
Hi maaf gak update selama sebulan ini karena setiap saya ingin lanjut selalu terkendala dan akhirnya lupa jadi saya mohon maaf semoga episode kali ini dapat menghilangkan rasa penasaran kalian.
Happy reading...
Sudah 2 bulan setelah kepergian Viola dan baik Maura dan Ryan hubungan mereka merenggang.
Taman halaman belakang
"Maura", panggil Reyna sembari menghampiri Maura yang tengah duduk di ayunan.
"Ra? Maura?!", hardik Reyna yang tiba-tiba sudah di depan Maura yang tengah melamun.
Maura yang sedang melamun terkejut dan menatap Reyna yang tengah menatapnya begitu tajam.
"Eh? Reyna? Ada apa?", tanya Maura sambil tersenyum.
Reyna menatap Maura lalu menghela nafas dan duduk di samping Maura.
"Mau sampai kapan kamu begini?", tanya Reyna menatap Maura serius.
"Maksudnya?", tanya Maura.
"Begini aku tahu perasaanmu kehilangan Viola aku juga pernah kehilangan anakku yang bahkan belum lahir tapi Maura berlarut dalam kesedihan terlalu lama gak baik buatmu dan Ryan seperti sekarang kau dan Ryan sering bertengkar dan itu sudah berlangsung 2 bulan jadi aku mau bilang tidak ada gunannya kau begini kenyataannya tidak akan berubah VIOLA TIDAK AKAN KEMBALI ingat itu", jelas Reyna.
__ADS_1
"Aku- aku tahu Rey tapi berat rasanya aku juga gak mau begini terus tapi apa yang harus ku perbuat?", kata Maura sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Ikuti kata hatimu perbaiki hubunganmu dengan Ryan kalau kau bersikap begini terus kau juga gak bisa mengendalikan Ryan yang keras kepala itu kau tahu sendiri kan? Si kulkas berjalan itu akhir-akhir ini mogok makan bahkan tidak pulang kalau kau tidak segera bangkit kau akan kehilangan orang kau sayangi hanya itu saja aku juga tidak mau Ryan sakit ataupun pergi jauh juga beban yang ia pikul sangat banyak walaupun begitu kita manusia tidak luput dari kesalahan hanya itu saja yang ingin ku sampaikan sisanya ada pada dirimu kakak ipar", kata Reyna bangkit dan pamit pulang karena Vincet sudah menjemputnya.
"Reyna benar harusnya aku tidak bersikap seperti ini oke pertama ayo bujuk Ryan pulang dan membicarakan masalah ini secara baik-baik", kata Maura penuh tekad dan semangat.
Ia bergegas masuk dalam rumah berniat membersihkan rumah dan mengurus hal lainnya sebelum ke kantor.
Di sisi Reyna
"Tadi lagi bahas apa dengan Maura?", tanya Vincet yang fokus menyetir.
"Hanya menasihatinya aku juga jenuh melihat hubungan mereka berdua yang tak kunjung membaik jadi aku hanya memberikan sedikit dorongan", jawab Reyna.
"Hah?! Aku kira dia mogok makan tetapi makan walaupun sedikit", kata Reyna terkejut karena biasanya Ryan tetap makan walau cuma dua sendok.
"Tidak, kali ini dia sangat keras kepala aku juga bingung mau gimana lagi supaya dia mau makan walau sedikit terlebih keadaan Ryan memprihatinkan dia sangat kurus", kata Vincet.
"Tidak boleh di biarkan terus ini kita harus melakukan sesuatu", kata Reyna.
"Iya aku setuju", kata Vincet.
Mobil Vincet melaju dengan sangat cepat membelah jalanan yang sepi itu.
__ADS_1
Di kediaman Arfan
"Apa?! Anak itu bahkan tidak makan apapun sedikit pun?!", teriak Anisa marah saat ia mendengar penjelasan Vincet.
"Sayang, kita harus melakukan sesuatu ini tidak boleh terus dibiarkan", kata Anisa menatap Arfan.
Arfan menghela nafas dan menatap putri dan menantunya tajam nan serius.
"Kita lihat dulu apa yang akan dilakukan Maura jika rencana Maura gak berhasil aku sendiri yang akan turun tangan mengurus anak itu", kata Arfan dingin.
Bersamaan itu Maura sudah berada di depan kantor milik Ryan.
Maura menghela nafas dan berkata "ayo kita berperang".
Maaf jika cuma segini waktu saya juga mulai padat dengan tugas-tugas kuliah tetapi saya tetap akan usahakan update terus juga cerita ini boleh di bilang belum puncak sih jadi masih jauh dari ending.
Karena saya menceritakan flashback dari sudut pandang Ryan dan Maura juga yang belum saya kupas cerita di s1 semoga suka ya.
Bye..
Follow juga:
Ig: friskapika_chan
__ADS_1