
Hi gimana kabar kalian? Lebih baik?", tanya Citra sambil melambaikan tangan saat kepala nya muncul di pintu.
"Tante ngingetin aja ayah mulai baik kok juga ibu", kata Rifki terkejut saat hendak keluar.
Citra menatap Rifki seolah merasa familiar dengan wajah nya entah ia pernah lihat di mana, ia tak ingat.
"Dek, orangtua kamu di mana? Dan kok kamu mirip seseorang sih siapa ya? Oh iya Ryan iya kamu mirip teman tante sangat mirip malah seperti copas pasti aja hehehe", kata Citra sambil membungkukkan badan menyamakan tinggi nya dengan tinggi Rifki.
"Rifki sayang kata nya tadi mau ke toilet atau mau ibu temani?", tanya Maura tiba-tiba sudah di belakang Rifki.
"Loh?! Anak kamu ya?! Kok gak bilang-bilang?! Mana lagi putra kamu ini copas paste Ryan banget kek kembaran aja", heboh Citra yang membuat orang-orang di rumah sakit melirik ke mereka.
Merasa malu Maura membungkuk badan meminta maaf dan menarik Citra masuk ke dalam kamar.
"Nak?", tanya Maura tengok ke belakang bertanya ke Rifki khawatir.
"Gak papa kok Ibu Rifki bisa sendiri aku duluan ya bu", jawab Rifki tenang.
"Oke sayang hati-hati kalau selesai langsung kembali ya", pesan Maura.
"Iya", jawab Rifki dan berlari kecil menuju toilet.
"Kamu ayo sini sahabat kok bikin malu-maluin aja", kata Maura ngomel-ngomel kek ibu-ibu.
__ADS_1
"Sumpah deh apa karena kau sudah menjadi seorang ibu maka nya berubah kek ibu-ibu yang suka ngibah ya", kata Citra tanpa dosa, memikirkan perasaan Maura.
"Minta di bunuh ya?", tanya Maura dengan senyuman yang sulit di artikan dan di mengerti oleh Citra.
"S-sorry", kata Citra ciut saat melihat senyuman itu lagi.
Iya, senyuman psikopat khas Maura yang sudah sering Citra lihat sejak smp.
"Ku kira dia sudah berubah ternyata semakin mengganas aja karena apa ya?", pikir Citra dilanda kebingungan dengan tingkah Maura yang tak di mengerti lagi oleh Citra.
"Itu karena Maura sudah bersama ku selama 3 tahun", jawab Ryan tiba-tiba yang membuat Citra melongo.
Gimana gak melongo, Citra hanya berpikir sesuatu kenapa Ryan menjawab nya seolah cowok ini bisa membaca pikiran nya saja.
"Keluarga? Emang Ryan keturunan siapa?", tanya Citra benar-benar tak mengerti.
Citra tahu Ryan tidak pernah cerita soal keluarga nya bahkan ia tak pernah sekali pun membawa orangtua nya ataupun kerabat nya sama sekali.
"Saya akan menjawab nya tapi dengan satu syarat", kata seseorang di belakang mereka.
"Apa syarat nya tuan?", tanya Citra kaget karena ia tiba-tiba bicara.
"Kau harus memberikan kami informasi mengenai gerak-gerik keluarga Djafar jangan sampai satu orang pun mengetahui keberadaan Maura yang bersama kami karena hal itu membahayakan kedua belah pihak", jelas nya dengan serius membuat Citra menelan ludah.
__ADS_1
"Santai aja asal kau mau Citra", kata Ryan sambil menatap intens Citra.
"Gimana mau santai kalau kalian aja menatap aku begitu", kata Citra membela diri.
"Jadi kau mau?", tanya orang itu lagi lebih serius menatap Citra.
"O-oke saya mau hanya memberikan informasi dan mengawasi kan?", tanya Citra memastikan takut di minta yang aneh-aneh lagi.
"Cuma itu jadi kau mau kan?", tanya Ryan lebih santai.
"Oke deal jadi beri aku jawaban yang ku mau", kata Citra tak sabar lagi.
"Oke jangan kaget namaku Ryan Adinata Mahendra Mahesa orang itu ayah ku, Moh. Arfan Mahesa", jawab Ryan sombong.
Jangan tanya lagi reaksi Citra ia benar-benar terkejut tak bisa berkata-kata lagi.
"Jadi aku berurusan dengan keluarga semacam ini? Ukh, udahlah pasrah aja Baiklah aku akan tutup mulut juga jadi ini kerja sama ya yang saling menguntungkan tuan mohon kerja sama nya", kata Citra mengulurkan tangan.
"Iya mohon kerja sama nya", kata Arfan menyambut tangan Citra.
Jangan lupa vote dan komen nya ya terima kasih atas support nya
See you
__ADS_1