Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 22(s2)


__ADS_3

...Terima kasih sudah menunggu ku dan tetap bersama ku  cinta ku, wahai belahan jiwa ku...


...~Ryan~...


...Ku ada untuk mu, kau ada untuk ku. Cinta ku, belahan jiwa ku terima kasih sudah kembali...


...~Maura~...


...Mari mulai kembali ikatan ini hingga ajal menjemput ...


...~Ryan & Maura~...


"Ugh, s-sakit uhuk".


Ryan terbangun melihat sekelilingnya tak ada seorang pun.


"Mana yang lain?", pikir Ryan heran karena tak ada orang satu pun di kamar nya.


Suara pintu terbuka menampakkan sosok wanita yang sangat di kenal oleh Ryan.


"Ibu? Ibu darimana? Di mana yang lain? Di mana Maura?", tanya Ryan lemah berusaha duduk namun rasa sakit nya tak bisa ia tahan lagi.


"Ibu habis dari toilet ayah mu lagi urus kantor bentar lagi nyusul adik-adik mu sibuk masing-masing dan Maura Ibu suruh pulang kasian dia dari kemarin jagain kamu juga anak-anak kamu semua nya Maura urus jadi Ibu suruh istirahat dulu pulang lagian Viola belum minum susu", jelas Anisa tak ada koma maupun titik.


"Ibu bicara nya pake rem dong gak capek apa", kata Ryan menatap malas Ibu nya itu.


"Kamu itu di bilangin malah protes mending istirahat saja", kata Anisa tak terima.


Anisa hendak keluar namun di cegah oleh kata-kata Ryan.


"Viola siapa bu? Nama itu kan aku yang pikirkan untuk anak aku sama Maura kok Ibu tahu aku kan gak pernah bilang", kata Ryan kaget mendengar nama Viola di sebut padahal nama itu Ryan baru memberitahukan pada Maura.


Anisa hanya tersenyum menatap putra sulung nya itu yang masih menatap nya tak percaya.


"Apalagi kalau bukan Maura yang kasih nama lagian bayi kecil kalian itu sudah lahir sejak 2 bulan lalu, tepatnya saat kecelakaan mu", jawab Anisa menatap lembut putra nya itu.


Tak ada jawaban Anisa menatap Ryan bingung.


"Aelah, gak usah natap kosong gitu ah serem tahu", kata Anisa menatap horor Ryan.


"Nak? Sayang? Ryan?", panggil Anisa.


Beberapa kali Anisa memanggil namun tak ada respon dari Ryan.


Suara melengking di sambut tamparan membuat dua orang yang saat ini berada di ambang pintu terkejut.


"RYAN ADINATA MAHENDRA MAHESA JANGAN NGELAMUN KAMU NTAR KERASUKAN NTAR SIAPA YANG BAKAL REPOT", teriak Anisa marah-marah sambil menampar wajah Ryan hingga meninggalkan bekas di pipi nya.


"Astagfirullah allahu akbar", kaget Arfan sambil mengelus dada nya kaget.


"Eh? Udah datang ya?", tanya Anisa dengan tampang tanpa dosa nya itu setelah membuat kehebohan.


Arfan menatap Anisa intens dan berjalan mendekati perempuan itu.


Anisa melihat ke atas karena tinggi nya dengan Arfan cukup jauh.


"Dulu kek nya ni cowok gak setinggi ini kenapa sekarang kek tiang listrik ya", pikir Anisa kesal karena pertumbuhan nya melambat sejak kuliah dulu dan akhirnya ia sekarang tak bisa tumbuh lagi.


"Ayah, ibu bilang kenapa ayah bisa setinggi sekarang padahal dulu gak begini lalu Ibu juga kesal pertumbuhan nya melambat sejak kuliah dan sekarang gak bisa tumbuh lagi", kata Ryan yang notabane seorang pembaca pikiran.

__ADS_1


Anisa menatap tajam ke Ryan karena anak itu melapor ke cowok di hadapannya saat ini.


"Oh gitu ya sayang? Tapi aku suka kok kamu apa adanya juga pendek kek tinggi kek aku terima kok jadi malam ini jadi ya", bisik Arfan dengan nada menggoda.


Seketika Anisa mendorong tubuh Arfan hingga jatuh ke lantai.


"Aduh ayang jangan main kasar deh anak-anak lihat loh", kata Arfan meringis kesakitan sambil mengusap bagian belakang bawah nya yang sakit.


"Biarin rasain tuh makan tuh sakit, ini juga kau itu orang sakit atau orang pura-pura sakit hah?!", kata Anisa menatap sangar ke arah Ryan.


Ryan langsung mengalihkan topik pembicaraan sebelum ibu nya menerkam nya.


"Lupain aja bu, jadi di mana putriku?", tanya Ryan.


"Viola? Kamu udah tahu bayi kita?", tanya Maura bingung kenapa cowok ini tahu soal jenis kelamin dan nama bayi mereka.


"Ya, tahulah dari ibu", jawab Ryan.


"Viola lagi sama Alvin main", jawab Arfan.


"Oh, pengen lihat", kata Ryan sedih karena belum sempat mengendong putri nya itu.


