
Saya akan benar-benar sangat fokus dengan konflik cerita ini karena sudah mulai serius arc nya.
Jadi suamiku overprotektif belum bisa update untuk saat ini dan cerita nikah muda season 2 ini masih jauh perjalanan nya, semua nya harus saya tuntaskan masalah-masalah yang ada baik series pertama maupun series kedua( yg saat ini kalian baca).
Saya mohon maaf sebesar-besar nya ya mohon pengertian nya oke? Sampai sini paham kan?.
Happy reading....
Baru saja Maura sampai di rumah sakit tapi sepertinya ia saat ini tidak bisa menjenguk Ryan. Hal itu terlihat jelas dengan para suster bolak-balik di depan ruang icu.
"Tapi aku juga penasaran ada apa?", pikir Maura.
Karena rasa penasaran nya Maura berjalan mendekati salah satu suster.
"Permisi sus", kata Maura memanggil salah satu dari mereka.
"Ya?", respon salah satu dari mereka.
"Apa yang terjadi?", tanya Maura agak ragu karena firasat nya gak enak.
"Maaf, apa anda salah satu keluarga pasien di dalam?", tanya suster.
"Ya, ada apa?", tanya Maura di landa kebingungan.
Suster itu awal nya ragu mengatakan Maura terus membujuk nya mengatakan semua nya.
Tiba-tiba keluar dokter dan suster lainnya menatap bingung Maura dan suster itu.
"Maaf saya harus katakan ini tapi anda siapa nya pasien?", tanya dokter itu.
Maura mengangguk iya dokter itu menghela nafas panjang lalu menatap Maura ntahlah tatapan apa itu.
"Saya isteri nya dok", jawab Maura agak takut jawaban dari sang dokter.
"Hah, suami ibu tadi mengalami pemberhentian jantung dan menyempit nya aliran darah tapi sudah saya tangani juga kesadaran nya semakin melemah presentasi untuk hidup sangat lah kecil bagi suami ibu", jelas sang dokter yang menangani kondisi Ryan selama ini.
"Makasih info nya dok", kata Maura dengan suara kecil dan sedikit bergetar.
"Sama-sama kami permisi", kata sang dokter dan pergi bersama para suster.
Maura jatuh terduduk ia menangis sejadi-jadi nya tak percaya jika Ryan sudah tak ada harapan untuk hidup.
Tiba-tiba di belakang Maura muncul seseorang.
"Maura kamu kenapa?! Apa yang terjadi?!", tanya sosok itu khawatir melihat Maura terpuruk.
"Citra? Kamu kenapa di sini?", tanya Maura melihat siapa yang memeluk nya itu.
"Ayahku lagi drop jadi ku bawa ke sini lalu kenapa kau seperti ini?", tanya Citra cemas dan khawatir dengan keadaan Maura.
"A-aku habis kecelakaan 2 setengah bulan lalu bersama Ryan", jawab Maura dengan suara agak bergetar karena masih takut dan syok.
"Astagfirullah kamu gak papa kan? Lalu Ryan juga kan? Hey jawab aku!! Kamu selama ini di mana?", kata Citra sambil mengoyangkan tubuh Maura.
"Ah, ini membuatku pusing berhenti", kata Maura dan Citra pun menghentikan aksi nya.
"Aku baik-baik saja tapi Ryan sudah koma sejak itu dia bahkan gak melihat putri kami yang lahir saat itu aku takut kehilangan Ryan. Apa yang harus kulakukan jika hidup tanpa nya? Anak-anak kami juga masih butuh kasih sayang orangtua nya, sosok seorang ayah", jelas Maura mulai menitikkan air mata.
"Andai saja aku gak ngotot mau ikut ke Jakarta hal ini tak perlu terjadi lagi", kata Maura merutuki dirinya yang lemah selama ini.
"Maura hidup memang seperti itu aku senang kau baik-baik saja selama ini dan aku yakin kau maupun Ryan bisa melewati ini semua jadi jangan putus asa oke? Harus kuat kita cewek jangan mau bergantung dan di injak-injak oleh orang lain mau itu cowok atau cewek mengerti?", jelas Citra dan Maura pun menggangguk paham.
"Pintar ayo masuk kita lihat keadaan Ryan", ajak Citra.
__ADS_1
"Iya kau benar", kata Maura sambil tersenyum manis.
"Itu baru Maura yang ku kenal selama ini", kata Citra.
"Kamu bisa aja"
"Ya bisa lah"
"Ih Citra"
"Hehehe"
20 menit berlalu mereka berdua di dalam Citra menemani Maura menjaga Ryan.
"Kamu bilang tadi jika kau memiliki putri yang baru saja lahir?", tanya Citra mencari topik karena bosan.
"Iya emang kenapa?", tanya Maura balik.
"Gak kok cuma memastikan lalu apa kabar anak 3 tahun lalu?", tanya Citra lagi.
"Tentu saja mereka sudah tumbuh besar masih tanya lagi tapi kayak nya kau tak tahu kalau mereka anak kembar 3 kan?", kata Maura melirik Citra melihat respon nya.
"UAPA?!", teriak Citra kaget.
"Ssst, ini rumah sakit lagian juga ini ruang icu kamu ini", kata Maura Langsung membungkam mulut Citra.
