
Hi balik lagi nih udah pada nunggu kah? Gimana kelanjutan ceritanya? Udah penasaran atau gak?
Tapi sebelum itu sedikit info ada perubahan judul pada cerita ini Pergantian judul menjadi nikah muda yah itu aja soal cover nya gak ke ganti mungkin nanti aja kapan2(yang entah kapan)
Dan juga maaf jika lama update dan berikan vote kalian dan dukungan kalian semua sekian
Selamat membaca
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Di bandara kota Jakarta Pusat
"Penerbangan dari Swiss ke Jakarta segera tiba mohon menjaga ketertiban anda terima kasih"
15 menit kemudian
"Yey welcome to Indonesia Qatar", ucap seorang wanita pada putranya.
"I like Indonesia mlm and dad", kata Qatar.
"Good. Qatar udah lancar kan bahasa Indonesia nya kan?", tanya pria pada anaknya.
"Iya Qatar gak sabar ketemu mereka", kata Qatar senang.
"Yuli aku ambil barang-barang dulu kamu dan Qatar di sini aja", kata pria tersebut pada istrinya, Yuliana Dewiswra dari keluarga Dewiswra.
Keluarga Dewiswra berada di peringkat 6 dari keluarga konglomerat di dunia.
Terlihat seorang wanita paruh baya kesusahan mengambil barangnya.
"Butuh bantuan Nyonya?", tanya seorang pria.
"Iya makasih nak", ujar wanita itu.
"Datang dari mana nyonya?", tanya pria itu.
"Tokyo kalau kamu?"
"Swiss bersama istri dan anak saya"
"Oh kenalin nama nenek Yuki", kata Nyonya tersebut.
"Yukinura nyonya besar dari keluarga Mahesa?", tanya pria itu lagi.
"Iya kalau namamu siapa nak?", tanya Yuki lembut.
Pria itu terdiam teringat cerita ayahnya mengenai neneknya.
"Revano panggil aja Revan nek", kata pria tersebut sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi nek assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Revan tak menyangka akan bertemu dengan nenek buyutnya.
"Ayah kenapa senyum senyum gitu?", tanya Qatar bingung.
"Gak kok sayang ayo pulang", ajak Revan.
Di sisi Yuki
"Dia mirip Arfan andai dia cicitku, eh apa ini?", kata Yuki bingung.
"Kartu nama? Milik siapa? Eh Revan? HAH?!", kaget Yuki melihat nama di kartu tersebut.
"Silakan Nyonya", kata salah satu bodyguard dan seorang supir sambil membawakan koper Yuki.
"Iya makasih", ujar Yuki lembut.
Di kediaman utama Mahesa
"Tuan besar, nyonya sudah tiba", kata penjaga.
"Iya silakan pergi", kata Hamzah.
"Perjalanan gimana bun?", tanya Vivian.
"Lancar kok tapi daripada ada yang bunda pikirkan dengan kartu nama seseorang yang membantu bunda angkat koper", kata Yuki sambil mengeluarkan kartu tersebut.
"Mana bunda?", tanya Andhika mengambil kartu itu.
"Muh. Revano Muthakhir Alfiandra Ardanata Avis Zakaria Senai Mauqa Mahesa", kata Andhika kaget membaca nama belakang pemilik kartu tersebut.
"Kita harus cari nama itu di Internet kakek", kata Vira.
Mereka mencari tahu soal Revan namun nihil informasi nya tidak ada sama sekali.
__ADS_1
"Kita hubungi Reyna saja tanya dia soal Revan atau langsung ke Arfan aja", usul Andhika.
"Kau ada nomor Arfan?", tanya Vivi.
"Iya aku minta ke Reyna semalam", kata Andhika.
"Kalau gitu tunggu apalagi telpon sekarang ", kata Vivian gak sabar.
"Halo assalamualaikum ", kata seorang wanita.
"Waalaikumsalam Arfan ada?", tanya Andhika bingung kenapa seorang wanita mengangkatnya.
"Ayah Andhika ya? Mas Arfan lagi ceramahin Reyna karena sebar nomornya ke Ayah semalam Oh ya ini Anisa", kata Anisa.
"Oh Anisa toh kirain siapa, kenapa suaramu agak beda?", tanya Andhika.
"Itu soal itu- BRAK"
Suara barang di banting membuat Anisa terkejut dan buru-buru ingin mengunci pintu namun Arfan sudah di depan pintu membuat Anisa tidak bisa melawan.
Andhika yang mendengarnya menjadi khawatir keadaan Anisa.
