Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 30(s2)


__ADS_3

"Ryan", panggil Maura.


"Hm?"


"Kok kamu setuju aja soal datang ke acara reuni?", tanya Maura heran.


"Tidak ada salah nya bertemu mereka lagi lagian jika ku tolak kau malah marah-marah gak jelas", jawab Ryan sambil menopang tangan nya di dagu menatap datar Maura.


"Ih kok aku?", sewot Maura menatap jijik Ryan.


"Memang kenyataan nya begitu tapi aku gak bisa melupakan perbuatan mereka padamu", ujar Ryan dengan amarah meluap-luap.


"Kalau soal itu jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja", kata Maura mencoba meredakan amarah Ryan yang meluap-luap.


"Aku harap begitu", ujar Ryan sambil tersenyum tipis ke Maura menggengam tangan Maura dengan lembut.


"Iya"


Tak lama suara ketukan terdengar spontan Ryan dan Maura saling menatap satu sama lain.


"Buka aja gak di kunci", kata Maura.


Pintu terbuka nampak sosok cewek menatap mereka curiga.


"Ada apa?", tanya Maura bingung dengan arti tatapan Reyna.


"Tanya lagi ada apa?! Masalahmu dengan Ryan gimana hah?! Udah selesai?!", tanya Reyna menyolot.


"Masalah?", tanya Ryan menatap penuh curiga Maura dan Reyna bergantian.


"Iya! Perkara kau ketemu tuan muda Yahya itu sepupu kita sama satu orang lagi yang mirip kita entah siapa dia", jawab Reyna dan Maura menatap tak percaya Reyna. Bisa-bisanya ni cewek bermulut ember.


"Maura kenapa kau menatapku segitunya?", tanya Reyna merasa tak nyaman dengan tatapan Maura.


"Salah kau yang bermulut ember", seru Maura langsung berdiri lalu berjalan mendekati Reyna dan menjambak rambutnya.


Karena tak mau di kalah Reyna pun menjambak rambut Maura juga alhasil mereka berdua saling menjambak rambut.


Ryan? Dia menatap datar kedua cewek di hadapan nya saat ini.


"Ingat umur kalian berdua sudah berkeluarga dan memiliki anak loh malu-maluin aja", kata Ryan menatap dingin nan datar Maura dan Reyna.


Seketika baik Reyna maupun Maura bungkam tak bernafas eh salah tak bergerak.


"Duduk", titah Ryan dengan dingin nya.


Mereka hanya bisa menurut kalau tidak mau nyawa melayang.


"Jelaskan darimana kau tahu soal aku bertemu dengan Vero Yahya?", tanya Ryan tegas.


"Kau saja jelaskan", bisik Maura sambil menyenggol lengan Reyna.


"Kok aku? Kaulah", bisik Reyna sambil mencubit lengan Maura.


"Kau memang, kau kan yang mencari inforamsi nya dan ajak aku", bisik Maura.


"Lah? Keila yang cari tuh aku cuma nerima aja dan mengajakmu", kata Reyna tak mau mengalah.


"Ih tetap aja kamu", kata Maura tak mau mengalah juga.


"Kamu"


"Kamu"


"Kamu"


"Kamu"


"Kamu"


"Kamu"


Mereka pun saling menunjuk satu sama lain tak ada yang mau mengalah.


Ryan menatap mereka begitu sangat dingin nan datar.


"Ehem!!"


Seketika mereka berdua diam membisu tak ada yang membuka suara ataupun gerakan.


"Cepat jelaskan semuanya sebelum aku melakukan sesuatu yang tak ingin kalian inginkan", ancam Ryan mempertegas setiap kata-katanya.


Akhirnya Reyna menjelaskan semuanya sedetail mungkin tanpa ada yang terlewat satu pun informasi.


Ryan tampak berpikir sejenak setelah di jelaskan dan menatap mereka tajam.


"Kok bisa ya aku punya kembaran kek dia?", pikir Reyna sambil menelan ludah.


