
WARNING 18+ KE ATAS DI MOHON SEKALI LAGI
Selamat membaca....
Sesampainya Diandra di buat terkagum-kagum rumah milik wanita itu.
"Anggaplah rumah sendiri oh ya nama ibu Vivian adek namanya siapa?", kata wanita itu lembut.
"Vivian?", gumam Diandra.
"Dek?", panggil Vivian lagi.
"Ah? Iya nek?", sahut Diandra.
"Nama adek siapa?", tanya Vivian lagi dengan lembut.
"Diandra nek oh ya, Dian boleh manggil ibu nenek?", tanya Diandra girang.
"Boleh nak ayo masuk nak", ajak Vivian sambil menuntun Diandra masuk rumah mewah itu.
"Vivian kan nama ibunya ayah? Benar-benar cantik aku beruntung langsung bertemu nenek", pikir Diandra.
"Sementara pake kamar ini ya maaf kalo kamarnya kurang buat anak gadis sepertimu nak habis ini kamar putra nenek", jelas Vivian sambil membuka salah satu pintu kamar.
"Maaf kalo berantakan sedikit padahal nenek udah bersihin", kata Vivian gak enak.
"Gak papa nek memangnya putra nenek kemana?", tanya Diandra walau ia tahu putra itu ayahnya.
"Dia pergi 17 tahun lalu bersama seorang anak gadis yang hamil anaknya nenek rasa bersalah tidak mendengarkan penjelasannya saat itu sekarang pasti anaknya itu sudah besar sayang aku tidak sekali pun mengendongnya ataupun melihatnya kadang nenek sedih tidak bisa mengendong cucu dari putra nenek satu-satunya", jelas Vivian dengan mimik wajah sedih.
Diandra berjalan mendekati Vivian lalu memeluknya. Tanpa sadar Vivian meneteskan air mata perasaan yang sama yang ia rasakan saat Arfan memeluknya.
"Kalau begitu nenek mau mengendongku dan menemaniku bermain?", tanya Diandra manja.
Vivian menghapus air matanya dan mengangguk. "Iya tentu saja sayang sampai kau bosan", kata Viviian.
"Ayo nek", ajak Diandra. Vivian hanya mengikuti Diandra.
"Anak gadis ini benar-benar mirip dengan Arfan saat kecil", pikir Vivian.
Di taman belakang rumah
"Maaf ya nenek hanya punya ini semua", kata Vivian sambil mengelus pucuk rambut Diandra.
"Gak papa kok nek Dian senang kok", kata Diandra senang dan terus memainkan mainan itu.
"Nenek kakek dimana?", tanya Diandra penasaran.
"Kakek lagi di luar negeri kerja jadii nenek sendiri anak-anak nenek juga sibuk sudah berkeluarga", jawab Vivian.
"Putra nenek orangnya seperti apa?", tanya Diandra tambah penasaran.
"Putra nenek namanya Arfan, anak itu pergi saat berumur 16 tahun gadis yang ia bawa bernama Anisa umurnya sama mereka gak cukup dekat sih sesekali ketemu di acara-acara saja nenek agak khawatir kehidupan mereka seperti apa?", jelas Vivian.
"Kenapa?", tanya Diandra.
"Anisa itu gadis polos lain hal dengan putra nenek yang dingin seperti kulkas itu yang nenek khawatirkan mana mereka masih muda gimana ngurus anak dan keuangan", jelas Vivian.
"Diandra gak tahu tapi yang pasti Dian tahu kalo sebuah hubungan di dasarkan komunikasi dan rasa saling mempercayai satu sama lain semuanya baik-baik saja itu ajaran orangtua saya walau mereka menikah muda juga tapi mereka berhasil mendidik saya dan saudara-saudara saya jadi nek jangan khawatir", kata Diandra.
"Kau benar nak harusnya nenek percaya anak nenek semoga nenek bisa bertemu dengannya suatu hari", kata Vivian.
"Amin nek"
"Amin"
Sisa waktu di habiskan bercanda tawa dan menciptakan kenangan manis.
Malamnya Vivian membacakan dongeng kesukaan Diandra.
"Nenek bacakan lagi besok ya", kata Diandra girang.
"Iya nak tidurlah selamat malam", kata Vivian sambil mengecup kening Diandra.
"Hm"
Akhirnya Diandra tertidur lelap malam itu.
"Andai Diandra cucuku tapi itu hal mustahil", pikir Vivian sambi mengelus lembut rambut Diandra.
Besoknya Diandra melakukan hal yang sama dan begitu terus hingga waktu di janjikan datang.
"Nek", panggil Diandra.
"Iya nak?", sahut Vivian lembut.
