
...Kadang segala nya yang di dapatkan penuh perjuangan dan pengorbanan banyak walau banyak rintangan tak ada kata untuk mundur...
...~Ryan Adinata Mahendra Mahesa ~...
Flashback 3 tahun lalu saat Ryan tiba di Tokyo bersama Maura setelah urusan di Jakarta selesai.
"Akhirnya sampai", kata Ryan menghela nafas lega karena perjalanan nya cukup jauh.
Maura menatap sekelilingnya asing walau ia pernah ke Tokyo sewaktu kecil tapi tetap saja lingkungan nya agak asing bagi nya sekarang.
"Ku kira kau sudah terbiasa ternyata terasa asing ya bagimu", kata Ryan melihat Maura yang seperti anak kecil yang kehilangan induk nya.
Maura memasang wajah cemberut dan memalingkan wajah nya dari Ryan.
"Ngambek aja ku tinggal kau", kata Ryan mempercepat langkah nya.
Sontak Maura berlari kecil mengejar Ryan tak mau di tinggal.
"Jangan main tinggal aja nanti aku sendiri gak tahu mau ke mana", kata Maura sambil berjalan beriringan di samping Ryan.
Ryan menanggapi nya dengan tertawa kecil. Menurutnya Maura imut saat ngambekan.
"Siapa yang jemput? Gak mungkin kan kita cuma putar-putar bandara", tanya Maura sadar daritadi mereka cuma jalan-jalan tanpa arah.
"Bentar juga dia tiba tunggu aja", jawab Ryan sambil menekankan kata 'dia'.
Maura gak mau nanya lagi dan memilih menunggu sambil berjalan mengelilingi bandara, IYA MENGELILINGI BANDARA TOKYO YANG SANGAT-SANGAT LUAS.
"Gak capek apa putar-putar begini terus? Aku capek tahu", kata Maura mulai mengeluh.
"Kau capek aku lebih capek", jawab Ryan ketus.
"Gak niat amat jawab nya bang kalau capek istirahat yuk", ajak Maura mencoba membujuk Ryan.
"Yah gimana aku memang capek tapi kata dokter aku harus jalan-jalan kalau sampai di Tokyo", kata Ryan sambil menggaruk belakang kepala nya.
"Ih alasan doang gak mau duduk kan? Lagian kenapa kalau sampai di Tokyo harus jalan-jalan?", kaya Maura tambah ngambek dengan menyilang kedua tangan nya di dada.
Ryan sebenarnya gak mau duduk atau luka sebelumnya membeku karena ia gak berkeringat tapi ia juga malu di liatin oleh banyak orang karena tingkah Maura.
"Hah, baiklah kita duduk", kata Ryan pasrah. Ia gak bisa berbuat apa-apa di hadapan si bumil.
"Asyik singgah beli ee krim yuk", pinta Maura sambil menunjuk ke salah satu toko.
"Iya-Iya"
Akhirnya mereka berdua duduk menunggu sambil memakan es krim masing-masing.
"Enak", kata Maura sambil memakan es krim nya belepotan.
"Kayak punya anak deh aku padahal istri sendiri kelakuan kayak anak kecil efek hamil mungkin seperti ibu dulu", pikir Ryan sambil memandang Maura yang memakan es krim nya sampai belepotan di mulut nya.
"Kamu itu kek anak kecil aja makan es krim nya itu sampai belepotan di mulutmu", kata Ryan sembari mengambil tisu nya dan mengelap nya di mulut Maura.
"Nah udah bersih", kata Ryan agak menjauh sedikit dan Maura yang seketika membeku di tempat.
Terlihat jelas wajah tomat Maura sedari tadi saat Ryan membersihkan mulut nya yang penuh krim vanila dan stroberi.
"M-makasih kau juga tak perlu sedekat itu", kata Maura sambil menutup wajahnya malu.
Ryan hanya terkekeh melihat reaksi Maura yang malu-malu terhadap nya.
__ADS_1
"Nanti di biasakan", bisik Ryan menjahit Maura dan Maura semakin menjauh dengan kedua tangan nya yang masih menutupi wajah nya.
"Aku ke toilet dulu ya", izin Ryan hendak pergi.
"Iya jangan lama-lama ya", kata Maura menatap Ryan seolah berkata "Gak mau sendiri".
Menurut Ryan sifat Maura yang seperti itu sangat lucu dan gemas.
Tak lama Ryan pergi datang seorang gadis yang kelihatan nya seumuran dengan Maura.
"Hai maaf lama menunggu si kulkas mana?", tanya cewek itu ramah.
"Kamu siapa? Datang-datang gak jelas lalu maksud kamu si kulkas siapa?", tanya Maura agak risiko dengan kehadiran cewek itu.
"Ryan di mana?", tanya cewek itu lagi. Maura paham sekarang dan menyilangkan tangan nya di dada.
"Ngapain cari dia? Lalu kamu belum jawab siapa kamu?", tanya Maura mulai jengkel.
Cewek itu mulai geram dan berusaha menahan emosi nya.
"Ternyata si kulkas gak bilang ya siapa yang jemput awas aja dia pas balik", kata cewek itu dengan tatapan berapi-api.
"Heh kebo lama amat sampai nya kamu apakan Maura?", tanya Ryan mengatai cewek itu sewot.
"Heh kulkas!! Kamu yang kenapa gila gak kasih tahu kalau aku yang jemput", marah cewek itu.
