Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 21(s2)


__ADS_3

Saya lagi semangat saat ini jadi sekalian saja menyajikan cerita buat kalian sepuas mungkin kalian membaca nya.


Happy reading...


Selama pemulihan Ryan gak bisa ke mana-mana dan harus banyak istirahat.


"Sayang", panggil Ryan memelas menatap Maura.


"Apa?", sahut Maura sewot karena ia tahu apa yang di inginkan Ryan, yaitu PULANG KE RUMAH.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan", kata Ryan menatap tajam cewek di depan nya ini.


"Kalau tahu kau pasti sudah tahu jawabann ku", titah Maura tegas.


"Tapi aku mau pulang sayang", kata Ryan membujuk istri nya itu sampai memberikan izin.


"Dokter aja bilang kesehatan mu masih lemah walau sudah membaik dan harus tetap di rawat di rumah sakit sampai sembuh total", kata Maura sambil menekankan kata sembuh total.


"Tapi-"


"Gak!! Terakhir kali kau berusaha melarikan diri dari rumah sakit padahal kesehatan mu masih belum stabil dasar suami keras kepala, kelakuan kek kulkas berjalan padahal asli nya kek orgil", marah-marah Maura sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada menatap garang Ryan.


Akhirnya Ryan memilih nurut daripada kena omelan dari ibu dan istrinya itu.


"Oh sudah menyerah rupanya", kata Maura memancing emosi Ryan.


"Hm"

__ADS_1


"Gitu kek daritadi kan aku gak perlu berbusa-busa mulut", kata Maura sambil berkacak pinggang.


Tak ada jawaban Maura mendekati Ryan pelan-pelan takut nya ia sedang di kerjai lagi.


"Tidur toh nyenyak amat kek waktu koma sebelumnya", gumam Maura saat melihat Ryan tidur begitu nyenyak.


Anisa masuk melihat Maura agak takut dan khawatir melihat Ryan.


"Katanya Ryan sudah siuman", kata Anisa bingung dengan tingkah Maura seperti takut kehilangan sesuatu.


"I-iya ibu tapi tidur nya nyenyak banget aku khawatir sampai ia kenapa-kenapa lagi juga takut sedang di jahilin lagi", jelas Maura gemetaran.


Anisa berjalan mendekat dan memeriksa keadaan Ryan.


"Masih hidup kok cuma agak lemah memang lagi tidur kok tapi kalau kau masih ragu dan khawatir ibu panggil dokter ya", kata Anisa menepuk pelan bahu Maura.


"I-iya bu", ucap Maura yang masih ragu.


Selama menunggu di ruang tunggu Maura tak henti bolak-balik karena khawatir.


"Tenanglah Sayang duduk sini kita tunggu sama-sama ya", tutur Anisa lembut.


"Iya ibu"


Maura duduk di samping Anisa menunggu dengan gelisah ia tak bisa tenang dan duduk santai.


Tahu akan hal itu Anisa memengang tangan Maura dengan lembut nya.

__ADS_1


"Gak papa ibu dulu sering mengalami hal seperti ini malah ibu menghadapi nya sendiri saat itu tak ada yang menemani, sendiri mengurus anak, dan kerja", kata Anisa tersenyum dengan lembut sembari memengam tangan Maura.


"Iya ibu"


Tak lama kemudian dokter keluar bersama suster.


"Bagaimana keadaan nya?", tanya Maura khawatir.


"Tuan Ryan gak papa hanya ada masalah aliran darah yang tak menentu yang membuat darah mengalir lambat ke jantung tapi saya sudah mengatasi nya jadi tak ada masalah untuk sekarang", jelas dokter.


"Terima kasih dok", kata Anisa.


"Sama-sama bu saya permisi dulu", pamit dokter pergi diikuti para suster.


"Kan, apa yang ibu bilang semua nya pasti baik-baik saja gak usah cemas lagi ya", kata Anisa sambil menepuk bahu Maura pelan.


"Iya, ibu benar", kata Maura sambil tersenyum manis.


"Kamu pulang dulu urus Viola kasian Rifki kek orang gila di rumah gara-gara Fira dan Fadli gak berhenti bertengkar hahaha mereka benar-benar lucu dan mengingatkan ku pada Ryan juga saat ku tinggal bentar saja rumah sudah seperti kapal pecah lalu Ryan kek orang gila karena pusing mau ngurus mereka dan rumah", kata Anisa sambil tertawa mengingat kelakuan anak-anaknya saat itu.


"Nikmati saja hidup saat ini karena kita tak tahu apa yang akan terjadi besok dan ke depan nya", pesan Anisa.


"Baiklah aku duluan ya bu jaga Ryan ya", kata Maura sambil melambai tangan.


"Tentu saja nak", jawab Anisa sembari menatap punggung Maura yang berlari kecil hingga ia menghilang.


"Aku harap kalian bahagia anak-anakku", gumam Anisa.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen ya terus dukung ya


See you Next time


__ADS_2