
Makasih ya udah baca dari awal cerita nikah muda sampai season 2 ini sekarang.
Saya akan menyajikan cerita lebih seru dan lebih dari sebelumnya. Baru kali ini saya terdorong melanjutkan ini juga berkat dukungan kalian semua yang sudah support hehehe, padahal lagi hiatus di karenakan keadaan sih.
Jadi hanya untuk pembaca setia seperti kalian saya akan menyempatkan melanjutkan nya.
Kepanjangan ya😅 langsung aja deh selamat membaca....
Note: mungkin ada beberapa tokoh yang jarang muncul habis saya kadang lupa akan keberadaan dia tapi tak apa sih itu salah saya juga kebanyakan tokoh nya//plak.
"Astagfirullah kalian berdua itu udah besar, udah punya anak, udah menikah masih aja kelakuan nya bikin sakit kepala aja", kata Anisa geleng-geleng kepala dengan menyilangkan kedua tangan nya.
Ya, akhirnya mereka kena semprot dari Anisa.
Oke balik lagi beberapa menit sebelumnya.
Ryan maupun Maura sama-sama gak mau ngasih dan ketiga bocah eh salah anak mereka hanya duduk diam manis di pojokkan.
"Kak Lifki mau campai apan begini?", tanya Fira.
"Ntahlah", jawab Rifki dengan tampang bosan.
"Fir, kita ini anak kembar kenapa cuma kau saja yang gak bisa bilang R dan bicara lancar", kata Fadli.
"Ya mana aku tau", kata Fira memasang muka cemberut.
Tak lama kemudian Anisa dan Arfan datang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam eh? Nenek?!", jawab Fira girang saat melihat Anisa. Ia berlari kecil menghampiri Anisa.
Anisa langsung menyambut nya dengan pelukan dan mengendong Fira.
"Mana ayah, ibu kalian?", tanya Arfan menatap Rifki dan Fadli bergantian.
Seketika suasana nya jadi agak canggung.
Tak ada yang mau menjawab hal itu membuat Arfan merasa curiga terhadap ketiga cucu nya itu.
Lagi-lagi Arfan bertanya namun tak ada juga yang menjawab.
"Satu kali kakek tanya kalian bertiga di mana orangtua kalian?", tanya Arfan dengan menatap tajam nan dingin mereka.
Seketika bulu kuduk mereka naik merinding, baik Rifki, Fira, maupun Fadli menatap satu sama lain.
__ADS_1
Tatapan mereka seolah mereka sedang berbicara sesuatu.
"Bagaimana?", kata Fira melalui tatapan nya.
"Kita jujur aja deh cari aman", kata Fadli juga.
Mereka menatap Rifki seakan mengatakan "karena kaulah paling tua di antara kita keputusan ada di tanganmu kakak".
Rifki tahu tatapan itu ia pun menghela nafas panjang, capek berdebat tatapan dengan saudara tak ada adab memang.
Rifki menatap kedua orang dewasa di hadapannya saat ini. Ia menelan ludah gugup karena kakek nya, Arfan menatap nya sangar tajam hingga menusuk.
"A-anu, ayah dan ibu daritadi bertengkar gak tahu kenapa kami juga belum sarapan apa-apa", jelas Rifki berusaha netral.
Arfan menghela nafas dan Anisa udah hilang ntah ke mana.
"Kek, nenek ke mana?", tanya Fadli.
Arfan melirik ke sekelilingnya tak ada batang hidung Anisa.
Ia sebenarnya tahu ke mana Anisa pergi lebih tepat nya sebentar lagi rumah ini pasti akan terasa panas.
"Ntar juga kalian tahu", jawab Arfan enteng. Tentu saja mereka bertiga kebingungan.
Tidak sampai 3 menit sebuah suara melengking menggelengar seisi rumah.
"Kalian diam di kamar saja biar kakek yang urus sisanya", kata Arfan lembut.
"Baik", kata mereka bertiga serentak dan pergi menuju kamar mereka masing-masing.
Setelah di rasa para bocah sudah tidak ada Arfan langsung mencoba menghentikan Anisa.
Tentu saja kemarahan Anisa membuat Ryan maupun Maura Seketika ciut. Jujur aja mereka takut pada Anisa dan bukan itu saja jika mereka masih melanjutkan maka Arfan juga akan turun tangan dan itu lebih menyeramkan lagi bagi Ryan terutama.
Oke balik lagi ke waktu semula.
"Jadi kalian sebenarnya kenapa?", tanya Arfan berusaha tenang.
"Ryan duluan malah pergi menggoda ku ayah", kata Maura menunjuk Ryan tidak bukan menunjuk lagi melainkan menyosor kepala Ryan.
Baik Anisa dan Arfan menatap mereka tak percaya.
"Kek nya anak kita tertukar mas", kata Anisa.
"Ya aku juga setuju", kata Arfan membenarkan.
__ADS_1
"Jadi kapan kita berangkat?", tanya Arfan memastikan.
"Ya"
"Akhir pekan ini", jawab Arfan. "Sebelum itu jika keluargaku masih sama lebih baik gak usah bilang soal keberadaan keluarga saya baik di mana kamu tinggal dan semua yang sudah terjadi", tambah Arfan tegas.
"Baik ayah", jawab Maura tegas.
"Apa yang terjadi saat kalian berdua saat kecil itu hampir merebut nyawa Ryan jangan sampai terulang kembali", kata Anisa khawatir.
"Iya ibu semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang kok", kata Ryan meyakinkan.
"Ibu harap begitu nak", kata Anisa tersenyum kecil.
Saat akhir pekan
Mereka berangkat kembali ke Indonesia, Jakarta.
"Akhirnya sampai tapi kak Ryan dan Kak Maura duluan ya lebih cepat dari hari H", kata Laila.
"Iya eh? Telepon?", kaget Raka karena mendapat telepon dari nomor asing.
"Halo"
"Kami dari pihak rumah sakit ingin menyampaikan saudara Ryan dan istrinya mengalami kecelakaan batu saja"
"Apa?! Saya akan segera ke sana", kata Raka dan menutup telponnya nya.
"Dari siapa?", tanya Laila penasaran.
"Rumah sakit kak Ryan dan Kak Maura kecelakaan baru saja ayo ke rumah sakit sekarang", kata Raka khawatir.
"I-Iya ayo"
Semoga suka ya kali ini hanya bisa segini saja buat nya ya.
Doain ya semuanya lancar update nya ya.
Mau tebak-tebak apa yang terjadi pada pasangan tercinta kita? Hm, pasti seru nih hahaa🤣.
Next chapter flashback nya saat mereka kecil lagi bukan tentang keadaan mereka.
Jadi sabar ya saya akan menguak semua rasa penasaran kalian dari series pertama.
Jadi jangan lupa vote dan dukungan ya dari kalian juga sering-sering lah komen.
__ADS_1
Mau tahu dong opini kalian sejauh ini itu saja kok.
See you Next time