Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 39(s2)


__ADS_3

Balik lagi nih maaf gak update-update selama ini aku agak kehabisan kata-kata buat lanjutin tapi karena kalian masih setia nungguin ya udahlah saya lanjutin hingga tuntas. Semoga ke depan nya gak terlalu mengecewakan kalian🙏.


Selamat membaca....


"Yah, kalian bakal balik ke Tokyo? Sedih nya aku", kata Citra sambil memasang wajah cemberut nan sedih.


"Alay deh", sarkas Ryan dingin sambil mengendong Fadli.


"Ra, lihat betapa jahat nya suamimu ini ku harap anak kalian gak ngikut kek bokap nya ini yang super duper kek kulkas", cerocos Citra sambil menatap Ryan garang.


"Hihihi, udahlah Cit kan kita masih bisa kontakan juga", kata Maura sambil tertawa kecil.


"Iya sih, tapi....", kata Citra sambil menundukkan kepala sedih.


"Oh ya, jangan lupa tugasmu nanti ya kalo kau mau kami tinggal di Jakarta selamanya bantu aku nyelesaiin masalah yang di buat keluargaku dari generasi sebelum nya", kata Ryan.


"Iya aku tahu itu kok tapi kenapa kau tidak hancurkan saja liontin itu kan semuanya berawal dari kekuatan magis liontin itu yang membuat keturunan pemakainya seakan di kutuk?", saran Citra sambil berpose berpikir.


"Kalau segampang itu ayahku tidak perlu bersembunyi dari orang itu lagian kita tidak tahu resiko apa yang akan terjadi jika liontin leluhur itu di hancurkan", jawab Ryan serius.


"Sulit juga karena tidak ada jalan keluarnya tapi jika liontin itu jatuh ke tangan orang itu atau orang yang salah bencana besar akan terjadi kan? Bisa gawat itu", kata Citra.


"Benar, aku harap masalah ini selesai di generasiku tanpa melibatkan generasi yang selanjutnya", kata Ryan.


"Kau benar", gumam Citra.


"Ah, tanpa sadar kita membicarakan nya terlalu lama m- maafkan aku kalian pergilah nanti ketinggalan pesawat", tambah Citra sadar dari lamunan nya.


"T- tidak apa-apa kok kami pamit ya anak-anak juga pamit sama tante Citra bilang juga terima kasih", kata Maura menyuruh ke-3 anaknya salaman ke Citra.

__ADS_1


"T-terima kasih tante", kata mereka serempak.


"Ah, terima kasih kapan-kapan datang lagi ya kita main bareng lagi ajak Viola juga nanti", kata Citra sambil membungkukkan badan nya sedikit supaya sejajar dengan tinggi Rifki, Fira, dan Fadli.


"Iya tante/oke tante/ya tante", kata mereka bersamaan.


"Dah ya Citra", kata Mura sambil melambaikan tangan ke Citra dan Citra membalas lambaian itu.


Seiring keluarga itu menghilang di antara kerumunan orang-orang di bandara.


"Waktu ternyata berlalu cepat padahal rasanya baru kemarin aku bercanda tawa dengan Maura tapi sekarang dia terasa jauh dan asing dia bukan sahabat ku yang ku kenal 4 tahun lalu dia sosok Maura yang dewasa dan seorang ibu serta istri yang baik", gumam Citra dan segera ia berbalik badan meninggalkan bandara.


"Tunggu, apakah perempuan akan seperti itu setelah menikah? Apa aku juga harus menikah juga biar menjadi seperti Maura? Tapi dengan siapa aku menikah? Argh, lupakan saja", pikir Citra dan pergi meninggalkan bandara.


Di swiss


"Yuni", panggil Reyhan. (Di sini aku ganti nama Yuli jadi Yuni karena seingatku udah kepake nama Yuli tahulah siapa kalo lupa nih ku kasih ingat istri nya Revan).


"Kau- kau gak ada niatan nerima aku untuk seumur hidup?", tanya Reyhan.


"A-a- UUUAAAAPPPPAAAA?!", teriak Yuni dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.


"Yah, menurutku pacaran kek gini di pikir-pikir bakal ada rumor aneh kek gitu kalau kamu gimana sayang? Ryan aja to the point loh aku juga ke pengen sama kamu buat selamanya gitu", ucap Reyhan malu-malu.


"T- tapi selama ini kita pacaran gak ada tuh rumor aneh-aneh jadi menurutku gak papa lalu soal Ryan kan beda cerita dia nikah gara-gara Maura juga udah mengandung anaknya", kata Yuni dengan rona merah di pipi nya.


"Jadi kau mau bilang jika kau hamil kita juga bisa kan hidup buat selamanya sampai maut memisahkan begitu kan?", tanya Reyhan sambil berjalan mendekati Yuni dan membuka setiap kancing baju nya.


"E-eeeehhh?! M- mmmmaaksud kamu ap-a sayang? Aku gak paham", kata Yuni yang sudah berkeringat dingin.

__ADS_1


"Hm?", alih-alih menjawab Reyhan malah tersenyum manis di depan Yuni.


"Sayang? Kok rasanya dingin ya?", tanya Yuni berusaha mengalihkan topik.


"Dingin?", tanya balik Reyhan sambil menjilati bagian leher Yuni.


"I- itu geli sayang, iya dingin", jawab Yuni berusaha menahan nafsu nya.


"Oh? Biar ku buat kau panas hari ini lupakan soal tugas sekolah toh kita sudah kuliah kok", bisik Reyhan yang masih menjilati leher Yuni.


"A- aaapppaaaa?! T-tttttuuuunnnnggguuu REYHAN!!!!!!!!", teriak Yuni.


"Akan ku buat kau tidak bisa bangun berhari-hari menyesal sekarang tidak ada artinya lagi", kata Reyhan sambil membuka baju nya dan menyergap Yuni dengan brutal.


"Ah~ah~ hentikan sayang~~~ah~ah", Yuni pun mulai mendesah pelan dan hanya pasrah melawan pun tidak ada guna nya.


"Tidak ada jalan keluar sayang hari ini hingga malam temani aku main", bisik Reyhan dan melanjutkannya.


Kali ini Yuni tidak bisa menahan nya lagi dan terus mendesah dan juga merutuki dirinya yang mengatakan hal seperti tadi.


"Nyesel aku membandingkan dirinya dan Ryan", pikir Yuni.


Hm🤔🤫 main apa hayo😉 siapa nih yang brutal🤭.


Aku aja yang buat langsung mengutuk diriku yang membuat cerita di chapter kali ini malah seperti ini.


Kebayang gak😁 ayo halu bersama🤸‍♀️😘.


Jangan lupa vote dan komen ya juga untuk ke depan nya ini benar-benar bagai bom atom konflik nya ada scence yang bakal ke ambil di s1 tapi bagian yang tidak ku perlihatkan aja.

__ADS_1


See you....👋👋👋


__ADS_2