
3 jam lalu
"Ryan", panggil Maura khawatir dengan kondisi Ryan yang pucat.
" Ya kenapa? ", tanya Ryan.
" Kita mau ke mana? ", tanya Maura.
" Kota dalam keadaan kacau anak-anak dalam bahaya ", jawab Ryan.
Maura mengerti tujuan mereka saat ini.
" Ryan boleh aku tanya satu hal? ", tanya Maura.
" Ya"
"Kalung ini yang kau berikan padaku waktu kecil dan perpisahan kita di Tokyo dulu itu apa kau sudah merencanakan semua nya sejak awal? ", tanya Maura hati-hati takut Ryan marah.
" Iya tapi aku berubah pikiran saat kau ikut terlibat kejadian 8 tahun lalu dan aku menyadari sesuatu atas kejadian 26 tahun dan 8 tahun lalu", kata Ryan.
"Apa itu? ", tanya Maura. Sungguh ia sangat penasaran kaitan insiden yang menimpa mereka sejak kecil.
" Kau seharusnya tidak terlibat tapi", kata Ryan menjeda. Maura menunggu.
Ryan menarik Maura meyandarkannya di tembok dengan mengunci pergerakan Maura.
Maura merasa takut. Takut Ryan akan marah besar padanya.
"Aku sudah menyukaimu sejak awal bertemu tapi kenapa kau tidak pernah mendengarku? Kenapa kau selalu membahayakan dirimu? Kenapa kau selalu membuatku khawatir begini? ", kata Ryan menatap Maura sayu.
Maura terkejut, ia tidak menyangka Ryan masih mengingatnya.
Tragedi sebelum 8 tahun lalu sungguh menyakitkan bagi Ryan daripada dia.
Maura merasa bersalah dan sedih selama ini ia sudah di lindungi oleh cowok di hadapannya saat ini dan menanggung tanggung jawab yang berat selama ini.
Maura memeluk Ryan dan menangis dalam pelukan Ryan. Rasa penyesalan dalam hati Maura kepada Ryan selama ini, sungguh ia merasa menyesal dan bersalah.
Di sisi lain kelima anak nya melihat mereka dari jauh.
" Samperin yuk", kata Fira namun di cegah oleh Riski.
"Kenapa? ", tanya Fira bingung.
" Jangan, ayah dan ibu jarang memiliki waktu berdua karena kita jadi biarkan saja dulu untuk hari ini saja", kata Riski.
Fira mengerti dan menurut saja ketimbang di terkam kakak galak nya satu ini.
Begitu lama mereka begitu hingga wanita tua itu datang mengacau(memang dasar perusak momen).
"Hahaha.. Kalian memang mirip orangtuamu Ryan mahendra Mahesa"
Kata seseorang dari atas gedung sambil menembakkan pistol.
Peluru pistol itu hampir mengenai Maura namun Ryan melindungi Maura dengan tubuhnya.
"Dia.. "
Mereka terkejut melihat seseorang dari arah atas gedung menembakkan pistol dan sialnya ada peluru.
"Ryan, kau tidak apa-apa? ", tanya Maura khawatir.
" Tidak, tadi hampir saja kita harus pergi", kata Ryan menarik tangan Maura lari dari tempat itu.
Belum sempat mereka pergi wanita tua itu menembakkan pistol lagi.
"Ryan"
Darah segar mengalir dari tubuh Ryan Maura tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ayah ku mohon cukup", kata Fadli.
__ADS_1
Ryan melirik sumber suara dan mengatakan sesuatu " Jangan melawan balik tetap di sana jangan ikut campur"
Fadli terdiam dan Fira semakin ketakutan dan berusaha melindungi Farel dan Clara di mereka bayi di belakangnya.
Riski hanya menatap wanita tua itu datar dan dingin tanpa ekspresi.
"Hari ini kalian harus mati di sini", kata wanita tua itu tertawa bak orang gila.
" Dia sudah gila", gumam Fadli dengan tatapan membunuh.
Wanita tua itu menembakkan pistol nya lagi dan lagi-lagi mengenai Ryan.
"Ryan!! Hentikan kenapa kau terus melindungiku? ", tanya Maura yang sudah menangis memeluk tubuh Ryan yang sudah melemah.
" Kan sudah ku bilang kaulah orang yang berharga bagiku istriku sampai kapanpun", kata Ryan tersenyum lemah sambil membelai lembut pipi Maura dan turun ke bibir perlahan Ryan ********** lembut lama.
Maura awal nya terkejut tapi ia juga malah menikmatinya.
"Dunia serasa milik berdua saja", cibir Fadli.
" Ah gemess", teriak Fira kegirangan namun tiba-tiba mata mereka di plester.
"AH KAK RISKI GAK ADIL"
Fira maupun Fadli berteriak kesal karena mata mereka tertutup oleh plester.
"Serah kalian masih anak-anak gak boleh lihat", kata Riski.
