
12 tahun kemudian, di Amerika
"Faisal, aku yakin kau bisa sembuh", kata seorang anak laki-laki yang berumur 12 tahun.
"Hm", jawabnya dingin tapi anak laki2 itu tetap mau menyemangati sahbat kecilnya.
"Faisal, jangan dingin dong sama Alan dia kan sahabat kecilmu", kata Anisa.
"Ibu, Faisal tidak tahu harus bagaimana apa nanti Faisal akan sembuh?", tanya Faisal, anak ketiga Arfan dan Anisa.
"Iya sayang", ucap Anisa sambil mengecup kening putra keduanya.
"Ayo minta maaf sama Alan dan kalian main ngobrol aja", kata Anisa.
"Ya", jawab Faisal semangat.
"Seandainya hari itu tak pernah terjadi Faisal tak perlu sakit seperti ini", pikir Anisa sambil tersenyum pahit.
12 tahun lalu
"APA?! LAHIR DENGAN KONDISI PENYAKIT JANTUNG!!", seru Anisa.
"Iya", dokter Angga menjawabnya tegas.
"Lalu ketiga kembarannya hanya perlu perawatan dan pemantauan saja mereka baik2 aja", tambah dokter Angga.
Anisa menangis histeris dan Arfan mencoba menengangkan istrinya itu.
"Ini cobaan dari Allah kita harus sabar Faisal pasti kuat", kata Arfan walau sebenarnya dia agak khawatir juga namun apa daya marah juga gak ada gunanya.
"Kalau begitu saya permisi"
5 tahun setelahnya di Amerika.
"Halo", sapa seorang anak laki2 di samping ranjang Faisal.
Faisal hanya menoleh lalu lanjut membaca bukunya lagi.
"Eh? Kenalan yuk, namaku Alan kamu?", tanya Alan.
"Faisal", jawab Faisal singkat.
"Salam kenal boleh berteman? Aku juga bosan", kata Alan dan Faisal setuju aja.
Sejak itu hubungan mereka semakin dekat aja sampai sekarang.
Ok kembali ke waktu sekarang.
Saat ini Faisal berada di taman rumah sakit ditemani Alan, sahabatnya.
"Faisal, kalau kamu sembuh kita nanti masuk ke sekolah yang sama ya janji?", kata Alan dengan tawanya yang lebar dan Faisal lagi2 setuju.
Awalnya begitu namun hari itu Faisal kehilangan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Alan, aku gak sanggup lagi dadaku hah s-sakit", kata Faisal dengan nafas yang tersisa.
"Ayo Faisal kita pergi dari sini", kata Alan mengulurkan tangannya namun belum sempat Faisal meraih tangan Alan para bandit itu menembaki mereka berdua.
"Ayo kita lari", kata Faisal menarik tangan Alan.
"Jangan sampai mereka lolos!!", seru salah satu dari mereka.
Di sisi lain
"Di mana mereka? Ku cari2 juga", kata Ryan sambil melihat sekitar namun ia tak menemukan Alan dan Faisal.
"Coba ke sana aja", Ryan pun lari masuk ke dalam lagi pasar gelap.
Di tempat Alan dan Faisal
"Harusnya mereka tidak mengejar lagi", kata Alan.
"Syukurlah aku juga capek", kata Faisal.
"Tunggu diam", kata Alan sambil mendekap mulut Faisal.
"Hei!! Ada apa?! ??! Apa itu?", tanya Faisal bingung namun mereka tak menemukan seorang pun.
"Kena kalian", kata salah satu bandit itu.
"Sial,kakiku gak sanggup lagi", gerutu Faisal.
"FAISAL"
Di rumah sakit
"Di mana mereka?" , tanya Anisa khawatir.
"Anisa Calm down! Let's find them together", kata mama Alan yang merupakan turunan orang turki(Anisa tenanglah! Ayo kita cari mereka bersama).
Di sisi lain
"Sial, kenapa malah dia ketembak?", gerutu bamdit itu.
"Kau sih bodoh malah membunuh anak orang lain aku gak tanggung jawab loh", kata salah satu teman bandit tadi.
Sedangkan Faisal tetap memeluk tubuh Alan dengan tatapan takut.
"Alan!! Alan!! Bangun hey!!", teriak Faisal.
"Fa-isal", kata Alan lemah.
