
Hi aku balik lagi gimana pada penasaran kan sama pembincaraan mereka selanjutnya, kan?
Eits, tunggu dulu sebelum itu mari flashback lagi apa yang terjadi di bandara Jakarta terkait perkataan Arfan sebelumnya.
Ayo mari kita kupas lagi masa lalu kelam keluarga Mahesa satu ini, kita mulai dari orangtuanya maksudnya Arfan dan Anisa.
Oke tanpa basa-basi lagi kita mulai saja kisah mereka selama 26 tahun ini.
Selamat membaca....
Sepulang sekolah, sesuai perkataan Arfan mereka mengunjungi kediaman sekarang Arfan dan Anisa.
"Jadi, apa yang mau kau ceritakan?", tanya Arif penasaran dan curiga.
"Arfan apa hal yang menarik yang mau kau ceritakan?", tanya Dimas yang mulai berkeringat karena penasaran.
"Kau bilang dirimu yang sebenarnya? Jati dirimu?", tanya Ratna.
Arfan hanya diam dan teman-temannya semakin sangat penasaran dan datang Anisa sambil membawa mapan yang berisi teh dan beberapa cemilan ringan.
"Silakan", kata Anisa sambil meletakkan mapan ke atas mejanya.
"Iya sama-sama Anisa", jawab Nanda.
"Anisa", panggil Aldi.
"Ya"
"Apa hubunganmu dengan Arfan? Kok kamu bisa berganti pakaian?", tanya Aldi penuh curiga.
Anisa bungkam dan melirik ke arah Arfan.
Arfan sadar tatapan Anisa langsung paham.
Sebelum berbicara Arfan menarik napas lalu membuangnya dan menatap semua teman-temannya.
"Aku akan mengatakannya sekali saja jadi pasang telinga kalian", kata Arfan mulai serius.
Mereka siap mendengarnya dan pasang telinga mereka baik-baik.
"Aku dan Anisa berasal dari Jakarta karena kami meninggalkan keluarga kami karena aku sudah menghamili Anisa", kata Arfan.
Mereka semua terkejut habisnya Arfan terlihat bukan tipe cowok jahat.
"Dengar dulu belum habis", kata Anisa tahu apa yang akan dikatakan dan dipikirkan teman-temannya.
"Ini karena pacarku dan sahabatku yang menjebak kami di sebuah hotel 3 minggu lalu", ujar Anisa sambil menahan tangisannya.
"Anisa, kau kan cantik lupakan saja dia kan ada Arfan mungkin dialah laki-laki yang dikirim Allah untukmu masa depanmu", kata Nanda.
Kata-kata sederhana Nanda membuat Anisa sadar Arfan-lah yang selalu mendampinginya selama ini suka maupun duka. Disaat ia terpuruk karena dikurung di kamarnya waktu itu Arfan lah yang membantunya keluar dan pergi dari Jakarta.
Anisa sadar akan itu cara Arfan menunjukkan rasa bertanggung jawabnya dan ia benar-benar siap melakukannya dan melewatinya.
"Iya, Nanda terima kasih", kata Anisa merasa lega.
Anisa tahu Arfan melakukan ini semua deminya dan kedua calon anak mereka.
"Jadi, siapa kalian sebenarnya? Pasti bukan dari keluarga biasa?", tanya Aldi masih curiga.
"Hah, tuan muda Zeinaldi seperti biasa ya penuh curiga. Apakah kau benar-benar tak mengenaliku dan Anisa?", tanya Arfan.
"Tidak", jawab Aldi singkat.
"Hooh, aku akan mengatakannya dengar baik-baik namaku Moh. Arfan Mahesa dan gadis ini Anisa Rahman", kata Arfan sombong.
Seketika mereka terkejut bukan main dan Aldi tak bisa berkata apa-apa.
"Jadi, pacar yang kau maksud adalah Daniel?", tebak Vioni.
__ADS_1
"Iya"
Jawaban Anisa tambah membuat mereka semakin diam membisu.
"Katanya hamil? Sudah berapa bulan?", tanya Rara.
"Baru juga 3 minggu dan ternyata anak kembar habisnya sebelumnya cek awal kehamilan cuman satu tapi kemarin isinya 2", jawab Arfan dengan wajah datarnya.
"Harusnya aku sudah sadar kalau itu dia", pikir Aldi.
"Wow kecelakaan membawa berkah dan kebahagiaan", kata Vioni.
"Tidak, salah. Itu masih jauh aku harus mengurus wanita itu", kata Arfan dingin.
Mereka semua tampak semakin kebingungan maksud perkatan Arfan barusan.
"Sebenarnya ada yang mengikuti kami dari Jakarta itulah aku ragu mau membawa kalian", kata Anisa sambil bersembunyi di belakang Arfan.
"Wanita itu sebenarnya siapa?", tanya Dimas.
"Dia dalang sebenarnya atas kejadian 3 minggu lalu", jawab Arfan yang semakin dingin.
Flashback
Sebelum 3 minggu kejadian di hotel.
"Permisi", kata seorang wanita yang umurnya sekitaran 30 tahun.
"Ada apa?", tanya Rosa yang sedang berbicara dengan Daniel.
"Apa kalian kenal Anisa Rahman?", tanya wanita itu.
"Iya kami kenal", jawab Daniel tanpa curiga.
"Ada apa ya?", tanya Rosa penasaran.
"Begini Anisa itu lebih baik jauhi saja karena dia bukan anak yang baik-baik", kata wanita itu lagi.
"Iya dia pacar saya gak mungkin", kata Daniel juga.
"Gak percaya? Lihat nih", kata wanita itu sambil memperlihatkan sebuah foto.
Mereka yang melihat hal ini langsung tidak percaya dan membuang fotonya.
