
Saat ini mereka berdua berada di kamar Ryan di rumah pria itu tumbuh besar hingga saat ini(maksudnya rumah Arfan dan Anisa bukan rumah Ryan dan Maura).
"Mau bicara apa sampai harus ke kamar?", tanya Ryan menatap lurus Maura yang berdiri di balkon kamar.
"Soal Viola kau benar-benar tidak bisa melepas kepergiannya? Jika itu benar aku kecewa padamu Ryan", jawab Maura sambil melirik suaminya yang duduk di atas kasur sedang menatapnya tajam dan dingin.
"Dari tatapanmu seolah mengatakan 'kenapa?' Yah, dulu kita sampai bertengkar dan benar-benar merasa kehilangan karena kita kehilangan putri kecil kita namun hidup itu panjang anak kita bukan cuma Viola Rifki, Fira, Fadli masih kecil dan membutuhkan kita berdua jadi tidak ada alasan bagi kita terus menyesali kematian Viola itulah yang ku pikirkan selama ini", jelas Maura sendu menatap langit-langit biru seakan merindukan seseorang.
"Kau juga sama saja kan? Kalau begitu tidak ada cara lagi", kata Ryan yang berdiri dan berjalan menghampiri Maura dengan tatapan predator yang siap memangsa mangsanya yang berada di hadapannnya saat ini.
Maura terkejut. Ia merasa posisinya tidak aman jadi ia melarikan diri keluar kamar namun karena Ryan gesit mereka kejar-kejaran memutari setiap rumah sampai keluar rumah.
Orang-orang rumah yang melihatnya merasa aneh dan tak mau ikut campur. Salah-salah bentar di tabok atau di patahi tulangnya oleh Ryan.
"Mereka itu ya gak bisa amat berdiskusi dengan tenang harus pake acara lari-larian sampai ke luar negeri", kata Anisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra sulungnya dan menantu pertamanya yang berlarian di dalam rumah.
"Biarin aja capek aku ngurusin masalah mereka ntar juga capek sendiri", kata Arfan sambil menyeruput kopi kesukaannya.
Begitulah keseharian mereka dan masalah antara Ryan dan Maura ternyata tidak mereda mereka masih saja ribut di dalam rumah sampe ketiga anak-anaknya memohon ke Arfan buat menginap di rumah mereka ketimbang satu atap dengan orangtuanya.
Karena Maura capek berdebat dengan Ryan selama ini akhirnya ia melarikan diri ke Jerman Ryan yang tahu Maura sudah melarikan diri ke negara lain marah besar sampai membuat satu perusahaan ketakutan.
Di kediaman utama Mahesa
"GAK BISA DIBIARIN TERUS UDAH 6 TAHUN MEREKA BEGITU GAK CAPEK APA MEREKA!! AKU HARUS MENGIRIM RYAN MENYUSUL MAURA BAGAIMANA PUN CARANYA", teriak Arfan marah sambil mengebrak meja. Semuanya terkejut.
"Bagaimana cara membujuk kak Ryan ayah?", tanya Andra dan yang lainnya terdiam terlarut dalam pikiran masing-masing.
"Ibu punya ide", kata Anisa tiba-tiba dengan senyuman misteriusnya.
"Perasaanku gak enak", pikir Reyna berkeringat dingin.
"Kiki bagaimana keadaan Faisal?", tanya Arfan mengganti topik.
"Faisal udah lebih membaik sekarang harusnya sebentar lagi dia bisa keluar dari rumah sakit", jawab Fikri dan Arfan hanya mengangguk paham.
"Lakukan sesukamu sayang kepalaku sudah mau pecah perkara mereka yang bertengkar hanya masalah sepele selama 3 tahun", kata Arfan sambil mengecup kening Anisa romantis lalu para anak-anak langsung ricuh.
Anisa yang awalnya salting langsung berubah galak yang membuat mereka semua ciut ketakutan.
Dan yah malamnya sesuai dugaan Reyna ia pun ikut terseret bersama Vincet.
"Ingat rencana kita Vincet kau buat Ryan mabuk semabuk-mabuknya nanti lalu kirim dia ke Jerman dan Reyna ikut ibu ke Jerman malam ini kita harus buat mereka menghabiskan malam yang panjang", kata Anisa dan mereka berdua mengangguk.
__ADS_1
Mereka bertiga bergegas sesuai rencana Anisa. Vincet pergi ke kantor sementara Anisa dan Reyna ke bandara.
Disisi lain
"Ayah aku harus kembali ke Jakarta secepatnya bagaimana pun rasanya tidak adil memisahkan mereka dari Luna", kata Faisal.
"Ayah tahu itu jadi bersabarlah kita butuh Ryan untuk rencana ini di Jakarta", kata Arfan tegas.
Di balik pintu terlihat bocah laki-laki berumur 3 tahun sedang mengintip.
"Sebenarnya ada masalah apa di keluarga ini?", gumam Haris.
"Ku dengar musuh menginginkan kalung yang kupakai", jawab seorang anak di belakang Haris.
Haris yang terkejut menggerutu sambil melihat kalung berbentuk bulan di leher Rifki.
"Apa spesial dari kalung ini?", tanya Haris.
"Katanya kalung ini mengandung kekuatan magis semacam ilmu sihir dari zaman kuno sebab itu keturunan keluarga Mahesa bisa melakukan kekuatan dari kalung ini kakek tidak ingin kalung ini jatuh di tangan musuh", jelas Rifki.