"Entah beruntung atau sial aku dapat menikah dengan cowok tipe kek dia", pikir Maura sambil menelan ludah juga karena takut sebentar lagi bakal di serang oleh Ryan.


"Aku membaca pikiran kalian", kata Ryan menatap sombong Maura dan Reyna.


"Kami tahu", pikir mereka berdua menatap jengkel Ryan.


"Oh jadi kalian siap menerima konsekuensi nya ya baiklah kali ini jangan menyesali nya ya", kata Ryan sambil tersenyum smirk (licik).


Kali ini mereka berdua benar-benar tak akan selamat hanya bisa berdoa dan pasrah akan keselamatan mereka ke depan nya.


Tak lama suara teriakan di sertai gelak tawa terbahak-bahak terdengar dari balik pintu kamar.


Di luar kamar


"Mereka kenapa?", tanya Yudith yang baru saja pulang dari jalan-jalan mall nya terlihat dengan barang-barang bawaan nya yang banyak dan five twins di belakang nya.


"Paling bermain", jawab Arfan acuh dan melanjutkan membaca komik kesukaannya.


"Oh", kata mereka semua tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Selang 1 setengah jam kemudian


"Cukup Ry aku gak kuat nonton nya", kata Reyna tertawa sambil memenang perutnya sakit akibat tertawa tanpa henti.


"Iya sayang cukup ini benar-benar lucu aku gak bisa berhenti", kata Maura juga mengalami hal yang sama.


"Gimana ya?", kata Ryan sambil pose berpikirnya.


"Pliss cukup gak kuat lagi nih", kata Reyna.


"Oke-oke asalkan kalian berhenti cari tahu siapa cowok itu aku ketemu mereka memang udah janjian sebelum nya jadi gak ada masalah kan? Ini urusan pekerjaan aku masih bisa tangani", kata Ryan mengambil remot tv dan mematikan tv nya.


"Udah sana pergi aku capek mau tidur", usir Ryan langsung menghempaskan tubuh nya di atas kasur.


"Ah ga asik ya udah aku pergi ya oh ya kata Vincet jangan lupa hari minggu ya kita jalan-jalan nge date double", kata Reyna hendak keluar kamar.


"Oke", kata Maura setuju.


"Oh ya, sebelum itu kita mampir ke acara reuni kami ya gak papa kan? Gak bakal lama kok", kata Ryan.


"Ya aku sih terserah udah ya aku duluan", kata Reyna sambil menutup pintu kamar.


"Iya"


Hari H


"Akhirnya bisa jalan-jalan", kata Maura sambil merenggangkan kedua tangan nya ke belakang.


"Iya tanpa anak", kata Reyna bernafas lega.


"Oh ya kalian duluan aja aku ada urusan di sebelah kafe nya gak lama kok ntar nyusul", kata Vincet sambil menunjuk toko di sebelah kafe tempat acara reuni.


"Oke"


Mereka pun berpisah dengan Vincet saat sampai.


"Ayo cus masuk", kata Reyna semangat.


"Dasar bumil", gumam Ryan.


Ternyata Citra sudah menunggu mereka di pintu masuk.


"Ayo yang lain udah nunggu", kata Citra juga bersemangat.


"Kalian duluan aja aku mau ke toilet kebelet nih", kata Reyna langsung masuk toilet tepat di samping kiri nya.


"Jamgan lama", kata Maura.


"Iya"


"Ayo", ajak Citra menarik tangan Maura mausuk ke dalam.


Di sinilah mereka di acara reuni pertama dan terakhir mereka.


"Hei guys mereka datang"


"Mereka serasi banget"


"Hi Ryan", sapa seorang cewek yang langsung bergelut manja di samping Ryan.


Maura menatap tajam cewek itu kalau bukan gara-gara fitnah nya dia tak akan sehancur sekarang.


"Zeyfana jaga sikapmu Ryan sekarang milik Maura", sarkas Citra marah sambil mencoba melepas genganggam tangan Zeyfana namun Zeyfana menolak dan mendorong Citra hingga tersungkur ke meja.


