
"Ini tempat apa? "
Mereka terkejut melihat pemandangan tepat di depan mata mereka.
"Ini... Sungguh", kata Auora tak bisa lagi berkata-kata.
" Masya Allah ", takjub Bima.
" Tempat ini bukankah rahasia? ", tanya Wilson.
" Tapi di sinilah kita aman untuk sementara ", kata Andra.
" Ayo Auora ", ajak Mutia sambil menarik Auora masuk lebih dalam.
" Kita mau ke mana?", tanya Bima.
"Ikut saja gak usah banyak tanya", jawab Andra.
Di luar taman
" Kau mencari apa? ", tanya Luna.
Faisal tidak menjawab pertanyaannya dan tetap sibuk mencari sesuatu.
"Ini dia ayo masuk", kata Faisal diikuti Luna dan keempat anak kembar mereka.
" Ini sangat indah", kata Syifa dengan mata berbinar-binar.
"Tempat apa ini ayah? ", tanya Haris.
" Taman kesukaan tantemu yang sudah meninggal", jawab Faisal.
Luna sedikit terkejut ia ingat cerita kak Ryan soal saudaranya yang sudah meninggal secara tragis.
Hati Luna sedikit sakit dan sedih mengingat apa yang sudah dilalui laki-laki di depannya demi bertahan hidup.
"Jangan melamun ayo kita masuk Andra dan Mutia sudah menunggu", kata Faisal sambil menarik Luna masuk dalam ke taman.
1 jam kemudian akhirnya mereka sampai.
" Lama sekali", kata Andra cemberut.
"Lama gak ketemu Kak Faisal", sapa Wilson.
" Ya lama tidak jumps Wilson", kata Faisal.
"Siapa? ", tanya Luna.
" Oh, anaknya om Dimas dan tante Nanda", jawab Faisal dan mereka berjalan masuk lebih dalam.
"Seberapa jauh lagi kita akan masuk dan seberapa luaskah taman ini? ", tanya Auora.
" Jika kita hitung menurut rumus matematika maka seberapa jauh kita akan masuk? Maka jawabannya adalah 2,045 m lagi dan seberapa luaskah taman ini? Maka jawabannya adalah 1,345 m", jawab Faisal santai.
Mereka semua melongo taman seluas ini buat apa coba.
(Maaf kalau perhitunganku salah karena ini hanya asal dan saya tidak jago dalam berhitung jika kalian tanya berapa nilai matematika ku? Jawabannya sekitar 75-80 aja beda dengan pelajaran lainnya).
Di luar taman
Keadaan semakin kacau. Semua orang berlarian ketakutan tak tentu arah meninggalkan mobil dan alat transportasi mereka.
"Ini yang ku takutkan terjadi", kata Arfan.
__ADS_1
" Kita harus memikirkan jalan keluar dari kekacauan ini", kata Anisa berusaha tenang.
"Ibu", panggil Ayna.
" Ya ada apa? ", tanya Anisa pada putrinya.
" Kak Ryan dan Kak Maura tidak ada", kata Ayna.
Anisa terkejut karena Ryan menghilang ia takut terjadi sesuatu pada mereka.
"Di mana kamu nak? "
Anisa jadi tambah khawatir melihat begitu melihat keadaan semakin tidak terkendali.
Di lain sisi kota
"Apa yang sudah terjadi?", tanya William.
" Ini sangat kacau", kata Reza.
"Kita harus pergi dari sini", kata Romi sambil menarik lari keluar Raisa.
" Apa kalian melihat Anisa dan Arfan? ", tanya Vivian khawatir.
" Tidak ", jawab Joshua.
" Atagafirullah ke mana mereka", ucap Vivian sangat khawatir pada putra dan menantunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? ", tanya Ayu.
" Joshua"
"Kenapa Ayu? ", tanya Joshua karena Ayu tiba-tiba memanggil.
Hening sesaat hanya hembusan angin kencang dan orang-orang berlarian.