"Iya, ini ayah ke sana dulu kamu bicara saja dengan Maura berdua dulu ayo sayang", kata Arfan sambil menarik tangan Anisa keluar kamar.


Setelah dua insan itu pergi suasana terasa canggung di antara mereka berdua tak ada yang membuka suara.


1 menit


2 menit


3 menit


5 menit


5 menit berlalu pun hanya keheningan menyelimuti mereka tanpa topik pembicaraan.


"Bagaimana keadaan mu? Masih ada rasa sakit di dada?", tanya Maura agak ragu.


"Masih sakit ini benar-benar menyiksa aku ingin pulang saja", kata Ryan sambil menatap langit-langit kamar inap nya.


"Tapi kau belum sembuh total jadi belum bisa pulang juga", kata Maura sambil memainkan selimut Ryan.


"Gak ada kerjaan amat si kamu sampai-sampai bermain selimut", kata Ryan melihat Maura kek anak kecil merajuk.


"Gemesin tahu lihat kamu kek begini", kata Ryan sambil mencubit pipi Maura gemas.


"Aw, sakit tahu gak usah main cubit aja", kata Maura sambil memukul tangan Ryan pelan.


"Hehehe, habis gemesin tahu", kata Ryan sambil tertawa lepas.


Tak mau berdebat Maura melipat kedua tangan nya di dada dan membuang muka tak mau bertatapan dengan cowok di samping nya ini menurut nya sangat nyebelin.


Ryan terus membujuk nya namun Maura terlanjur ngambek.


Tak lama kemudian masuk dua insan tadi dengan bayi yang berada di gendongan Anisa juga seorang cowok di belakang mereka.


"Nih anak kalian bermainlah sepuas nya", kata Anisa sambil memberikan bayi di gendongan nya ke Maura.


"Hai kak, gimana masih sakit?", tanya Alvin sambil melambai tangan.

__ADS_1


"Masih tanya lagi kalau sembuh gak bakal aku berlama-lama di rumah sakit", jawab Ryan sewot.


Alvin malah terkekeh menanggapi nya dengan tersenyum.


"Senyum terus kek orang kerasukan saja", sindir Ryan menatap Alvin, adik bungsu nya itu kek lihat hantu.


"Ih kakak", kata Alvin gak terima di katain begitu.


Ryan malas menanggapi bocah kek dia mending ia diam saja baring tidur.


"Kamu mau gendong?", tanya Maura sambil memperlihatkan wajah Viola.


Ryan menatap Viola dan Maura secara bergantian.


Ia melihat Viola, putri kecilnya itu terlihat Viola sangat mirip dengan nya seperti copas pasti dari nya.


"Seperti Rifki awal nya copas pasti dariku", pikir Ryan.


"Iya sini", jawab Ryan sambil mengambil Viola di gendongan Maura.


Ia pun meng-adzan membisikkan ayat-ayat suci ke Viola.


"Benar-benar pemandangan sejuk untuk di pandang", kata Anisa sambil tersenyum tipis.


"Aku harap keluarga kecil ini ke depan nya baik-baik saja", bisik Arfan ke Anisa.


"Kau benar"


Di sisi lain rumah sakit


"Rey, gimana hasil penyelidikan mu? Gak ada yang ikutin kan?", tanya Rena khawatir takut ada yang mengikuti mereka.


"Aman kok soal penyelidikan ku semua nya baik-baik saja sekarang keadaan kak Ryan juga mulai membaik kok", kata Reyhan.


"Syukurlah kalau begitu", kata Rena merasa lega setelah mendengar nya.


"Tapi kita harus tutup semua akses jaringan sosial ayah dan ibu kakek pasti tak akan tinggal diam jika tahu bahwa mereka berada di Jakarta", kata Reyhan.


"Kenapa harus begitu? Kita tak punya hak untuk hal seperti ini reyhan", kata Rena tak habis pikir jalan pikiran kembaran nya ini.


"Musuh bisa juga mengakses nya juga jadi kita tidak boleh ambil resiko kau mau kita kehilangan saudara atau keluarga kita lagi? Gak kan?! Jadi kita harus melakukan ini demi keselamatan kita semua", jelas Reyhan.


"Baiklah terserah kamu tapi kau harus tanggung jawab sendiri jika ini malah membawa masalah bagi kita berdua", kata Rena tegas.


"Iya-Iya bawel"


"Sekarang apa?", tanya Rena sok polos.


Reyhan menatap Rena horor dan pergi meninggalkan Rena.


"Ish, jangan main tinggal aja", kata Rena sambil menghentakkan kaki nya dan berlari menyusul Reyhan.


Tanpa mereka sadari sosok cowok yang bersembunyi di balik tembok menguping pembicaraan Reyhan dan Rena.


"Mereka salah satu keturunan keluarga Mahesa? Kenapa mereka bersembunyi dan dari siapa? Apa organisasi itu? Aku harus mendekati mereka dan tuan muda pertama", kata nya sambil memperbaiki topi nya.


Semoga suka ya kali ini saya buat lebih panjang lagi semoga puas baca nya.


Jangan lupa vote dan komen nya ya juga dukungan kalian semua.

__ADS_1


See you Next time


__ADS_2