Bersamaan Reyna masuk ke dalam dan terkejut melihat Citra di perlakukan seperti itu.


"Ada apa ini?", tanya Reyna menghampiri Citra dan membantu nya berdiri.


"Ah, lihat siapa ini? Kau bukan lulusan sekolah kami siapa kau?", kata Zeyfana menatap rendah Reyna.


"Ada cupu girls", ucap Zeyfana sambil menyiram Reyna dengan jus stroberi dan tertawa bersama anggota geng nya semasa sekolah.


"Oh? Segera tarik ucapanmu sebelum menyesal", kata Reyna berusaha berdiri dan mentaap dingin Zeyfana.


"Kau gak tahu aku siapa?!", teriak Zeyfana marah.


"Aku gak peduli siapa kau yang pasti derajatmu lebih rendah dariku dasar sampah", kata Reyna menatap sinis Zeyfana.


"Aku adalah anak walikota memang kau siapa?! Dasar gadis kampungan", seru Zeyfana sambil mengambil ancang-ancang ingin menampar Reyna.


"Mati kau dasar perempuan kotor!!!", teriak Zeyfana namun tangan nya di cegah oleh Ryan.


"Jangan kau sentuh dia kau perempuan hina", kata Ryan dingin.


"Ahahhahahaha pasti perempuan ini selingkuhanmu Ryan!! Karena itu kau melindunginya ya kan?!", kata Zeyfana memancing emosi Ryan.


"KAU-", Ryan siap ingin menyerang nya namun di hentikan oleh telepati Reyna.


"Biar aku yang urus kak orang macam dia tak sebanding melawan kakak"


"Bereskan cepat aku muak berlama-lama di sini"


"Ku kira suhu ternyata cupu", kata Reyna dan langsung menerjang Zeyfana dari arah depan.


"Apa kau bilang- ohok", serangan Reyna tepat mendarat di muka Zeyfana.


"Kau pantas merima pukulan yang tadi", bisik Reyna sambil tersenyum ala psikopat.


"Aku belum selesai eh?", tiba-tiba tubuh Zeyfana tak bisa bergerak.


"Kenapa ini? Tubuhku tak bisa bergerak?! Tidak, bukan. Ini apa?", pikir Zeyfana.


Terdengar suara langkah kaki mendekati nya.


"Siapapun itu tolong aku", teriak Zeyfana berharap dapat pertolongan dari orang itu.


"Sayang nya tak ada yang bisa menongmu", katanya berjalan mendekati Zeyfana.

__ADS_1


Mata Zeyfana terbalalak seperti mau keluar melihat sosok itu.


"Ryan!!"


"Oh sudah sadar ternyata", kata Ryan menyeringai.


"D-di mana ini? Kembalikan aku", kata Zeyfana terbata-bata karena ketakutan menatap Ryan saat ini.


"Ini di mana? Selamat datang di perbatasan waktu", kata Ryan sambil menyambut Zeyfana.


"A-apa?!", saat ini Zeyfana tak bisa berkata apa-apalagi sungguh ini tak masuk akal.


"Ini tak masuk akal bagaimana bisa?! Kecuali keturunan keluarga Mahesa?!", kata Zeyfana tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Sayang nya aku salah satu keturunan keluarga Mahesa yang kau bicarakn itu terserah kau mau percaya atau tidak tapi itu kenyataan nya", bisik Ryan bersamaan memperlihatkan kilas balik masa depan dan masa lalu.


"T-tidak aku mohon minta ampun tuan muda sudah memfitnah nona muda jangan bunuh saya tuan muda", mohon Zeyfana sambil berlutut sujud ke Ryan.


"Sayang sekali sudah terlambat wahai manusia hina dari makhluk hidup lain kau harus nya memohon ampun ke tuhan yang maha esa bukan padaku", kata Ryan menatap dingin nan sinis dan tubuh Zeyfana terangkat Ryan menutup mata nya dan Zeyfana langsung hancur bersamaan waktu kembali normal.


