Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
49


__ADS_3

Hi balik lagi nih udah pada nunggu gak? Selamat tahun baru 2022 semoga tahun ini lebih bermakna ya dan tetap dukung ya.


Dan umur author dah 19 tahun hari ini tak terasa ya.


Gimana ya kelanjutan ceritanya ini? Baca aja jika ingin tahu.


Langsung aja ini dia....


Lets go


"Kita mau ke mana ibu?", tanya Devan bingung melihat ibunya sibuk memasukkan baju ke dalam koper.


"Kita bakal ke Palembang lalu ke Tokyo", jawab Anisa yang masih sibuk mengemas baju.


"Ngapain?", tanya Devan lagi.


"Kita bakal ziarah ke kuburan saudaramu di sana", jawab Arfan yang baru selesai mandi.


Devan baru ingat kata Fikri mereka memiliki saudara yang sudah lama meninggal.


"Di Palembang juga?", tanya Devan pasalnya Kiki atau Fikri(yang kita kenal) bilang kalau kuburan saudaranya di Tokyo.


"Iya pasti Kiki yang memberitahumu", kata Anisa.


"Iya"


"Dua kakakmu paling tua yang lahir bersamaan dengan Ryan dan Reyna 26 tahun lalu meninggal setelah 1 minggu di lahirkan ibu bahkan tidak melihatnya sejak lahir juga ayahmu karena kecelakaan maut itu", jelas Anisa menatap Devan berkaca-kaca.


Devan ingat pernah membacanya di koran lama tentang kecelakaan maut 26 tahun lalu di Palembang.


Kecelakaan itu membuat dua orang sepasang kekasih mengalami kritis. Sang cewek saat itu dikabarkan mengalami air ketuban pecah dan sang cowok mengalami henti jantung.


Devan tidak menyangka orangtuanya mengalami hal seperti itu jauh sebelum ia lahir.


"Maaf", kata Devan lirih dengan suara kecil.


"Apa?", tanya Anisa dan Arfan tidak mendengar kata-kata Devan.

__ADS_1


"Maaf Devan gak tahu hal seperti itu terjadi", kata Devan sambil menangis.


"Hahahaha, kau ini kau bahkan belum lahir saat itu lagian jangan menyalahkan dirimu Ryan dan Reyna aja gak pernah mempermasalahkan hal itu kok jadi berhenti menangis", kata Arfan sambil memeluk Devan memenangkannya.


"Ayah aku-"


"Sekarang keluar ayah mau pakaian kau juga bersiap sana sehabis ini kita berangkat", kata Arfan tiba-tiba melepas Devan dan mendorongnya keluar dari kamar lalu menguncinya.


"Hahahaha"


Suara tawa dari Ryan pecah saat melihat Devan di dorong keluar.


"Ih apa yang lucu sih?!" , ucap Devan malu sudah di lihat seperti itu.


"Udahlah lagian saat itu aku yang lahir bukan dirimu aku aja gak tahu wajah Reyhan Rena tapi setidaknya aku masih punya adikku yang kebo itu", kata Ryan.


"Siapa?", tanya Devan.


"Reyna siapa lagi", kata Ryan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Senang banget ya kau tertawa terus diriku yang dulu", kata Reyna tiba-tiba datang.


"Ahahaha, dulu maupun sekarang sama aja kau pikir aku gak tahu kau tetap kebo kalau hari libur lagian kalau bukan kau sudah menikah kau tetap kebo setiap hari", kata Ryan tetap tertawa.


Reyna sudah malu habis-habisanĀ  dibuat Ryan ia tak terima hal itu.


"Oni-chan baka baka baka", kata Reyna sambil memukul belakang Ryan.


Dan Ryan tetap kukuh sambil tertawa tanpa henti.


"RYAN REYNA DIAM KALIAN DAN CEPAT BERKEMAS", teriak Arfan.


Seketika mereka lari kabur menarik Devan pergi dari sana.


"Apa apa? Kok kalian takut sama ayah?" , tanya Devan tidak mengerti.


"Kau lupa kemarin kemarahan ayah kek bagaimana?! Aku gak mau di amuk lagi sama ayah gak ada habisnya", kata Reyna merinding mengingat kejadian kemarin.

__ADS_1


Seketika Devan bungkam mendengar perkataan Reyna.


"Kalian ngapain? Tidak berberes?", tanya Andre.


"Ini kok mau berberes", kata Reyna.


Selesai berberes mereka langsung berangkat ke Palembang.


Sementara itu


"Kok nomor Reyna gak aktif?"


"Kenapa?", tanya William.


"Ini loh Wil nomor Reyna gak aktif padahal udah daripada ku telpon", jawab Mira bingung.


"Mungkin sibuk", kata William.


"Mungkin"


"Ayo bentar lagi acaranya", ajak Roni.


"Iya"


1 jam kemudian


"Yey sampai", kata Keisya semangat.


"Udah lama gak ke sini ya", kata Reyna nostalgia melihat tempat ia lahir.


"Aku baru aja ke sini 3 bulan lalu", kata Ryan.


"Dih gak ngajak", cibir Reyna.


"Udah ayo masuk rumah ayah capek mau istirahat", kata Arfan.


"Baik"

__ADS_1


__ADS_2