
Tokyo, awal musim gugur tahun 2014. Saat di mana angin berhembus kencang dan dedaunan kering bertaburan di mana-mana.
Di kerumunan orang-orang berlalu lalang tampak jelas seorang anak yang tengah menikmati angin di sore hari itu.
"Nizar!!!", seru seorang gadis kecil yang tengah berlari menghampiri anak laki-laki itu.
"Ka Diandra? Ada apa?", tanya Nizar.
"Pake nanya lagi di cariin ibu tuh", jawab Diandra sambil menarik tangan Nizar.
Sesampainya di rumah
"YUDHA RAFFINNIZAR VALENAR MAHESA", teriak Anisa sambil membawa sapu.
Seketika Nizar merasa hawa membeku menyelimuti dirinya.
"Putraku sayang", panggil Anisa dengan senyuman lembut bukan itu senyuman malaikat pencabut nyawa.
"Ya ibu", sahut Nizar yang sudah berkeringat sambil melirik sekeliling nya meminta pertolongan namun sayangnya tidak ada yang menolong nya.
"KERJA PR MU WAHAI ANAK MUDA!!! KALAU TIDAK SIAP-SIAP MENDAPAT HADIAH MANIS DARI AYAH MU", seru Anisa yang membuat Nizar bergidik ngeri.
"B-baik"
"Anak itu akhirnya mendengar", kata Arfan sambil menghela nafas.
"Dia kan tidak mau menerima hadiah mengerikan darimu sayang", kata Anisa.
"Mau ke mana?", tanya Arfan heran melihat Anisa berbalik badan.
"Hm? Emang apalagi? Tentu saja memasak kau gak mau makan?", kata Anisa sambil memainkan panci kesayangan nya.
"Mau kok makan ya udah aku ke kantor bentar ada meeting nanti balik lagi kok", kata Arfan sambil bersiap-siap.
"Kerja mulu apa sih enak nya kantor? Betah amat sih kamu di kantor mau hari biasa atau libur kantor mulu", cerocos Anisa sambil berjalan menuju dapur.
"Kalau aku gak kerja kau dan anak-anak mau makan apa? Tinggal di mana? Aku gak mau balik ke rumah orangtua kita apapun alasan nya sampai rencana ku mencapai target", kata Arfan sambil mengepalkan tangan nya.
__ADS_1
"Apa salah nya kalau kita pergi ke Jakarta sekali-sekali? Hik kau selalu mengurung ku di sini apa-apa harus izin sejak aku menikah aku ngerasa di penjara tahu!!!", teriak Anisa sambil melempar salah satu gelas di rak.
"Marah? Terus kenapa kau mau negosiasi dengan ku perkara 12 tahun lalu?! Aku sudah memberikan mu pilihan ikut dengan ku atau hidup dalam ketakutan tanpa akhir sampai ajal menjemput mu!! Juga aku memberikan mu pilihan menggugurkan anak kita 12 tahun kalau kau tidak ingin anak dari orang sepertiku?! Paham?!", seru Arfan murka.
"Mereka anak-anakku Arfan!! Aku tidak ingin menjadi pembunuh apalagi membunuh darah daging ku!!", teriak Anisa.
"Memang nya kau tidak ingat saat kita kehilangan Revan?! Sampai sekarang aku harus mengekang kebebasan anak itu!! Lalu kau tidak ingat saat 12 tahun lalu kita kehilangan Reyhan dan Rena?! Kita kehilangan anak kita gara-gara siapa?! Hah?! Jangan berlagak kau yang selama ini menderita sendirian!!! Aku juga menderita!! Kita semua menderita!! Kau tidak sendirian, Anisa", jelas Arfan sambil perlahan mendekati Anisa dan memeluk nya begitu erat.
"Hik, m- maaf maafkan aku sayang. Aku egois ya maaf sayang maaf", kata Anisa di sela - sela tangisan nya.
"Sudah tidak apa - apa sudah hapus air matamu sayang", kata Arfan sambil mengelap air mata dan ingus Anisa memakai sapu tangan nya.
"Nih ingus kamu banyak banget", kata Arfan tersenyum jahil.
"Ish Arfan ih", kata Anisa tidak terima sambil memukul lengan Arfan.
"Aw sakit sayang sudah ya sayang", kata Arfan sambil tertawa kecil.
"Gak", ucap Anisa tegas.
"Kak Ryan", kata Nizar.
"Hm", sahut Ryan yang sibuk tugas-tugas nya karena ia sudah kelas 8 smp persiapan ujian kenaikan kelas.
"Hati kakak sakit tidak saat ayah dan ibu bertengkar?", tanya Nizar.
"Yah ketimbang sakit kakak sangat marah tapi bukan ke ayah maupun ibu", jawab Ryan.
"Lalu kakak marah ke siapa?", tanya Nizar.
"Kakek dari ayah dan ibu", gumam Ryan dingin.
"Kakek pihak ayah dan ibu?", gumam Nizar.
"Kalau begitu aku tanya lagi kak. Perasaan kakak saat kehilangan kak Revan atau adik kembaran kakak bagaimana?", tanya Nizar lagi.
"Hancur", jawab Ryan dingin dan tatapan mata yang kosong menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Hening. Tak ada pembicaraan lagi antara mereka. Sibuk dalam urusan masing-masing pikiran.
"Kak Ryan jika aku juga nyusul kak Reyhan dan kak Rena? Apa kakak juga akan hancur karena kehilangan adik-adik kakak?", tanya Nizar tanpa beban.
Buku yang di baca Ryan terjatuh laki-laki muda itu menatap adik laki-laki nya yang masih berusia 7 tahun itu tak percaya dengan apa yang ia katakan bahkan mulut nya tak mampu menjawab pertanyaan yang sangat sederhana itu.
"Nizar sini bantu kakak", teriak Reyna dari dalam gudang.
"Iya kak"
Nizar berjalan melewati Ryan begitu saja. Ryan? Pemuda itu masih syok dengan pertanyaan adik kecil nya yang masih berusia 7 tahun itu.
"Aku memiliki firasat buruk", gumam Ryan.
Sejak kejadian itu baik Ryan dan Nizar tidak pernah mengobrol lagi.
Hingga kejadian itu terjadi... TRAGEDI BERDARAH YANG MENGHILANGKAN NYAWA KEDUA ANAK KECIL.
Jangan tanya kenapa gak nyambung dengan chapter sebelum nya ya ini chapter memori Ryan terkait tragedi kematian Diandra dan Nizar sekaligus.
Lalu mana tragedi nya? Sabar ada di chapter selanjut nya😊.
Lalu kapan up chapter selanjut nya? Entahlah saya juga gak tahu🗿.
Tergantung mood saya aja mau up atau tidak ya jadi maaf kalau up nya hampir 1 bulan biasa nya ya.
Yang penting masih up kan? Masih lanjut kan? Jadi jangan berkecil hati dan tetap dukung ya sampai cerita nya tamat👍.
Kapan tamat? Entahlah juga🗿. Yang pasti saya sudah menyiapkan ending yang akan memuaskan kalian kok🤸♀️.
Sad or happy? Itu sih penilaian kalian saja. Yang pasti saya sudah menyiapkan ending nya sejak memulai cerita ini.
Terakhir, apakah ada mayat? Sejauh ini kan ada🤭. Tapi untuk mematikan karakter kemungkinan ada, sekitar 50:50% itu kemungkinan nya. Lalu siapa yang bakal di matiin? Itu rahasia ya.
Thank's yang masih membaca sampai sejauh ini saya sebagai penulis gak akan mengecewakan kalian kok dan akan terus menghibur kalian.
See you..
__ADS_1