
WARNING ADEGAN PEMBUNUHAN ATAU 18+
Di ruangan dingin itu orang-orang itu menunduk ketakutan tak berani menatap Fikri yang duduk di hadapan mereka saat ini.
"Hebat sekali kalian berani mengusik kakakku dengan memanfaatkan kelemahannya namun hal itu takkan berlaku untukku..sayang sekali", kata Fikri dengan sombongnya menatap remeh mereka yang dalam keadaan terikat kaki dan tangan.
Mereka bergetar ketakutan dan tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak memohon untuk segera dilepaskan.
"Boleh saja aku melepaskan kalian jika kalian mau memberikanku informasi keberadaan pak tua itu jangan pikir aku yang seorang remaja bodoh yang bisa kalian bodohi aku tak akan segan-segan membunuh kalian hari ini jika kalian tidak memberikanku informasi apapun", jelas Fikri sambil mengambil sebilah pedangnya yang selalu ia bawa-bawa jika melakukan introgasi ke seseorang di ruangan itu.
"Jangan anggap remeh diriku, ini ancaman dariku", kata Fikri sambil menatap dingin mereka yang ketakutan karena Fikri mengeluarkan aura membunuh.
"Jadi, mari berbicara hanya di antara kita saja awas kalian berbohong maka lidah kalian yang akan ku potong", kata Fikri menatap tajam mereka sedangkan mereka karena ketakutan menelan ludah saking takutnya mereka saat ini.
Di Jakarta Siska dan Luna berada. Mereka bertemu dua orang asing saat di perjalanan.
"Siapa kalian?! Kalian datang untuk apa?! Menyingkirlah", seru Siska sambil melindungi Luna di belakangnya menatap marah dan penuh waspada dengan dua orang di hadapannya saat ini.
"Kami saudara kak Faisal dan kak Fikri kami kesini dengan membawa pesan kak Fikri untuk menyelamatkan kalian dan membawa kalian ke tempat yang aman", jelas seorang cewek sambil mengeluarkan surat dan memberikannya ke Siska.
"Lalu dimana ia sekarang?", tanya Siska setelah membaca surat tersebut sambil meremas kertasnya.
"Seperti di surat tertulis kak Kiki ada urusan dan mengirim kami kesini tolonglah percayalah kalian aman jika ikut bersama kami", kata cowok di samping cewek yang memberikan surat.
"Siapa nama kalian?", tanya Luna penuh hati-hati melangkah maju.
Mereka saling memandang dan menjawab dengan tegas "Harun/Layla".
Setelah itu mereka pergi ke salah satu rumah yang sudah disediakan Harun menjelaskan semua biayanya sudah di tanggung mereka sisanya untuk Siska dan Luna urus termasuk pekerjaan sudah disiapkan untuk Siska.
Tentunya baik Siska dan Luna berterima kasih lalu setelah itu Harun dan Layla pergi dan setelah itu tak pernah muncul lagi.
__ADS_1
6 bulan kemudian
"Aku berterima kasih mereka tidak berbohong namun mereka berdua menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun tapi itu tidak apa sebentar lagi keponakanku akan lahir", kata Siska.
Saat ini mereka berada di Vietnam karena Siska berhasil mendapatkan promosi pemindahan kerja ke luar negeri.
Awal yang membahagiakan namun tidak ada yang menyangka tragedi itu terjadi tepat kelahiran anak mereka. Tepatnya di salah satu wahana hiburan terkenal di Vietnam.
Tempat wisata itu di bom hingga hancur Luna terjebak di dalam wahana bersama Faisal yang mengawasi mereka selama di Vietnam.
Tentu kejadian itu membuat Siska syok dan terus mencari Luna. Disisi lain, Fikri pun panik karena Faisal baru sembuh setelah 6 bulan berlalu. Kenapa? Jawabannya orang-orang itu menjebak Faisal dan Luna menggunakan obat-obatan terlarang yang tidak diketahui kandungan zatnya tapi karena punya Faisal dicampur alkohol membuat keadaan Faisal memburuk. Itulah sebabnya selama 9 bulan Faisal tidak kelihatan karena menjalani perawatan di Amerika sembari menyembunyikan Luna di kota Palembang di bawah pengawasan Harun dan Yudith.
Flasback sesaat sebelum kejadian Luna berjalan-jalan melihat banyak wahana diikuti Faisal di belakang. Mereka masuk ke salah satu wahana rumah hantu sebenarnya Luna sudah merasa aneh karena diikuti namun setiap ia menegok ke belakang tidak ada siapa-siapa.
Di pertengahan di rumah hantu bangunan itu meledak dan hancur Luna terkejut namun tak punya tenaga untuk berlari karena sedang hamil Luna tersandung.