Di sisi Anisa
"Mas tunggu"
"DIAM KAMU ANISA SUDAH KU BILANG JANGAN ANGKAT KAN?! KENAPA MASIH AJA ANGKAT TELPON DARI MEREKA?! AKU TURUTIN KEMAUANMU BALIK KE JAKARTA TAPI BUKAN BERARTI HARUS BERURUSAN SAMA ORANG YANG SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP KITA HAH?! GARA-GARA MEREKA KITA KEHILANGAN BANYAK HAL ANAK KITA HARUS KENA IMBASNYA REYHAN, RENA, ANDRIAN, NIZAR, DAN DIANDRA MEREKA KEHILANGAN NYAWA GARA-GARA SIAPA HAH?! RYAN KENA MENTAL DOWN MELIHAT BANYAK KEMATIAN ADIKNYA BAHKAN KEMATIAN PUTRINYA, VIOlA JUGA REYNA SAMPAI KEGUGURAN PADAHAL ANAK ITU ANAK PERTAMANYA DENGAN VINCET FAISAL, AYNA, FIKRI, ALMA MENJADI PSIKOPAT SEJAK LAHIR, REVAN SEJAK LAHIR HILANG SELAMA 5 TAHUN SETELAH ITU HILANG LAGI UNTUNG KETEMU LALU KU KIRIM KE SWISS DI KELUARGA DEWISWRA TANPA KELUAR RUMAH, DEVAN HILANG SEJAK LAHIR LALU KIKI BARU MENEMUKANNYA 19 TAHUN HILANG ANISA PIKIR SEMUA KITA SENDIRI YANG MEMBANGUN KELUARGA INI BERDUA SAJA TANPA BANTUAN MEREKA SEKARANG KAU MAU KASIH MEREKA KESEMPATAN?! DUA PULUH ENAM TAHUN!! 26 TAHUN KITA HARUS BERTAHAN HIDUP TANPA ORANGTUA!! LALU KAU ANGGAP APA USAHAKU SELAMA INI ANISA?! YAH AKU TAHU MEREKA ORANGTUA KANDUNGKU TAPI AKU BUTUH WAKTU nisa kumoh-on hah hah hah sial jangan sekarang", kata Arfan pingsan dalam pelukan Anisa.
"Mas? Arfan? Sayang ada apa? Kiki?! Devan?! Ryan?! Tolong ibu ayahmu pingsan!!!", teriak Anisa.
Hp Arfan masih menyala dan telpon masih tersambung.
Andhika terkejut mendengar Arfan pingsan.
"Anisa nak Arfan gak kenapa-kenapa kan?", tanya Andhika khawatir.
Sedangkan yang lain kebingungan apa yang terjadi karena tidak tahu apapun percakapan.
"Ayah masih sakit kakek nanti ku sherlock tempatnya assalamualaikum"
Dan sambungan telepon pun terputus.
"Bagaimana Andhika?", tanya Hamzah.
"Apa kata Anisa?", tanya Mira berharap.
"Arfan tadi marah ke Anisa aku ada rekamannya dan sepertinya Ryan yang menutup telponnya", kata Andhika sambil memutar panggilan tadi.
"Tak kusangka hal seperti itu terjadi selama ini dan kita ngapain? Selama ini kita tidak berusaha mencari mereka dan membiarkan Arfan dan Anisa menanggung semua beban itu", kata Vivian menyesal sambil menangis.
"Tidak heran Revan ada di bandara juga" , ucap Yuki.
"Yang lebih penting Arfan apakah Anisa? Dan semua kejadian selama 26 tahun?", tanya Roni khawatir dengan adiknya.
"Ada pesan", kata Raisa.
"Ayo ke sana", kata Andhika.
Di rumah sakit
"Anisa!!!"
"Ibu kok bisa ke sini?", tanya Anisa bingung.
"Aku yang kirim ini hp Ayah", kata Ryan dingin.
"Kenapa kau kirim tumben? Biasa ogah berurusan dengan mereka pasti suruh orang", sendiri Reyna.
"Shut up, masih mending ku kirimkan lokasi lagian kalian pasti bertanya-bertanya kejadian selama ini kan?", tanya Ryan sinis.
"Ryan ibu tahu sikap sifatnya itu 11 12 dengan ayahmu apa sebenarnya yang kau inginkan?", tanya Anisa.
"Ibu tidak pernah tahu kebenaran sebenarnya Ayah menyembunyikan alasan sebenarnya melarang kita menemui mereka bukan para musuh yang akan membunuh kita tapi mereka", kata Ryan dingin.
"Maksudmu apa kak?", tanya seorang pria di belakang Nova, anak Roni dan Raisa.
"Revano kau sengaja kan menjatuhkan kartu namamu kan? Apa alasanmu melakukannya?", tanya Ryan dengan tatapan membunuhnya.
"Kak Ryan jangan menatap diriku seperti itu oke alasanku sederhana aku hanya ingin tahu kebenaran dibalik kecelakaan maut 26 tahun lalu di Palembang kakak pasti sudah melakukan perjalanan waktu jauh sebelum kejadian tersebut kan?", tebak Revan.
"Iya dan kau tahu apa yang terjadi saat itu? Orang-orang itu adalah suruhan Hamzah Mahesa yang ingin anak di kandungan ibu meninggal karena tidak percaya jika anak itu anak ayah", kata Ryan dingin dengan tatapan kosong membunuh.
"Ayah kenapa? Apa yang Ayah pikirkan?", tanya Andhika tidak percaya.
