Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 59(s2)


__ADS_3

Hai..maaf lama update 2 setengah bulan ini saya sedang memikirkan kelanjutan cerita ini hingga ending dan terpikirkan membuat cerita baru dengan genre serta nuansa baru dan berbeda dari yang saya sudah saya buat sekarang.


So, happy reading...


Sejak hari itu hubungan Ryan dan Maura semakin erat dan mesra bahkan kabar tentang kehamilan Maura setelah 1 bulan selepas kejadian di Jerman membuat Ryan semakin posesif dan setiap jam menghubungi dan memerhatikan Maura.


Di kafe Maura dan Reyna asyik bercekrama. Di tengah-tengah obrolan mereka lagi-lagi hp Maura berbunyi dan Reyna seakan tahu siapa yang menelpon Maura di jam kerja begini. Segera Maura mengangkat teleponnya dan menyudahinya.


"Ryan itu gak kerja apa? Setiap jam nelpon? Tadi juga begitu," kata Reyna sambil menyeruput jus alpukatnya.


Maura terkekeh. "Kau juga tahu Ryan orang seperti apa."


Mendengar jawaban Maura Reyna hanya memutar bola matanya dengan malas bersamaan pesanan makanan mereka datang.


"Ngebahas dia bikin aku bergidik ngeri," kata Reyna dan Maura hanya tertawa kecil.

__ADS_1


Disisi lain, di kantor terlihat Ryan tengah sibuk mengurus tumpukan kertas-kertas yang harus ditandanganinya.


Di tengah-tengah itu seorang pria berjalan masuk menatap Ryan dengan lembut.


Ryan memanggilnya Ayah, pria itu berjalan mendekatinya.


"Gimana semuanya beres dan lancar? Kira-kira berapa lama lagi sampai kita pindah ke Jakarta?," tanya Arfan.


"Tidak lama lagi sekitar 9 bulan dari sekarang," jawab Ryan. Arfan hanya mengangguk paham sembari membolak-balikkan berkas.


Ryan terdiam. Memang benar ini karena kalung kuno warisan keluarga Mahesa. Menurut ceritanya, konon kalung ini tercipta dikarenakan nenek moyang keluarganya menjalin hubungan dengan makhluk tak kasat mata demi membebaskan keluarganya dari wabah penyakit di zaman itu namun karena kekuatan magis di dalam kalung tersebut banyak yang mengincarnya dan itulah awal dari segalanya dimana keturunan keluarga Mahesa hidup dalam bayang-bayang kematian serta itu selalu menanti mereka di setiap generasi.


Kerap ada yang jadi gila, ada yang hilang ditelan bumi, ada yang mati dengan tidak normal dan lain-lain. Ini seperti kutukan bagi mereka. Seperti itulah sejarah kalung sabit yang saat ini dipakai oleh Rizki.


"Aku paham ayah tapi bagaimana cara bebas dari belenggu ini?," gumam Ryan tertunduk lesu.

__ADS_1


Arfan menatap putra sulungnya dengan hampa ia paham betul ini seperti kutukan dan racun bagi mereka bahkan ia sudah merasakannya berulang kali. Beberapa kali ia harus kehilangan anaknya bahkan anak-anaknya pun mengalaminya.


Dulu Reyna harus kehilangan anak pertamanya karena ada sosok misterius mendorongnya hingga mengalami keguguran dan Ryan harus kehilangan putrinya yang baru menginjak umur 3 tahun.


"Ini salah ayah yang tidak bisa menemukan jalan keluar dari kutukan ini dan juga kalung itu terlalu berbahaya serta tak dapat dihancurkan," kata Arfan sambil memengang kedua pundak Ryan.


Ryan tercengang sesaat melihat tatapan ayahnya yang seakan tidak memiliki harapan hidup. Perlahan Ryan menurunkan tangan Arfan dan tanpa aba-aba memeluk Arfan sangat erat.


"Jangan menyalahkan dirimu, Ayah. Ini bukan salahmu ataupun orang lain aku yakin Reyhan dapat menemukan jalan keluarnya dan kutukan menyesakkan ini berakhir di generasi kami supaya Rifki dan lainnya tak perlu mengalami ini semuanya," kata Ryan sambil matanya mulai berkaca-kaca.


Arfan kemudian memeluk Ryan dengan lembut dan erat. Ia merasa beruntung memiliki putra seperti Ryan dan juga takkan melepas sosok malaikat kecil di hadapannya.


"Putra kita sudah besar ya, Ar," gumam seorang wanita yang bersembunyi dibalik pintu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2