Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 42


__ADS_3

Yo semua kembali lagi maaf lama banget sengaja memang hehehhe.... πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ.


Dan saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kawan-kawan.


Cerita ini memang akan segera tamat tapi mungkin masih panjang karena beberapa konflik tapi saya tidak akan mencantumkan nya di dalam cerita ini dan akan menjadi misteri hingga s2 cerita ini dengan judul dan tokoh-tokoh berbeda tentunya.


Tentu dengan ending yang sangat.....


RAHASIA hahahaahaπŸ˜ΆπŸ€πŸ™….


Oke ini dia kelanjutan kisah mereka penuh misteri.


Di RS


"Gimana keadaan Ryan sekarang Arfan? ", tanya Joshua khawatir.


"Aku sudah mendonorkan darahku harusnya dia sudah baik-baik saja sekarang", jawab Arfan dingin.


Joshua paham perasaan Arfan sekarang terlihat dari tatapan sahabatnya ini yang terlihat seperti tak bernyawa.


" Aku minta maaf karena tidak mengurus Maura dan malah mengusirnya 8 tahun lalu dan anakmu jadi seperti ini", kata Joshua dengan nada bersalahnya.


"Lupakan saja toh Ryan yang mau berkorban dia sama seperti ku dulu", kata Arfan.


" Lagian Ryan itu menantumu kita sudah berbesan selama 8 tahun lalu ", tambah Arfan sambil memeluk Joshua.


" Dan lagi kau dan Ayu tidak perlu merasa terbebani hidup Maura seperti ratu selama 8 tahun ini kok memiliki suami miliuner", kata Anisa tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Semuanya terkejut bukan main bahkan teman sekelas Ryan pun kaget bukan main.


"B-bagaimana bisa Arfan? Kekayaan Mahesa gak sebesar itu walau di tambah setengah kekayaan Rahman? ", tanya Andhika terkejut.


" Tanya saja sendiri sama anak itu bagaimana ia mengelola perusahaan dan ketahuilah ia pernah membangun perusahaan dalam 2 setengah bulan saja menyebar luas di seluruh dunia dan membeli tanah dan membangun sebuah sekolah yang sekarang terkenal se- nasional ", jawab Arfan santai.


Lagi-lagi mereka syok mungkin kalau orang yang memiliki penyakit serangan jantung ya gitu lah.


" Gak percaya? Tanya aja sama istrinya ", saran Anisa dan bertepatan Maura keluar dari kamar ditempati Ryan.


" Kenapa? ", tanya Maura bingung.

__ADS_1


" Apa itu benar? Ryan seorang miliuner? ", tanya Ayu.


"Iya benar kok bahkan isi lemariku terisi dengan baju-baju keluaran terbaru", jawab Maura dengan tampang polosnya.


" Baju yang kau pake juga? ", tanya Joshua masih tak percaya putri sulungnya ini menjadi nyonya besar.


"Iya baju ini juga Ryan terlalu boros pas awal nikah kalau bukan aku yang memarahinya berhenti membeli sana sini mungkin sampai sekarang dia tetap membelinya", kata Maura dengan nada marah-marah.


Semua orang menatap Maura iri di tambah heran. Kenapa? Jika perempuan sudah shopping maka ia akan memborong semuanya.


" Jangan sok rendah hati begitu sayang dalam hatimu kau suka kan? Apalagi pas ku kasih kartu hitam ntah hilang kemana lagi kamu kalau gak di awasi", kata seseorang di belakang Maura.


"R-RYAN?! Sejak kapan? ", tanya Maura malu+takut karena sudah terciduk.


" Dasar"


"Mesra teros"


Begitulah respon orang-orang di sekitarnya sementara Arfan dan Anisa sibuk mesra di pojokkan.


"Bilangin kami mesra terus noh dua sejoli itu bagaimana? ", kata Ryan sambil menunjuk orangtuanya di pojokkan.


Terlihat mereka begitu mesra sampai mengabaikan sekitarnya.


" Ayah, ibu, jangan lupa tahun ini loh pengumuman pasangan teromantis mungkin kali ini posisi kalian sama seperti tahun lalu", teriak Ryan sengaja.


Masih sama mereka tidak menoleh sedikitpun dan tetap asyik sendiri.


"Dasar INGAT UMUR WOI UNTUNG ORTU KALAU GAK SUDAH DI SMAKDOWN NIH", seru Ryan sampai membuat orang-orang yang lewat ketakutan habis Ryan terlihat seram.


" Apasih ganggu, sana mesra aja sama istrimu pergi bulan madu", kata Arfan yang responnya biasa aja.


"Aku sudah bulan madu dua tahun lalu kau mau aku bulan madu berapa kali hah?! "


Ryan benar-benar sudah sangat emosi kali ini terlihat ia begitu stress dibuat orang tuanya sendiri.


Dari kecil kalau sudah bermesraan seperti itu pasti dia yang harus jagain adik, PASTI.


"Udah deh ayo masuk tekanan darahmu naik loh", kata Maura sambil mendorong tubuh Ryan masuk kamarnya.

__ADS_1


Niat awal Maura keluar mau cari makan tapi gak jadi rasa laparnya hilang setelah melihat suaminya marah-marah.


" Seram deh"


"Ar", panggil Dwi takut.


" Ya? ", sahut Arfan.


" Anak kamu Seram deh kalau marah", kata Ayu.


"Bagaimana tidak? Ryan itu copy paste Arfan tapi masih Arfan deh Seram daripada tuh anak", jawab Anisa.


Mereka hanya bisa menelan ludah melihat keluarga satu ini.


" Jadi sebenarnya siapa musuh kita? ", tanya Andhika mulai serius dengan kejadian-kejadian 26 tahun lalu sampai sekarang.


" Soal itu tanyakan Andra dia sumber informasi kita", kata Arfan.


"Siapa dia? ", tanya William.


" Anak aku kembaran Mutia anak itu memang suka menghabiskan waktu di depan komputer nya dia ahli soal ini habisnya dia seorang hacker ", kata Arfan dengan senyum liciknya.


" Kau dan Anisa bagaimana membesarkan anak-anakmu?", tanya Vivian curiga.


"Membantingnya, melemparnya, menggantungnya sisanya biasa-biasa aja", jawab Arfan dengan santainya.


Vivian langsung melototi putranya tidak percaya apa yang putra satu-satunya katakan.


" Memang kami dibesarkan begitu tapi itu semua hanya berlaku pada kami anak laki-laki ", kata seseorang.


" Siapa?! "


"Aku? Andra Mahesa. Aku ke sini hanya melapor kok soal dia", kata Andra.


Seketika atmosfer koridor terlihat suram itu terlihat dari tatapan Andra tapi bukan dia seorang saja ada satu orang yang mendengar pembicaraan diam-diam.


Segitu dulu ya semoga puas dan suka ya dengan cerita kali iniπŸ‘Œ.


Jangan lupa mampir ke cerita lain ku ya.

__ADS_1


See you πŸ‘€


__ADS_2