"Kenapa gak di hancurkan saja?", tanya Neisha tiba-tiba muncul di belakang Rifki dan Rifki terkejut.
"Kalau semudah itu udah dari dulu juga kan di hancurkan", kata seseorang tiba-tiba muncul.
"Kenapa hari ini semuanya ngangetin aku mulu sih", pikir Rifki dengan wajah datarnya.
Di Jerman
"Inilah hidup eh? Ibu?! Reyna?!", sontak Maura terkejut saat ia bersantai tiba-tiba ibu dan anak ini muncul di hadapannya.
"Santai aja ayok kita jalan-jalan gak ada Ryan kok jadi sellow aja mbak", kata Reyna sambil merangkul Maura pergi ke suatu tempat.
Maura yang kebingungan hanya pasrah di seret ke suatu tempat entah kemana.
Mereka sampai di kafe disana Anisa memancing Maura bercerita masalahnya dengan Ryan dan pergi ke pantai dan mengelilingi semua tempat karena hari semakin sore mereka beristirahat di hotel di pesan Anisa walau Maura sudah bersikeras ke hotel ia tempati namun Anisa tak mau kalah karena Maura menantu yang baik hati dan tak sombong ia mengalah hari ini saja.
Mereka berpesta dengan sebotol alkohol disisi lain Arfan, Vincet serta Ryan yang mau di buat mabuk tapi akhirnya tak bisa pun sampai di Jerman tepatnya saat ini mereka di depan kamar yang sudah di booking Anisa.
"Kali ini bicaralah dengannya di atas kasur awas saja tidak berhasil jangan harap kau dapat pulang hidup-hidup", ancam Arfan bersamaan dengan terbukanya pintu Anisa dan Reyna tersenyum dan mendorong Ryan masuk ke dalam kamar.
"Kau tak bisa buat dia mabuk ya?", tanya Reyna dan Vincet mengangguk. Yah, mereka lupa kalau Ryan memang dasarnya ia pria tak bisa mabuk walau minum banyak.
Mereka pergi meninggalkan hotel dan bersenang-senang sendiri mumpung di Jerman.
__ADS_1
Sementara itu Ryan menatap Maura sambil menelan ludah tak kuasa menahan hawa nafsu dengan melihat Maura yang berpenampilan seksi itu.
"Ibu, Reyna awas saja kalian sengaja amat", gumam Ryan dengan raut wajah memerah seperti kepiting rebus.
Karena tidak tahan lagi Ryan melakukan 'itu' tanpa ragu(yah udah sah juga).
"Kali ini kau takkan bisa lari", bisik Ryan walau Maura dalam keadaan mabuk itu sudah cukup bagi Ryan yang sadar.
Keesokan paginya tentunya Maura syok melihat pria yang harusnya berada di Tokyo sekarang berbaring di sampingnya.
Dengan pelan-pelan Maura turun dari kasur dan berpakaian lagi tanpa mandi dan berniat melarikan diri.
Di luar hotel Maura merenggangkan tangan menghirup udara segar di pagi hari namun itu sebentar saja sampai ia mendengar seseorang meneriakkan namanya dan ia pun menoleh ke belakang melihat Ryan yang tengah mengejarnya.
"Jadi dia udah bangun dari awal!! Aku harus kabur!!!", teriak batin Maura sambil berlari tanpa arah.
Mereka saling kejar-mengejar di kota Jerman berlari tanpa arah.
"Teringat pula saat 7 tahun lalu aku melarika diri dari pria ini", teriak Maura yang terus berlari tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang sepanjang jalanan.
Menurut Maura saat ini nyawa paling penting daripada rasa malunya dilihatin orang-orang.
Mereka seperti itu selama 7 jam lamanya dan hari semakin gelap.
Maura berhenti berlari dan meminum air yang ia sempat beli di salah satu penjual jalanan di kota.
"Masih sempat-sempatnya tadi kau beli minuman hah?! Sini kau!!", kata Ryan langsung memeluk Maura erat.
Kini wanita itu hanya pasrah dengan keadaan ia tertangkap sama seperti 7 tahun lalu ia tetap kembali ke pelukan pria ini.
"Maaf/maaf", kata mereka bersamaan dan mereka tertawa lepas tanpa melepaskan pelukan.
"Kau tak usah mengatakan apa-apa lagi karena aku sudah memaafkanmu harusnya kita tidak seperti anak kecil saat itu padahal anak-anak masih butuh kita", kata Maura sambil melirik Ryan di belakangnya.
"Aku juga sayang matahari sebentar lagi terbenam ayo pulang", kata Ryan dan Maura berbalik badan menghadap Ryan.
Wanita itu kini menatap Ryan tanpa rasa takut seperti dulu. Mereka saling menatap satu sama lain dan Maura duluan mencium Ryan walau pria itu sedikit terkejut ia tak menolak. Dengan pemandangan indah sunset(maaf kalo salah penulisan) dan tepukan tangan dari orang-orang mereka sebenarnya agak malu karena sudah di perhatikan orang-orang seharian ini.
Bersambung.....
Astaga..nulis ini baper sendiri dasar aku🫠🫠. Yey bentar lagi flashbacknya selesai dan kita akan kembali ke time line di s1.
Update 2 kali aku walau eps sebelumnya sudah jadi kemarin tapi hari ini aja ku update sekalian.
__ADS_1
So, see you next time