
Gimana kabar kalian semua? Baik? Semoga baik dan sehat ya semuanya karena bentar lagi cerita ini dah mau tamat sudah mendekati akhir gak terasa ya.
Yang kemarin gak terlalu panjang karena mepet waktu mau upload itu aja.
Happy reading....
"Wajahmu sebenarnya cuma make up dan softlen kan Ryan?", tanya Maura.
"Iya tahu darimana?", tanya Ryan.
"Reyna", jawab Maura.
"Kenapa kau pake? Apa yang kau tutup?', tanya Maura lagi.
"Aku malas di kejar cewek-cewek centil", jawab Ryan dan Maura heran tidak mengerti.
"Kau pake aja masih di kejar tuh", kata Maura ngambek.
Ryan terdiam dan berbalik badan menarik Maura ke pangkuannya.
"Apaan sih?", elak Maura namun tidak berhasil karena Ryan lebih kuat.
"Mau liat wajah asliku? Kau gak kuat loh tahu gak? Perusahaanku menciptakan cermin pendeteksi cecan/cogan", bisik Ryan.
"Lalu hubungannya apa? Aku kan cecan no 1 sedunia", kata Maura membanggakan dirinya.
"Ya ya, tapi apa kau tahu cogan no 1? Tidak kan. Mau tahu gak? Itu aku loh", kata Ryan di telinga Maura.
"Hahaha, masa sih?", tanya Maura tak percaya.
Ryan tersenyum sinis dan masuk ke kamar mandi.
Maura penasaran apa yang mau dilakukan Ryan.
"Jangan menyesalinya sayang", kata Ryan membuka softlennya dan mencuci mukanya.
Maura terdiam ia tak percaya apa yang ia lihat saat ini.
Ia teringat kata Reyna tentang ketampanan Ryan tak bisa di ukur.
Sebagai salah satu keturunan Mahesa namun karena Anisa merupakan campuran Indo-Rusia dan Arfan leluhurnya banyak bule jadinya wajah Arfan agak bule tapi Arfan ngikut neneknya, Yuki yaitu campuran Indo-Jepang-Turki.
Jadi, Ryan memiliki darah campuran dari kedua orangtuanya. Ryan memiliki warna mata langka campuran Rusia-Belanda, wajah khas Turki, gaya rambut yang merupakan campuran Indo-Jepang pokoknya Ryan merupakan cowok langka di dunia.
"Mimpi apa aku menikah bule kek kau Sih? Tunggu jangan-jangan salah satu anak kita ngikut kau pasti?!", tebak Maura.
"Tuh tahu, kau liat Rifki ngikut siapa, Fira sih lebih mirip kau, Fadli campuran", kata Ryan.
"Pantas Rifki dan Fadli populer di sekolah dibilang bule tapi ada yang tetap mgejek mereka alien karena warna matanya aneh", kata Fira.
"Sendirinya gak sadar", cibir Fadli.
"Ih kalian main nerobos aja", kata Maura kaget melihat 3 bocah itu main masuk aja mana lagi masuk kamar mandi.
"Hehehe"
"Ayah kok ni rumah cuma 2 kamar?! Kami tidur di mana?!", tanya Rifki.
"Iya juga kan rumah ini ayah beli 26 tahun lalu waktu itu hanya tinggal berempat", kata Ryan.
"Jadi?"
"Ayah ibu, bentar malam Gimana?", teriak Ryan.
"Kalian bagi aja kalau gak cukup nginap hotel aja dekat sini", seru Arfan.
"Hadeh ayah"
"Astaga ayah"
Semuanya mengeluh dan akhirnya satu kamar di isi oleh cowok semua dan satunya cewek semua.
Di kamar cowok(bekas Ryan dan Reyna)
"Dulu ini kamar siapa?", tanya Zakir.
"Kamarku dan Reyna", jawab Ryan.
"Jadi dulu kakak besar di sini?", tanya Alvin.
"Hanya 2 tahun lalu pindah ke Tokyo", jawab Arfan.
"Jadi kamar satunya bekas ayah dan ibu?", tanya Haris.
"Iya"
"Wah kakek tampan ya dulu", kata Qatar sambil menunjuk foto yang terpasang di meja.
"Siapa anak laki-laki di gendong kakek?", tanya Rifki.
"Ayahmu", jawab Arfan sambil memangku Alvin.
"Ih ayah malu", kata Alvin dengan wajah seperti kepiting rebus.
