Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 37(s2)


__ADS_3

Maaf jika ada kesalahan kata dan penempatan kata🙇‍♀️.


Selamat membaca...


Keesokan harinya


"Ugh, sial badanku sakit semua padahal sudah ku bilang melakukan nya dengan lembut lelaki ini malah lebih brutal dari biasa nya memang tidak ada yang bisa ku harapkan dari Ryan jika sudah berurusan seperti ini", kata Maura yang berusaha bangun dari tempat tidur nya walau semua tubuh nya membuat nya tidak memungkinkan untuk berjalan.


"Boro - boro berjalan bangun aja aku sudah kesusahan sialan Ryan dia harus membayar rasa sakit ku ini jika tidak awas saja dasar lelaki buaya", kata Maura sambil mengumpat dan berkata kasar tentang Ryan atas kejadian semalam.


"Jika memang kenapa? Kalau kau mau mandi suamimu ini akan memandikan mu dan lain sebagai nya mengerjakan pekerjaan rumah? Urus anak? Memasak? Aku bisa melakukan itu semua kau pikir lelaki seperti apa yang sudah menikah denganmu, hm?, kata Ryan tiba-tiba sudah memeluk tubuh ramping milik Maura.


"Istriku ini memang paling......    mengerti diriku yang sebagai suaminya", bisik Ryan dengan nafaf dibuat-buat nya sambil sengaja meniup tepat di telinga Maura.


Sedangkan Maura sudah merasa geli karena Ryan terus menjilati tepat di leher Maura dan tidak ingin melepaskan nya.


"R- RYAN ITU GELI!! INI MASIH PAGI JUGA JANGAN BUAT HAL YANG TIDAK-TIDAK", teriak Maura langsung tanpa aba - aba mendorong dengan kuat Ryan sampai lelaki itu tersungkur ke belakang dan jatuh dari ranjang.


"A -aduduh sakit sayang", kata Ryan meringkuk meringis kesakitan sambil memenggang bagian belakang kepala nya.


Segera Maura menoleh ke belakang melihat kondisi Ryan.


"Apa yang sakit sayang? Maaf ya tadi aku refleks aja sini hadap ke belakang biar ku lihat", kata Maura sambil membalikkan badan Ryan.


"Sini sakit", kata Ryan sambil memegang bagian tempat ia terbentur.


Maura memeriksa jika ada yang bagian terluka atau berdarah.


"Astaga Ryan ini berdarah tunggu aku ambil kotak p3k ya kamu jangan bergerak", kata Maura panik tetapi ia berusaha tetap tenang dan segera mengambil obat di lemari.


Setelah itu Maura mengobati dan menghetikan pendarahan di kepala Ryan.


"Sudah sekarang gak sakit lagi kan?", tanya Maura sambil menutup kotak obat nya.


"Tidak terlalu sakit lagi walau masih agak terasa perih ini lebih mendingan daripada yang tadi makasih ya sayang", kata Ryan sambil tersenyum.


"Sudah tanggung jawabku mengurusmu", kata Maura membalas senyuman juga.


"Omong-omong sayang memangnya tubuhmu gak sakit lagi? Tadi kau bisa berjalan walau seperti nya kau masih menahan rasa sakit nya", kata Ryan sambil menatap Maura ragu-ragu dengan keadaan nya saat ini.

__ADS_1


Hening sesaat.


"Eh?! Iya juga!!", teriak Maura histeris kaget juga kenapa ia bisa tiba-tiba berjalan tanpa peduli lagi akan rasa sakit di tubuh nya.


Tiba-tiba seseorang mendobrak pintu kamar mereka dengan sekuat tenaga.


"Kakak!! Apa yang terjadi?! Tadi aku mendengar suara dentuman yang sangat keras?!", teriak nya heboh sendiri.


Ryan maupun Maura saling bertatapan satu sama lain.


"Terlambat", kata Ryan dengan wajah datar nya menatap adik nya itu yang saat ini hanya bisa menganga lebar.


"Hah?! Memang apa yang sudah terjadi?!", tanyanya lagi.


"Biasa lagian itu bukan masalah besar cuma aku aja yang jatuh dari ranjang gara-gara wanita di belakangku Andra", jelas Ryan sambil melirik Maura sekilas.


"Begitu", kata Andra sambil bernafas lega mengelus dada nya lega.


"Apa yang membawamu ke sini? Bukan sekedar memeriksa kan?", tanya Ryan seakan ia tahu maksud lain kedatangan seorang Anra yang sangat jarang muncul jika ada kata berkumpul. Anak ini yang selalu jarang ada saat semua nya berkumpul.


"Ayah memanggil kakak hanya itu selebih nya tanya ayah aku hanya menyampaikan saja oh ya ayah tunggu di tempat biasa ya dah", kata Andra yang langsung hilang di depan pintu.


"Jadi?", tanya Ryan menatap Maura sambil menaikkan satu alis nya.


"Apa?", tanya balik Maura menatap Ryan penuh waspada sambil menutup tubuh nya memakai selimut.


"Mandi bareng? Diam artinya setuju ya waktumu hanya 3 detik", kata Ryan sambil menyilangkan tangan nya di depan dadanya menatap dengan senyum nakal nya.


"Dasar mencari kesempatan dalam kesempitan", cerocos Maura malu sambil menyembunyikan sebagian wajah nya dalam selimut.


"Jadi?", tanya Ryan lagi.


"Baiklah kali ini saja", jawab Maura malu-malu.


Tanpa aba-aba Ryan langsung mengendong tubuh Maura yang telanjang bulat tanpa busana dengan pede nya ke kamar mandi.


Maura? Dia hanya pasrah saja lagian ini bukqn yang pertama kali bagi mereka mandi bersama.


Selang beberapa menit berperang di dalam kamar mandi akhirnya mereka selesai berpakaian.

__ADS_1


"Aku duluan ya", kata Ryan yang sudah siap rapi walau dengan pakaian rumah nya.


"Iya", sahut Maura mangut-mangut aja.


Di ruang tengah lantai bawah


Baru saja Ryan turun dia sudah mendapat hadiah berupa ceramah dari ibu Anisa.


"Ngapain aja?! Hah?! Kok lama?!", teriak Anisa marah-marah.


"Sudahlah sayang namanya juga sudah berkeluarga", jelas Arfan enteng sambil menyeruput teh nya.


"Hah?!", ucap Anisa tidak terima tapi langsung Ryan mengalihkan topik.


"Ada apa yah?", tanya Ryan berusaha santai.


"Kapan urusan mu selesai? Keluarga ayah mulai curiga dengan rumah ini", kata Arfan serius.


"Insa allah minggu depan yah semuanya beres tanpa gangguan", jawab Ryan.


"Baguslah lebih cepat lebih baik hanya itu saja dan satu hal lagi jaga kesehatanmu jangan membuat isrimu khawatir", kata Arfan sambil menyeruput teh nya lagi.


"Tentu ayah kalau begitu aku kembali", pamit Ryan.


"Hm"


Setelah Ryan pergi Anisa agak khawatir ke depan nya akan bagaimana.


"Jangan khawatir akan sesuatu yang belum terjadi", pesan Arfan.


"Aku tahu tapi hati ini berkata lain", kata Anisa sambil memegang dadanya khawatir dan cemas.


Arfan memegang tangan Anisa tersenyum dan berkata "semuanya akan baik-baik saja"


Anisa hanya bisa mengangguk berharap semuanya akan baik-baik saja.


Jangan lupa vote dan komen juga terus dukung ya.


See you...

__ADS_1


__ADS_2