Takut keadaan Ryan makin memburuk.
"Gila, sekali buat tiga jadi astaga aku gak nyangka loh Ryan sekuat itu dalam hal begini", kata Citra menatap tak percaya Maura.
"Yah, keturunan keluarga Ryan juga banyak nya anak kembar bahkan ibu mertua ku terakhir kali hamil lahir nya malah 5", kata Maura menatap lembut Ryan yang masih terbaring lemah.
"Hah, benar-benar deh ternyata turunan", kata Citra sembari mengelus dada nya lega.
"Belum makan ya? Sama aku juga ya udah aku keluar ya beli makanan", kata Citra sambil berdiri hendak keluar.
"Eh? Tunggu pake uang ku aja", kata Maura mencegah Citra keluar.
"Gak papa anggap aja ini bayaran ganti atas traktiran mu saat itu bye", kata Citra menolak.
"Baiklah"
Tersisa Maura sendiri ia menatap Ryan sambil membelai pucuk kepala Ryan lembut.
Tapi tiba-tiba tangan nya di pengang kuat oleh tangan Ryan.
Hal itu membuat Maura terkejut dan langsung memanggil dokter.
Tapi lagi-lagi tubuh Maura di tarik ke belakang saat ia hendak berdiri.
Maura melihat sang pelaku betapa terkejutnya ia melihat Ryan menatap nya sedih.
"L-lepas sayang kau juga baru siuman", kata Maura berusaha melepaskan diri nya dari pelukan Ryan.
"Akan ku lepas hah tapi hah kau jangan pergi", bisik Ryan dengan nafas terengah-engah.
"Iya aku janji gak pergi sekarang lepaskan aku aku mau manggil dokter", kata Maura berusaha lagi melepaskan diri.
Akhirnya Ryan melepaskan Maura baru saja Maura mau keluar Citra sudah masuk.
"Eh?! Ryan?!!! Lo udah sadar?! Kan ku bilang apa percaya deh tidak ada hal mustahil di dunia ini jika tuhan berkehendak", kata Citra sedikit terkejutnya karena Ryan tiba-tiba bangun.
"Iya kau benar", ucap Maura malu dengan dirinya dan tingkah nya selama ini.
__ADS_1
"Aku panggil dokter dulu ya", kata Citra keluar lagi setelah meletakkan bungkusan makanan nya.
"Sudah berapa lama aku gak sadar?", tanya Ryan yang masih kesusahan bernafas.
"Sudah 2 setelah bulan sejak itu dan Viola bahkan sudah lahir", jawab Maura enggan menatap Ryan.
"Hah, bicara itu menatap lawan bicara nya bukan membelakangi lawan bicara nya", kata Ryan menarik lagi tubuh Maura.
Kali ini posisi Maura di atas badan Ryan tak ada jarak di antara mereka.
Di susul dengan masuk nya dokter dan Citra.
"Ehem maaf menganggu", kata Citra mencairkan suasana.
Maura merasa malu akan tingkah cowok di hadapannya ini.
"Kenapa kau menatap ku begitu?", tanya Ryan berkeringat dingin.
"Karena saat ini kau masih sakit maka hukuman nya saat kau sembuh", bisik Maura lalu turun dari bangsal.
Dokter pun memeriksa keadaan Ryan tak melewatkan satu pun.
"Bagaimana dok?", tanya Maura bimbang.
"Kesehatan nya lebih membaik dari sebelumnya hanya saja pasien masih kesusahan bernafas", jelas dokter lalu pamit pergi.
"Yah, kalian gak akan datang saat reuni dong", kata Citra kecewa.
"Habis aku sembuh aku masih ada urusan lagian aku ke sini gara-gara urusan kantor tak tahu nya sampai di sini malah kecelakaan", kata Ryan dingin.
"Untung gak ada anak kalian yang ikut lalu Omong-omong aku gak pernah lihat satu kembaran anak kalian", kata Citra penasaran dengan satu nya.
"Rifki? Anak itu 11 12 sama Ryan", jawab Maura.
"Dia mirip Ryan?", tanya Citra.
"Ya"
"Oh ya udah aku balik kamar ayah ku ya", pamit Citra.
"Iya"
Setelah itu hanya keheningan menyelimuti mereka.
"Maaf sudah membuatmu hidup seperti ini", kata Ryan membuka topik.
"Gak papa kok toh aku masih punya ayah, ibu, dan yang lainnya", kata Maura tersenyum ke arah Ryan.
"Syukurlah kalau begitu jadi aku menang taruhan kan?", kata Ryan menatap Maura seperti menangih hutang.
"Iya-Iya mau apa kau?", tanya Maura sewot.
"Mudah saja kau tinggal dengan ku selamanya jangan pergi lagi hingga maut memisahkan dan dengar apa yang aku ucapkan ya sayang", kata Ryan lembut.
"Ku kira apa baiklah makasih sudah kembali sayang", kata Maura menatap lembut Ryan.
Di tempat lain
"Katakan pada keluarga Mahesa aku sudah menguasai semua nya", kata Arfan dingin.
"Baik tuan"
"Sisa nya tinggal ada pada Ryan dan Maura proyek ini harus berhasil memancing mereka keluar", gumam Arfan dengan tatapan menusuk nya itu
__ADS_1