Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
72


__ADS_3

Flashback ya tapi gak semua kayak nya kok.


Chapter ini juga tentang kejadian sebelum Ryan dan Maura kecelakaan.


Happy reading......


"Gak papa kita berangkat lebih awal? Kau kan tak buru-buru juga kan sayang?", tanya Maura bingung karena gelagat Ryan seperti takut akan sesuatu hal buruk.


"Gak kita tetap berangkat awal", jawab Ryan tegas.


Maura hanya pasrah saja menuruti tak tahu kenapa kali ini Maura tak bisa menolak padahal biasa nya juga ia menolak dan negoisasi dulu tapi ini tidak.


Mereka berangkat lebih awal tapi aneh banget kan? Ryan mau berangkat awal dari hari yang di janjikan tapi ia menolak membawa anak.


"Gak tahu lagi apa isi pikiran ni cowok puyeng aku", pikir Maura geleng-geleng kepala gak habis pikir lagi dengan cowok yang ia nikahi.


"Eh? Aish, aku lupa dia bisa baca pikiran lagi. Marah gak ya Ryan?", pikir Maura lagi takut bertanya nanti malah ia di terkam lagi.


"Kali ini kau lolos sayang lain kali kau tak akan ku biarkan lolos ya", kata Ryan dengan batin nya.


Sontak Maura terkejut tak sadar ia berjalan mundur tapi karena rasa terkejut nya ia hampir terjungkal belakang untung saja tubuh Maura Langsung di tangkap oleh Ryan.


Seketika mereka berdua menjadi tontonan orang-orang di bandara masalah nya adalah mereka baru saja tiba di bandara Jakarta.


Bukan itu saja menjadi tontonan orang-orang masalah nya jarak mereka terlalu dekat malah sangat dekat sampai wajah mereka tidak terlihat bagi orang-orang mereka seperti ciuman.


Tak lama kemudian satpam datang menghampiri mereka berdua.


"Maaf bagi di bawah umur tolong jangan lakukan hal seperti itu tidak baik bagi kalian dan orang-orang di sekitar", kata nya tegas.


Ryan menatap malas satpam bandara dan sedikit menjauh dari wajah Maura.


"Kami bukan anak di bawah umur dan kami sudah sah di mata hukum dan agama dan juga saya meminta maaf sudah mengganggu ketentraman masyarakat", jelas Ryan.


Bukan apa-apa sebenarnya bagi Ryan untuk masalah seperti ini tapi ia juga malas sebenarnya meladeni orang-orang seperti satpam ini.


"Maaf kalau begitu apa tuan punya bukti nya? Untuk memperjelas semuanya", desak satpam tersebut.


"Hah, baiklah saya juga punya urusan jadi cepatlah", kata Ryan malas sambil mengeluarkan berkas-berkas nya.


Setelah di cek satpam meminta maaf dan membiarkan Ryan dan Maura lewat.


Sesampainya di hotel Ryan langsung menghempaskan tubuh nya di ranjang.


"Heh, jujur aja kamu sebenarnya kenapa mau cepat-cepat berangkat sih? Anak-anak juga gak di bawa kenapa?", tanya Maura bertubi-tubi.


Ryan mengira Maura akan marah-marah soal kejadian di bandara tadi ternyata tidak.


"Ada yang membuntuti kita hingga ke sini dan terlalu beriseko membawa Anak-anak juga ikut kita tidak tahu apa yang mau mereka inginkan", jawab Ryan tegas.


Maura menatap Ryan intens dan berkata "aku mengerti udah ayo jalan-jalan".


Baru saja Maura mau mandi tapi Ryan tiba-tiba menarik nya ke atas kasur.


"K-kamu kenapa?", tanya Maura dengan wajah nya yang seperti kepiting rebus.


Masalah nya ia mendarat tepat di atas badan Ryan, tentu nya jarak di antara mereka cukup dekat.


"Hari ini kita di hotel saja besok baru jalan-jalan", kata Ryan.


"Em, baiklah"


Keesokan harinya malah Ryan tiba-tiba sibuk jadi nya jalan-jalan nya di tunda juga dan hal itu berlangsung selama 3 atau 4 hari.


"Hari ini jadi kan?", tanya Maura yang sudah bete di buat menunggu oleh Ryan.


"Iya hari ini kok", jawab Ryan sambil mengelus kepala Maura pelan.


Terlihat sekali wajah bahagia Maura seperti anak kecil mendapatkan permen.


