Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 14


__ADS_3

**Balik lagi nih pasti pada nungguin oke langsung aja


Selamat membaca**


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


"Kan kubilang juga apa, sekarang tekanan darahmu naik", kata Anisa lembut.


" H-habisnya aku marah Alma kenapa jadi begitu", kata Arfan lemah.


"Aku paham Alma menjadi begitu karena kita terlalu membiarkannya memilih tapi malah disalahgunakan untung aja Alma gak berakhir seperti aku", kata Anisa lembut sambil mengelus lembut rambut Arfan.


" Seharusnya dulu aku tidak memberinya izin untuk sekolah di Jakarta ", kata Arfan lemah.


" Kan jadi gini karena kamu marah-marah tadi", pikir Anisa khawatir dengan kesehatan Arfan yang semakin memburuk.


"Tuh kamu sampai sakit gini gara-gara kebanyakan mikir padahal perusahaan sekarang sudah ditangan Ryan", kata Anisa lembut.


" Ryan masih baru dan masih banyak belajar daripada soal itu akhir pekan ini Ryan menemui mereka", kata Arfan.


"Iya boleh aku ikut?", tanya Anisa manja.


" Buat apa? ", tanya balik Arfan denganย  suara berat.

__ADS_1


Anisa tahu tidak mudah mendapat izin dari suaminya yang posesif ini.


" Tenang aja kau ikut karena akhir pekan gak ada satu orang pun dirumah apalagi kau sedang sakit", kata Anisa.


"Tapi kita tidak boleh ketahuan oleh Ryan dan yang lainnya", kata Arfan.


" Tenang saja aku punya ide", kata Anisa semangat.


"Kok firasat ku gak enak", pikir Arfan yang merinding langsung.


Di kamar Ryan-Maura


" Akhir pekan ini kau pergi? ", tanya Maura dengan perut bulatnya.


" Hm, emang kenapa? ", tanya Ryan sambil membuka kancing bajunya.


" Aku kesepian dong, mau manja-manja denganmu", kata Maura manja.


"Makin lama Maura makin manja yah efek hamil juga", pikir Ryan.


Dan sekarang dia sudah merasakan penderitaan ayahnya dulu sebelum dan sesudah punya anak. Bawa-bawa istri hamil tuh susah banyak maunya dan maunya manja-manja. Tapi sudahlah, toh dia juga sudah terbiasa ngurus hal beginian.


" Aku dengar tadi ibu mau ikut tapi tak mau ketahuan olehku dan mau keluar dengan ayah jadi ya sudahlah kau ikut aja sama ayah dan ibu setelah selesai kita pergi jalan-jalan, mau? ", kata Ryan lembut sambil berjongkok menghadap ke Maura.


" Oke"


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ

__ADS_1


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


๐ŸŒธ


Tengah malam, Ryan menemui ayahnya di balkon rumah.


"Ada apa? ", tanya Arfan dengan suara agak lemah.


" Ayah yakin gak papa? ", tanya balik Ryan.


" Iya hanya kecapean aja. Kenapa tengah malam begini manggil? ", tanya Arfan lagi.


"Aku tahu rencana ayah dan ibu akhir pekan ini jadi sekalian Maura sama kalian dulu setelah selesai ayah dan ibu mau bersenang-senang silakan aku juga mau jalan-jalan sama Maura dan anak-anak", ujar Ryan dengan rona merah di pipinya.


" Hm? Ciecie, mau pacaran ya anak-anaknya dibiarkan bermain ya", goda Arfan.


Arfan sangat kenal putra sulungnya ini tak bisa utarakan cintanya dan kasih sayangnya secara terang-terangan. Tapi itulah yang membuat Ryan berbeda dengan laki-laki pada umumnya, bisa dibilang Ryan merupakan copy paste darinya sendiri.


"Jangan menggodaku", kesal Ryan. Bagi Ryan orang-orang yang tahu aibnya ataupun sisi lain misal kelemahannya hanya keluarganya atau orang yang ia sangat percayai.


" Berhenti menggodaku oke? Gimana? Setuju gak? ", tanya Ryan berusaha sabar.


" Kau ya, mengingatkanku diriku yang dulu sebelum aku menikahi ibumu. Soal masalahmu fine aja boleh kok", kata Arfan sambil memeluk erat putranya.


"Rasanya baru kemarin aku lihat kamu yang masih berusia dua tahun datang padaku di rumah sakit meminta gendong sekarang sudah besar sudah punya istri dan lima anak", kata Arfan sambil mengenang jasa-jasa itu.


Anisa dan Maura melihat hubungan ayah dan anak yang begitu dekat hanya tersenyum melihat hal itu.


**Gimana? Pada nunggu kan๐Ÿ‘€


Semoga memuaskan kalian

__ADS_1


Bye bye๐Ÿ‘€**


__ADS_2