"Besok Dian berangkat pulang Dian udah di menemukan kakak Dian", kata Diandra.
"Oh ya? Kalau begitu hari ini nenek harus memasak dan menghabiskan sisa waktu nenek buat Diandra karena setelah ini nenek akan kesepian", kata Vivian sambil tersenyum.
"Baiklah nek", kata Diandra.
Dan sisa waktu hari itu mereka habiskan berdua tanpa terlewat sedetik pun.
Malamnya di kamar Arfan
"Nenek Vivian jika nenek mememukan surat ini di laci putra nenek jangan lupa baca pesanku.
Pesan: nenek Vivian jangan sedih lagi karena harapan nenek terwujud nenek sudah memeluk dan mengendong cucu dari darah daging putra nenek iya itu aku Diandra Mentari Mahesa salah satu anak ayah dan ibu Dian datang ke indonesia buat buktikan kalau keluarga ayah dan ibu gak sejahat itu kalau nenek baca ini percayalah pada ayah dan suatu hari nenek akan bertemu ayah kembali dan saat itu mungkin kita akan bertemu kembali oh ya nek belum lama ini Dian kehilangan adik Dian namanya Nizar dia belum lama meninggal oh juga aku punya kembaran namanya Andra dan Mutia Andra sangat dingin di ajak main gak mau ya udah aku dan Mutia ninggalin dia banyak hal yang ingin Dian cerita tapi ayah melarang keras kami meninggalkan rumah dan anak yang nenek maksud 17 tahun lalu pasti kak Ryan, kak Reyna, kak Reyhan, dan kak Rena kan? Sayang kak Reyhan dan kak Rena sudah meninggal sejak lahir ayah juga hampir kehilangan nyawa saat itu tapi alhamdulillah ayah bisa bangkit itu saja sampai jumpa nenek Vivian salam buat kakek dan lain-lain
"Sudah ayo tidur", kata Diandra sambil naik ke kasur setelah menaruh kertas berisi pesan nya di laci paling dalam.
Tengah malam
"BOS gadis itu besok kembali ke Tokyo", kata si pengintai.
"Tunggu dia sampai di Tokyo saat itu juga tunggu dia berada di tempat sepi dan culik gadis itu", katanya.
"Setelah itu?"
"Terserah kalian yang pasti pastikan gadis itu mati setelah sampai di Tokyo", katanya.
"Baik BOS"
Di sisi lain
"Apa yang harus kita lakukan? Bukankah rencana kita membawa Dian?", tanya Rena.
__ADS_1
"Tidak Diandra takkan mau lagian kau mau ayah marah ke Dian karena masalah dia pergi diam-diam?", tanya Reyhan.
"Terus? Kau mau kita diam saja melihat lagi? Seperti hari itu?", tanya Rena.
"Tentu saja tidak", jawab Reyhan.
"Kali ini gak boleh nyawa melayang lagi aku sangat sakit hati gak bisa menolong Nizar hari itu", kata Rena.
"Aku juga", gumam Reyhan.
Keesokan harinya
"Yakin gak mau di temani?", tanya Vivian khawatir.
"Iya nek Dian gak papa sampai jumpa lagi nek", kata Diandra sambil melambaikan tangan.
"Tetap saja nenek khawatir", kata Vivian khawatir.
"Udah gak papa semuanya akan baik-baik saja", kata Diandra.
"Datanglah lagi nenek akan merindukanmu", kata Vivian lembut sambil memeluk tubuh mungil Diandra.
"Iya nek Diandra janji", kata Diandra dan perpisahan itu di tutup lambaian tangan.
"Aku ingin dia di sini", gumam Vivian. "Pengawal, ikuti Diandra kalau dia aman sampai rumah kembalilah", titah Vivian.
"Baik nyonya"
Bergegas para pengawal mengikuti Diandra diam-diam.
Di sisi lain
"Kenapa perasanku gak enak?", gumam Reyhan.
Di Tokyo
"Perjalanan ini benar-benar menyenangkan dan aku tepat waktu sampai di Tokyo jadi ayah gak curiga nyatanya Andra gak menghubungiku aku harus cepat pulang", kata Diandra langsung bergegas.
"Kenapa nona Diandra sampai terbang jauh-jauh dari Tokyo ke Jakarta? Siapa sebenarnya gadis itu?", kata pengawal yang mengikutinya.
"Ayo kita ikuti nona kecil itu"
"Ya"
Di sisi lain
"Halo tuan nona Diandra sudah meninggalkan bandara"
"Tetap awasi kita tidak tahu tujuan orang itu", hardik Reyhan.
"Baik tuan"
"Aku juga harus turun tangan sebelum hal tidak di inginkan terjadi", gumam Reyhan namun.
