Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
62


__ADS_3

Sehat? Alhamdulillah saya juga baik dan sehat. Udah pada nunggu gak sama kisah mereka? Langsung aja deh selamat membaca.


Keesokan harinya Maura terbangun dan tidak menemukan Ryan di manapun.


"Ryan ke mana ya? Jam berapa ini?", tanya Maura sambil mencari ponsel nya.


"Udah jam hah sudah jam 12 siang ternyata aku kesiangan", kaget Maura Langsung keluar kamar dan mendapati Faisal yang baru saja pulang sekolah.


"Eh kak Maura? Baru bangun?", tanya Faisal. Ia melihat Maura seperti mencari sesuatu.


"Di mana kakakmu?", tanya Maura tanpa menjawab pertanyaan Faisal.


"Oh kakak lagi keluar dari pagi mau ngumpulin skripsi nya ini tahun terakhir nya ya gak sampe satu tahun aja udah mau lulus aja emang kalau sudah pintar lulus sekolah pun menjadi lulusan termuda", kata Faisal.


"Padahal baru s3 kan? Kok udah lulus aja", heran Maura dengan cowok yang akan ia nikahi nanti. Jika ayah dari anaknya udah begitu bagaimana dengan anak-anak nya?.


"Kakak udah lama s3 sih cuma banyak kerjaan aja jadi tertunda juga kuliah s3 nya ada sekitar 2,7 bulan aja beda saat s1 dan s2", jelas Faisal sambil menghitung lama nya Ryan kuliah.


"Ini gak terhitung sama waktu semasa sekolah", kata Faisal lagi membuat Maura melongo.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ryan", panggil Maura dengan aura menyeramkan hal itu membuat Faisal mundur dan langsung lari ke kamar nya daripada menjadi santapan dari dua orang pasangan yang memiliki aura yang sangat menyeramkan itu.

__ADS_1


"Apa?", sahut Ryan santai memandang Maura yang sudah mentap lapar Ryan.


"KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU KAU SUDAH MAU LULUS KULIAH AKU AJA GAK LULUS SMA LAH KAU?! STUDI PENDIDIKAN MU SUDAH SELESAI!!! GAK ADIL INI GAK ADIL!!"


Maura merengek seperti bayi saja. "Apa efek hamil muda ya? Seperti ibu dulu", pikir Ryan mengingat bagaimana ibu nya sedang hamil muda dulu dan ayah sudah seperti orang kesurupan saja menghadapi ibu yang banyak maunya untung saat itu ibu hamil muda gak seperti waktu lagi mengandung dia dan Reyna itu mah lebih ekstrim lagi gila nya ayah. Begitulah kisah yang pernah ayah ceritakan sebelum dia dan Reyna lahir.


Mungkin situasi itu saat ini sedang Ryan alami. "Ayah sepertinya Ryan sekarang paham perasaan ayah saat urus anak istri di samping mencari nafkah", pikir Ryan.


"Duduk dulu kita minum teh sambil bicara dulu nona", kata Ryan berusaha menenangkan ibu hamil satu ini.


"Ok"


Untung Maura mau di ajak kerja sama kalau tidak sudah tidak tahu nasib Ryan sekarang di tangan calon ibu ini.


"Pelajaran dari ayah bermanfaat juga di saat seperti ini", gumam Ryan mengingat pesan Arfan dulu "nak jika suatu hari kamu punya istri dan dia marah kamu perlu lakuin ini saja negoisasi bersama buat dia lupa rasa marah nya seperti yang ayah lakukan ke ibumu kamu paham?", pesan Arfan ke Ryan yang saat itu berumur 7 tahun.


"Hebat anak ayah pintar", ucap Arfan sambil mengangkat tubuh kecil Ryan.


Mengingat memori masa kecil memang kadang membuat Ryan sedih campur senang.


"Kamu mau apa?", tanya Maura bingung melihat Ryan mengambil gitar.


"Ya nyanyi lah", jawab Ryan ketus.


"Kayak suara mu bagus aja", sindir Maura.

__ADS_1


"Ya bagus lah dengar ini ya", kata Ryan mulai memetik gitar dan menghasilkan nada yang merdu di susul nyanyian merdu Ryan.


Memang sih suara Ryan mampu menghipnotis siapa pun termasuk Maura saat ini.


Lagu yang di bawakan Ryan mirip dengan lagu sang composer cilik.


"Lagu mu mirip composer muda itu", ucap Maura merasa nyaman bersandar di bahu Ryan.


"Karena composer cilik itu adalah aku", jawab Ryan dan melanjutkan permainannya.


Maura diam seribu bahasa ia tak menyangka cowok ini punya banyak bakat.


"Kapan-kapan nyanyi bareng yuk", ajak Maura.


"Hm"


Suara Ryan yang merdu membuat Maura ingin tidur.


Ryan menyadari nya dan mendapati Maura yang sudah tidur di pangkuan nya.


"Dasar cewek kebo membuat ku repot saja", kata Ryan sambil mengendong Maura ke kamar.


Kapal Ryan & Maura siap berlabuh .


Dukung terus ya Jangan lupa vote dan dukungan kalian ya.

__ADS_1


See you


__ADS_2