
Maura tetap tidak tenang karena memikirkan kejadian tadi pagi. Ia merasa bersalah sudah bersikap seperti itu di depan Ryan hingga ia jatuh sakit.
"Ini sayang makan ya kamu belum makan malam kan?", tanya Anisa lembut sembari duduk di samping Maura.
"Iya bu makasih", kata Maura agak canggung menerima bungkus di tangan Anisa.
Anisa sadar tingkah menantu nya agak aneh sejak pagi tadi.
"Ada masalah apa sayang? Coba cerita ke ibu", kata Anisa pelan-pelan.
Maura agak ragu tapi Anisa meyakinkan nya jika semua nya akan baik-baik saja.
"Jadi Maura masih kepikiran omongan Ryan tadi pagi saat kami bertengkar di rumah", jelas Maura berusaha tegar dan menahan tangisan nya.
"Ibu katakan ini sebagai nasihat sekaligus pengalaman ibu sama ayah kamu itu saat kami bertengkar hal yang sama dulu waktu itu kami agak kesusahan tidak seperti sekarang bahkan Ryan dan Maura masih sangat kecil", kata Anisa sambil mengingat kejadian hari itu yang sampai ia kehilangan segalanya.
Maura menatap ibu mertua nya serius ia tahu kejadian itu pasti sesuatu hal yang tidak ingin ibu mertua nya ingat kembali.
"Ibu akan ceritakan pengalaman ibu selama ini sampai ke titik ini", kata Anisa tersenyum manis tapi ada tersirat kesedihan mendalam, Maura tahu itu terlihat dari tatapan Anisa.
"Dengar ya", pintar Anisa dan Maura pun mengangguk paham.
Flashback on
Kejadian itu terjadi saat Anisa mengandung Revano. Di mana pihak rumah sakit kota Palembang menghubungi Anisa saat itu.
"Ya halo"
"Atas nama ibu Anisa Rahman?"
"Iya saya sendiri ada apa ya? Siapa ini?"
"Kami dari pihak rumah sakit 3 tahun lalu tempat ada melahirkan saat itu"
"Oh iya ada apa sus? Kok nelpon lagi? Suami saya kan udah bayar semuanya"
Anisa terheran kenapa pihak rumah sakit baru sekarang menghubungi nya kenapa gak dari dulu?.
"Maaf mengganggu anda tapi ini penting"
"Iya ada apa sus? Penting?"
"Ini perihal anak anda"
Anisa kaget bukankah Ryan sekarang baik-baik saja setelah menjalani perawatan di Tokyo?.
"Tapi bukankah kalian sendiri katakan kalau anak saya Ryan bisa sembuh jika menjalani perawatan di Tokyo?"
"Bukan masalah itu bu soal Ryan sudah selesai bu"
"Lalu soal apa? Anak saya cuma dua"
"Dua kembaran Ryan dan Reyna bu"
"Iya kan mereka meninggal seminggu setelah di lahirkan"
"Kami menemukan bahwa anak yang anda kubur bukan anak kandung anda melainkan anak orang lain yang lahir di tanggal yang sama"
"Eh?! Kok bisa?! Siapa yang tukar?!"
Tentu saja kabar ini sangat mengejutkan bagi Anisa. Bagaimana tidak anak kembar nya 3 tahun lalu yang ia kira sudah meninggal ternyata di tukar?!.
"Terlepas siapa yang tukar bu dua bayi yang lahir pada hari itu pihak keluarga nya menyetujui operasi transplantasi kepada kedua anak ibu tapi mereka menyadari akan terjadi sesuatu di masa akan datang sebab itu mereka menukar bayi mereka dengan bayi ibu hari itu demi melindungi anak ibu dan menghindari hal buruk di masa depan dan ternyata benar dugaan itu ada yang mencoba membunuh bayi anda untung kedua bayi itu meninggal setelah di lahirkan"
Lagi-lagi Anisa di buat syok dengan kenyataan seperti itu. Ia tak menyangka ada kejadian seperti itu.