Arfan tetap kukuh tidak melepas Alvin dan semuanya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Udahlah om Alvin terima nasib aja sebagai anak bungsu hahaha", kata Haris.
(Note: untuk nama mungkin ada kesamaan satu sama lain jadi maklumlah author males ganti lagi jadi jangan bingung lagi).
"TIDAK"
"Udah itu ayo makan malam", ajak Anisa.
Sementara itu
"Mereka semua itu ke mana sih?!"
Kesal Vivian pusing ke mana putranya dan keluarga nya.
"Sejak kapan Vivi begitu?", tanya Rani.
"Semalam", jawab Andhika pasrah.
Keesokan harinya
"Masih jauh?", tanya Keila.
Saat ini mereka ziarah ke kuburan si kembar.
(Tahulah siapa)
"Bentar lagi sampai nak", jawab Anisa.
Di ujung
"Akhirnya sampai"
"Wah cantiknya kuburannya", kagum Fira dan Seila.
"Kau ziarah ya 3 bulan lalu?", tanya Reyna.
"Iya", jawab Arfan.
Dan mereka merupakan kuburan Reyhan dan Rena lalu membacakan surah al-Fatihah.
"Amin"
"Ayo pulang"
Tiba-tiba Rifki melihat penampakan mereka.
"Ayah"
"Ya
"Mereka tersenyum", kata Rifki.
"Ayah tahu mereka memang seperti itu dari dulu", kata Ryan.
Sesampainya di rumah
"Lusa kita langsung berangkat ke Tokyo hari ini berpuaslah bermain atau jalan-jalan", kata Arfan.
__ADS_1
"Hore"
Lusanya mereka langsung berangkat pagi-pagi ke Tokyo.
"Akhirnya kamar kebanggaan", kata Keisya.
"Aku duluan"
"Devan tidur aja di bekas kamarnya Andrian", kata Arfan.
"Baik"
"Mereka sudah besar ya waktu berjalan cepat", kata Anisa.
"Iya ayo ke kamar", kata Arfan.
Seharian mereka habiskan di rumah sibuk di kamar masing-masing.
Di balkon kamar Ryan
"Hahahha"
"Apa yang kau tertawakan Maura?", tanya Ryan.
"Cerita ibu soal kau masih kecil ya tentu aku tertawa", jawab Maura.
"Hm"
"Sisa beberapa hari ini semua berakhir", kata Ryan sambil melihat bulan di tengah daun berguguran.
"Iya besok sore kita ke makamnya", kata Maura.
"Viola", gumam Ryan dan Maura memeluknya dari belakang.
"Ayo tidur"
"Hm"
Di Indonesia, Jakarta
"AAAAAAHHHH MEREKA KE MANA SIH?!" Ucap Vivian kesal sudah 5 hari mereka gak ada kabar.
Realitanya mereka tak ada waktu membuka hp sejak di Palembang karena sibuk jalan-jalan selain pergi ziarah.
Keesokan harinya menjelang sore hari ke 6.
Devan menatap nanar ke beberapa makam saudaranya dan dua keponakannya.
Mereka membersihkan makan mereka satu per satu dan membacakan surah al-fatihah.
"Aku tak sempat melihat mereka", kata Devan menyesal.
"Aku juga kok bahkan saat itu kami belum lahir", kata Keisya dan di setujui oleh Keila, Indah, Zakir, dan Alvin.
Setelah selesai mereka pun pulang dan seperti sebelumnya sisa waktunya mereka habiskan jalan-jalan hingga besok hari yang di tunggu.
Di rumah
"Acaranya di mulai sore jam 15.00 jadi kita harus sudah tiba sebelum acara", kata Arfan.
Dan mereka berangkat pulang ke Indonesia sebelum itu ada yang singgah ke Bali atau Surabaya.
"Gak puas betul mereka jalan-jalan", kata Yudith geleng-geleng kepala.
Di bandara Jakarta
"Astagfirullah kalian memborong banyak?!", kaget Yudith pasalnya dia yang di suruh menunggu mereka.
"Hehehe..."
"Udah ayo dah di tunggu", kata Yudith.
Sisa waktu 10 menit lagi
Di acara
"Kita hitung mundur", kata host.
"Ya"
"Sebenarnya menara puncak ini milik siapa?"
"Entahlah"
"Pasti dia kaya ya"
"Pasti"
"Lihat keluarga Floren"
Semua orang melihat keluarga Floren kagum.
"Padahal mereka tidak berhasil membeli perusahaan Mahesa", kata Vera sinis.