Dan terjadilah adu mulut di antara mereka berdua sedangkan Maura sendiri kek orang asing aja yang gak tahu apa-apa.
"Kok lama?", tanya seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Itu", kata Maura melirik Ryan dan cewek itu yang masih adu mulut.
"Ryan!!! Reyna!!! Stop!!! Ayo pulang!!!", teriak cowok itu.
Selama perjalanan mereka asyik ngobrol dan Maura jujur gak paham topik pembicaraan nya.
"Ahahhaha eh Maura sampai lupa ada kamu ayo ini lucu", kata Reyna mengajak Maura dan Maura masih canggung karena kejadian tadi di bandara.
Sesampainya mereka betapa terkejutnya Maura melihat desain rumah di depan nya yang terlihat sederhana namun memberikan kesan mewah.
Dan malah ia di sambut hangat oleh orangtua Ryan.
Betapa terkejutnya lagi Maura saat ia tahu bahwa orang tua Ryan merupakan dua orang yang sudah lama menghilang sejak 17 tahun lalu.
"Udah kenalan kan sama Reyna?", tanya Anisa sambil menarik lengan Reyna kasar.
"Iya tan", jawab Maura.
"Kok tante? Panggil ibu dong", ucap Anisa lembut. "Kamu kan juga bakal dari bagian keluarga ini, kan Reyna?", tambah Anisa.
"Iya"
"Maaf tapi Reyna kamu punya hubungan apa sama Ryan sampai memanggil seperti tadi di bandara?", tanya Maura curiga.
"HAH!! BUKAN SAJA GAK BILANG AKU YANG JEMPUT KALIAN DIA JUGA GAK BILANG AKU SIAPA?! IBU LIHAT SI KULKAS BERJALAN GAK MENGAKUI AKU SEBAGAI ADIKNYA", teriak Reyna marah gak terima.
"Adik?", tanya Maura lagi memastikan.
"Iya Reyna kembaran Ryan", kata Anisa membenarkan.
"Astaga aku gak tahu maaf", kaget Maura dan langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Gak papa lihat aja kulkas akan ku balas", kata Reyna penuh amarah.
"Lagian siapa yang mau mengakui adik kek kamu pemalas, kebo lagi heran aku darimana nya Vincet suka kamu? Gak ada menariknya sih kamu", ejek Ryan tiba-tiba entah datang darimana.
"Mau ku ajak keliling?", ajak Reyna girang.
"Boleh", kata Maura setuju dengan ajakan Reyna.
Reyna menceritakan semua nya tentang saudara nya, silsilah keluarga, rumah, semuanya deh pokoknya dan tentu saja Maura terkejut akan hal itu apalagi soal jumlah saudara Ryan.
"Ternyata Ryan paling tua ya itu berarti aku juga makan menjadi menantu paling tua?!", kata Maura terkejut dengan kenyataan itu.
"Mau gimana lagi itu benar", kata Reyna membenarkan.
Di kamar Ryan malam nya
"Kamu gak cerita semuanya", kata Maura ngambek lagi.
Ryan tahu maksud kata Maura. "Bukannya aku gak mau cerita tapi hal ini memang rahasia dan gak bisa sembarang di bicarakan", kata Ryan bersalah.
"Iya gak papa untuk ke depan nya jujur ya janji?", kata Maura dengan mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji"
"Oh ya, kata ayah tanggal pernikahan nya di percepat satu minggu mereka memang sudah mempersiapkan nya jauh sebelum kita datang", jelas Ryan.
Maura pasrah saja soal pernikahan nya tapi yang ia tak menyangka pernikahan nya akan seperti ini tanpa orangtuanya.
Hingga hari H tiba hari di mana kegembiraan itu juga kesedihan menyertai.
"RYAN'', semua orang panik termasuk Maura. Ia syok saat hari itu pikiran nya kabur ia gak bisa berpikir lagi untung ada Reyna dan Ayna menemani nya.
Di rumah sakit
"Apa kata dokter?", tanya Anisa khawatir.
"Luka Ryan saat kecelakaan pesawat di Jakarta membeku sepertinya ia tidak jalan-jalan saat tiba di Tokyo seminggu lalu", jelas Arfan.
Maura kaget mendengarnya alasan kenapa Ryan tidak mau duduk saat itu dan memilih jalan-jalan.
"I-ini salah ku aku yang mau duduk dan ngotot terus", kata Maura merasa bersalah atas apa yang sudah ia perbuat.
"Bukan salahmu tapi salah Ryan sendiri gak bilang-bilang soal kondisi nya", kata Reyna.
"Sudah Ryan akan sembuh jika istirahat cukup dan olahraga", kata Arfan menegahi.
"Baik"
Tentu saja Ryan di ceramahi habis-habisan oleh Anisa maupun Arfan.
Saat semuanya keluar dan tersisa Ryan dan Maura rasanya canggung.
"Maaf ya gara-gara aku kamu jadi begini", kata Maura menangis tertunduk.
Ryan bangun dan memeluk Maura. "Bukan, maaf aku sudah mengacaukan hari penting seperti ini bahkan malam pertama kita jadi kacau", kata Ryan lirih seperti menahan rasa sakit nya.
"Tidak usah pikirin itu istirahat lah dan ayo bangun keluarga kecil kita Ryan", kata Maura dengan senyuman nya walau terlihat di paksakan.
"Iya makasih masih mau dengan ku Maura", kata Ryan.
"Hm, dan akan selamanya begitu", kata Maura membenarkan.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komen ya dukung terus ya
See you Next time