" KALIAN MEMBUATKU MUAK DAN MARAH AKAN KU HABISI KALIAN SEKALIAN NYAWA DI BAYAR NYAWA", teriak nya layaknya orang gila malah melebihi orang gila.
Wanita tua itu menembakkan pistol nya lagi tapi alhasil meleset karena Ryan sengaja menjungkar balikkan badannya yang masih ******* habis bibir Maura.
Maura menatap Ryan cemberut dan Ryan hanya terkekeh.
Lagi-lagi wanita tua itu menembakkan pistol nya lagi Ryan mendorong tubuh Maura menjauh alhasil Ryan yang terkena.
"Ryan"
"Selamat tinggal tuan dan nyonya muda Mahesa", kata wanita tua itu menembakkan peluru terakhir nya.
" Ibu lari!! ", teriak Fira.
" Tidak bisa, kakiku terkilir", kata Maura berusaha bangun namun tidak bisa.
"Selamat tinggal"
Suara tembakan terdengar begitu nyaring hingga satu kita mendengarnya.
"Suara apa itu? "
"Ntahlah"
"Seperti suara tembakan"
Reyna yang berada di tempat Ryan dan Maura hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Wah wah, sama persis atas tragedi 22 tahun lalu ini semua salahmu dan keluargamu Maura yang sudah masuk ke kehidupan Ryan", kata wanita tua itu tertawa bak orang gila.
Reyna merasa kesal dengan wanita tua itu dan segera menghubungi Vincet.
" Halo segera tangani orang gila ini dan bawahannya", kata Reyna menahan a amarah.
"Siap nyonya"
"Apa maksudmu? ", tanya Maura tidak mengerti.
" Kau tak ingat? 22 tahun lalu RYAN ADINATA MAHENDRA MAHESA SUDAH MATI KARENA SALAHMU", kata wanita tua itu sambil menyeringai licik.
Maura terkejut ia ingat sekarang tragedi 22 tahun lalu di Tokyo. Saat itu ada perayaan musik tahunan anak.
Ia dan Ryan ikut, ia memainkan biola sedangkan Ryan memainkan piano.
__ADS_1
Ryan anak yang jenius, dia bisa memainkan alat musik apa pun yang bahkan anak lain seumurannya tak bisa mainkan.
Maura menangis sambil memeluk tubuh Ryan yang sudah berlumuran darah.
Rasa sakit dan penyesalan sekarang di rasakan Maura.
"J-jangan me-nangis sayang", kata Ryan lemah tersenyum sambil membelai lembut Maura.
" Itu bukanlah salahmu sampai kapanpun hanya kaulah wanita satu-satunya bagiku kaulah yang mengajarkanku arti sesungguhnya cinta", kata Ryan lemah.
"Cinta membawa kebahagiaan, cinta membawa kebencian, cinta membawa kehangatan, cinta juga membawa kematian", kata Ryan.
Maura ingat Ryan pernah mengatakan nya dulu waktu kecil dan ia menanyakan arti dari kata-kata itu namun Ryan menolak menjawab.
" Kau pernah tanya padaku arti dari kata-kata itu kan? "
Maura gak menyangka Ryan masih mengingatnya.
"Akan ku jawab kemarilah"
Maura mendekati dan Ryan membisikkan sesuatu.
Maura paham ia mengerti sekarang arti cinta bagi Ryan sebab itu ia tidak pernah melepas Maura lagi.
Maura melihat Ryan sudah tidak sadarkan diri.
Waktu kembali ke semula
"Ibu", panggil Reyna.
" Ada apa? Kok kamu lari-lari?", tanya Anisa khawatir karena Reyna sedang hamil.
"Aku dari tempat Ryan dan Maura", kata Reyna.
"Di mana? ", tanya Ayu.
Reyna menunjuk ke arah Sisi lain kota.
" Bukankah di sana sepi? ", tanya Joshua.
" Iya sepi wanita tua itu juga ada di sana dan sudah beberapa kali mencoba menembaki Maura tapi di gagalkan oleh Ryan ", jelas Reyna.
"Ryan sudah tidak sadarkan diri kita harus cepat bergegas sebelum banyak korban lagi", kata Reyna dan mereka bergegas pergi.
Arfan mengeluarkan ponselnya dari saku dan menelpon seseorang.
" Halo kak William "
"Iya kenapa? "
"Kumpulkan semua tim medis kita harus menyelematkan korban dan kakak ikut aku Ryan sekarat"
"Baiklah"
"Aku sudah kirim lokasi"
"Oke"
Sambungan telepon terputus
"Semua nya berpencar selamatkan korban segera dan sisanya ikut aku"
"Baik"
Hm? Panjang kan? Chapter ini spesial ku buat karena chapter ini akan mengarah ke kisah romance Ryan dan Maura 💏.
Semoga suka dan sebentar lagi info besar akan datang🙏.
Jangan lupa vote dan komen☑
Terus dukung ya supaya rajin update lagi👌.
__ADS_1
See you 👀