"Tuan rapat akan segera dimulai tidak boleh di tunda"
"Cih"
Di sisi Diandra
"Gadis itu?! Kejar orang-orang itu"
Nihil. Mereka tak dapat mengejar orang-orang tadi.
"Kita gak bisa pulang perintah tetap perintah"
"Sial kalau saja orang-orang itu tidak menghalangi saja kita pasti gak akan kehilangan jejak"
Hari itu baik tim pengawal Vivian dan Reyhan terus mencari sampai....
Di kediaman Arfan
Meja yang tadinya utuh sekarang terbelah menjadi dua.
"Kalian tahu kesalahan kalian? Beraninya kalian melakukan diam-diam di belakang ayah?", ucap Arfan murka.
Andra maupun Mutia hanya menunduk ketakutan.
"T- tapi ayah Dian pulang hari ini", kata Mutia terbata-bata.
"DIAM", bentak Arfan sambil mematahkan sapu dan barang-barang lainnya.
"Mending kita cari Diandra sebelum terlambat", kata Ryan dingin.
Membeku. Suasananya berubah setelah Ryan buka mulut.
"Dan kalian berdua juga carilah Diandra dan sebagai hukuman kalian aset kalian kakak sita", kata Ryan menatap Andra dan Mutia dingin.
"B- baik"
Pasrah? Hanya itu saat ini bisa menggambarkan kondisi dan perasaan Mutia dan Andra.
Mereka pun mencari Diandra di seluruh penjuru Tokyo.
Di lain tempat
"Wah sudah sadar nak? Nah hari ini ayo bermain dengan ku hei bocah kau juga mau uang kan? Ayo kita mulai", katanya menoleh ke salah satu anak laki-laki seumuran Diandra.
"Maaf tapi aku terpaksa melakukan ini jadi nikmatilah sampai mati", katanya dan mulai merobek baju Diandra.
"T- tttt- TIDAK HENTIKAN", teriak Diandra namun ia tak memiliki tenaga melawan balik apalagi ada 5 orang dewasa dan satu anak laki-laki seumurannya.
Keenam orang itu memperkosa Diandra dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa celah tidak sampai situ mereka juga merobek kulit Diandra dan mengulitinya sampai ke daging-dagingnya terlepas dari tubuhnya. Tanpa peduli jeritan kesakitan Diandra mereka terus menyiksa Diandra tanpa ampun.
Hingga...beberapa jam setelahnya.....
"BOS pasti senang gadis ini juga sudah mati dan kita juga sudah bersenang-senang"
"Om jangan lupa bayaranku", ucap anak laki-laki itu.
"Ini sisanya BOS kasih kerja bagus ayo nak kita tinggalkan saja mayatnya di sini membusuk"
"Nak caramu juga hebat tadi di masa depan kau tidak perlu khawatir soal anak karena kau jago hahahaha"
"Iya"
Mereka pun pergi hari itu sementara itu...
__ADS_1
"D- DIANDRA", seru Ryan sambil memeluk mayad Diandra yang sudah membusuk itu.
"S- siapa yang melakukan ini padamu? Maafkan kakak huhu maaf", kata Ryan dengan suara bergetar menahan tangis.
SREK
"SIAPA?!", seru Ryan penuh waspada dengan mengacungkan pisaunya.
"Ini aku kak Reyhan maaf aku tahu Diandra dalam bahaya tapi aku gak bisa melakukan apa-apa sama waktu kejadian Nizar aku gak pantas hidup maafkan aku", kata Reyhan lirih sambil jatuh terduduk.
"Mereka saudara nona?", gumam pengawal Vivian.
"Jelaskan kenapa kau tidak pulang walau tahu kami menganggap kau mati 17 tahun lalu hah?!", hardik Ryan yang masih kukuh mengacungkan pisaunya.
"17 tahun lalu?", pikir salah satu utusan Vivian.
"Maaf aku punya alasan orang itu juga ingin membunuh kita kak yang memiliki darah keturunan Mahesa", jelas Reyhan.
Para pengawal Vivian terkejut mendengar penuturan kata-kata Reyhan.
"Anak-anak itu anak tuan muda Arfan? Jadi nona Diandra juga?"
Para pengawal itu masih bersembunyi menguping pembicaraan mereka.
"Jadi kau juga bersembunyi dari orang-orang itu?", tebak Ryan.
"Iya, kak Ryan aku janji akan kembali setelah semuanya beres dan berjanjilah kakak menyembunyikan keberadaanku dan Rena dari ayah dan ibu aku tahu ini gak benar tapi ini jalan satu-satunya saja ku mohon sebagai gantinya akan ku laporkan semuanya", pinta Reyhan dengan wajah putus asa.
