaikum", kata dokter Angga.


"Waalaikumsalam", jawab Ridho dan sambungan telepon pun terputus.


"Hah, gini amat sih putraku dia berubah sejak itu", gumam dokter Angga.


Malamnya di rumah Arfan dan Anisa sedang makan malam.


Tak ada pembicaraan antara mereka setelah pulang dari rumah sakit.


Anisa sudah selesai makan begitu pula dengan Arfan.


Anisa awalnya berniat mencuci piring namun dicegah oleh Arfan.


"A-ada apa Ar?", tanya Anisa gugup karena jarak antara mereka cukup dekat.


"Katakan", kata Arfan.


"Eh? Katakan apa?", tanya Anisa bingung.


"Katakan siapa yang mendorongmu? Akan ku buat dia tersiksa", kata Arfan dingin.


Melihat sisi Arfan yang begitu sangat dingin dari biasanya membuat Anisa ketakutan.


"Z-zaen-a", kata Anisa terbata-bata karena takut menatap Arfan.


Arfan yang di hadapannya sungguh seram Anisa merasa sangat takut.


Arfan memukul dinding sangat keras sampai meninggalkan bekas akibat pukulannya dan tangannya yang tadi memukul berdarah.


"Arfan tanganmu terluka", ucap Anisa khawatir.


"Berjanjilah", kata Arfan sambil bersandar di bahu Anisa.


Tentu saja Anisa terkejut namun ia berusaha menenangkan Arfan agar tidak emosian lagi.


"Berjanjilah padaku kau tidak akan meninggalkanku dan membahayakan dirimu dan anak-anak kelak", kata Arfan lirih.


Anisa bungkam mendengar permintaan Arfan tak tahu harus berbuat apa Anisa hanya membalasnya dengan pelukan.


"Iya aku berjanji selamanya ini janji kita seumur hidup dan ayo bangun keluarga kecil dan hangat kita Arfan", kata Anisa lembut sambil memeluk erat tubuh Arfan.


Keheningan menyelimuti mereka begitu lama hingga Anisa tertidur dalam pelukan Arfan.


"Dasar istri kecil yang polos tapi terima kasih untuk malam ini selamat malam", kata Arfan pelan sambil mengendong Anisa menuju kamar mereka.

__ADS_1


Di kamar Arfan meletakkan tubuh Anisa di atas ranjang dengan hati-hati supaya tak membangunkannya.


"Perjalanan kita masih panjang sayang", kata Arfan pelan.


Keesokan harinya di sekolah


"Zaena sepertinya gadis kampungan itu belum jera apa perlu kita lakukan?", tanya Laras, teman satu geng Zaena.


"Ide bagus Laras ayo kita buat dia malu di depan umum", kata Zaena.


Tiara, sahabat Zaena sejak kecil hanya diam dia tahu siapa sebenarnya Anisa dan Arfan karena Tiara merupakan kerabat jauh keluarga Yahya.


"Bodoh kau tak tahu berurusan dengan siapa", kata Tiara memperingati Zaena dan Laras.


"Kalau kau tak mau membantu diam saja ayo Laras", kata Zaena sombong.


"Kau akan menyesal nanti tapi aku perlu cari tahu kenapa Arfan dan Anisa disini? Bukankah mereka di Jakarta?", pikir Tiara bingung.


Hari demi hari Zaena dan Laras melakukan aksinya kepada Anisa namun Anisa selalu melawannya dengan berbagai cara sedangkan Tiara mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi sebelum Tiara menghubungi Dwi ia tertangkap oleh Arfan.


"Jangan sampai mereka tahu keberadaan kami atau kau mau aku hancurkan seluruh keluargamu?", ancam Arfan sambil menatap tajam Tiara.


Tiara yang sadar keberadaan Arfan ketakutan.


"T-tolong j-jangan lakukan tuan muda Mahesa", kata Tiara terbata-bata karena takut.


"Akan kulakukan segalanya asalkan jangan hancurkan keluargaku", mohon Tiara sambil berlutut dihadapan Arfan.


"Baiklah tapi kau harus bungkam jangan sampai mereka tahu bahkan dunia sekalipun soal hubunganku dengan Anisa", kata Arfan lalu berjalan menjauh.


"Tunggu", cegah Tiara yang menghentikan langkah Arfan.


"Apa?", tanya Arfan dingin tanpa melihat kearah Tiara.


"Apa hubungan tuan muda dengan nona muda Rahman?",tanya Tiara.


"Janji jangan sampai ada yang tahu kalau tidak aku benar-benar menghancurkan keluargamu hingga ke akar-akarnya" kata Arfan dengan tatapan membunuh.


"Aku berjanji", kata Tiara serius.


"Kami sudah menikah dan Anisa mengandung anak kembar kami katakan pada sahabatmu jangan ganggu kami kalau masih mau hidup", kata Arfan sangat dingin dan angkuh.


Setelah mengatakannya Arfan meninggalkan Tiara di sana sendirian.


"Zaena dalam masalah aku harus hentikan", kata Tiara.


Namun, Zaena tak mendengarkan Tiara dan terus melancarkan rencananya untuk mempermalukan Anisa bahkan........


Ia berani mecelakan Anisa hingga hampir keguguran hal itu membuat Arfan marah besar.


Hai balik lagi nih maaf telat lagi gak bisa berpikir tapi gimana chapter kali ini? Memuaskan? Semoga iya ya.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen di bawah


See you....


__ADS_2