Di lain sisi
" Apa sebenarnya terjadi? ", tanya Rosa.
" Kita harus pergi dari sini sayang", kata Daniel sambil menarik Rosa keluar dari kerumunan.
"Ini gila", kata Chelsea begitu melihat orang-orang berlarian ketakutan.
" Kita harus pergi dari sini tempat ini sudah tidak aman lagi', kata Ridho.
Kembali lagi di taman
"Apa sudah siap? ", tanya Faisal.
"Iya kak", jawab Andra.
Faisal mengotak-atik sesuatu di dalam semak.
" Siap deh", kata Faisal.
"Sal, ngapain kamu? Apanya yang siap? ", tanya Luna bertanya-tanya.
" Kau akan segera tahu", jawab Faisal dengan senyumannya.
"Sekali dia senyum maka bencana akan datang", pikir Luna.
Di lain sisi kota
__ADS_1
" RYAN!!", teriak Maura ketakutan dan khawatir melihat keadaan Ryan yang terluka parah.
Maura berlari dan memeluk tubuh Ryan yang sudah berlumuran darah.
"J-jangan nangis sayang", kata Ryan lemah.
Maura menangis tanpa henti menatap Ryan yang tetap tersenyum.
" Tidak, aku tidak mau kehilanganmu lagi", kata Maura.
Kata-kata Maura tersirat penyesalan atas apa yang ia lakukan di masa lalu.
Ryan tetap tersenyum menatap Maura, istri kecil nya.
(Yah memang. Karena Ryan lebih besar dari Maura walau mereka seumuran).
Di pojok Fira menangis di dalam pelukan Fadli.
"Kita harus melawan balik", kata Fadli yang sudah menahan amarahnya sedari tadi.
"Tidak, Farel dan Clara tidak ada yang jaga", kata Riski.
" Tapi-"
"TIDAK!! KITA TIDAK AKAN MELAWAN AYAH SENDIRI YANG BILANG TADI", bentak Riski.
Fadli maupun Fira langsung terdiam dan memilih menurut saja.
"DASAR KAU ORANG GILA", teriak Maura marah kepada seseorang di atas gedung dengan tangannya memegang pistol.
" Hahaha.. Memang aku peduli WAHAI NYONYA MUDA PERTAMA MAHESA ", katanya sambil tertawa.
Maura merasa jijik dan marah melihat orang itu tertawa atas apa yang sudah ia lakukan kepada keluarga Mahesa.
" Kenapa kau sampai tega melakukan hal ini? ", tanya Maura geram.
" Kenapa ya? Yah aku hanya di suruh seseorang ", katanya.
Maura kaget mendengarnya. Jadi, selama ini wanita tua ini juga di manfaatkan.
" Lantas siapa yang menyuruhmu?! ", teriak Maura.
" Aku tidak tahu dia tidak mengatakan namanya yah aku juga tidak peduli selama dendamku juga bisa ku balaskan", kata wanita tua itu sambil tertawa.
Maura ingin sekali memukul wanita itu menyadarkannya tapi ia tak tahu harus melakukan apa.
"Aku harus memberitahu Vincet"
Hm? 🤔
Ya sudahlah semoga suka dengan konflik di atas🙏
Cerita ini sudah memasuki pertengahan alurnya dan bentar lagi sesuatu hal besar akan terjadi.
Dan ini menurutku sudah panjang ya maka puaskan diri kalian atau belum puas?
Dan saya mohon maaf jika ada salah kata-kata dan penamaan nama karakter karena aku kadang lupa bahkan melupakan karakter tersebut 😭.
Ingat masih pertengahan alurnya bukan akhir ok? 👍
Sebenarnya apa yang sudah terjadi?? Kenapa Ryan terluka? Jawabannya ada di chapter selanjutnya🆗.
Mari main tebak-menebak sampai yang ntahlah kapan lagi aku akan update 😭.
__ADS_1
See you 👀