"Makasih sus info nya sisa nya saya akan bicarakan dengan suami saya"
"Baik sama-sama bu"
Sambungan telepon pun berakhir dan Anisa masih syok dengan kenyataan yang terjadi.
"Sayang? Sayang?"
__ADS_1
Arfan berulang kali memanggil Anisa namun tak di jawab.
"Anisa!!", seru Arfan hingga Anisa terkejut setengah mati karena teriakan Arfan.
"Di panggil gak nyahut daritadi ada apa sebenernya?", tanya Arfan lembut namun bukannya menjawab Anisa langsung pergi tanpa sepatah kata pun.
"Ada apa sih?"
Sejak itu Arfan berusaha sabar dan bertanya tapi Anisa tak menjawab.
Hingga.....
Ruang kerja Arfan
"Cari tahu apa yang di sembunyikan Anisa", total Arfan.
"Baik"
Akhirnya Arfan mengetahui kebenaran yang di sembunyikan Anisa.
Dengan rasa kesal dan marah Arfan berjalan ke arah Anisa.
Anisa yang sadar langsung berjalan mundur karena tatapan Arfan agak menyeramkan.
"Katakan dengan jujur kenapa kau tak memberitahu aku hari itu?", tanya Arfan tegas menatap Anisa tajam.
"M-maksud kamu apa mas?", tanya Anisa membuang muka.
Ia tak ingin berhadapan dengan Arfan saat ini.
"Jangan berpaling dariku Anisa!! REYHAN DAN RENA MASIH HIDUP KAN?! JAWAB!!", teriak Arfan marah sambil memukul tembok di belakang nya.
Ryan yang tadi asyik main tak sengaja mendengar teriakan ayahnya.
"Ade masi idup?", gumam Ryan yang masih bingung.
"JAWAB ANISA!!!", Lagi-lagi Arfan berteriak lebih keras lagi.
Anisa sudah tak tahan lagi dan akhirnya menjawab.
Arfan mengepalkan tangan nya marah dan Lagi-lagi ia memukul dinding hingga retak.
"Begitu ya, harusnya aku diam saja ya waktu itu saat kamu dalam bahaya. KAU PIKIR AKU JUGA GAK MERASA SAKIT DAN MARAH HAH?! REYHAN DAN RENA JUGA ANAKKU!!! AKU GAK SEKEJAM ITU MEMBIARKAN ANAK-ANAK KU LAHIR DI LUAR NIKAH!!! KAU MENGERTI?! SUDAH GAK ADA GUNA NYA SEKARANG BERDEBAT DENGANMU URUS AJA DIRIMU SENDIRI JIKA KAU MERASA HEBAT JIKA HIDUP TANPAKU SILAKAN AKU KELUAR!!", teriak Arfan marah besar dan membanting pintu tanpa membawa apa-apa.
Anisa semakin teriak duduk dalam menangis tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Seharusnya aku tak melakukan ini hanya karena mementingkan ego ku aku akan menunggu nya pulang", gumam Anisa berusaha tegar dan tersenyum.
Ryan tahu hal ini tidak sepantasnya ia lihat tadi tapi jika orangtua nya sudah begini apa daya anak kecil berumur 3 tahun saat ini. Ia tak bisa melakukan apa-apa bahkan menghibur pun tak bisa.
Sudah 5 jam lebih tapi Arfan tak pulang juga.
Anisa sudah sangat khawatir saat ini karena ternyata Arfan tak membawa hp nya bahkan mobil pun tak di bawa serta dompet juga.
Anisa kalang kabut tak tahu harus berbuat apa mana lagi saat ini ia sedang hamil.
Tiba-tiba suara telepon rumah berbunyi.
Anisa pun segera mengangkat nya berharap kabar baik namun yang ia dengar kebalikan nya.
Di rumah sakit
Anisa semakin bersalah karena Arfan mengalami kecelakaan.
Sudah 1 jam lebih ia menunggu dan akhirnya dokter dan suster keluar.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?", tanya Anisa(dalam bahasa Jepang).
