Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 36(s2)


__ADS_3

Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan🙇‍♀️ dan jarang update di karenakan tidak mood dan tidak ada ide cerita sebelum nya jadi saya mohon maaf sudah membuat menunggu sekalian🙇‍♀️.


Selamat membaca...


"Kakak tolong!! Aku tidak mau mati!! Jangan tinggalkan aku sendirian!! Kakak!! Kak Ryan!! Tolong Adrian kakak!!", teriak seorang anak laki-laki di tengah kobaran api mengelilingi nya.


"ADRIAN!!", teriak Ryan berusaha menggapai anak laki-laki itu namun semakin ia berusaha semakin jauh anak laki - laki tersebut.


"KAKAK TOLONG"


"ADRIAN", teriak Ryan terbangun sambil berteriak keras memanggil nama Adrian berulang kali dengan nafas terengah - engah menatap sekeliling nya dengan perasaan takut dan khawatir.


"Kamu kenapa sayang? Mimpi buruk lagi?", tanya Maura khawatir melihat kondisi Ryan yang tiba - tiba terguncang saat terbangun dari tidur nya.


"A -Adrian maafkan kakak tidak bisa menyelamatkan mu saat itu dan membiarkanmu di sana sendirian melawan dia sampai kau terbunuh mengenaskan maaf maaf hik maafkan kakak Rian", kata Ryan menangis memeluk dirinya sendiri dalam ketakutan dan rasa bersalah nya di masa lalu.


"Ryan, hey Ryan sayang sadarlah tatap aku Ryan! Ryan Adinata Mahendra Mahesa sadarlah!!", teriak Maura berusaha menyadarkan Ryan yang masih merasa menyesal dan merasa bersalah yang amat dalam.


"Ah, a -aku tidak tahu harus berbuat apalagi seandai nya aku datang lebih cepat Rian tidak perlu merasakan rasa sakit itu dan sekarang dia pasti akan mengatakan nya terus jika ia akan menjadi orang terkenal dengan semua upaya nya sendiri Maura a -aku merasa gagal menjadi seorang kakak tidak bisa melindungi adik nya dan itu bukan sekali saja aku sudah banyak kehilangan adikku sendiri dan selalu aku datang terlambat dan tidak bisa melakukan apa - apa imgin rasa nya hilang dari dunia ini saja", kata Ryan dengan berlinang air mata.


"Ryan kematian Rian bukan kesalahan mu atau kematian saudara mu yang lain jadi ku mohon berhentilah menyalahkan mu atas apa yang terjadi pada mereka sudah takdir mereka seperti ini Rian dan adik mu yang sudah meninggal pasti sedih melihat mu yang seperti ini mereka pasti tidak suka melihat kakak sulung nya yang selalu terlihat kuat di keadaan apa pun saat ini terlihat seperti orang paling menyedihkan di dunia", kata Maura sambil memeluk Ryan yang masih nenangis.


Hening. Tak ada pembicaraan lagi setelah kata - kata itu terucap di mulut Maura.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


6 detik


7 detik


Tiba - tiba Ryan melepas diri nya dari pelukan Maura dan Maura hanya tersenyum sekakan tahu apa yang akan terjadi setelah nya.


"Sayang", panggil Ryan dengan senyuman paling manis menurut orang awam tapi tidak bagi Maura saat melihat senyuman paling manis milik Ryan saat itulah nyawa nya sedang di pertaruhkan. Menurut Maura senyuman paling manis milik Ryan adalah senyuman paling mematikan yang pernah Maura lihat.


"Iya sayang kenapa? Ada apa?", tanya Maura juga memberikan senyuman paling manis nya namun itu bukan senyuman manis biasa melainkan senyuman meminta tolong atau ada bahaya yang akan datang juga Ryan sudah tahu makna senyuman itu.


"Jangan pikir kali ini kau bisa lolos dariku lagi sayang akan ku pastikan kau menerima hukuman ini karena sudah menghina ku sayangku", kata Ryan dengan senyuman khas nya.


"Psikopat", gumam Maura sambil melebarkan mata nya hingga bola matanya mau keluar.


"Aku masih bisa mendengar nya memang kenapa kalau suamimu ini seorang psikopat hm tidak suka?", kata Ryan sambil mengambil ujung sehelai rambut Maura dan memainkan nya dengan jari nya.

__ADS_1


Maura hanya bisa menahan nafas memandang Ryan yang mulai nakal terhadap nya.


"H -habisnya kau terlihat menyedihkan seperti orang paling menyedihkan di dunia dan daritadi aku sudah berusaha menenangkanmu tapi kau makin menangis seperti orang menyedihkan saja", jelas Maura gelalapan.


"Kau mengataiku orang paling menyedihkan di dunia dan kau akan membayar nya kali ini biarkan aku bermain demgan sangat puas sayangku tidak ada penolakan atau hukumanmu akan bertambah sayang", kata Ryan sambil mendekati Maura.


Maura berjalan mundur namun ia malah jatuh karena posisi nya berada di ujung tempat tidur.


Segera Ryan menangkap Maura dan Maura langsung berusaha membuka pintu kamar nya namun sayangnya kunci kamarnya ada di tangan Ryan.


"S- sejak kapan?", tanya Maura kaget tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kau tak perlu tahu sayang yang perlu kau tahu hari ini kau akan melayaniku tenang saja gak akan sampai kebobolan kok jadi jangan takut", kata Ryan dengan senyum licik nya.


"Bukan itu aku khawatirkan caramu yang brutal selama ini", kata Maura berusaha keras melepaskan dirinya dari cengkraman Ryan namun tenaga Ryan sangatlah kuat.