"Udahlah sayang nanti mereka kena akibatnya kok", kata Rahmat, suami Vera.
"Papa kok mereka belum datang?", tanya Windi.
"Kurang tahu nak", jawab Rahmat.
"Kita tunggu saja pasti datang", kata Vera.
Ok ma"
Sementara itu
"Kalian lama sekali"
"Masih ada 5 menit ayo tancap gas aja dekat kok", kata Fikri.
"Ya iyalah pembalap kek kau mudah", cibir Ayna.
"Udah ayo"
Mereka langsung berangkat ke menara milik Fikri.
"Kiki mana?", pikir Siska khawatir.
5 menit lagi
.
.
.
.
.
.
" kita mulai 10, 9, 8, 7, 6, 5"
.
.
.
.
.
.
.
3 menit lagi
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
"4, 3, 2, 1, 0"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Acara pun di mulai bersamaan datangnya mereka.
"Lamborghini"( maaf kalau salah penulisan)
"Punya siapa?"
"Lihat ada mobil termahal juga"
"Mereka turun"
Semua mata tertuju pada mereka sementara keluarga Floren sudah marah besar melihat ada yang mengambil kepopulerannya.
"Siapa mereka?"
"Kurang tahu"
"Bukankah dia Luna? Nona muda dari keluarga Djafar?"
"Iya"
Di sisi keluarga Mahesa
"Ni anak di cari-cari", marah Vivian ketika melihat Arfan mengandeng tangan Anisa.
Andhika hanya bisa pasrah sambil tersenyum kecil.
"Tuan muda Fikrianto Ahlan Mahesa selamat datang kami menunggu anda" , kata para pelayan termasuk host.
"Siapa? Keturunan Mahesa?"
"Tapi gak pernah lihat"
"Kek pernah dengar namamya", gumam Argan.
"Tuan Fikri merupakan pemilik menara ini di persiapan tuan", kata host.
Fikri berjalan menuju ke panggung dan ia pun berbicara.
"Maaf membuat kalian menunggu mari hari ini berpesta it's show time", kata Fikri.
Semuanya bersorak ria kembang api di luncurkan dan acara pun resmi di mulai.
"Aku berpacaran dengan Sultan?!", kaget Siska.
"Kau aja kaget apalagi aku suamiku aja Sultan", kata Luna.
"Aku dong Sultan tujuh turunan", kata Maura bangga.
"Definisi dari putri ke ratu", cibir Siska dan Luna.
"Iya dong"
"Nyonya Vivian mereka siapa?"
"Anak-anak Arfan", jawab Vivian.
"Tuan muda sudah kembali"
Belum sedetik keberadaan Arfan menyebar.
"Ibu kebiasaan", kata Arfan tiba-tiba muncul ntah di mana.
Semuanya heboh karena kemunculan Arfan dan Anisa.
"Dah kayak seleb aja", kata Anisa.
"Tentu saja kalian hilang begitu aja selama 26 tahun", kata Roni.
"Dan ke mana kalian selama seminggu ini?", marah Vivian.
"Eh itu kami ke Palembang dan Tokyo", jawab Arfan gagap.
"Ngapain?!"
"Ziarah sama jalan-jalan", kata Keila.
"Tumben? Siapa yang meninggal?", tanya Agus.
"Anak-cucuku yang meninggal akibat perbuatan kalian tidak mau mendengar penjelasanku dulu", kata Arfan dingin.
Mereka terkejut mendengarnya dan menyesalinya.
"Ryan kenapa pakai kacamata hitam?", tanya William mengalihkan topik.
"Habis nangis teringat putri kesayangannya", jawab Maura.
"Fira?"
"Viola sudah meninggal", jawab Ryan.
"Udahlah ayo ke sana", kata Zakir menarik Indah pergi.
"Aku harap kau menjelaskan semua yang terjadi selama ini", kata Andhika.
"Iya lagian mereka semua berkumpul hari ini", kata Arfan.
Di sisi lain
"Dev? Kamu Devan kan?", tanya Cia.
"Lama tak berjumpa Ciara", kata Devan sambil tersenyum.
Ciara tak percaya melihat Devan di depan matanya.
"Ayo jalan-jalan banyak hal ku ceritakan", kata Devan.
"Iya"
"Lihat sekali jatuh cinta akan lupa sahabatnya", cibir Sarah.
"Udah ayo ikutin aja", ajak Rey.
Hai semoga terhibur bacanya ya
Jangan lupa vote dan dukungan ya
__ADS_1
Bye bye