"Kalau gak percaya ayo ikut saya akan saya pertemukan kalian sama laki-laki in", kata wanita itu.
Dan Rosa dan Daniel berjalan mengikuti wanita itu dengan jiwa penasaran.
Di suatu tempat dekat sekolah
"Dia?", tanya Daniel meyakinkan.
"Iya, silakan ditanya", kata wanita itu dan mempersilahkan Daniel dan Rosa berbicara dengan laki-laki itu.
Laki-laki itu terlihat lusuh namun wajahnya masih bisa dilihat jelas.
"Siapa namamu?", tanya Rosa galak.
"Ridho Zaunudin", Jawabnya.
"Apa benar kau berhubungan dengan Anisa Rahman?", tanya Daniel marah.
Ridho melirik wanita itu dan ia melihat wanita itu menuliskan "lakukan kalau kau mau pacarmu dan adikmu selamat"
"Iya, emang kenapa?", tanya Ridho lantang.
"KAU K@P@R@T", seru Daniel maah sambil menarik kerah baju Ridho.
"Jawab sejak kapan?", tanya Rosa yang kehabisan kesabaran.
__ADS_1
"Sudah lama sejak 5 bulan ini", jawab Ridho asal.
"Daniel, tenanglah kita minta penjelasan juga dari Anisa", kata Rosa.
"Tidak perlu, perempuan seperti dia tidak akan bicara", kata seseorang dibelakangnya mereka.
Ridho terkejut adiknya akan berkhianat dan ternyata semuanya sudah direncanakan.
Lalu, Chelsea juga? Ridho melihat ada darah di tangan kiri adiknya.
Ridho semakin marah dan ingin mengatakan semuanya namun ia urungkan saat adiknya, Maya melihatnya dengan tatapan yang begitu tajam dan sangat menusuk.
"Apa maksudmu? Siapa kau?", tanya Rosa marah.
"Aku adik Kak Ridho namaku Maya Zaunudin aku kesini hanya ingin mengatakan kakaku ini sudah punya pacar tapi perempuan itu tetap nekat mendekati kakakku yang polos", kata Maya dengan wajah dibuat-buat dan Rosa dan Daniel percaya akan itu.
"Gitu ya, lihat saja bagaimana aku mempermalukan Anisa", kata Daniel sambil melirik Rosa.
Rosa sebenaranya tak suka hal ini tapi mau tak mau ia harus melakukannya.
3 minggu kemudian di hotel Plaza
"Daniel, kita mau apa disini?", tanya Anisa sambil melihat-lihat sekelilingnya.
"Makan malam sygku", kata Daniel lembut namun dalam hatinya sungguh sakit.
Di lain tempat Rosa sudah menyiapkan semuanya dan mereka tak sadar ada seseorang yang mengikuti mereka.
"Heh, mereka benar-benar bodoh percaya perkataan Maya tak akan ku biarkan ini berjalan sesuai rencanamu wanita tua", katanya sambil mengirim lokasi ke seseorang.
Di sisi lain hotel terlihat seorang cowok yang mengenakan topi, kacamata hitam, dan jaket hitam menerima pesan dari nomor tak dikenal.
"Eh? Apa ini? Pergi ke kamar 199? Ada seorang gadis yang dalam bahaya hanya kau yang bisa melindunginya? Maksudnya apa?", tanyanya bingung dengan pesan yang dikirim orang yang tidak ia kenal.
Cowok itu menyimpan ponselnya lagi dalam saku dan terus berjalan pergi.
"Memang dasar tuan muda Mahesa", gumam perempuan itu.
"Hei!! Ridho apa yang membuatmu berpikir rencana wanita tua itu akan hancur kalau kita satukan keluarga Mahesa dan keluarga Rahman dengan cara mereka melakukan cinta satu malam?!", seru perempuan itu.
"Chelsea Lumisyia, coba pikirkan lagi tuan muda Arfan dan nona muda Anisa mereka cukup serasi dan mereka bukan saja berasal dari keluarga biasa tapi mereka adalah harapan masa depan suatu saat nanti akan ku pastikan Arfan tak akan menolak hal ini mengingat wanita tua ini juga punya masalah dengan keluarga Mahesa dan Rahman dari masa tuan muda besar Mahesa", kata Ridho.
"Lalu apa hubungannya dengan Arfan tak akan menolak hal ini?", tanya Chelsea.
"Karena bagi Arfan sebagai penerus selanjutnya dialah harus menuntaskan masalah ini", jawab Ridho penuh semangat.
"Ohhhh, ternyata kalian ya biang keroknya", kata seorang cowok yang tadi menerima pesan.
"Gyaaa!!! Kau ngangetin tuan muda", kata Chelsea.
"Jadi kau mau? Akan ku berikan semua-"
"Tidak aku menolak", potong Arfan lalu pergi meninggalkan restaurant di hotel.
"TUAN MUDA PIKIRKAN DULU DAN BERIKAN JAWABANMU", teriak Ridho dan langsung mulutnya ditutup oleh Chelsea.
"Gak usah teriak-teriak", bisik Chelsea.
Di sisi lain hotel
"Cukup aku mau pulang", kata Anisa yang terlihat sudah mabuk.
"Iya ayo ku bantu", kata Daniel sambil membantu Anisa berjalan tapi bukan pulang ke rumah melainkan......... kamar hotel 199.
Dimana malam itu kehidupan Anisa dan Arfan berubah dan saling terjerat yang namanya konflik.
Wow guys aku gak sadar loh udah buat hingga 1300 kata
Jangan lupa vote dan komen ya di bawah
__ADS_1
Ini buat kalian yang setia membaca semoga betah ya dan selalu sehat kalian semua dan dalam lindungan Allah amin.
Oke see you...