Nikah Muda(END)

Nikah Muda(END)
episode 44(s2)


__ADS_3

Selamat membaca....


Kembali ke waktu sekarang


"Gila perjalananya jauh amat", gumam Maura mendorong kereta bayi.


"Ayo pulang aku juga capek", kata Ryan kelihatan lesu.


"Ayo", kata Fira girang sambil berlari.


"Tunggu Fira", kata Fadli dan di susul Rifki.


"Hati-hati", kata Mutia khawatir.


"Anak-anak itu", gumam Maura kesal.


"Kenapa kau kelihatan lesu gitu?", tanya Maura saat melirik Ryan.


"Cuma sedikit capek aja", jawab Ryan.


"Semalalam mimpi buruk lagi?", tanya Maura walau ia tahu jawabannya.


"I-iya", jawab Ryan dengan nada suara kecil.


"Adrian?", tebak Maura. Hening sesaat Maura menatap suaminya yang masih berdiam diri.


"Bukan, itu mimpi panjang dan menyesakkan", kata Ryan sambil menundukkan kepala.


"Nizar dan Diandra ya", gumam Maura pelan.


"Kau pernah cerita kematian Diandra membuat Andra menjadi gila dan kehilangan akal sehat dan hanya mengurung diri di kamar, tidak makan atau mandi dan akhirnya Revan dan Riko menyeretnya keluar", kata Maura.


"Iya, keadaannya benar-benar menjijikkan dan memprihatinkan Andra seperti mayat hidup saat itu", kata Ryan.


"Dan juga.."


"Dan juga?"


"...beberapa kali Andra melukai dirinya", lanjut Ryan sambil menatap tajam ke arah Maura.

__ADS_1


Maura menelan ludah dan langsung menampar Ryan sangat keras sampai menghasilkan suara sangat nyaring.


"Salahku apa?! Sayang?!", teriak Ryan sambil berlari mengejar Maura yang sudah berlari duluan tanpa peduli banyak orang melihat mereka.


"Kakak ku harap kau berhati-hati ke depannya", kata seseorang dengan menutup wajahnya memakai hoddie dan masker dan pakaian serba hitam.


"Sayang ayo"


"Iya"


Cowok berhoddie itu berjalan menghampiri gadis pujaannya namun sesaat ia berpapasan dengan seorang pria asing yang menatap tajam kepadanya.


"Sayang, Reyhan sayang", panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi cowok itu.


"Ah iya maaf Yuni ayo", kata Reyhan sambil menggandeng tangan Yuni namun pikirannya tidak tenang dengan sosok pria itu.


"Ku harap tidak terjadi apa-apa", pikir Reyhan.


Hari-hari berikutnya semuanya orang menjalani kehidupan biasa saja seperti runititas sehari-hari. Hingga....skip.....


3 tahun kemudian


"Viola tunggu kakak", kata Fera sambil mengejar Viola yang aktif berlari tanpa henti.


Mereka berempat berlari dan bermain membuat mahkota bunga.


"Bu ini untuk ibu", kata Viola sembari meletakkan mahkota bunga buatannya di atas kepala Maura.


"Ibu cantik gak?", tanya Maura sambil berpose ala-ala anak muda zaman sekarang.


"Iya sangat cantik kayak bidadari", jawab Viola senang dan jatuh dalam pelukan Maura.


"Kalau begitu Viola juga harus pake buatan ibu karena Viola juga cantik seperti bidadari", kata Maura sembari memakaikan mahkota bunga buatannya di atas kepala Viola.


"Kalau begitu ayah uga halus pakai mahkota bunga karena ayah cantik", kata Viola mendekati Ryan.


Spontan Ryan mundur dan Viola tidak mau mengalah dan mengejar Ryan.


Ayah-anak itu malah main kejar-kejaran dan akhirnya..

__ADS_1


"Yey ayah pake mahkota bunga tambah cantik deh", kata Viola sambil melompat-lompat.


Ryan pasrah dan menghela nafas. "Bangun astaga", kata Maura berdiri menghadap Ryan.


"Astaga anak itu semakin aktif saja aku malah cepat capek akhir-akhir ini", kata Ryan.


"Duduk yang benar", kata Maura tegas dan Ryan memperbaiki posisi duduknya.


"Gimana gak cepat capek kalau akhir-akhir ini jadwal di kantormu padat banget bahkan di hari libur pun kau harus masuk kantor", jelas Maura.


"Anak-anak dimana?", tanya Ryan.


"Tuh, eh? Tadi di sini bermain kok", kata Maura kaget keempat anak-anak itu malah hilang.


"Itu Fira", kata Ryan dan langsung berdiri berjalan menghampiri putrinya itu.


"Fira", panggil Ryan.


"Ayah? Ibu?", panggil Fira tapi raut wajahnya agak khawatir dan pasti sudah terjadi sesuatu.


"Di mana saudaramu yang lain?", tanya Maura lembut.


"Viola tadi bermain di sini tapi tiba-tiba hilang Fadli dan Rifki mencarinya", jelas Fira tanpa sadar ia menangis dalam pelukan Maura.


"Sayang temani Fira aku cari mereka jangan kemana-mana tetap di sini", kata Ryan dan Maura mengganguk segera Ryan masuk lebih dalam taman bunga yang luas itu.


Di sisi lain


"Kak Lif-ki to-lo-ng Pio-la", ucap Viola yang sudah berlumuran darah.


"Matilah", ucap si pembunuh itu.


"VIOLA", teriak Rifki.


Jangan lupa vote dan komen serta dukung terus ya...


Saya tetap update dan membuat and para pembaca semakin penasaran dan ketagihan membacanya...


Menurut kalian cerita ini akan semakin menarik kalau dibuat webtoon gak? Pendapat kalian aja kebayang sesuatu gitu?

__ADS_1


See you...


__ADS_2