"Tidak itu tidak benar", elak Hamzah.
"Ya itu kau dalangnya tapi niatmu itu kau urungkan hingga orang suruhanmu tunduk pada wanita tua itu dan seorang lagi dia adalah Gio dia juga iblis yang membuat banyak pertumpahan darah di keluarga Mahesa intinya ada pembelot hingga 26 tahun lalu kecelakaan maut itu membuatku terlahir cacat dan dua kembaranku meninggal dan di sanalah awal mula mimpi buruk ku pikir kalian sudah berubah ternyata gak sama sekali sejak terakhir kali aku ke sini", kata Ryan penuh amarah.
__ADS_1
"Kau kuat itu membuatmu seperti sekarang Ryan tapi ketahuilah dendam apapun waktu yang telah berlalu takkan kembali", kata Arfan sambil tersenyum ke arah Ryan.
"Aku tahu kok", ucap Ryan malu.
"Mas maaf soal tadi", kata Anisa berlari kecil ke Arfan dan memeluknya.
"Iya aku juga maaf sudah membentakmu tadi sambil kasar padamu", kata Arfan lembut.
"Loh kau kasar pada menantuku Arfan? Sudah kau apakah dia? Kau apakan Anisa selama ini?! Hah?!", ngamuk Vivian.
"Vivi udah dong kasian Arfan", kata Rani.
"Biarkan aja", kata Andhika pasrah melihat kelakuan istrinya pada putranya belum berubah.
"Ini kartumu makasih ya nak kau tumbuh dewasa ya Arfan dan Anisa memang pasangan cocok", kata Yuki.
"Iya aku ngaku tapi gak jadi karena melihat cctv di hotel waktu itu", kata Hamzah.
"Bagus kalau dah ngaku minta maaf pada mereka aku mau main sama cicit-cicitku", kata Yuki mendorong Hamzah.
"Gak perlu aku sudah lupakan lagian kek ada yang kurang ya tapi apa ya?", kata Ryan.
"Ryan Adinata Mahendra Mahesa beraninya kau lupa janjian mau jalan-jalan dengan anak-anak ya?! Sini kamu", kata Maura mengejar Ryan di koridor rumah sakit.
"Ini rumah sakit loh jangan lari-lari aduh mereka ini", kata William pusing dengan kelakuan keluarganya.
"Hahahaha, setelah hari itu ku harap ke depannya seperti ini ", kata Anisa.
"Amin"
"Senang ibu ketawa lagi gak miring kek tadi kan gini tambah cantik", kata Revan.
"Emang kamu gak ada proyek film? Seingat ibu kamu masih ada kerjaan sehabis ini", kata Anisa.
"Alamak proyek film ku astaga meeting mana lagi gak ada pemeran eh kak?" Mohon Revan pada Ryan yang terlihat capek di kejar oleh Maura.
"Gak akan pernah lagi aku main flm", kata Ryan.
"Ayolah kali ini saja aku juga bakal ikut gak ada aktor dan aktris aku kak", mohon Revan lagi.
"Iya-Iya serah kau", pasrah Ryan.
"Flm apa?", tanya Roni.
"Keluarga cemara", kata Revan malu.
"Hah?! Bukankah kau bilang tuh cerita gabungan dari flm keluarga muda, keluarga muda2, dan aku siapa? Kenapa jadi judul kali ini keluarga cemara?", kata Ryan bingung.
"Salahkan editor dan host gila itu astaga punya asisten pada gak beres semua dah", pusing Revan.
"Salahmu terlanjur keluar tailernya", kata Ryan.
"Gak ada tuh", kata Reyna.
"Belum rilis", kata Andra tiba-tiba nongol.
"Tuyul", historis mereka.
"Ih ganteng gini dibilang tuyul", kecewa Andra.
"Emang mirip tuyul", kata Mutia dari belakang Andra.
"MUTIA"
Semuanya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Dah ya ini rumah sakit jangan berisik", kata William.
Sorenya semuanya sudah pulang tersisa hanyalah Ryan dan Revan di koridor dan Arfan juga Anisa.
"Jadi apa kata Yudith?", tanya Arfan.
"Aman dia akan malu nanti Revana hari itu dia akan di ketahui seluruh dunia atas perbuatannya", kata Ryan.
"Ku harap flm kali ini berhasil membuat mereka sadar ini bukan lagi masalah nyata atau rekayasa tapi kenyataan di balik bayangan", kata Revan.
"Hari itu kalian semua datang tepat waktu dan jalankan rencana yang sudah Ayah susun selama ini", kata Arfan.
"Dan kita bakal kumpul bersama tanpa rintangan lagi walau masih ada musuh lebih kuat lagi", kata Anisa.
"Kita urus paman Gio buat dia katakan siapa dibalik semua ini", kata Arfan serius.
"Iya"
Wow kali ini lebih panjang ya gak nyangka aku makasih udah mau dukung
Jangan lupa vote ya
__ADS_1
Bye bye
(Pergantian judul krn pasaran judulnya)