
**Chapter ini spesial untuk menceritakan kehidupan Arfan dan Anisa di Yogyakarta setelah kabur dari Jakarta, asal mereka sebelumnya.
Oke langsung aja ya maaf kalau gak pada nyambung tapi diusahakan tidak lari dari inti permasalahan dan konflik cerita.
Selamat membaca, para readersπ**
π
π
π
π
π
π
π
π
π
Di bandara Jakarta, malam pukul 20.21 WITA.
"Yakin nih berangkat malam gak nunggu besok pagi saja?", tanya Anisa ragu dan masih takut sama Arfan karena wajahnya kaku dan sangat dingin.
"Iya yakin lagian kalau nunggu besok keburu mereka sadar kalau kita kabur", jawab Arfan dingin.
Anisa hanya menggangguk pasrah dan agak canggung juga karena sedari tadi tangannya digenggam erat oleh Arfan seakan gak mau melepasnya takut ia akan kabur.
"Ayo, pesawatnya sudah tiba", kata Arfan yang masih menggenggam tangan Anisa.
Anisa? Dia hanya mengikuti pasrah bahkan dia tak tahu ke kota mana Arfan bawa dia kabur.
Selama di dalam pesawat tak ada pembicaraan antara mereka, canggung menyelimuti mereka hanya diam membisu sampai mereka sampai di Kota Yogyakarta.
__ADS_1
"Kenapa gak bilang kita akan ke Yogyakarta?", tanya Anisa sambil melihat-lihat sekitar.
"Kau gak tanya", jawab Arfan dengan nada yang sama, dingin malah lebih dingin.
Ternyata Arfan sudah menyiapkan semuanya terencana. Dari tiket pesawat, ongkos taksi, sampai-sampai membeli rumah.
"Kau sudah membeli semuanya? Sejak kapan?", tanya Anisa terkagum-kagum.
"Sudah jauh hari bahkan sekolah kita sudah ku urus", kata Arfan.
"Aku sudah merencanakannya sejak kau positif hamil aku sudah memperkirakannya juga", kata Arfan lagi yang sudah menduga Anisa bakal bertanya.
Anisa terkagum-kagum dengan Arfan dan ia ingat satu hal.
"Tapi aku hamil bagaimana aku bisa melanjutkan sekolahku? Mungkin kau saja aku akan mengerjakan pekerjaan rumah", kata Anisa sambil menunduk.
Arfan tertegun melihat Anisa ingin mengalah. Ia merasa bersalah karena sudah merebut masa depan Anisa, impian dan cita-citanya.
Arfan berjalan mendekati Anisa, Anisa yang menyadari mundur perlahan karena takut.
"Tenang saja aku tak akan melukaimu, akan ku pastikan kau juga sekolah bagaimana pun caranya dan aku janji akan menikahimu tapi tidak sekarang setidaknya sampai kau menerima kenyataan dan diriku, mengerti?", kata Arfan berusaha bersikap lembut dan tidak dingin.
"Iya ayo berjuang bersama untuk anak kita besok kita check up ya aku kenal dokter di kota ini", kata Arfan sambil mengecup kening Anisa lembut.
"Iya", kata Anisa sambil memeluk Arfan dan Arfan membalasnya dengan pelukan juga walau sedikit terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari Anisa tapi dia merasa tenang.
"Sudah malam, ayo tidur", kata Arfan.
"Tidur bareng ya? Mau ya?", bujuk Anisa manja.
Arfan terkejut karena Anisa tiba-tiba bersikap begitu manja padanya.
"Bawaan hamil ya dia manja", pikir Arfan.
Dan benar saja Anisa sangatlah manja terhadap Arfan hingga besok saat check up.
"Arfan, ayahmu tahu hal ini?", tanya seorang dokter yang tak lain adalah dokter Angga.
__ADS_1
"Tahu kok dok tapi gitu gak mau dengar penjelasanku jadi aku ke sini saja", jawab Arfan seadanya.
"Oke aku akan bungkam soal ini sampai kau sendiri yang mengatakan pada mereka", kata dokter Angga.
"Iya", kata Anisa dan Arfan serentak.
"Dari hasil usg, Anisa mengandung sepasang anak kembar", kata dokter Angga sambil memberikan hasil usg.
Tentu saja mereka kaget habisnya mereka gak nyangka ternyata Anisa hamil anak kembar bahkan Anisa tak tahu hal ini.
Karena awal kehamilan pertamanya cuman satu kenapa sekarang dua? Apa efek karena mereka dekat ayah mereka? Emang dasar belum lahir udah buat jantungan.
"Terima kasih", kata Arfan.
"Pasti pada bingung kenapa tiba-tiba ada isi dua tadi aja keliatan cuman satu ternyata setelah ku perhatikan satunya bersembunyi", jelas dokter Angga tahu akan rasa penasaran Anisa.
"Ah, terima kasih permisi", kata Anisa lalu mereka keluar.
"Ah, aku lupa memberitahu mereka mungkin lain kali saja", gumam dokter Angga.
Dan hari pertama sekolah pun tiba tentu saja Anisa memilih baju seragam yang agak kebesaran sengaja supaya menutupi kehamilannya.
"Yakin gak papa nih?", tanya Anisa sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
"Iya gak papa, kata kepsek dan para guru memberi izin asalkan tidak boleh para siswa tahu hal ini dan orang luar", kata Arfan.
"Baiklah", kata Anisa yang sudah siap.
"Ayo berangkat", kata Arfan sambil menggandeng tangan Anisa.
Perlahan-lahan sisi lembut Arfan mulai ia tunjukkan pada Anisa bahkan persiapan pernikahan mereka pun Arfan sudah siapkan dan bahaya yang mengancam mereka di masa depan dimulai dari saat itu.
**Ini khusus cerita Arfan dan Anisa sekalian diceritakan siapa sosok dia dan wanita itu dimaksud.
Oke silakan dinikmati bakal ada yang buat kalian yah pokoknya gitu deh.
Stay membaca ya
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komen dibawah
See you**....