"Menyerah saja sayang hari masih panjang", bisik Ryan dan segera ia mengendong tubuh Maura ke atas ranjang.


Maura? Ia hanya bisa pasrah lagi kali ini tanpa melakukan perlawanan lagi jika tidak dampak nya akan buruk bagi dirinya.


"Hm? Gak bakal lari lagi? Pintar ini baru istriku aku mulai ya", kata Ryan dan ia pun memulainya dengan sangat brutal.


"Ini sebabnya aku menolak tapi nanti makin nambah dosa lagi aku sebagai istri jika menolak", pikir Maura pasrah.


"Sudah tahu jangan mengejekku sayang jika tidak ini tidak akan terjadi", pikir Ryan yang membaca pikiran Maura.


"Lebih baik kau sedikit lembut dan berhentilah membaca pikiranku!! Anggap kau tak membacanya bisa kan?!", marah Maura.


Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


"Kak di panggil ayah dan ibu di ruang tamu", kata Raka sambil mengetuk pintu.


"Iya sana pergi aku nyusul", seru Ryan dan Raka pun pergi.


"Tuh di panggil", kata Maura tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan pikir kau bebas setelah urusanku selesai aku akan melanjutkan nya jadi bersiaplah", ancam Ryan dan segera turun dari ranjang dan memperbaiki pakaian nya dan setelah itu pergi meninggalkan Maura di kamar.


Di ruang tamu


"Ada apa ayah?", tanya Ryan malas karena di panggil di tengah ia bersenang - senang.


"Kau kenapa bete amat ayah panggil?", tanya Arfan penuh selidik.


"Habis aku ingin memakan Maura ayah dan ibu memanggilku", jawab Ryan santai tanpa beban.


Sedangkan yang lain hanya menatap tak percaya Ryan mengatakan itu terlebih lagi Maura yang ikut di belakang juga sama menatap tak percaya laki-laki seperti dia akan mengatakan nya dengan tanpa beban apapun.


"Like father like son", kata Anisa hanya bisa geleng - geleng kepala sambil mengingat momen yang sama dulu dengan Arfan saat mereka tiba - tiba di ganggu teman mereka sedang asyik melakukan nya malah di ganggu.

__ADS_1


"Aku harap di panggil ada hal penting ayah", kata Ryan dingin.


"Iya ayah paham. Maksud ayah dan ibu memanggilmu adalah soal proyek yang sedang kau lakukan dengan Vero apa berjalan lancar? Apa dia tahu kau dan dia adalah sepupu?", tanya Arfan.


"Proyek sampai hari ini berjalan lancar dan soal Vero tahu atau tidak aku tidak akan mengatakan nya kalaupun ia sudah tahu sudah ku urus bagian itu jadi tidak ada masalah lagi kan?", jawab Ryan tegas nan dingin.


"Iya hanya itu kok lalu juga satu hal apapun yang terjadi jangan menyakiti dirimu lagi setelah urusan kita selesai di sini kita akan kembali ke Tokyo", kata Arfan.


"Iya aku paham ayah tidak perlu khawatir kok aku tidak akan melakukan hal gila lagi", kata Ryan dengan bangga.


"Lalu tadi kek orang paling menyedihkan saja menangis dan mimpi buruk lagi soal Adrian besok - besok siapa? Diandra?", sindir Maura.


"Benarkah?", tanya Anisa dan Arfan.


"Iya", jawab Maura tanpa beban walau ia sudah di tatap seakan akan mau di makan oleh Ryan saat ini juga.


"Awas kau sebentar lagi", kata Maura melalui tatapan mata.


"Biarin sini jika bisa memakanku dasar buaya", kata Maura melalui tatapan mata.


"Ya sudah kami permisi ayah ibu", kata Ryan dengan senyuman dan Maura sudah lari duluan.


"Iya hati-hati", kata Anisa.


"MAURA SINI KAMU JANGAN HARAP BISA LOLOS DARIKU HUKUMAMMU BERTAMBAH SINI KAMU JANGAN LARI", teriak Ryan sambil menyusul Maura yang entah sudah di mana.


"Hahaha melihat mereka jadi mengingat momen kita juga ya sayang", kata Anisa sambil tertawa.


"Iya kau benar", kata Arfan yang menatap Anisa nakal.


"Mulai lagi kamu", kata Anisa risih dengan tatapan Arfan.


"Kali ini saja?", tanya Arfan.


"GAK", tolak Anisa tegas.


Sedangkan Ryan dan Maura sekarang sudah di kamar dan Maura tertangkap dan pasrah saja kali ini.


"Tidak akan ada yang menganggu lagi", kata Ryan dan ia pun menikmati nya tapi kali ini sedikit lembut walau ujung-ujung nya tetap brutal.


"Terakhir kali kapan ya? Tapi malah gak jadi gara-gara anak-anak ahaha", kata Maura di tengah mereka melakukan itu.


"Iya karena itu aku bete gak bisa dapat jatah terus karena di ganggu mulu sama mereka", kaa Ryan mengingat hari itu ia tak jadi melakukan nya karena di ganggu terus sepanjang hari.


"Tak usah bahas itu biarkan aku melakukan nya dan kau tinggal diam saja", tambah Ryan dan Maura hanya nurut saja kali ini.


Mereka berdua terlarut dalam kenikmataan ini.


Jangan lupa vote dan komen ya juga dukung terus ya.

__ADS_1


Jangan lupa share ke teman atau sosmed kalian dan follow juga akun ig aku: friska_pikachan.


See you...


__ADS_2