Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
epsisode 18(s2)


__ADS_3

...Kadang ku berpikir untuk apa aku lahir? Untuk apa aku ada? Mengapa semua ini terjadi padaku? Aku capek, aku lelah, aku ingin menghilang saja. Apa itu kebahagiaan?...


...~Maura~...


Sudah 2 stengah bulan keadaan Ryan masih koma tidak ada kemajuan sama sekali.


Tapi hal itu tak membuat Maura patah semangat untuk melanjutkan hidup ia masih memiliki keluarga dan anak-anak nya.


"Kak Maura jangan terlalu memaksakan diri kalau kakak capek kakak bisa istirahat dan biar kami yang urus mereka", kata Riko dengan raut wajah khawatir.


"Aku baik-baik aja kok makasih sudah khawatir ya titip salam sama ayah dan ibu ya maaf aku belum sempat datang ke rumah", kata Maura sambil tersenyum manis.


"Hah, baiklah jangan sangka kak kita tetap keluarga kok", kata Riko menghela nafas.


Riko pergi meninggalkan kediaman kakak nya itu.


Ia menatap nanar rumah yang berpondasi kaca di lapisi kayu.


Yah, rumah yang terlihat mewah itu terasa hampa seperti tak berpenghuni.


"Kak Ryan apa yang harus ku lakukan? Apakah ini awal atau akhir?", kata Riko menatap langit-langit sedih.


Riko meninggalkan daerah rumah kakak nya yang sangat luas itu.


"Aku harap mimpi buruk ini segera berakhir", gumam Riko ketika ia memasuki mobil.


"Ke mana tuan muda?", tanya sopir.


"Ke mana saja yang penting aman", jawab Riko lemas.


"Baik tuan muda", kata sang sopir sambil menyalakan mesin mobil.


Kediaman Arfan dan Anisa


"Ke mana Riko?", tanya Arfan sembari membawa koran.


"Ke taman kota tuan", jawab pengawal.


"Oke kau boleh kembali", titah Arfan.


"Baik tuan"

__ADS_1


Pengawal atau bodyguard itu pergi meninggalkan ruangan Arfan.


"Hah, ini benar-benar memuakkan", gumam Arfan sambil melempar koran di pengang nya.


Sore harinya di rumah sakit


"Excuse me, my nurse needs to go to the icu", kata Maura kepada represionis.


"By the way, no check. miss, you can go that way", jawab sang represionis.


"Thank's you", ucap Maura dan langsung bergegas pergi ke ruang icu.


Di ruang icu


Baru saja Maura membuka pintu aroma obat-obatan langsung tercium menyengat di hidung.


Maura berjalan mendekati bangsal Ryan. Lama ia menatap sedih cowok yang terbaring lemah selama dua setengah bulan.


Tiba-tiba  air mata jatuh di pelupuk mata Maura. Tak kuat lagi menahan beban nya selama ini tangisan nya pun pecah.


Ia menangis sejadi-jadi nya, terduduk di lantai samping bangsal Ryan.


"Ry, sampai kapan? Sampai kapan kau seperti ini? Sampai kapan aku harus menerima semua ini?! Aku capek!! Aku lelah!! Ingin rasanya mati saja hik hik aku gak sanggup lagi Ry, ini berat semuanya ku kerjakan sendirian, anak-anak juga suka mengeluh, aku harus bagaimana? Bangun Ryan!! KAU menang taruhan Viola butuh kamu juga!! Aku gak kuat lagi hik hik aku harus bagaimana?", kata Maura di samping bangsal Ryan.


Maura merasa familiar dengan suara anak kecil itu, ia mendogak kepala ke atas melihat siapa di sampingnya.


"R-rifki maafkan ibu nak, ibu tidak akan lagi mengeluh lagi hik hik maaf ibu bodoh maaf nak", kata Maura menangis sambil memeluk tubuh kecil putra tertua nya.


"Tidak apa-apa ibu aku paham jangan menangis lagi ya, janji?", kata Rifki sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Maura tersenyum menatap putra nya itu dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Rifki.


"Janji sayang", jawab Maura senang dan memeluk putra nya lagi.


"Aku lupa jika Rifki mirip dengan Ryan baik mental, fisik, dan sifat nya tapi dia dewasa belum waktunya sama seperti Ryan dulu", pikir Maura sambil tersenyum geli.


"Kenapa ibu tersenyum seperti itu?", tanya Rifki menatap ibunya horor.


Tawa Maura pecah dan mengatakan "tidak ada kok sayang".


"Oke"

__ADS_1


"Sana main jangan lupa jaga adik-adikmu ibu di sini jaga ayah", tutur Maura lembut.


"Baik ibu", jawab Rifki dan pergi meninggalkan Maura di ruangan itu.


"Dia dewasa tapi nama nya anak kecil tetap anak kecil hahahaa", gumam Maura tersenyum geli.


Di kediaman Arfan


"Kalian boleh kembali", kata Arfan dingin.


"Baik tuan"


Orang-orang itu keluar ruangan kantor Arfan di susul masuk nya Anisa di dalam ruang kerja Arfan.


"Ada apa? Kau habis memarahi karyawan?!", marah Anisa sambil berkacak pinggang di hadapan Arfan.


Arfan mengehela nafas panjang dan melepas kacamata nya menatap tajam Anisa.


Bukan nya takut Anisa membalas tatapan Arfan lebih tajam.


"Hah, aku gak bisa menang ya. Aku gak memarahi mereka", jelas Arfan berusaha menetralkan emosi nya.


"Lalu apa?!", seru Anisa tambah marah.


"Ayah dan ibu berusaha mencari kita dan di balik kecelakaan Ryan", kata Arfan sambil menghela nafas lagi.


"Soal ayah dan ibu maupun mama dan papa gak masalah mereka tidak bisa melacak kita walau satu kota, satu negara. Lalu siapa orang di balik kecelakaan Ryan dan Maura?", kata Anisa berusaha tenang.


"Orang itu dalang semuanya termasuk semua kejadian sejak kita menikah", jawab Arfan dingin nan tegas.


Anisa tercegat menelan ludah menatap tak percaya dengan kenyataan itu.


"Orang itu lebih berbahaya dari wanita itu!!!, teriak Anisa sambil memukul meja kantor Arfan hingga kertas-kertas di atas meja jatuh berserakan.


"Kau benar kita harus berhati-hati untuk sementara dan kita hentikan pencarian Reyhan, Rena, dan Devan ini demi mereka dan kita aman dari serangan musuh", kata Arfan tegas tak mau di bantah.


"B-baiklah", kata Anisa tak bisa menolak.


Happy reading gengs jangan lupa ya vote dan komen kalian juga support dari kalian semua.


Semoga terhibur ya saya harus fokus dengan konflik nya ke depannya untuk cerita suamiku overprotektif mungkin akan jarang update tapi akan saya usahakan tetap update dan standby ya🙇‍♀️.

__ADS_1


Makasih tetap support dan setia membaca ya saya tak akan mengecewakan kalian para readers.


Thank you See you later


__ADS_2