"Hah hah hah ampuni saya tuhan saya salah sudah menyakiti sesama ahhahaha tidak semua ini pasti mimpi aku tak akan mengampuni kalian semua", kata Zeyfana tiba-tiba menjadi gila.


"Kak, kakak pasti memakai itu kan?", tanya Reyna.


"Kalau sudah tahu jangan tanya lagi", jawab Ryan dingin.


"Omong-omong lebih baik kau jelaskan semua nya ke suami mu perkara baju basahmu itu lagian mana ada orang hamil salto aku baru tahu", kata Ryan melirik ke belakang yang sudah ada Vincet sedaritadi.


"Mampus", gumam Reyna menatap takut Vincet dan Vincet menatap tajam Reyna.


"Kita tunda date nya sayang kita pulang saja", ujar Vincet tersenyum.


Reyna tahu maksud senyuman itu dia hanya bisa menurut pasrah dengan keadaan dan nasib nya sekarang.


"Ryan bantu dong plis", mohon Reyna sambil memegang tangan Ryan.


Ryan hanya diam menatap datar Reyna.


Semua orang berbisik


"Kayak nya benar apa yang di katakan nona Zeyfana"


"Benar"


"Seperti nya cewek centil itu pake ilmu hitam buat taklukan Ryan"


"Aku gak tahu ada apa ini tapi sebaiknya kita pulang saja", ajak Vincet.


"Kasian pacar nya mana ganteng lagi"


"Dasar ular"


"Cabe"


"Udah dapat ganteng tapi mau yang udah punya juga"


"Pantas Ryan bela-belain lindungi dia karena ini ya"


"Cukup", kata Maura mulai terpancing emosi.


"Sayang banget ya"


"Ular betina berbisa"


"Hati-hati guys ada pelakor di sini"


Vincet tak tahan lagi namun ia di cegat oleh Reyna.


"Tapi sayang mereka udah keterlauan", kata Vincet khawatir.


"Kalau kita meladeni mereka tetap saja sama tak ada yang berubah", bisik Reyna.


"Hah, baiklah kita pulang saja", kata Vincet lembut.


"Iya"


Semakin lama mereka gak berhenti juga dan Maura tak tahan juga sampai ia mematahkan meja di depan nya saat ini hingga terbelah dua.


"Maura", panggil Citra khawatir menatap Maura.


"Lihat!! Cewek itu centil ke Ryan!! Maura cerai aja dari Ryan kamu berhak bahagia juga!!"


Maura mengangkat kepala nya dan menampar satu-satu mereka yang bicara tidak-tidak.


"Gak!! Kalian tak akan mengerti!!! Citra kami pulang!! Maaf atas kekacauan ini nanti aku ganti"


"Maura!!! Ryan!!! Tunggu!!"


"Maaf kami pulang", tolak Maura dan berjalan mendahului yang lain.


"Maura", ucap Citra sedih karena tak bisa berbuat apa-apa.


"Eh, di mana ini?", Citra tampak kebingungan karena ia berada di tempat asing.


"Tidak apa aku hanya ingin bicara berdua saja", kata Ryan yang muncul di belakang Citra.


"Ryan? Ada apa?", tanya Citra yang masih kebingungan.


"Jangan menyalahkan dirimu ini keputusan Maura nanti setelah amarah nya mereda akan kami hubungi lagi tapi ini akan menjadi reuni pertama dan terakhir kita karena setelah ini kami akan kembali ke Tokyo karena urusan kami sebentar lagi selesai", jelas Ryan lembut.


"Iya akan ku tunggu dan terima kasih masih mempercayaiku", kata Citra dan waktu kembali ke semula.


"Apakah yang tadi kekuatan keturunan keluarga Mahesa? Benar-benar hebat", pikir Citra dengan mata membinar-binar.


Woh, gak nyamgka bisa sepanjang ini semoga suka dan berpuas-puaslah membaca nya ya👍🙇‍♀️.


Jangan lupa vote dan komen ya juga terus dukung ya apalah cerita ini tanpa kalian semua.

__ADS_1


See you..


__ADS_2