
Kembali timeline sekarang(s1) di Jakarta, kediaman utama keluarga Mahesa.
Sesaat hening. Tak ada yang bisa membuka suara setelah penjelasan panjang dari Arfan dengan apa yang ia rencanakan dan yang ia alami selama ini.
Andhika, ayah Arfan menghela nafas sambil memijit pelipisnya. "Jadi, apa Reyhan sudah menemukan jalan keluar dari belenggu menyesakkan ini." Kata Andhika menatap Arfan lekat.
Arfan tersenyum tipis sambil berkata. "Nantikan saja Ayah anak itu penuh kejutan."
Mendengar jawaban Arfan Andhika hanya menghela nafas sambil menyeruput kopinya.
"Ku harap rencanamu berhasil, Arfan," kata Andhika dan Arfan hanya tersenyum penuh arti.
"Dimana Reyhan saat ini?," tanya Vivian, ibu Arfan.
"Dia sekarang berada di kantor bersama Ryan," jawab Arfan.
Sementara itu, di kantor terlihat dua orang pria tengah sibuk mengurus tumpukan kertas.
__ADS_1
"Ry, kapan kau membalas mereka? Aku siap kapan saja untuk keberhasilan rencana kita," kata salah seorang dari mereka yang masih sibuk dengan berkas-berkas ditangannya.
Orang dipanggil itu sekilas melirik orang tersebut sambil berkata. "Reyhan, bersabarlah kita akan membalas balik saat mereka sendiri memakan umpan kita dan saat itulah kita membalas balik serta pada saat itu kau lakukanlah dan biarlah mereka meraung dan menggila karena disaat itu kekuatan magis di dalam kalung itu sudah hilang bersama perjanjian dengan dunia alam lain," jelas Ryan dengan intonasi rendah namun tatapan matanya tajam sambil menatap Reyhan.
Sedangkan, Reyhan menelan ludah saat kakak sulungnya itu menatapnya dengan sangat tajam. Ia tak berani berpikir macam-macam karena ia tahu kemampuan Ryan yang dapat membaca pikiran orang tak terkecuali dirinya.
Hening sesaat. Tetapi, tak berlangsung lama karena mata mereka bertemu. Dari tatapan Ryan, Reyhan tahu pasti tatapan itu seolah berkata ada yang mau kau katakan lagi?.
Reyhan menghela nafas panjang dan menatap sang kakak. "Bagaimana dengan pernikahan mereka berempat?," tanya Reyhan(note: yang dimaksud Faisal, Ayna, Fikri, dan Alma).
Reyhan hanya mengangguk-ngangguk bersamaan suara ketukan pintu terdengar. Ryan menyanyakan ada apa dan diseberang pintu menjawab sebentar lagi rapat akan dimulai. Ryan menjawabnya baiklah.
"Kalau begitu, aku duluan kak masih ada yang perlu ku urus di tempat lain," pamit Reyhan dan Ryan hanya berdeham.
Reyhan keluar ruangan dan hanya menyisakan Ryan di dalam ruangan tersebut.
Suara dering handphone bergetar di saku celana Ryan. Ryan merogoh saku celananya dan mengangkat telepon dari Maura.
__ADS_1
Suara melengking langsung terdengar begitu Ryan menempelkan gadgetnya di telinganya. Maura menyanyakan kabar Ryan dan Ryan menjawab kabarnya baik-baik saja.
Mereka mengobrol hal umum antar suami istri di telepon dan telepon berakhir dengan percakapan Maura menyuruhnya cepat pulang sambil membeli keperluan rumah.
"Dasar wanita padahal dulu dia tidak begini memang benar perempuan akan berubah menjadi kucing garong setelah menikah mirip ibu," cerocos Ryan dan segera meninggalkan ruangan kerjanya dan berjalan menuju ruang meeting.
Disisi lain, di tempat sepi yang jauh dari pusat kota seorang pria berjalan mendekati seorang pria yang sedang diikat di kursi dengan mulutnya dilakban terus meronta-ronta.
"Tuan, dia tidak mau diam apa saya harus bunuh orang itu?," tanya salah satu ajudan orang yang dipanggil tuan.
"Tak perlu, aku perlu informasi darinya," jawabnya dan mengisyaratkan ajudannya untuk membuka lakbannya serta meminta kursi.
"KAU SIAPA?! MAU APA KAU DARIKU?! KAU PIKIR AKU AKAN BERITAHU!!" serunya marah pada pria di hadapannya.
Pria itu duduk di depan pria tersebut sambil mengangkat alisnya berkata. "Siapa aku? Aku Reyhana Mahesa, banyak yang ingin kutanyakan padamu itupun jika kau menjawabnya tapi jika kau tak menjawab atau membohongiku aku sendiri yang akan menghabisimu disini sekarang," kata Reyhan dengan tatapan penuh dendam.
Bersambung...
__ADS_1