"Alan kau gak apa2? Kita ke rumah sakit aja", kata Faisal takut dan cemas karena melihat kondisi Alan yang begitu berlumuran darah.
"T-tidak a-ku gak ku-at lagi", kata Alan.
"Lan, kau kuat aku percaya itu", kata Faisal dengan air matanya yang sudah mengalir deras.
__ADS_1
Rintik2 hujan mulai turun dan Faisal masih senantiasa memeluk tubuh Alan.
"Ini yang terakhir kali Faisal, aku akan memberikan jantungku padamu tetaplah hidup jangan pernah terjebak di masa lalu dan diriku", kata Alan yang mulai melemah namun tetap tersenyum.
"Lan, apa yang kau bicarakan? Jangan main2 lan, ALAN", seru Faisal dan di saat itu hujan langsung turun deras membasahi mereka.
Faisal tak percaya sahbat kecilnya itu meninggal di pelukannya. Faisal tetap memeluk tubuh Alan yang sudah dingin dan tak bernyawa.
"Hei bocah ini semua gara2 kamu teman kamu mati karena salahmu bukan salah kami ya kan? Hahaha..", kata kedua bandit itu sambil tertawa terbahak2.
"Kenapa? Kau mau susul teman kamu? Akan ku kabulkan bocah", katanya sambil berlari kearah Faisal.
Faisal menghindari semua serangan bandit itu.
"Ap-apa?! Tidak mungkin kau hanya bocah ingusan saja", katanya ketakutan karena aura disekitar Faisal sangat suram dan bandit itu melihat tatapan mata Faisal yang kosong namun tersirat hasrat membunuh dan seketika mata Faisal berubah menjadi merah.
"D-dia bocah piskopat panggil yang lainnya", katanya dan temannya itu memanggil rekan mereka yang lain.
"Heh, bocah kau pikir kau hebat hanya karena kau seorang piskopat? Aku tuh gak takut", katanya dan berlari menyerang Faisal di susul lainnya.
Faisal menghabisi mereka tanpa tersisa dan pasar gelap itu berubah menjadi tempat pulau darah. Yap, Faisal membunuh mereka semua.
Di sisi lain tempat kejadian Ryan melihat semua kejadian tersebut.
Dan sepulangnya mereka ke rumah sakit orangtua Alan tidak keberatan karena Alan sudah mengatakannya dan orangtua Alan ikhlas dan mengerti ini keinginan putra mereka yang terakhir.
Malam itu hujan deras dan petir bergemuruh menjadikan suasana pasar gelap di Amerika sangatlah seram ditambah dengan pulau darah itu membuat semua orang2 mafia ciut apalagi saat mereka tahu Faisal adalah anak Arfan. Memang Arfan patuh dalam ajaran agamanya tapi jangan tertipu dulu oleh tampang luarnya gini2 keluarga Mahesa dulunya adalah mafia terkuat sedunia semuanya takut oleh elang merah.
Di Jakarta
"Apa ada perkembangan terkait tuan muda Arfan dan nona muda Anisa?", tanya Andhika.
"Tidak ada tuan tapi tuan muda hari ini ada insiden di Amerika di pasar gelap dimana 2 hari lalu terjadi pembunuhan terhadap anak laki2 berusia 12 tahun dan temannya tak terima akhirnya ia menggila dan membunuh para banditr itu tanpa tersisa", kata sang sekretaris.
"Hm lalu?", tanya Andhika.
"Anak itu terlihat mirip dengan tuan muda Arfan", kata sekretaris sambil memberikan foto anak itu yang tak lain adalah Faisal.
"Kan anak laki2 Arfan harusnya sekarang berumur 14 tahun", kata Andhika.
"Mungkin saja tuan muda memiliki anak lagi", kata sekretaris.
"Sekretaris Dion kalau soal Arfan memiliki anak lagi biarkan saja lagian kita tidak memiliki petunjuk lagi satu2nya adalah anak gadis yang dibawa Anisa 14 tahun lalu aku mau kau selidiki gadis itu", kata Andhika.
"Baik tuan"
Hai balik lagi nih masih setia kan membaca? Setialah😍
Jangan bosan2 ya baca ceritaku ini nanti tunggu chapter selanjutnya
Jangan lupa like dan komen
Bersambung....
__ADS_1