"Asyik"


Akhirnya mereka berdua pergi kencan mengelilingi kota Jakarta.


"Kamu ingat semasa kecil kita sayang?", tanya Ryan sambil memandang langit sore.


Saat ini mereka berada di kafe dekat pantai.


"Iya", jawab Maura.


"Aku tak nyangka gadis kecil yang datang padaku dengan permen nya sekarang sudah menjadi milikku", kata Ryan dengan nada sedikit menggoda.

__ADS_1


"Apaansih gombal", kata Maura terkekeh.


Perasaan Ryan gak enak dan ia melihat sekelilingnya tak ada siapa pun kecuali satu orang misterius dan seseorang yang berpakaian serba hitam.


"Ada apa sayang?", tanya Maura bingung dengan tingkah Ryan yang aneh menurut nya.


"Ayo pulang sayang hari ini Laila, Raka, dan Haris akan tiba", kata Ryan mengalihkan topik.


"Baiklah"


Mereka pun meninggalkan kafe namun dua orang tadi membuntuti mereka lagi.


"Kamu kenapa sih?", tanya Maura lagi heran dengan cowok satu ini.


Bukannya menjawab Ryan langsung menyosor kepala Maura pelan.


"Kepo", kata Ryan ketus.


"Ih apaansih kamu", gerutu Maura sambil memengang kepalanya.


Ryan melihat ke belakang terkejut karena ada mobil melaju cepat ke arah mobil nya.


Tiba-tiba Ryan membanting stir nya membelokkan mobil nya ke arah lain.


"Kamu kenapa? Bikin kaget aja tahu", kata Maura sedikit meninggikan suara nya.


"Ada mobil mengincar kita", jawab Ryan dingin.


Tentu saja Maura kaget ia melihat ke belakang tak ada yang mengikuti.


Baru saja Maura membalikkan badan ia melihat mobil yang di maksud Ryan datang dari arah samping kiri melaju cepat menabrak mobil Ryan.


"RYAN AWAS DI SEBELAH KIRI", teriak Maura kaget.


"Tak sempat rem nya juga ikut rusak", kata Ryan yang terlihat kesal.


Tiba-tiba Ryan merusak kursi yang di duduki Maura dan mengendong Maura ke belakang kursi nya.


'BRAK'


Mobil Ryan terdorong sangat keras ke sebelah kanan hingga menabrak pembatas jalan raya.


Sedangkan Mobil yang menabrak Mobil Ryan di biarkan begitu saja di tempat kejadian dan pengemudi Mobil nya melarikan diri.


"R-ryan akh sakit perut ku sakit sayang aku gak kuat", kata Maura merintih kesakitan sedangkan di bawah kaki nya mengeluarkan begitu banyak darah.


Maura pun tak sadarkan diri karena mengalami pendarahan.


Orang-orang yang di tempat kejadian langsung menghubungi nomor darurat.


Pihak polisi langsung mengamankan semua nya dan situasi terkendali sedangkan Ryan dan Maura sudah di bawa ke rumah sakit dengan ambulans.


Samar-samar Maura mendengar suara asing tapi ia tak mengerti suara apa itu, ia juga ada di mana ia tak tahu.


Ingatan nya mulai samar-samar seiring suara-suara yang ia dengar.


"Di mana ini?", tanya Maura bertanya-bertanya sambil melihat sekelilingnya.


Kosong, tempat itu tak ada seorang pun ia sendiri.


Maura berjalan mencari jalan keluar tiba-tiba matanya menangkap sosok cowok.


"Kok familiar ya?", tanya Maura berjalan mendekati cowok itu.


Semakin Maura mendekati sosok itu tiba-tiba sosok itu berbalik badan menatap Maura penuh penyesalan.


"R-ryan ini di mana?", tanya Maura menatap Ryan berkaca-kaca.


"Maaf aku gagal melindungimu kembalilah anak-anak masih membutuhkan kamu", kata Ryan sembari membelai lembut pipi Maura.


"Gak!! Kau juga harus ikut denganku kembali", kata Maura menolak tegas.


"Kamu duluan saja, aku akan menyusul mu setelah urusan ku selesai", tutur Ryan lembut.