Luna meringis kesakitan karena kakinya terkilir. Bangunan itu roboh seketika dan Luna yang tak sempat menghindar hanya pasrah dengan keadaan tak berdayanya dia. Tiba-tiba sesaat walau sesaat muncul sosok memeluk Luna dan semua bangunan roboh mejatuhi mereka.
Kondisi Luna tak sadarkan diri dan mengalami pendarahan. Melihat hal itu membuat perasaan Siska sakit. Semua korban dilarikan ke rumah sakit dan di antara semua korban kondisi Faisal lebih parah. Yap, sosok yang memeluk Luna tadi ialah Faisal yang terus mengikuti Luna.
Di rumah sakit pusat kota
Baik Luna dan Faisal dalam kondisi hampir merengang nyawa dan harus segera ditangani dengan melakukan operasi. Mereka di rumah sakit yang sama namun anehnya tidak bertemu tidak, Fikri sengaja supaya pihak musuh tidak menyentuh Siska dan Luna.
"Salahku, ini salahku. Harusnya ku bunuh mereka 6 bulan lalu Chandra, Gilang kurung orang-orang yang terlibat hari ini di ruangam itu sebentar malam aku akan menghabisi mereka di tempat", kata Fikri sambil mengepalkan tangannya menahan emosi dan Chandra dan Gilang mengangguk paham.
Hari itu lahirlah empat bayi kembar namun Fikri memutuskan keluarga Mahesa akan merawat tiga bayi dan satu bayinya lagi dirawat Luna.
"Apa gak papa memisahkan mereka?", tanya Maura sambil melihat para bayi itu di ruang inkubator.
"Ketiga bayinya dalam keadaan sakit kita tidak bisa membiarkan Luna mengalami kesusahan lalu sudah kewajiban kita menafkahinya saat ini Faisal dalam keadaan koma sebagai gantinya aku akan merawat mereka hingga saat Faisal dan Luna bertemu kembali kelak", jawab Fikri.
__ADS_1
Dan benar Nizar diberikan kepada Luna dan Syifa, Haris, dan Neisha dirawat keluarga Mahesa.
Luna tersadar tentunya Siska bahagia sambil memeluk Luna karena khawatir.
"Bayiku mana? Siska bayiku mana?", tanya Luna cemas dan panik karena ia tak merasakan perutnya buncit.
"Tenanglah dia lahir dengan sehat lalu juga tampan iya bayimu sangat tampan kau bisa menemuinya setelah keadaanmu pulih lalu setelah itu ayo memuali hidup yang baru dengan kehadiran si kecil jagoan", kata Siska dan Luna mengangguk sambil tersenyum memeluk Siska.
"Faisal kan yang menyelematkanku sebelum bangunam itu menimpaku? Apa aku berhalusinasi?", pikir Luna.
Malamnya setelah Chandra dan Gilang menangkap dan menyekap orang-orang itu di tempat yang sama 6 bulan lalu. Yap, di Amerika saat ini pada malam hari.
Fikri berjalan masuk ke ruangan bernuansa putih itu sambil membawa pedang menatap kosong orang-orang yang duduk bergemetaran meminta ampunan pada Fikri namun cowok itu saat ini tak menghiraukan teriakan ampunan mereka. Ia berjalan mendekati mereka terlihat mereka ketakutan.
Kata-kata mereka pun tidak di dengar oleh Fikri dan cowok itu memenggal kepala salah satu dari mereka. Cipratan darah ke tembok putih mengalir segar dari pedang dan ruangan itu berubah menjadi lautan darah seketika.
Teriakan mereka menggelar meminta tolong dan ampunan sambil berlutut bersimpah darah.
Namun itu semua sia-sia saja cowok remaja berumur 18 tahun itu sudah kehilangan akalnya sambil tertawa ia menyabet dan membunuh mereka seperti memotong steak daging.
Di luar ruangan Gilang dan Chandra tak berani masuk dan membiarkan Fikri menyelesaikan serta menggila di dalam karena jika mereka masuk sama saja cari mati.
Malam itu sangat panjang dan pembubuhan yang dilakukan Fikri tak ada orang luar mengetahuinya serta para mayat yang sudah tak utuh lagi di buang dan di bakar di dalam hutan terdalam.
Bersambung...
Sadis ya? Aku agak merinding bagian adegan Fikri membunuh karena kehilangan akal sehat tapi karakter Kiki emang rada pycho sih..yang tak kenal ampunan.
Buat panjang juga setelah sekian lama semoga puas bacanya ya karena setelah saya libur gak bakalan ada lagi episode sepanjang ini.
See you...
__ADS_1