"Baiklah satu lagi jangan panggil aku sebutan kakak kita ini anak kembar Reyhan", kata Ryan sambil menghela nafas.
"Terima kasih kak permisi", pamit Reyhan.
"Jaga dirimu suatu hari ayo bermain bersama", kata Ryan.
"Iya"
Setelah itu Ryan membawa jasad Diandra pulang dan di makamkan.
"Ayo kembali dan katakan pada nyonya semua yang kita dengar hari ini"
Di rumah
Semuanya gak bisa berkata apa-apa lagi di tambah keadaan jasad Diandra yang mengenaskan.
"Semua terlambat kita kuburkan saja", kata Arfan lesu dan enggan menatap jasad Diandra.
"Kenapa kau menunduk saja hah?! Arfan!!", seru Anisa.
"Diam!!", hardik Arfan menahan emosi.
"Masalah sebelumnya belum selesai kau mau nambah masalah lagi hah?!", teriak Anisa.
"APA TERUS KAU MAU AKU APA HAH?! AKU MUAK LAMA-LAMA DI GINIIN NIS", teriak Arfam marah.
"AKU JUGA SAMA", seru Anisa tak mau ngalah.
"AP-"
"CUKUP DIAM SEMUA AKU JUGA CAPEK HARI INI ADIKKU MENINGGAL AYAH DAN IBU MALAH RIBUT LAGI SUDAH AYO KITA MAKAMKAN SAJA", teriak Ryan yang ikutan muak sambil menghancurkan salah satu meja kaca.
"Ryan tanganmu terluka", kata Reyna khawatir.
"AKU GAK PAPA"
Semuanya bungkam tidak berani membuka suara.
Di sisi lain
"Kerja bagus kalian semua jadi hari ini ayo party", kata BOS.
"Yey"
"Nak kerja bagus dan jangan khawatir keluargamu aman"
"Terima kasih"
"Hehehe Andhika inilah bayaran yang harus kau terima atas kesalahanmu di masa lalu"
Beberapa hari kemudian
Di Jakarta
PRANG
"N- nyonya", kata bibi Suharti, bibi yang sudah mengasuh Andhika.
"Jadi kau ingin bilang jika gadis kecil yang datang itu anak Arfan?! Dan dia si temukan tewas oleh kakaknya?!", kata Andhika tidak percaya ia mendapat kabar seperti ini setibanya di Jakarta.
"T- tidak mungkin Dian ternyata cucuku jika saja aku tahu harusnya aku melarangnya pulang hari itu", kata Vivian yang masih syok tidak percaya.
"Sayang", panggil Andhika khawatir.
"Apa itu benar?", tanya Agus memastikan lagi informasinya.
"Tuan!! Nyonya!! Saya menemukan ini saat membersihkan kamar den Arfan", kata bibi Susan sambil berlari menghampiri Vivian dan memberikan sepucuk surat.
"I- ini?! Pesan di tulis Diandr?!", Vivian terkejut dan segera membaca isi surat itu.
"Tokyo? Kalau begitu ayo ke sana temui Arfan", usul Romi.
"Benar aku gak terima adik sepupuku di bunuh sesadis ini", kata Vera tidak terima.
"Saya sarankan jangan", kata Vivian.
"Kenapa?", tanya syahrani.
"Diandra menegaskan dalam surat jika Arfan sangat keras pergerakan mereka di batasi Diandra ke sini karena di bantu saudaranya Arfan tidak tahu kelakuan ceroboh Diandra dan dua kembarannya aku juga tidak ingin kehilangan cucuku di surat ini katanya kalau Nizar adik Dian belum lama mati itu berarti kasus nya sama dengan dialami Dian ini pembunuhan dan aku tidak percaya 17 tahun lalu terjadi kecelakaan yang menghilangkan nyawa 2 anak kembar Arfan dan Anisa yang selamat hanya 2 anaknya dan Arfan juga hampir kehilangan nyawanya hari itu pokoknya JANGAN KE TOKYO", jelas Vivian tegas.
"Tapi sayang ibu kesempatan ini tidak akan datang 2 kali lagi di masa depan", kata Raisa.
"Memang nak tapi ini terbaik seengaknya kita tahu mereka hidup itu cukup Arfan dan Anisa saat ini pasti sangat terpuruk karena kehilangan 2 anak sekaligus", kata Andhika.
Panjang ya? Aku juga rasa nanggung kalau berhenti.
Ini benar-benar rekor begadang demi menyelesaikan satu episodeš„¶. Semoga suka dan jangan lupa vote dan komen ya...
See you...
__ADS_1