"Keadaan nya kritis dan koma untuk saat ini kami masih tangani tapi nyawa nya juga saat ini terancam", jelas dokter(dalam bahasa Jepang).
"Saya permisi", kata dokter(dalam bahasa Jepang).
Serasa waktu berhenti Anisa benar-benar menyesali perbuatan nya dan hanya bisa menangis saat itu.
__ADS_1
"Ibu masih ada kami kok", kata Reyna memeluk Anisa begitu juga denganĀ Ryan.
Anisa merasa nyaman dan membalas pelukan hangat kedua anak nya.
"Andai Reyhan dan Rena ada ibu harap kalian tumbuh sehat di mana pun kalian berada", pikir Anisa tenang.
2 bulan berlalu begitu saja Arfan akhirnya siuman.
"M-maaf mas maafkan aku maaf atas perbuatanku 2 bulan lalu jangan tinggalkan aku sendiri dengan anak-anak", kata Anisa tak kuasa menahan tangisan nya lagi.
"S-seska s-sayang ak-u baru bangun", kata Arfan yang kesusahan bernafas.
Anisa melepas pelukan nya dan menunduk malu.
Arfan menghela napas dan menatap Anisa sayu.
"Lupakan saja aku juga minta maaf ya malah marah-marah hari itu seharusnya kamu juga bilang dari awal soal itu jadi gak bakal begini kan? Tapi toh sudah terjadi jadi lupakan saja", kata Arfan lembut.
Anisa mengganguk mengerti dan menatap Arfan bahagia.
"Ada apa?", tanya Arfan heran melihat Anisa tersenyum terus.
"A-n-a-k-k-i-t-a-c-o-w-o-k", bisik Anisa bahagia.
Sesaat Arfan lupa kalau Anisa sedang mengandung anak nya bukan anak mereka.
"Makasih ya sayang ato mulai dari awal lagi sambil mencari anak kita", kata Arfan.
Flashback off
"Ya itu jadi pertengkaran itu hal normal tapi jangan sampai bercerai", pesan Anisa sambil menekankan kata 'bercerai'.
Maura menelan ludah saat di tatap intens oleh mertua nya.
"Itu saja ya jadi bicarakan dengan Ryan jika ada masalah", kata Anisa.
"Iya Oh ya, soal Reyhan dan Rena belum ketemu?", tanya Maura hati-hati.
"Iya beluk ketemu sampai sekarang ibu hanya harap mereka hidup bahagia di suatu tempat", jawab Anisa tersenyum lembut.
"Lalu soal Ryan yang menguping ibu tahu darimana?", tanya Maura penasaran.
"Ah, soal itu ia tak pernah mengatakan nya tapi Arfan mengetahui nya sejak awal dan membiarkan nya", jawab Anisa malu.
"Sudah cerita dongeng nya? Ayo pulang biarkan Maura menjaga Ryan", kata Arfan yang ternyata mendengar daritadi.
Maura agak gak enak karena sudah mendengar kisah itu.
"Gak papa anggap sebagai pelajaran saja nak", kata Anisa.
"Benar jaga Ryan ya kamu juga lagi hamil jaga juga kesehatan nya kami pulang dulu", kata Arfan melambai tangan.
Maura juga setelah itu ia masuk kamar inap Ryan.
Tanpa di sadari ternyata ada seorang pemuda di balik tembok tadi.
"Aku tak menyangka ayah dan ibu sampai seperti itu karena aku dan Rena", kata nya dan menghilang dari tembok itu.
Di dalam kamar inap Ryan
"Ada apa sayang? Masih ada yang sakit?", tanya Maura khawatir.
"Enggak hanya kepikiran sesuatu", jawab Ryan cepat.
"Oh"
Sejujurnya Ryan menyadari kehadiran pemuda yang seumuran dengan nya itu.
"Sepintas mirip dengan ku jangan-jangan-"
Jangan lupa vote dan komen di bawah ya juga terus dukung ya.
Karena jarang up juga sekarang jadi buat yang panjang juga sebenarnya gak sadar sih tapi biar lah semoga puas ya.
__ADS_1
See you Next time