"R-ryan jangan pergi lagi!! Aku mohon!! Aku gak mau sendiri lagi!! Anak-anak juga membutuhkan kamu juga!!! Jangan pergi lagi seperti dulu!!! Aku hancur saat itu!!! Bukan saja saat kau pergi meninggalkan aku saat aku hamil tapi juga saat kecelakaan sewaktu kita kecil!!! Ryan kembali!! Aku akan melakukan segala nya demi kau tetap bersamaku!! RYAN!!", teriak Maura tak kuat menahan tangisan nya lagi.


Ia pun menangis histeris tak dapat mengejar Ryan lagi.


"RYAN!!!"


Maura terbangun dengan nafas tak beraturan.

__ADS_1


Ia melihat sekelilingnya semua nya bernuansa putih, ada banyak selang menancap di tubuh nya.


"Di mana ini?", tanya Maura lemah.


"Rumah sakit kak", jawab seorang cewek di samping Maura.


"Ayna??", tanya Maura saat matanya melirik cewek itu.


"Iya kak ini aku", jawab Ayna lembut.


Maura meraba-raba perut nya seketika ia terbangun kaget.


"Ada apa kak?", tanya Ayna yang juga terkejut karena Maura tiba-tiba bangun.


"B-bayi ku mana? BAYIKU DI MANA?!", tanya Maura histeris.


"Tenanglah kak, bayi kakak di ruang ikubator kakak sudah tidak sadarkan diri sejak kecelakaan itu dan setelah operasi kakak juga gak kunjung sadar", jelas Ayna mencoba menenangkan Maura.


"Aku mau lihat", kata Maura lemas.


"Tidak sekarang kak keadaan kakak aja seperti ini istirahat saja dulu jika kesehatan kakak membaik baru di lihat", kata seorang cowok yang bersandar di pintu.


"Haris, kamu jangan dingin-dingin amat deh", kata Ayna menatap adik lelaki nya kesal.


Sedangkan Haris acuh saja dan memilih bermain hp saja.


"Ryan bagaimana?", tanya Maura khawatir.


Haris dan Ayna seketika diam membeku tak menjawab.


"Kenapa? Ryan kenapa? Aku tanya?! Jawab aku!!!", teriak Maura marah karena di acuhkan.


"Ryan koma nak", jawab Arfan yang baru saja datang.


Mata Maura menatap tak percaya ia langsung mencabut selang-selang itu dari tubuh nya tak peduli akan rasa sakit nya itu.


"MAURA", teriak Ayna khawatir.


"Biarkan saja Ayna Maura butuh waktu juga", jelas Anisa menatap nanar putri nya.


Ayna paham ibu nya juga pernah mengalami nya dulu jadi ia memilih diam saja.


Di ruang icu


Maura masuk betapa terkejutnya ia melihat keadaan Ryan yang lebih lemah dari nya saat ini.


Maura perlahan-lahan mendekati bangsal Ryan.


Tangannya bergetar, mulut nya menganga tak percaya suami nya ini sedang melawan kematian nya.


"Ryan cepat sembuh ya sayang anak kita lahir lebih cepat aku b-belum bisa melihat nya hahaha aku h-harus b-bagaimana sekarang Ryan?", kata Maura tak berdaya.


1 minggu kemudian


Akhirnya Maura di perbolehkan melihat bayi nya itu.


Di ruang ikubator


"Kau menang Ryan dia anak cewek kemarilah anakku", kata Maura sambil mengendong bayi perempuan kedua nya itu.


"Aku tahu akan memberikan nama apa padamu sayang, Viola Andiana Mahesa", bisik Maura.


Sejak itu Maura bertekad akan membesarkan keempat anak-anak nya tanpa Ryan sampai Ryan sadar.


Di sisi lain


"Bagaimana? Apa kita kembali saja?", tanya seorang perempuan yang hampir mirip Reyna.


"Tidak, belum saat nya kita kembali Rena", jawab cowok yang mengikuti Ryan dan Maura sebelumnya.


"Hah, dasar Reyhan. Lalu bagaimana dengan orang yang mengikuti Ryan dan Maura sebelumnya? Kau juga kan ada di sana", kata Rena.


"Aku sudah mendapat informasi darinya", jawab Reyhan.


"Hasil nya?", tanya Rena.


"Orang itu adalah ******* musuh paling berbahaya kita harus berhati-hati ke depan nya", jawab Reyhan dingin.


Hm? Semoga suka ya🙇‍♀️. Siapakah di balik semua tragedi? Baca terus ya hingga akhir.


Sengaja panjang banget daripada setengah-setengah jadi sekalian saja.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen ya support terus ya.


See you Next time


__ADS_2